John Carpenter, Sang Maestro Independen (Bagian 2)


rollingstone.com
Perjalanan Karir Film dari Era 90an hingga Kini

Tahun 90an boleh dikatakan sebagai titik mundur karir John Carpenter, ironisnya bahwa semua film garapannya didistribusikan oleh berbagai studio besar. Dimulai dari The Memoars of Invisible Man (1992), sebuah film science fiction comedy yang dibintangi Chevy Chase dan Daryl Hannah, merupakan adaptasi lepas dari novel berjudul sama karya H.F. Saint. Dibawah komando Warner Bros yang tidak mengijinkan peletakkan nama John Carpenter’s sebelum judul film, akhirnya mendapat kerugian secara pendapatan dan kritik. Hal tersebut memang keterbatasan ruang gerak kreativitas sang sutradara untuk mengontrol penuh. 

Namun sempat terobati ketika menggarap antologi horor untuk konsumsi televisi, yakni Body Bags (1993). John sekaligus berperan sebagai pembawa acara. Film yang memiliki tiga episode berlainan tersebut diramaikan oleh para maestro pembuat film horor sebagai cameo, seperti Tobe Hoper (juga sebagai sutradara di salah satu episode), Wes Craven dan Sam Raimi. Film Body Bags mendapat pujian kritik. Setahun berikutnya, In The Mouth of Madness (1994), adalah sebuah film horor ala H.P. Lovecraft juga mengalami kekecewaan baik pendapatan maupun kritik dengan skor yang tidak memuaskan. 

Film tersebut mengisahkan investigasi mengenai hilangnya seorang pengarang novel, setelah terjadi ketidakwarasan para pembacanya. In The Mouth of Madness adalah bagian akhir dari apocalypse trilogy –begitu John menyebutnya- bersamaan dengan The Thing dan Prince of Darkness.

Adalah film Village of the Damned (1995), ber-genre science fiction horror yang merupakan remake dengan judul yang sama juga di tahun 1960, lagi-lagi mengulangi kegagalan dari kerugian pendapatan dan kritik yang kurang memuaskan. Film Escape From L.A. (1996), yang didistribusikan Paramount Pictures, tampaknya akan menjadi antusiasme publik ketika akan dirilis. 

Kembali berkolaborasi dengan Kurt Russel –dan yang terakhir- dengan formula cerita yang mirip dengan seri terdahulu, namun di lokasi berbeda, akhirnya gagal total di pasaran. Secara kritik pun kurang memuaskan, dan yang mengganggu saya adalah penggunaan efek spesial yang buruk untuk era 90an. Film Vampires (1998) adalah film terakhir sebelum era milenium, suatu perjudian besar dari Columbia Pictures untuk mengeruk keuntungan, dan ternyata hasilnya mengecewakan (lagi). 

Film yang dibintangi aktor James Woods dan bergaya kontemporer tentang sekelompok bersenjata pemburu vampir, diilhami dengan gaya western ala Howard Hawks. Kritik berbicara dengan hasil akhir kurang memuaskan dan oleh MPAA (Badan Sensor Film Amerika) dikategorikan NC-17 (17 tahun keatas), karena beberapa adegan kekerasan dan berdarah yang berlebihan. John pernah diminta oleh Jamie Lee Curtis untuk kembali menggarap kelanjutan Halloween, yakni Halloween : H2O (1998). Namun karena permintaan fee oleh John yang tidak dikabulkan oleh pemilik studio, maka dibatalkan, setelah pada film orisinilnya, John tidak menerima fee sepeserpun.

Tahun 2001 adalah tahun eksperimental John Carpenter untuk film science fiction action horror, yakni Ghosts of Mars. Sebuah kombinasi dari Assault on Precinct 13 dan The Fog, dengan latar belakang planet Mars dan ber-genre fiksi ilmiah. Pendapatan yang merugi serta kritik yang buruk, membuat film yang awal rencananya berpotensi sebagai sekuel Snake Plissken di planet Mars, belum bisa memperbaiki karir sang sutradara. 

Era milenium juga menandai comeback nya John Carpenter pada perfilman independen, meski karirnya hingga kini belum ada gebrakan, setelah lama meredup. Film terakhirnya, The Ward (2010), sebuah horor psikologis pun kandas dan tidak dapat berbicara banyak. Sempat menyutradari dua episode, yakni Cigarette Burns dan Pro-Life di serial televisi Masters of Horror, tampaknya era 2000an adalah bukan era beliau dalam dunia perfilman. Kabar terakhir, John akan bertindak sebagai executive producer untuk film Halloween versi baru, yang akan rilis di tahun 2017.

Dari kiri ke kanan :
Halloween (1978), Escape From New York (1981) dan The Thing (1982). 
Sumber : imdb.com

Kontribusi dan Kolaborasi

John Carpenter tidak hanya seorang sutradara semata, namun keahliannya sebagai seorang penulis cerita dan produser patut diapresiasi. Suatu pekerjaan rangkap yang sudah biasa dilakukan sejak awal mula adanya keterbatasan biaya dan sponsor dari distributor atau studio besar. Oh ya, gara-gara kesuksesan film Halloween, ia masih bersedia menulis cerita, menjadi komposer musik dan memproduksi untuk film Halloween II (1981) dan Halloween III : Season of the Witch (1982). 

John pernah mencicipi akting sekaligus menjadi kru editor dalam film Last Foxtrot in Burbank (1973), beberapa kali menjadi figuran di beberapa filmnya, menjadi produser eksekutif di film The Philadelphia Experiment (1984), penulis cerita dan produser eksekutif di film Black Moon Rising (1986), serta komposer musik di film seri televisi, Zoo (2015).

Seperti halnya kolaborasi Martin Scorsese - Robert De Niro, Harvey Keitel dan Leonardo DiCaprio atau James Cameron - Arnold Schwarzenegger dan Bill Paxton atau Tim Burton – Johnny Depp atau Quentin Tarantino – Samuel L. Jackson, John Carpenter sering berkolaborasi dengan para aktor langganannya. Adalah Kurt Russel yang terbanyak untuk lima kali kolaborasi. Urutan kedua ditempati oleh Adrienne Barbeau sebanyak empat kali. Kemudian kolaborasi dengan mendiang Donald Pleasence, Jamie Lee Curtis, Harry Dean Stanton dan Tom Atkins sebanyak dua kali. 

independent.co.uk

Komposer Musik untuk Tema Film dan Seorang Musisi

Mungkin boleh dikatakan di dunia perfilman mainstream, khususnya di Amerika Serikat, tidak ada yang bisa menandingi multi talenta dari seorang John Carpenter sebagai pembuat film dan komposer musik! Beberapa tema musik dari film-filmnya menjadi salah satu favorit dan tentunya merupakan sesuatu yang signifikan sebagai roh dari film itu sendiri. Kepiawaiannya dalam memainkan alat musik keyboards ditambah dengan teknologi synthesizer, menghasilkan alunan nada musik yang indah sekaligus berwibawa, melankolis sekaligus berapi-api, misterius sekaligus mencekam. 

Tema musik utama seperti di film Assault on Precinct 13 (1976) mulai dari opening credits hingga misalnya dalam adegan ketika kawanan gangster sedang mengendarai mobil, begitu terasa ‘beringas dan siap perang’ di nada rendah. Atau adegan ketika karakter utama, yakni seorang polisi tiba di sebuah kantor polisi dan adegan kematian salah satu karakter staf polisi, Julie, pada saat berlangsungnya baku tembak dengan gangster, begitu menyentuh dengan musik yang melankolis bernada sendu.  

Film Halloween (1978) jelas tidak bisa ‘hidup’ tanpa tema musiknya yang begitu mencekam, menyeramkan dan menggigil sekujur tubuh. John mendapat inspirasi musik tersebut dari film Suspiria (1977). Tema musik The Fog (1980) mirip dengan The Exorcist (1973). Sedangkan tema musik dari Escape From New York (1981) adalah salah satu masterpiece terbaik, mulai dari opening dan ending credits, serta tak lupa ketika adegan ketika karakter antogonis, Duke dan gerombolannya datang ke tempat kediaman karakter Brain. 

Hal yang sama diulang dalam sekuelnya di tahun 1996 dengan merevisi gaya musik lebih menaikkan irama dan beat musik lebih kencang. Sedangkan film-film lainnya, menurut saya tidak sebaik dari beberapa tema musik yang disebutkan tadi, meski tetap enak didengar. Awalnya saya mengira tema musik film The Thing (1982) dimainkan oleh John Carpenter, ternyata Ennio Morricone lah yang menjadi komposernya.

Pada dekade 2010an, John Carpenter banting setir menjadi musisi, sebagai transformasi dari bakat yang ia miliki, dan mungkin menjadikan ‘pelarian diri’ dari belakang kamera. Di bulan Oktober 2014, ia meluncurkan single berjudul “Vortex” dari album perdananya, Lost Themes yang baru dirilis di bulan Februari 2015. Saya cukup menikmati ketika penasaran mendengar musik-musiknya di album tersebut. 

Suatu gaya musik elektronik, pengaruh dari karya-karya filmnya, dengan sentuhan musik modern. Namun tetap dilihat dari berbagai judulnya, agaknya nilai filosofi dari musik-musiknya pun mengandung unsur misteri dan petualangan … familiar huhh?? Album tersebut mendapat atensi dari NPR First Listen, termasuk juga sambutan positif dari beberapa media ternama seperti Los Angeles Times, Vanity Fair, Rolling Stone, The Wall Street Journal, The New York Times dan The Guardian, dan hebatnya lagi berhasil menembus tangga album hits di Amerika maupun Inggris. Album berikutnya, Lost Themes II dirilis di bulan April 2016.

Kesibukan lainnya adalah menjadi salah satu kreator untuk komik berjudul John Carpenter’s Asylum dan koleksi annual yang dipuji kritikus, John Carpenter’s Tales for a Halloween Night. John juga sempat menulis untuk video game berjudul FEAR 3 dari Warner Bros Interactive.

Penghargaan Atas Karya-karyanya

John Carpenter berhasil memenangkan penghargaan dari Bram Stoker Awards di kategori Lifetime Achievement Award di tahun 2008 dan di kategori yang sama dari Louisville Fright Night Film Festival untuk Festival Prize di kategori Lifetime Achievement Award di tahun 2011. Jauh sebelumnya, ia berhasil dinominasikan untuk berbagai penghargaan dalam dunia perfilman. 

Namun jelas, memenangkan beberapa penghargaan jauh lebih prestisius seperti pada ajang Hugo Awards, berupa New Generation Award untuk film Halloween di tahun 1979. Juga di ajang Avoriaz Fantastic Film Festival, berupa Critic Award untuk masing-masing film Halloween di tahun 1979, The Fog di tahun 1980 serta Prince of Darkness di tahun 1988. Sedangkan ajang Cable Ace Award untuk kategori penulisan film telvisi HBO, diraih melalui  film El Diablo di tahun 1991. 

Tak ketinggalan di ajang Fantasporto, berupa Citics Award untuk film In the Mad of Madness di tahun 1995. Namun salah satu ajang terkenal lainnya, yakni Academy Science Fiction, Fantasy & Horror Films berhasil menggondol Golden Scroll untuk kategori Best Special Effects untuk film Dark Star di tahun 1976. Juga untuk George Pal Memorial Award 1996. Serta untuk Saturn Award di kategori Best Music untuk film Vampires di tahun 1999. Dan yang terakhir, mendapat nominasi untuk kategori Best Music lewat film Escape From New York, Big Trouble in Little China, Prince of Darkness, dan They Live.

John Carpenter Memang Beda!

Ia adalah sosok seniman dalam industri hiburan, yang memiliki ketajaman visi serta memiliki karakter kuat yang diterjemahkan ke dalam bentuk, yang terkoneksi antara film dan musik. Dekade 70an dan 80an adalah era kejayaannya sebagai salah satu filmmaker top, meski dekade 90an hingga kini, yang mungkin dapat dikatakan sebagai titik balik karirnya yang terus merosot. Saya hitung, hanya 18 film layar lebar yang telah dihasilkan, namun meski secara kritik dari masing-masing film bervariatif, adalah sesuatu yang langka dan unik di setiap filmnya yang patut diapresiasi lebih.

Saya tidak bisa menghitung, siapa saja filmmaker yang berhasil meraih status cult terbanyak melalui film-filmnya, selain daripada John Carpenter. Sekilas info, yang dimaksud film cult adalah film yang umumnya berada di jalur independen atau mainstream, baik yang berbiaya rendah maupun tinggi, cenderung tidak menarik atensi box office bahkan kurang populer secara global, namun begitu digilai oleh sejumlah penggemarnya, akibat dari lonjakan rental atau penjualan video dan malah kadang untuk perilisan video itu sendiri cukup langka. 

Jika kita telah simak perjalanan karirnya, memang multi talenta yang dimiliki olehnya cenderung mendominasi atau mengontrol penuh dalam pembuatan sebuah film, tanpa ‘diganggu’ oleh pihak studio atau bahkan produser (makanya kenapa dia merangkap sebagai salah satu produser). Ciri khas hampir di setiap filmnya, selalu dibubuhi oleh John Carpenter’s sebelum judul film, serta memiliki tipe huruf (font) yang sama di setiap kredit filmnya, baik di tampilan layar maupun poster film. 

Seperti sutradara hebat lainnya, John Caprenter sanggup ‘berbicara’ signifikan dalam menggarap film dengan berbagai genre, mulai dari horor, thriller, suspense, komedi, science fiction, action, adventure hingga drama dan romance. Mungkin sesekali, genre western harus dicoba!

Sebagai salah seorang pionir dalam genre slasher horror seperti Halloween, yang dijadikan basis untuk formula dari film-film slasher horror lainnya, seperti Friday the 13th, Prom Night, Silent Night Deadly Night, dan A Nightmare on Elm Street yang marak di era 80an, hingga dihidupkan kembali di era 90an lewat Scream atau I Know What You Did Last Summer, ia tetap terus berinovasi dalam eksplorasi kreativitas untuk menghasilkan berbagai film unik. 

Mungkin itulah hubungannya dengan memunculkan adanya sub culture melalui film, lewat hadirnya karakter Michael Myers (Halloween) yang bisa disandingkan dengan ikon horor lainnya seperti Leatherface, The Tall Man, Jason Voorhees, Freddy Krueger atau Chucky. Film ‘besar’ lainnya, seperti Escape From New York, melahirkan karakter Snake Plissken yang anti-hero tersebut, sama fenomenalnya dengan Halloween

Bagaimana seorang John Carpenter dapat merubah imageDisney’ nya seorang Kurt Russel menjadi seseorang dengan karakter macho yang menyebalkan sekaligus kita bisa bersimpati terhadapnya. Atau film The Thing adalah contoh eksperimen John Carpenter yang ingin mencoba masuk dalam sub genre film body horror, sesuatu yang bersifat mengerikan sekaligus ‘menjijikan’ yang dikuasai oleh filmmaker seperti David Cronenberg. 

Ketiga film tadi adalah contoh, bagaimana dapat mewujudkan adanya sub culture, yang dibuktikan dengan komersialisme dengan memproduksi berbagai merchandise film untuk penggemar, seperti berbagai memorabilia atau aksesoris hingga action figure. Mungkin salah satu kelebihan John dalam keberhasilannya menciptakan berbagai film cult, adalah bagaimana mengkombinasikan berbagai genre dalam sebuah film, menjadi suatu hiburan yang menarik sekaligus artistik, tanpa mengkesampingkan kualitas sinematografi dan pendalaman karakter tentunya. 

Karakter utama adalah yang sesuatu yang menarik, kadang diidolakan atau dirindukan dan tentunya memorable, seperti berbagai karakter utama di film Starman, Big Trouble in Little China, They Live atau Vampires.

Beberapa filmnya yang dijadikan remake seperti Assault on Precinct 13, Halloween, The Fog, umumnya jauh tidak bisa menandingi secara kualitas. Rencana film Escape from New York pun yang akan di remake -tanpa ada rasa sinis, namun pesimis- sudah saya bayangkan sebagai sesuatu yang boleh dikatakan underrated oleh para kritikus profesional. 

Seorang John Carpenter yang memang telah akrab dengan pembuatan film yang bersifat  independen, baik melalui studio kecil maupun besar, tetap berbiaya rendah … dalam hal ini, bolehlah saya katakan sebagai seorang maestro independen, karena juga ia sering melakukan pekerjaan rangkap bersifat independen, yakni sekaligus sebagai sutradara, penulis cerita atau naskah, salah satu produser hingga tentunya, komposer musik!

Saya masih setia menunggu karya film-film berikutnya.

Sumber Referensi :
www.theofficialjohncarpenter.com | en.wikipedia.org 

Popular Posts