Alice, Sweet Alice (1976) : Bukan Film Slasher Biasa

Courtesy of Allied Artist, 1978

Mungkin ini salah satu movie review tersingkat yang saya buat.

Kesan pertama kali nonton nih film, jauh dari yang saya bayangkan sebelumnya. Ini bukanlah sebuah film slasher tentang seorang pembunuh berantai yang sedikit ‘psyco’ dan ‘gemar’ membunuh orang-orang disekitarnya … oh no!

Jika anda pernah menonton film-filmnya Alfred Hitchcock dan Brian De Palma yang kental dengan suspens thriller-nya atau Dario Argento yang lekat dengan giallo-nya, maka film ini memang bergaya demikian. Para kritikus pun kadang –secara tidak langsung- membandingkan film ini dengan Don’t Look Now (1973) arahan Nicolas Roeg.

Jadi bisa dikatakan, bahwa film ini adalah sebuah cerita misteri -atau susens- pembunuhan dengan sentuhan horror thriller yang membuat degup jantung berdetak kencang. Sedikit bumbu gory, memang menambah sub genre slasher dan sedikit aura horor turut andil menghadirkan beberapa kejutan.

Dikisahkan seorang gadis belia, Karen (Brooke Shields) yang sedang dalam persiapan komuni pertama di sebuah gereja Katolik. Pada saat Karen sedang dalam persiapan di gereja, ia dibunuh dengan kejam oleh seseorang yang tidak diketahui identitasnya. Pembunuhnya memiliki perawakan seorang perempuan yang memakai jas hujan berwarna kuning dan topeng menyerupai wajah manusia, sesuatu yang pernah dipakai oleh kakak Karen, Alice (Paula Sheppard) yang mengerjai-nya di sebuah gudang tua sehari sebelumnya.

Sontak, sang ibu Catherine (Linda Miller) dan kakaknya, Annie (Jane Lowry) menjadi histeris. Hadir juga Alice yang sebelumnya cemburu kepada Karen, karena merasa ibunya lebih perhatian kepada Karen. Setelah pemakaman Karen, sang ayah yang berpisah dengan Catherine, Dominick (Niles Mc Master) mendatangi kantor polisi dan meminta bantuan untuk melacak jejak pembunuh.

Annie sementara tinggal di rumah Catherine untuk membantu dalam masa duka. Ia selalu bersitegang dengan Alice. Hingga suatu waktu, Annie hendak dibunuh, namun sempat terluka dan dilarikan ke rumah sakit. Annie dengan histeris menuduh Alice yang mencoba membunuhnya, karena sosok pembunuh memakai jas hujan berwarna kuning dan topeng yang sama.

Lalu, benarkah Alice pembunuhnya? Bagaimana dengan tindakan polisi detektif dalam menyingkap kejadian tersebut? Mengapa Alice hingga tega membunuh keluarganya, apakah ia juga mengidap penyimpangan jiwa?  

impawards.com

Mulanya film ini hadir di festival tahun 1976 dengan judul Communion. Dua tahun kemudian, hadir di bioskop-bioskop di Amerika dengan judul Alice, Sweet Alice. Tiga tahun sesudahnya, bersamaan dengan menaikkan popularitas Brooke Shields di film kontroversial arahan Louis Malle, Pretty Baby (1978), dirilis ulang di bioskop dengan judul Holy Terror. Bagi anda yang besar di era 80’an dan 90’an tentu mengenal aktris Brooke Shields yang masih belia di film ini.

Sedangkan jajaran kru film lainnya, memang kurang dikenal oleh dunia perfilman mainstream umumnya. Akting mereka pun saya rasa standar, namun tidak ‘norak’. Hanya dua karakter yang mencuri perhatian saya, yakni akting Mildred Clinton sebagai Mrs. Tredoni sebagai pembantu rumah tangga paruh baya di kediaman pastur, dan Jane Lowry sebagai seorang Annie yang emosional, histeris serta trauma terutama pada saat adegan di rumah sakit.

Overall, cerita yang disajikan digarap cukup baik, meski dengan ritme yang lambat namun tetap dengan tone yang mencekam. Beberapa adegan dirasa menyeramkan dan bikin kaget, terutama pada saat Karen ‘mengerjai’ Alice di sebuah gudang tua. Dan adegan percobaan pembunuhan Annie di sebuah tangga … oh ya, adegan yang mengejutkan dan gory juga diperlihatkan di puncak akhir film, sesuatu yang tak disangka.

Satu-satunya hal yang disturbing bagi saya adalah kehadiran seorang penyewa kamar rumah Catherine, yakni Mr. Alphonso. Seseorang dengan perawakan sangat gemuk dan jorok, yang digambarkan dalam beberapa adegan selalu berkonflik dengan Alice. Mr. Alphonso digambarkan sebagai seorang yang sepertinya ‘mengganggu’ selera menonton saya.

Seperti yang saya mention sebelumnya, atribut pemakaian jas hujan dan topeng yang dipakai oleh pembunuh, sama persis dengan film psychological horror, Don’t Look Now, hanya beda warna saja. Dan topeng dengan wujud muka manusia yang dipakai, mungkin saja menginspirasikan film Happy Death Day (2017).

Jadi jangan harap menonton film ini layaknya film-film slasher sejenis dengan banyak body count .. emangnya mau mencetak skor?? Di film ini tercatat hanya ada empat pembunuhan dan satu yang gagal. Mungkin unsur drama misteri lebih menekankan teki-teki siapa pembunuhnya dan motif apa dibaliknya. Berbagai adegan pembunuhan pun dibuat tidak absurd dan cukup logis.

Bagi yang menyenangi film horor bergaya Hitchcock, atau tepatnya Dario Argeto –karena unsur gory yang lumayan- Alice, Sweet Alice cukup berhasil menyediakan kepuasan akan tontonan yang tidak biasa. Not bad for the unusual horror or thriller movie.

Score : 3.5 / 4 stars

Alice, Sweat Alice | 1978 | Horor, Slasher, Drama, Thriller | Pemain: Linda Miller, Paula Sheppard, Lillian Roth, Brooke Shields, Niles McMaster, Jane Lowry  | Sutradara: Alfred Sole | Produser: Richard K. Rosenberg, Alfred Sole | Penulis: Rosemary Ritvo, Alfred Sole  | Musik: Stephen J. Lawrence | Distributor: Allied Artist | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 98 Menit


Baca juga  : Body Double (1984) : Sajian Erotis dari Tuan De Palma | Horor Rasa Baru itu Ada di Film 'Happy Death Day'

Popular Posts