Horor Rasa Baru itu Ada di Film "Happy Death Day"

Courtesy of Universal Pictures, 2017

Ketika kematian terjadi pada diri seseorang, namun sesungguhnya ia terbangun dari tidurnya, mengalami kematian lagi, bangun lagi dengan kondisi sama persis semuanya, balik lagi seperti semula … begitu seterusnya, lalu kapan berakhirnya??

Tampaknya orang tersebut mengalami déjà vu, yakni kejadian sama yang terus terulang kembali … yang anehnya, berkali-kali lho, apa gak bosen tuh? Fenomena déjà vu atau banyak yang menyebut konsep time loop di film horor modern terbaru, Happy Death Day (2017), adalah sesuatu yang fresh dan menawarkan konsep berbeda dari film-film horor lainnya.

Film yang mengisahkan seseorang yang bernama Tree (Jessica Rothe) yang mengalami kematian yang berulang kali, dibunuh oleh seseorang yang tidak dikenal pas di hari ulang tahunnya. Setiap kali Tree terbangun, segala kondisi ruang dan waktu serta peristiwa sama persis seperti kondisi saat ia terbangun sebelumnya. Begitu terus kondisinya, hingga Tree harus mengubah setting kejadian, yakni bertindak untuk mencari tahu siapa pembunuh dirinya.

Bagi saya sebagai penonton awam, tentu menikmati alur cerita yang dibangun sedemikian rupa, hingga membuat penasaran, apa yang akan terjadi berikutnya. Sayapun menjadi ragu dalam menebak siapa tokoh pembunuh Tree yang sesungguhnya.

Cerita yang bergulir dari kejadian sama ketika ia terbangun, yang berulang kali, kemudian alurnya berubah, setelah Tree seperti ‘mengacak’ alur untuk kisahnya sendiri. Kejutan demi kejutan terjadi, akankah Tree berhasil mengetahui sang pembunuh, sekaligus berhasil keluar dari jeratan sirkulasi déjà vu tersebut?

Film yang ditulis oleh Scott Lodbell dan disutradarai oleh Christopher B. Landon tersebut, sukses di pasaran pada saat perilisan menjelang Halloween di bulan Oktober lalu. Secara kritik pun mendapat sambutan positif sebagai film yang dianggap memiliki konsep segar di jajaran film horor.  

Media menyebut film ini menggabungkan unsur dari film drama komedi romantis yang mengisahkan adanya time loop –atau bisa disebut déjà vu yang teus berulang- yakni Groundhog Day (1993) dan film horor slasher tentang pembunuh berantai yang memakai topeng di lingkungan sekolah, yakni Scream (1996).

Ada yang menyebut bahwa konsep time loop bisa dikatakan sebagai genre science fictionreally? Saya mungkin beda pendapat, karena peristiwa tersebut yang menghadirkan perangkap waktu yang terus berulang di film Happy Death Day, tidak menggunakan kecanggihan teknologi, seperti yang dibeberkan di film Back to the Future (1985) misalnya.

Mungkin lebih tepat dikatakan sebagai sub genre horor supranatural, karena peristiwa yang berulang tersebut diluar akal sehat kita dan sulit dijelaskan secara ilmiah. Jika digabungkan antar genre, film ini dapat dikatakan memiliki berbagai genre yakni : horor, thriller, supranatural, romantic dan komedi. Oh ya, ada sedikit bumbu action

impawards.com

Premis film ini pun ternyata memiliki nilai plus, yang tanpa saya sadari, terdapat di pertengahan film. Film ini bukan sekadar bagaimana solusi mengatasi perangkap waktu dan mengetahui seorang pembunuh, namun nilai-nilai dari sikap hidup terhadap orang lain. Film ini secara tidak langsung mengevaluasi perubahan karakter dan perilaku seorang Tree seiring dengan berbagai peristiwa yang menimpa dirinya.

Secara alur ceritapun, film ini mudah dicerna, tanpa harus memutar otak. Alur cerita yang mengingatkan saya akan film Looper (2012) atau yang lebih ektrim mungkin film Memento (2000). Puncak alur cerita terjadi ketika Tree mengingat kembali berbagai peristiwa dan rencana pembunuhan terhadap dirinya.

Film horor slasher memang sedang menadi trend kembali saat ini, setelah sempat redup di era 90’an, sebelum muncul film Scream. Target marketnya jelas lebih mengarah kepada anak muda saat ini. Kreasi seorang pembunuh dengan memakai topeng berwujud ‘muka anak kecil’, mulai menjadi ikon, layaknya topengn Ghost Face-nya Scream.

Beberapa adegan dan gaya mulai dari pengintaian, kemudian mendekati korban hingga eksekusi pembunuhan, juga adegan di rumah sakit mirip dengan film di dua seri Halloween. Film inipun tidak dikemas secara serius, ada keseruan dan kekocakan segar yang disisipkan untuk meredam unsur horor dan thriller.

Sebenarnya jika dikatakan horor, tidaklah seseram yang dibayangkan sepenuhnya. Jangan membayangkan adanya unsur gore seperti di film Scream atau film slasher lainnya. Berbagai adegan pembunuhan disajikan sangat porsi gore yang sangat minim. Malah berkesan seperti film action thriller yang menurut saya terlalu mudah, seakan-akan Tree adalah seorang ‘jagoan’ wanita yang bertarung dengan seorang pembunuh berantai.

Juga ada momen-momen romantis yang dibangun secara perlahan antara Tree dengan karakter yang berhasil mencuri simpati, yakni Carter (Israel Broussard). Pada mulanya mereka yang kerap dipertemukan pada saat Tree terbangun di kamar Carter, Tree tampak acuh tak acuh dengan Carter.

Fokus dan eksploitasi film ini hanya pada sosok Tree, yang diperankan dengan baik oleh Jessica Rothe, sebagai seorang gadis yang jutek, menyebalkan dan terkesan arogan. Tree adalah sosok yang kelihatannya tangguh, namun sepertinya memiliki masalah yang berat.

Karakter pendukung lainnya tidak ada yang menonjol, mungkin yang sedikit mencuri perhatian adalah Gregory Butler (Charles Aitken), seorang dosen yang telah beristri dan berselingkuh dengan Tree. Gregory berkesan seperti orang konyol pada saat berkonflik dengan Tree. Dan satu karakter lainnya yang mengejutkan, yakni Nick Sims.

Seperti umumnya film-film remaja lain, Happy Death Day dianggap cukup piawai dalam memainkan irama pergerakan kamera, dari satu adegan ke adegan lainnya. Beberapa kejadian flashback pun digarap dengan speed yang tidak terlalu cepat. Begitu pula dengan kontinuitas adegan pengulangan ketika Tree terbangun, diambil dari berbagai sudut berbeda, sehingga tidak membosankan.

So, film Happy Death Day saya rasa bisa me-refresh dari film-film horor slasher remaja yang marak bermunculan dalam beberapa dekade ini. Saya memberikan poin plus untuk ide dari konsep ceritanya. Unsur ketegangan cukup baik dalam menekan jantung penonton, unsur komedi dan kekonyolan cukup memberikan tawa segar, unsur action dianggap cukup mendebarkan meski terkesan berlebihan.

Unsur drama juga cukup menyentuh di adegan ketika Tree bertemu dengan ayahnya. Unsur romantisme terkesan biasa saja. Mungkin kekurangannya bagi penggemar slasher, adalah kurangnya unsur gore … plus kurang kreatifnya berbagai adegan kematian.   

Film ini direkomendasikan sebagai film bukan sekadar horor slasher belaka, namun enjoyable sebagai sebuah hiburan yang menegangkan sekaligus menyegarkan.

Score : 3.5 / 4 stars

Happy Death Day | 2017 | Horor, Thriller, Slasher, Aksi Laga, Supranatural | Pemain: Jessica Rothe, Israel Broussard, Ruby Modine, Rachel Matthews, Charles Aitken  | Sutradara: Christopher B. Landon | Produser: Jason Blum | Penulis: Scott Lodbell | Musik: Bear McCreary | Sinematografi: Toby Oliver | Distributor: Universal Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 96 Menit 


Baca juga : Horor Gaya Baru itu ada di Film 'A Quiet Place' 


Popular Posts