Highlander (1986) : Siapa yang Ingin Hidup Selamanya?

Courtesy of EMI Films and 20th Century Fox, 1986

“Here we are … born to the king, we’re the princes of the universe …”
Sepenggal kalimat dari lirik lagu tersebut menghiasi opening credit dari film "Highlander"' tapi tunggu! Film Highlander yang mana? Versi layar lebar atau televisi?

Kata highlander mungkin sudah umum kita dengar dimana-mana, terutama bagi saya yang besar di era 90an, kala itu dibantu oleh popularitas film seri nya di salah satu televisi swasta. Film yang dibintangi oleh aktor Inggris, Adrian Paul sebagai Duncan MacLeod adalah spin-off dari film orisinilnya, yakni Highlander (1986). 

Jika tak salah ingat –karena sudah lama sekali- dari film seri itulah, saya kemudian mengetahui film layar lebarnya yang menceritakan tentang Connor MacLeod yang dibintangi oleh Christopher Lambert. Plus, di era 90an juga sempat mengudara serial animasinya yang –lagi-lagi- merupakan spin-off dengan tokoh utamanya, Quentin MacLeod. Belum lagi dijadikan novelisasi dan komiknya … so, ternyata ada beberapa tokoh utama dari klan MacLeod, hmmm … makin membingungkan?

Courtesy of EMI Films and 20th Century Fox, 1986

Film merupakan jenis hiburan yang meluas teritorinya hingga ke layar perak alias televisi, kemudian merambah ke media cetak seperti novel, novel grafis, komik, hingga merchandise seperti kartu, mainan atau action figure. Film apapun yang menjadikan film itu sendiri berstatus cult dan tokoh utama sebagai ikon budaya pop, pada hakekatnya selalu dikenang sepanjang masa, kita –hampir semua-  kenal dengan yang namanya TerminatorAlienPredator atau Rambo misalnya. 

Demi menghindari kebingungan karena banyaknya spin-off, saya hanya fokus pada film orisinalnya, yakni Highlander (1986). Sebenarnya saya sudah pernah tonton beberapa kali. Baru kali ini, saya tonton lagi entah yang keberapa kalinya. Ada satu hal yang menarik! Film tersebut mungkin agak sedikit dan seolah-olah ‘terlupakan’, dan kurang dikenal oleh generasi kini yang lebih suka Fast & FuriousTransformers atau tokoh-tokoh dari Marvel dan DC Comics. Mungkin juga dikarenakan sekuel film Highlander semakin merosot kualitas dan kepopulerannya, serta belum ada remake atau reboot dari mbah Hollywood.

Baiklah, kita mulai dengan pengenalan apa itu highlander. Saya selama ini cukup bodoh dan sok tahu untuk menyangka dan mengira bahwa highlander adalah dongeng/hikayat/legenda nenek moyang bangsa Skotlandia secara turun-temurun. Setelah saya terakhir menonton filmnya, dan membaca referensinya bahwa cerita tersebut adalah ide dari seorang penulis naskah dan sutradara film berkebangsaan Amerika bernama Gregory Widen. Cerita highlander terinspirasi ketika ia masih menjadi mahasiswa yang berkunjung ke Skotlandia dan mengamati kostum perang peninggalan abad-abad sebelumnya. Ia lalu berimajinasi, bagaimana jika mereka masih hidup hingga kini.

Fokus cerita berkutat seputar tokoh utamanya, Connor MacLeod dari klan MacLeod, asli bangsa Skotlandia yang hidup di abad pertengahan yang secara tidak sengaja mengetahui bahwa dirinya adalah seorang ksartia yang abadi. Ia adalah salah satu dari beberapa ksatria yang hidup berabad-abad lamanya. 


Courtesy of EMI Films and 20th Century Fox, 1986

Premis ceritanya, yani para kastria abadi tersebut memperebutkan ‘hadiah’ berupa seluruh pengetahuan semesta dan mencapai apa yang disebut sebagai pencapaian ‘puncak hidup’ … saya agak susah menjelaskannya. Maka, para kastria tersebut saling bertarung memakai pedang. Mengapa harus bertarung? Karena tidak semua kastria memiliki jiwa kastria, karena sebagian memilih jalur kegelapan demi kekuasaan pribadi. 


Lalu mengapa harus memakai pedang?? Jawabannya sederhana, para ksatria tersebut bisa mati, jika lehernya dipenggal … ngeri kan? Karena jika di DOR! Mereka tidak akan mati. Lalu ada proses menarik yang disebut quickening, suatu momen pada saat seorang kastria berhasil memenggal musuhnya lalu ia seperti bermandikan kilat dan terjadi semacam hantaman terhadap benda disekitarnya. Peristiwa quickening tersebut yakni seperti menyerap energi dan ‘pengetahuan’ dari musuhnya yang berhasil dikalahkan. Seperti itulah gambarannya.

Balik ke cerita di filmnya, Connor MacLeod yang mulanya tidak mengerti mengapa ia menjadi seseorang yang abadi, kemudian bertemu dengan seorang kastria lainnya sekaligus menjadi mentornya, yakni Juan Sánchez Villa-Lobos Ramírez, singkatnya Ramirez. Ramirez lah yang melatih MacLeod untuk menjadi seorang ksatria highlander dan berharap menjadi pemenang pada saat the gathering nantinya, suatu peristiwa puncak antara dua ksatria yang tersisa untuk memperebutkan ‘hadiah’ yang disebut the prize

Courtesy of EMI Films and 20th Century Fox, 1986

Namun, seorang kastria antagonis yang tak terkalahkan, yakni Kurgan juga berambisi memperebutkan hadiah demi kekuasaan pribadinya. Malah Kurgan dengan nafsu mencari dan ingin membunuh MacLeod dari awal, sebelum MacLeod sendiri menyadari bahwa ia seorang ksatria highlander.  

Jika kita menikmati filmnya dari awal hingga akhir, menurut saya digarap apik dan tidak membingungkan. Fokus cerita yakni ber-setting masa kini di Amerika, MacLeod yang memakai nama Russell Nash adalah seorang pedagang barang antik yang menjalani kehidupan normalnya, hingga akhirnya bertemu kembali dengan musuh besarnya, yakni Kurgan yang nantinya akan berduel memperebutkan ‘hadiah’. 

Sebelumnya, MacLeod bertemu dengan seorang kastria jahat lainnya di sebuah pertandingan gulat. MacLeod bertarung dengan pedang dan menang dan mengakibatkan penyelidikan polisi atas kasus pembunuhan. Adalah Brenda Wyatt, seorang polisi forensik yang juga tertarik dengan berbagai benda logam purbakala menyelidiki dan mencurigai Nash. Lalu bagaimana kelanjutan peristiwanya? Akankah Nash/MacLeod yang berhasil mengalahkan Kurgan?

Sebenarnya jalan ceritanya tidak serumit yang dibayangkan dan kita merasa mudah untuk mengikutinya. Dikarenakan premis cerita yang demikian, tentu memiliki plot yang cukup kompleks. Plot cerita linear antara masa kini dan flashback seorang MacLeod di masa lalu, terkoneksi dengan beberapa momen di masa kini. Seperti di adegan awal di masa kini, pada saat MacLeod berada di tribun penonton pertandingan gulat, ia teringat peristiwa persiapan perang dengan klan lain di Skotlandia. 

Atau ketika MacLeod bertemu dengan Brenda, dia teringat dengan kekasihnya, Heather,  di masa-masa awal MacLeod dilatih sebagai ksatria. Dan munculnya karakter Rachel, sekretaris Nash di masa kini yang juga ternyata seorang highlander, diperkenalkan pada saat mereka bertemu di jaman Perang Dunia ke-2.

Courtesy of EMI Films and 20th Century Fox, 1986

Akting seorang aktor Perancis yang lahir di Amerika, Christopher Lambert sebagai tokoh utama, saya rasa cukup pas untuk seorang Connor MacLeod yang hidup berabad-abad dan merasa terasingkan sekaligus kesepian tentunya karena ditinggal orang-orang yang diasayanginya. Tatapan dan sorot mata yang tajam dan dingin namun berkesan aneh, menimbulkan keunikan tersendiri akan seorang Connor MacLeod yang penuh misteri dengan menyembunyikan rahasianya seorang diri. 

Aksen Skotlandia nya juga cukup baik pada saat beradegan di abad pertengahan. Ironisnya, aktor berkebangsaan Skotlandia, Sean Connery, malah berperan menjadi Ramirez, yang berasal dari Mesir dan lama menetap di Spanyol, dengan aksen Inggris yang cukup kental. Keputusan sineas memang tepat untuk menunjuk aktor Amerika yang sering berperan antagonis, Clancy Brown sebagai Kurgan. 

Dengan nada suara serak dan rendah –gara-garanya leher dia hampir terpenggal oleh musuhnya- serta berbadan tinggi besar dan memiliki muka sangar atau sadis. Sedangkan aktor-aktris pendukung lainnya menurut saya tidak ada yang spesial. Beberapa adegan dan dialog diselingi oleh komedi segar namun standar. 

Namun semuanya memang tertolong oleh karisma aktor veteran Sean Connery meski sebagai pemeran pendukung. Akting yang kadang melucu mencairkan suasana tegang akan keganasan Kurgan, serta dialog yang berwibawa dan menyejukkan MacLeod sebagai muridnya untuk menuntun kepada jalur yang tepat.


impawards.com

Satu hal menurut saya yang paling menonjol adalah sinematografi yang begitu indah dan artistik. Kekuatan visual terutama di abad pertengahan akan indahnya Skotlandia yang dikontraskan dengan pakaian tradisional kelt yang dominan berwarna biru atau merah tua. 

Pemandangan eksotis alam Skotlandia di pemukiman klan MacLeod, lengkap dengan jalur seperti tembok raksasa di China, dataran tinggi yang menjadi latar belakang tempat tinggal Macleod dan Heather, danau dengan latar belakang kastil serta pantai tempat Macleod dan Ramirez berlatih. Sudut kamera berhasil memainkan view dan depth of field di banyak adegan dengan baik.

Courtesy of EMI Films and 20th Century Fox, 1986

Kekuatan film ini tak lepas dari soundtrack musik aransemen komposer ternama, Michael Kamen dan lagu yang dibawakan oleh rock band legendaris, Queen. Lagu-lagunya menghiasi sepanjang film, mulai dari opening hingga ending credits

Ada satu momen yang menurut saya sangat emosional, yakni pada saat adegan kebersamaan MacLeod dan Heather dengan latar belakang di kediaman mereka dari masa ke masa, hingga Heather bertambah usia, semakin tua dan akhirnya meninggal di pelukan MacLeod. Diiringi oleh lagu Queen, Who Wants to Live Forever, adegan tersebut menurut saya sangat menyentuh. Satu poin yang menggambarkan keengganan dan penolakan MacLeod atas takdir dirinya sebagai ksatria highlander yang hidup abadi.

Sekali lagi, Amerika Serikat berhasil mengkreasikan sebuah ikon pop budaya ke dalam sebuah film. Highlander adalah salah satu contoh pahlawan atau ksatria abadi melawan kejahatan. Namun dari sisi manusiawi, siapa yang akan menyangka, jika ternyata hidup abadi adalah menyakitkan, karena ditinggal oleh orang-orang sekitar yang disayanginya. 

Highlander mengajarkan kita bahwa sebenarnya hidup di dunia ini tidak ada yang abadi, karena pada akhirnya toh mereka pun ditakdirkan untuk menghadapi maut dan hanya akan muncul seorang pemenang saja, yang biasa kita kita dengar … “there can be only one!”

Score : 4 / 4 stars

Highlander | 1986 | Petualangan, Aksi Laga, Fantasi, Period | Pemain: Christopher Lambert, Roxanne Hart, Clancy Brown, Sean Connery  | Sutradara: Russell Mulcahy | Produser:  Peter S. Davis, William N. Panzer | Penulis: Gregory Widen | Musik: Michael Kamen (Musik), Queen (Lagu) | Sinematografi: Gerry Fisher | Distributor: EMI Films (Inggris), 20th Century Fox (USA) | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Durasi: 116 Menit 

Baca juga : Nasib Saga Terminator, The Latest and The Future

Popular Posts