The Crying Game (1992) : Cinta, Nurani dan Nasionalisme

Courtesy of Miramax Pictures, 1992

Mengejutkan! Sangat mengejutkan!!
Itulah pengalaman saya selama mengikuti jalan cerita, terutama di pertengahan film hingga ending-nya.

Saya agak bingung, entah mulai dari mana akan saya beberkan beberapa unsur penting –atau mungin tepatnya, premis- di film ini. Okeh, baiklah … saya ceritakan secara kronologis aja ya …

Film ini telah lama saya ketahui, sejak kehebohan ajang Academy Awards di tahun 1992 silam, yang diangkat oleh media televisi swasta dan majalah serta surat kabar. Saya lupa, apakah film ini pernah masuk bioskop di tanah air atau tidak, mengingat sebuah kontroversi begitu melekat.

Yang saya ketahui waktu itu bahwa The Crying Game adalah sebuah film yang bermutu, setelah mendapat penghargaan Oscar untuk Best Original Screenplay dan beberapa nominasi termasuk Best Picture dan Best Supporting Actor. Saya yang menggemari genre action kala itu, tidak tertarik dengan film drama thriller di film ini, meski ada sedikit action-nya.

Popularitas film ini juga diangkat melalui tema lagu dengan judul yang sama oleh penyanyi Boy George, yang suka diputar di salah satu televisi swasta. Dengan lagu melankolis mendayu-dayu yang cukup syahdu, namun powerfull. Tone lagu tersebut mirip lagu jadul lainnya yang dinyanyikan Chris Isaac, The Wicked Game. Lirik lagu The Crying Game cukup dalam dan penuh makna … ya, sesuai dengan premis film itu sendiri.

Film tersebut masih ingat di benak saya, pada saat saya penasaran ingin tonton dan kebetulan saya tertarik dengan tema seputar konflik Inggris dengan Irlandia Utara. Konflik yang menimbulkan berbagai aksi teror oleh tentara I.R.A terhadap Inggris itupun, menjadi salah satu subjek yang menarik untuk dibahas dalam sebuah film.

Perlu diketahui, bahwa tulisan ini mungkin mengandung beberapa SPOILER!

The Crying Game berpusat pada tokoh Fergus (Stephen Rea), seorang relawan tentara I.R.A. Bersama dengan rekan-rekannya, termasuk Jude (Miranda Richardson) yang dikoordinir oleh Maguire (Adrian Dunbar), mereka menjebak dan menculik seorang tentara Inggris, Jody (Forest Whitaker) di sebuah rumah.

Tragisnya, Jody tewas tertabrak panser Inggris yang sedang melintas pada saat melarikan diri ketika akan dieksekusi mati oleh Fergus. Tak lama kemudian sebuah pesawat membom rumah tersebut yang meluluh-lantahkan semuanya.

Cerita pun bergulir pada petualangan Fergus di London untuk memenuhi janji Jody yang mengawasi dan melindungi kekasihnya, yakni Dil. Fergus yang bertobat mengasingkan diri menjadi seorang pekerja konstruksi kemudian bertemu dengan Dil, yang berprofesi sebagai pekerja salon dan sering disakiti oleh seorang pria yang mengaturnya sebagai penyanyi di sebuah bar.

Fergus sengaja tidak membeberkan kepada Dil, apa yang sebenarnya terjadi dengan Jody. Malah Fergus terjerat romantisme dengan Dil, setelah merasa ia iba dan simpati dengan pahitnya kehidupan Dil. Cerita tampaknya bergulir seperti drama romansa antara Fergus dengan Dil.

Tapi kejutan demi kejutan terjadi dari apa yang dialami oleh Fergus, termasuk kunjungan tak terduga dari Jude dan Maguire yang kembali menugaskan Fergus untuk membunuh seorang hakim. Fergus yang enggan kembali menjalankan tugasnya, terus bergumul dalam batinnya, sedangkan di satu sisi ia juga harus melindungi Dil yang terancam nyawanya, jika ia menolak tugas tersebut.

Sineas Neil Jordan piawai dalam memainkan ritme dan ambience yang cenderung kelam dari berbagai kompleksitas kehidupan dan hubungan antar manusia. Nuansa cerita dan adegan yang dibangun, mengingatkan saya akan film-film Jordan yang lain, seperti The Company of Wolves (1984) dan Interview with the Vampire (1994). Gaya penyampaian ceritanya, mirip seperti ‘dongeng’ kisah perjalanan seorang tokoh utama … yang, jika kita cermati, terdiri dari beberapa babak.

Khusus di film ini, saya melihat ada dua bagian (babak) penting. Bagian pertama, kita dikenalkan siapa itu Fergus, terutama dari watak dan sikapnya. Yang memperkenalkannya lewat dialog, tentu saja Jody, pada saat ditawan. Disitu saya melihat karakter Jody lebih dominan dibandingkan Fergus. Jody yang mengetahui dirinya bakal menghadapi ajal, secara manusiawi tampaknya ingin ‘bersahabat’ dengan Fergus yang dingin dan kaku.   

Dan pertemanan singkat antara Fergus dan Jody pun terjalin secara tidak sengaja. Fergus yang awalnya bersikap dingin dan kaku, akhirnya sedikit demi sedikit tergerak hatinya, setelah Jody mengetahui bahwa Fergus sebenarnya memiliki nurani. Kematian Jody dengan ‘cara lain’ adalah hal yang tak saya duga sebelumnya.

impawards.com

Okey, lalu film berlanjut di ‘bagian kedua’ pada saat Fergus bertualang di London dan bertemu dengan Dil, setelah sebelumnya Jody memohon kepada Fergus untuk ‘menjaga’nya. Nah, disitulah film sebenarnya ‘dimulai’. Seperti menonton film drama percintaan erotisme yang diselingi unsur thriller dan sedikit suspens, I guess … berbagai peristiwa yang terjadi sungguh diluar dugaan.

Hebatnya lagi, beberapa adegan diselingi sedikit humor satir, membuat saya syok sekaligus tertawa pahit! Pada satu titik puncak cerita, sekali lagi, karakter Fergus benar-benar teruji.

Sebagai seorang relawan I.R.A yang seharusnya disikapi dengan, well … mungkin gaya militan yang cenderung tegas, justru dipamerkan oleh Fergus dengan gaya seperti seseorang yang tidak pernah terlibat dengan ‘military things’ … you know what I mean! Gaya Fergus tidak berlebihan, malah boleh dibilang cukup ‘lembek’, namun benar-benar manusiawi.

Dapat disimpulkan, bahwa sebenarnya karakter Fergus yang dimainkan dengan baik oleh Stephen Rea, tidaklah cocok sebagai relawan I.R.A. yang ‘akrab’ dengan penggunaan senjata. Fergus cenderung memiliki sifat lugu dalam dirinya, yang terjebak di dalam kekerasan.

Karakter Jody yang juga signifikan diperankan oleh aktor watak Forest Whitaker, pada mulanya agak saya remehkan, mengingat dari opening credits, diberikan urutan kesekian … jadi bukan merupakan peran dengan porsi yang cukup besar. Namun yang menarik perhatian saya adalah ketika beberapa dialog dan adegan yang menggerakan dan membuka hati saya sebagai penonton, akan apa inti cerita di film ini sebenarnya.

Yang paling menarik atensi dari semuanya, tentu saja karakter Dil … wah, ini yang menjadi kunci dari problematika cerita yang sesungguhnya! Melalui karakter Dil, maka Fergus semakin belajar dan memperlihatkan hati nuraninya sebagai manusia. Fergus mengalami hubungan yang rumit dengan Dil, Jody, serta Jude. Dari situ, ia belajar mencintai dan menyayangi apa arti sebuah nilai seorang manusia.

Gaya penyutradaraan ala Neil Jordan memang unik, mungkin berkesan mengandung banyak unsur suspens dan kejutan, meski tidak sekuat Hitchcock atau Brian De Palma misalnya. Unsur neo-noir yang kental, juga menambah kesenduan dan tragedi akan drama perjalanan seorang protagonis. Begitu pula dengan sorotan kamera di beberapa adegan tertentu yang bergerak perlahan namun secara eksplisit memberikan kejutan yang tiada ampun, dari yang saya alami.

Tak pelak, jika film ini berkualitas Oscar dan tentunya disambut baik oleh kritik dan sukses di layar lebar. Menurut saya, film ini mengandung kontroversi yang mengejutkan sekaligus pula menggetarkan hati, terutama di akhir adegan. Mungkinkah sebuah penebusan menjadi solusi yang tepat dari beberapa kesalahan di masa lalu?

Ah sudahlah, lebih baik tonton saja … dan siapkan mental!

Score : 4 / 4 stars  

The Crying Game | 1992 | Drama, Thriller, Petualangan Pemain: Stephen Rea, Jay Davison, Miranda Richardson, Forest Whitaker   | Sutradara: Neil Jordan  | Produser:  Stephen Woolley | Penulis: Neil Jordan | Musik: Anne Dudley | Sinematografi: Ian Wilson | Distributor: Miramax Pictures | Negara: Inggris, Irlandia | Durasi: 111 Menit 

Popular Posts