Escape From New York (1981) : Melarikan Diri dari Permainan Berbahaya

Courtesy of AVCO Embassy Pictures, 1981

“ I guess I go in one way or the other... doesn't mean s**t to me. All right... I'll do it. Give me the pardon paper” - Snake Plissken

Prolog 

Bagaikan pelarian dari suatu tempat yang sesungguhnya membuat kita gerah dan tidak betah. Ada sebuah jalan misterius, yang mempertemukan kita kepada sebuah misi yang menawarkan sebuah dilema. Misi yang ‘harus’ kita jalankan, entah dengan keterpaksaan, keikhlasan atau determinasi hati bahkan kitapun seperti tidak diberikan sebuah pilihan … benar-benar sulit. 

Meski kita sudah berpengalaman, namun kita terus ditekan hingga ujung tanduk yang selalu siap untuk menusuk kita suatu waktu. Kita diberikan sebuah tantangan diluar dugaan yang berisiko sangat tinggi. Kitapun terjun ke dalam misi yang membawa kita ke sebuah tempat yang penuh dengan kegelisahan, keresahan, kegalauan, kemarahan serta keterasingan yang nampaknya tiada batas. Kita terus bertarung dalam menghadapi semua itu, sambil terus melirik waktu yang tersisa berlalu dengan cepat, terkadang tanpa kita sadar bahwa waktunya sudah dekat! 

Akhirnya semua pengalaman itu membawa hikmah yang kita pelajari, dan bagaimana kita terus mencari hingga akhirnya kita bisa mengatasinya. Pada akhirnya, banyak yang mengira kita akan ‘menyerah atau mati’ begitu saja, namun fakta berbicara bahwa sesungguhnya kita masih hidup dan terus berjuang.   

Utama 

Bayangkan … jika sebuah kota megapolitan yang menawarkan segala kemewahan, kesenangan dan surga dunia, tiba-tiba menjadi sebuah tempat mengerikan yang penuh dengan segala kriminalitas, kejahatan, kengerian dan neraka dunia. Manhattan, New York 1997, sebuah distrik dari bagian kota yang berubah menjadi tempat penampungan para orang buangan dan kriminal mulai dari kelas teri hingga kelas kakap.

Seperti yang kita ketahui, bahwa wilayah Manhattan secara geografis, terpisah oleh lautan Atlantik dan dihubungkan oleh sebuah jembatan Brooklyn yang terkenal itu. Jadi memang Manhattan adalah wilayah eksklusif yang menjadi bagian dari kota New York. Oleh karena itu, sangatlah strategis untuk menampung para kriminal, yang dibagian luarnya dikelilingi oleh penjagaan super ketat nan maksimum.

Escape From New York (1981) adalah sebuah film klasik, atau boleh dibilang menjadi benchmark dari film-film ber-genre science fiction action yang diteruskan oleh generasi berikutnya. Sebuah –lebih tepatnya salah satu- masterpiece karya sineas John Carpenter yang sukses dalam melejitkan Halloween (1978). Film yang mengenalkan sekaligus melejitkan karakter ikonik, Snake Plissken yang dibintangi oleh Kurt Russel tersebut menceritakan tentang sebuah misi pembebasan seorang Presiden Amerika yang tertawan oleh gerombolan kriminal penguasa Manhattan. 

Di tahun 1988, tingkat kriminalitas di Amerika meningkat tajam dan sangat ekstrim hingga 400%. Maka pemerintah memutuskan untuk ‘membuang’ para kriminal ke sebuah penjara yang sangat luas. Maka wilayah Manhattan terpilih sebagai tempatnya yang dikelilingi oleh tembok raksasa dengan keamanan super maksimum. 


Courtesy of AVCO Embassy Pictures, 1981

Di tahun 1997, ketika pesawat Air Force One yang ditumpangi Presiden sedang melintasi Amerika untuk menghadiri Pertemuan Damai antara Amerika Serikat, Uni Soviet (kala itu) dan China, dibajak oleh sekelompok teroris dan terjatuh di Manhattan. Setelah diketahui bahwa Presiden selamat dan disandera oleh Duke, ketua kriminal yang ditakuti di Manhattan, yang meminta sejumlah imbalan, pemerintah segera mengambil tindakan khusus. 

Adalah seorang buronan mantan prajurit pasukan khusus, Snake Plissken (Kurt Russell) yang dipaksa ke dalam sebuah misi untuk membebaskan Presiden dalam waktu 24 jam, dengan ditawari amnesti hukuman. Snake pun dipaksa untuk disisipkan sebuah chip yang akan meledak di lehernya, jika ia berusaha melarikan diri. Dengan dipersenjatai oleh pemerintah, Snake dalam perjalanannya bertemu dengan beberapa figur yang berusaha untuk membantunya di tengah wilayah yang berbahaya. Berhasilkan mereka membebaskan sang Presiden? 
    
Film bertemakan dystopian tersebut memang menceritakan tentang masa depan yang kelam, penuh kejahatan. Sebuah dunia yang terisolasi dan menunjukkan sisi gelap manusia dalam melakukan aksi kriminal. Berbagai aksi kekerasan nan kejam dipertontonkan secara gamblang namun estetis, dengan berbagai batasan yang wajar, yang artinya bukan extreme violenceEscape From New York adalah salah satu pelopor film aksi fiksi ilmiah modern yang mengedepankan hal yang berbau anti-hero, suatu sentralisasi dari karakter legendaris, Snake Plissken. 

Ide film yang disutradari oleh sineas John Carpenter, yang sukses dalam membuat film horor legendaris, Halloween (1978), yakni sebagai reaksi atas skandal Watergate di Amerika Serikat, serta terinspirasi oleh film Death Wish (1974) yang menggambarkan kota New York bagaikan ‘hutan belantara’ yang dipenuhi oleh para kriminal jalanan. Kembali berkolaborasi dengan produser Debra Hill, dan ditolak oleh beberapa studio besar Hollywood, akhirnya AVCO Embassy membiayai produksinya. 

Suatu kerjasama yang terulang setelah film Halloween. Problema utama pada saat itu adalah keterbatasan bujet untuk membuat film fiksi ilmiah dengan lokasi di kota New York yang porak poranda di masa depan. Lalu akhirnya syuting dilakukan di wilayah kota East St. Louis, dengan beberapa bangunan dan sudut kota yang mirip dengan New York.

Sebagai film yang berbasis aksi laga, Escape From New York memiliki alur cerita yang sederhana namun mengena. Sama halnya dengan film-film ber-genre action atau war, yang menceritakan tokoh utama terlibat dalam sebuah misi sederhana namun berbahaya. Dan lagi-lagi tentunya terdapat lika-liku perjalanan yang membawa seorang Snake Plissken bertemu dengan kawan, lawan dan orang asing. 

Tokoh sentral sekaligus seorang pahlawan yang ‘anti-hero’ dengan karakteristik khas ala bajak laut –mata ditutup sebelah, jauh dari kesan kelimis, pakaian ala tentara- serta nada bicara yang mendesis seperti ular, selalu sinis dan hampir tidak pernah tersenyum, Snake Plissken dapat dikatakan sebagai salah satu figur yang berpengaruh pada industri budaya film, serta menciptakan status cult

Snake Plissken yang kembali dibintangi oleh Kurt Russel, dan ternyata memang pas dan sepertinya tak akan bisa tergantikan oleh siapapun juga. Bersama dengan Nick Castle, seorang John Carpenter secara brilian menciptakan beberapa karakter unik lainnya, seperti Bob Hauk -diperankan oleh mendiang aktor kawakan, Lee Van Cleef-, seorang komisaris polisi yang tak kalah sinisnya sekaligus kejam dan dingin. Adapun sang Presiden yang –kembali- dibintangi oleh mendiang aktor kawakan Donald Pleasence, sebagai seorang yang berusaha untuk bersimpati pada Plissken namun terlihat seperti menakutkan dan juga kejam. 


Courtesy of AVCO Embassy Pictures, 1981

Kemudian ada Harold ‘Brain’ Hellman dan pasangannya, Maggie –yang dibintangi oleh Harry Dean Stanton dan Adrienne Barbeau- yang sepertinya oportunis dan penuh dengan berbagai trick yang tidak bisa kita tebak, apakah mereka kawan atau lawan Plissken. Seorang raja kriminal, yakni Duke –dibintangi oleh Isaac Hayes- juga menurut saya, memiliki karakter kuat sebagai seseorang yang kejam dan jahat namun juga memiliki beberapa kelemahan, karena mengandalkan pasukannya. 

Tak lupa aktor Tom Atkins yang kebagian peran kecil sebagai salah satu polisi. Diantara semua karakter, seorang supir taksi Cabbie –yang diperankan oleh mendiang aktor legendaris, Ernest Borgnine- sungguh dapat menghidupkan serta mencairkan suasana tegang, dengan menghadirkan perawakan fisik setengah baya, namun penuh dengan kejutan serta beberapa lelucon segar. Saya bersimpati kepada karakter Cabbie yang kocak dan hangat. Seluruh karakter memiliki porsi akting yang pas dengan berbagai perbedaan yang ada dan masing-masing kuat. 

Dialog pun tidak banyak basa-basi, terelbih seorang Plissken yang hanya bicara seperlunya dan selalu serius. Dialog yang paling menonjol menurut saya adalah hampir semua karakter penting seperti Bob Hauk, Cabbie, Harold ‘Brain’ Hellman dan Duke mengatakan kepada Plissken : “I heard you were dead”. Karena gosip mengatakan bahwa Plissken telah tewas dalam sebuah misi sebelumnya. Kalimat itulah boleh dikatakan sebagai lelucon segar yang sama persis dilontarkan oleh hampir semua orang pada saat berjumpa dengan Plissken! 

Karena keterbatasan bujet dan profesionalisme, di film ini dan di beberapa film lainnya, Carpenter sering berkolaborasi dengan para aktor-aktris, sebut saja seperti Donald Pleasence di film Halloween (1978) dan Prince of Darkness (1978), Adrianne Barbeau di film Someone’s Watching Me (1978) dan The Fog (1980), Tom Atkins di film The Fog (1980), Harry Dean Stanton di film Christine (1983) dan tentunya duet terbanyak dengan Kurt Russell di film Elvis (1979), The Thing (1982), Big Trouble in Little China (1986) dan sekuel film ini, Escape from L.A. (1996). Kualitas akting mereka tidak diragukan lagi untuk menghidupkan berbagai karakter yang hadir di film ini.

imdb.com

John Carpenter, figur dibalik kesuksesan film ini, tentunya menghadirkan aura tersendiri. Carpenter yang sukses melalui film horor thriller slasher, Halloween (1978) menjadikan dirinya sebagai sutradara independen tersukses dan yang pertama kala itu. Ciri khas Carpenter dalam memadukan genre action, science fiction, horor maupun drama, bahkan dalam satu filmpun sudah menjadi spesialisasinya, satu hal yang tidak dimiliki oleh sineas lainnya, yakni status cult dari film-film yang digarapnya. 

Escape From New York adalah sesuatu yang unik memadukan unsur action science fiction, sedikit horor dan sebutir komedi cerdas. Unsur horor dapat kita temui pada saat adegan-adegan awal ketika sepasukan polisi mendarat di Manhattan untuk menemukan sang presiden, kemudian dikonfrontasi oleh salah satu anak buah Duke, terasa mengerikan dan mencekam. Atau ketika Plissken dan kawan-kawan melintasi area kekuasaan Duke di jalanan yang penuh dengan kekejaman barbar. 

Kesunyian malam mencekam di tengah ‘kota mati’ begitu gamblang di adegan ketika Plissken hampir putus asa tidak menemukan sang presiden, lalu ia mengambil sebuah kursi dan duduk di trotoar sendirian, termenung sebentar, dan tak lama kemudian dari kejauhan dari saluran air bawah tanah datanglah gerombolan manusia barbar kelaparan yang mencari daging segar. Atau ketegangan pada saat rombongan mobil Duke ketika mendatangi kediaman Harold ‘Brain’ Hellman. 

Pengaturan sudut kamera pun dibuat sedemikian rupa, terutama dalam mengekspos gaya gerak Plissken pada saat menodongkan senjatanya sambil mengancam kepada Harold ‘Brain’ Hellman. Namun semua ketegangan dan kengerian bisa diobati dengan berbagai dialog yang saya singgung di atas serta figur Cabby sebagai ‘penggembira’ sekaligus sebagai seseorang yang tidak diduga. Berbagai adegan aksi pun digarap sangat apik dan efisien, tidak berlebihan namun fantastis. 

Berbagai efek ‘jadul’ dan seadanya bisa ditutupi dengan kreativitas yang berkualitas di bawah tekanan efisiensi bujet. Salah satu pelukis matte, ternyata adalah calon sutradara tenar, James Cameron!  Di sisi lain, kita bisa dikelabui oleh atap, interior dan lobi gedung World Trade Center yang porak-poranda atau suasana di Liberty Island atau jalanan di Manhattan atau latar belakang pertarungan di arena gladiator eks-Grand Central Station atau bahkan adegan kejar-kejaran mobil di Brooklyn Bridge yang penuh kejutan sekaligus bikin kita gemas! 

Semuanya berhasil memanipulasi kita akan keindahan adegan dan aksi di malam hari. Pengaturan kamera diatur sedemikian rupa hingga kita bisa terbuai dengan adegan yang mengiringi jalan cerita yang seru.

Tidak ada musik atau original score bukanlah filmnya John Carpenter. Beliaulah yang menggarap sendiri aransemen musik-musik atau original score-nya yang unik dan enak didengar. Tema utama Escape From New York di opening dan end credits, awalnya bagi saya sedikit norak, namun lama-kelamaan enak didengar dan begitu kuat akan gaya kepahlawanan dari seorang jagoan di tengah kekerasan di masa depan. Dan hebatnya lagi, tema musik The Duke is Arrive, digarap sangat baik sekali dengan gaya musik campuran antara jazz, funk serta tekno, menjadikan warna tersendiri. 


Courtesy of AVCO Embassy Pictures, 1981

Pada akhirnya, setelah didistribusikan oleh studio independen, film ini meraih sukses signifikan baik dari pendapatan maupun kritik. Dengan bujet sebesar 6 juta US$, film ini berhasil meraup 25 juta US$ di Amerika Serikat dan meraih status cult. Secara kritik, mendapat skor sebesar 85% di situs Rotten Tomatoes

Pujian lainnya dilontarkan oleh majalah terkenal, yakni Empire yang mendaulat Snake Plissken sebagai tokoh di peringkat 71 dalam kategori ‘The 100 Greatest Movie Characters’. Sedangkan American Film Institute menominasikan film ini di kategori AFI’s 100 Years … 100 Thrills di tahun 2001, Snake Plissken sebagai pahlawan di kategori AFI’s 100 Years … 100 Heroes & Villains di tahun 2003, Science Fiction Film di kategori AFI’s 10 Top 10 di tahun 2008. 

Tak ketinggalan, film ini juga meraih empat nominasi Saturn Awards dari Academy of Science Fiction, Fantasy & Horror Film di tahun 1982 yakni, sebagai Best Science Fiction Films, Best Director, Best Costumes dan Best Make-up. Tak hanya itu saja, film ini menciptakan budaya pop hingga muncullah berbagai merchandise atau memorabilia untuk para penggemar beratnya. Pabrikan action figure ternama, dari yang premium seperti Hot Toys hingga McFarlane Toys dan Neca Toys pun memproduksi figur Snake Plissken, baik dari film ini maupun sekuelnya.

So … bagi anda yang menyukai film action thriller yang dibalut dengan science fiction, Escape From New York telah menjadi landmark tersendiri dalam multi genre, yang menciptakan kepahlawanan ala Amerika melalui figur Snake Plissken sebagai ikon budaya dengan impact yang besar. 

Escape From New York sangat direkomendasikan sebagai film yang mengkritisi apa yang terjadi dalam pemerintahan dan bagaimana kebijakan seorang pemimpin negara yang memposisikan dirinya terhadap rakyat sipil dan perlakuannya terhadap pahlawan. Tema anti-hero mungkin menjadi alasan utama akan adanya konspirasi terselubung akan hal pemanfaatan dan tumbal dari seseorang yang menjadi target operasi. 

Sang protagonis, Snake Plissken pun sebenarnya telah mengendus pemanfaatan dirinya dalam sebuah misi yang tampaknya akan sia-sia. Namun apa daya, dia pun berada dibawah tekanan yang berbahaya, jika bisa, ia akan kabur ke negara lain menjalani kehidupan bebas, sesuka dia : “Playing with myself! I’m going in”.   

Score : 4 / 4 stars

Escape From New York | 1981 | Aksi Laga, Fiksi Ilmiah, Petualangan, Thriller | Pemain: Kurt Russell, Lee Van Cleef, Ernest Borgnine, Donald Pleasence, Isaac Hayes, Harry Dean Stanton, Adrienne Barbeau  | Sutradara: John Carpenter | Produser:  Larry Franco, Debra Hill | Penulis: John Carpenter, Nick Castle | Musik: John Carpenter | Sinematografi: Dean Cundley, Jim Lucas | Distributor: AVCO Embassy Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 99 Menit 


Baca juga : John Carpenter : Sang Maestro Independen | Halloween (1978) : Ketika Ia Kembali di Suatu Malam | Halloween (2018) : Revitalisasi Sekuel Orisinal

Popular Posts