Death Wish (1974) : Kisah Vigilante dari Sebuah Tragedi


Courtesy of Paramount Pictures, Columbia Pictures, 1974

Dari judulnya, mirip film Die Hard yang sama-sama menghidangkan kekerasan. Jika kata Die Hard artinya sulit mati, mereferensikan karakter John McClaine sebagai seorang polisi yang enggak mati-mati, pun demikian dengan Death Wish. Kata "Death Wish" yang bisa diartikan sebagai hasrat akan adanya kematian terhadap dirinya atau orang lain. Persamaannya adalah, kedua tokoh utama di masing-masing film tersebut, tidak mati-mati!

Tentu saja beda dengan Die Hard, film Death Wish lebih mengisahkan tragedi seseorang atas kematian istri dan rapuhnya seorang putri kesayangannya, akibat peristiwa kriminal yang menimpa mereka. Film yang diadaptasi lepas dari novel karya Brian Garfield dengan judul yang sama, mengangkat tema balas dendam dan kepuasan batin, setelah tokoh utamanya berubah menjadi seorang vigilante. Sosok vigilante adalah seorang yang main hakim sendiri dengan memberantas para kriminal, seperti yang pernah saya bahas sebelumnya.

Death Wish mungkin merupakan film tentang vigilante yang paling terkenal dan kontroversial pada saat dirilis. Alkisah, Paul Kersey (Charles Bronson), seorang arsitek sukses yang tinggal di Manhattan, New York. Ia memiliki istri, Joanna Kersey (Hope Lange) dan seorang putri, Carol, yang telah menikah dengan Jack Toby (Steven Keats). Kehidupan mereka bahagia dan normal, layaknya kebanyakan orang.

Suatu hari, Joanna dan Carol setelah belanja di sebuah supermarket, dibuntuti oleh ketiga orang tak dikenal, hingga ke apartemen mereka. Ketiga orang itupun dengan tipuan, berhasil menyatroni apartemen Joanna, lalu dengan beringas, merampok, menganiaya Joanna hingga sekarat, serta memperkosa Carol.

Paul yang sedang berada di kantornya, bergegas ke rumah sakit, setelah diberitahu Jack, bahwa Joanna dan Carol dirawat intensif di rumah sakit. Namun sayang, begitu Paul tiba di rumah sakit, seorang dokter memberitahu, bahwa Joanna tidak bisa tertolong nyawanya dan meninggal, sedangkan Carol mengalami trauma berkepanjangan. Carol pun mengalami gangguan jiwa dan dirawat secara psikoterapis.

Paul yang tidak ingin berlama-lama dalam kedukaan, akhirnya kembali bekerja, setelah di suatu malam, berhasil menghantam seorang penodong di jalanan. Tak lama kemudian, atasan Paul mengirimnya ke Tucson, Arizona, untuk menangani proyek pemukiman dan komersil. Paul bertemu dengan kliennya, Ames Janchill, yang kemudian memberinya hadiah kepada Paul berupa sebuah pistol revolver.

Paul yang tampaknya mulai berubah, segera keluar dari apartemennya, jalan kaki ke sebuah taman di malam hari. Paul yang didekati oleh penodong, tiba-tiba mengeluarkan pistolnya dan menembak mati penodong tersebut. Hal tersebut terus dilakukan Paul, termasuk menembak mati para perampok yang sedang memukuli seseorang di sebuah gang. Peristiwa tersebut akhirnya sampai kepada investigasi polisi yang dipimpin oleh Letnan Frank Ochoa (Vincent Gardenia).

Frank yang kemudian mencurgai Paul sebagai tersangka vigilante, bermaksud menangkapnya, namun dicegah oleh seorang Jaksa Wilayah dan Komisaris Polisi. Mereka tak ingin, angka penurunan kriminalitas karena aksi Paul, malah menjadi kacau, dengan munculnya para vigilante lain. Merekapun menyarankan Frank untuk meminta Paul keluar dari kota New York.

Dengan konsep cerita yang sederhana, film Death Wish menyajikan aksi balas dendam dan perubahan karakter seorang Paul Kersey, menjadi sosok vigilante. Premis dari film ini adalah bagaimana frustasi dan putus asa-nya seorang Paul Kersey, setelah meminta bantuan polisi dalam menangani kasus yang menimpa keluarganya. Main hakim sendiri untuk keadilan, adalah satu-satunya jalan untuk menumpas para penjahat jalanan yang suka meneror sebuah kota besar yang ‘tidak bersahabat’ tersebut.

Basis film ini memang berupa drama yang kemudian lambat laun berubah menjadi thriller dan sedikit action, dengan latar belakang kriminalitas. Adalah menjadi ciri khas dari sutradara Michael Winner yang piawai dalam memainkan, serta ‘memanipulasi’ image dan kesan dari sebuah film. Maksudnya adalah film dengan satu genre utama, tidak semerta-merta harus selalu menghadirkan atmosfir dari genre itu sendiri, namun bisa dipadukan dengan sedikit sentuhan genre lainnya, contohnya seperti Scorpio (1973) dan The Sentinel (1977).

Untuk kasus seperti Death Wish, memiliki genre crime thriller dengan porsi paling besar. Namun di adegan pembuka barengan dengan opening credits, diwarnai dengan adegan romantis antara Paul Kersey dan Joanna di sebuah pantai. Adegan tersebut menjelaskan bahwa mereka sedang ‘honeymoon’ dan berlibur di pantai, lengkap dengan background musik romantis, dan sedikit melankolis.

impawards.com

Jika anda belum tau film Death Wish tentang apa, pasti awalnya menebak itu film drama romantis. Lalu alur bergulir pada adegan Paul sedang beraktivitas di kantor, berinteraksi dengan rekan kerja dan atasannya.

Namun, aura thriller mulai terasa, tatkala Joanna dan Carol sedang belanja di supermarket, sementara ketiga orang ‘preman’ sedang bermain-main dan mengacaukan suasana. Tensi mulai muncul dan meningkat, ketika ketiga preman tersebut mengelabui Carol, dengan pura-pura sebagai pengantar barang belanjaan dari supermarket. Dan puncaknya adalah ketika adegan penganiayaan, pelecehan serta perkosaan terjadi.

Begitu juga dengan adegan Paul yang beraktivitas di siang hari sebagai arsitek, dan di malam hari sebagai vigilante. Tensi dan ketegangan yang naik-turun tersebut, dimainkan secara apik dengan ritme yang saya rasa seimbang, juga perpaduan dengan background musiknya yang pas.   

Film Death Wish memang kontroversial untuk beberapa hal. Pertama, hadir di era 70’an, pada saat angka kriminal di Amerika menanjak tajam. Novel dan film Death Wish adalah reaksi atau cerminan, bagaimana masyarakat sepertinya kurang puas dengan kinerja para penegak hukum, yang seolah-olah tidak berdaya mengatasinya. Makanya didambakanlah sosok vigilante, yang hadir sebagai pahlawan. Film Dirty Harry dan The French Connection yang rilis di tahun 1971, menjadi jawaban terhadap kriminalitas dalam perfilman mainstream.

Kedua, bagaimana vigilante Paul Kersey langsung menghabisi nyawa para kriminal, tanpa mengindahkan peraturan dan proses hukum yang berlaku. Suatu hal yang bertentangan dengan prosedur kepolisian dan penegak hukum lainnya. Namun di sisi lain adalah jawaban atas kegeraman terhadap pelaku kriminal yang semakin ‘buas’.

Ketiga, adalah graphic violence pada adegan kebrutalan akan penganiayaan terhadap karakter Joanna dan pemerkosaan terhadap karakter Carol. Adegan tersebut disajikan secara eksplisit dan begitu memprihatinkan, seolah-olah nyata. Boleh dibilang, mirip-mirip dengan film Straw Dogs (1971).

Metamorfosa karakter Paul Kersey, diperlihatkan secara eksploitatif dan cukup brutal. Bagaimana di satu adegan diperlihatkan, bahwa pertama kalinya Paul mencoba untuk mempertahankan dirinya sendiri terhadap kriminal jalanan. Ia memasukkan dua rol koin logam ke dalam sebuah kaus kaki, dan langsung mempraktekannya kepada seorang penjahat yang akan menodongnya. Begitu tiba di apartemennya, ia dengan tegang langsung meneguk minuman keras untuk menenangkan dirinya.

Atau bagaimana ketika setelah ia membunuh penjahat di sebuah taman, begitu ia sampai apartemennya, dengan tubuh gemetar, langsung menuju toilet dan muntah!

Namun anehnya, Paul merasa seperti ketagihan untuk melakukannya lagi dan lagi. Ia seperti dirasuki oleh ‘sesuatu’ yang menguasai dirinya, seakan-akan menjadi superhero dan sebangsanya. Itulah poin yang menjadi pertanyaan saya : apakah dengan menjadi vigilante bisa menjadi adiktif? Apakah Paul juga mengalami guncangan jiwa yang sedemikian rupa atas tragedi yang menimpanya, hingga hadir semacam alter-ego di dalam dirinya?

Tak heran, jika ia juga memiliki background militer. Dalam sebuah dialog dengan karakter Ames Janchill, Paul mengatakan bahwa dirinya adalah veteran Perang Korea, meski hanya sebagai petugas medis. Jadi, Paul Kersey sebenarnya telah memiliki teknik khusus, dalam membela diri sekaligus menyerang musuh.


Courtesy of Paramount Pictures, Columbia Pictures, 1974

Pemilihan Charles Bronson memang tepat sebagai sosok vigilante yang misterius. Dengan sosok macho –meski sudah paruh baya-, gaya bicaranya yang kalem, tindakannya yang tanpa basa-basi namun tetap terkontrol, berhasil menghidupkan karakter Paul Kersey. Memang secara ekspresif tidak tereksplorasi, namun tindakannya yang dingin dan berbagai dialog yang disampaikannya, sudah cukup untuk membawa sang vigilante ke ‘jalur yang tepat’.

Tanpa kehadiran karakter Letnan Frank Ochoa, film ini menjadi garing. Aktor Vincent Gardenia, berhasil dalam menghadirkan karakter yang membuat saya selalu tertawa. Selingan-selingan humor itulah yang membuat film ini menghibur. Frank Ochoa yang selalu bersin tersebut, digambarkan sudah berumur, namun masih tetap diandalkan sebagai seorang polisi yang kocak dan bertindak selalu dengan prosedur.

DID YOU KNOW : Ternyata, aktor Jeff Goldblum memulai debutnya di film ini, sebagai salah satu dari ketiga preman yang menyerang Joanna dan Carol.  

Film ini juga menggambarkan sisi kelam dari kriminalitas di kota New York, dimulai dari gelapnya jalanan sepi, seramnya taman kota di malam hari, hingga rasa tidak aman ketika sedang sendirian di sebuah kereta metro. Dalam sebuah adegan, juga tersirat sindiran terhadap kota tersebut, ketika Paul dari Arizona, tiba di bandara kota New York dan bertemu dengan Jack. Sebelum adegan tersebut berlangsung, diperlihatkan neon boxflyer, dan postcard yang mempromosikan keindahan serta kemegahan kota New York.

Boleh dikatakan, film ini menjadi signature-nya Charles Bronson, yang sebelumnya terkenal di film-film action dan western. Death Wish semakin mempopulerkan namanya dengan ikon vigilante, yang disertakan dengan berbagai dialog yang dinilai filosofis, dari sisi korban kebrutalan kriminal. Kesuksesan filmnya dilanjutkan dengan empat sekuel berikutnya hingga di tahun 1990.

Death Wish bukan sekedar aksi balas dendam, namun jika rasa keadilan tidak pernah ada, apa yang harus diperbuat untuk segera mengatasinya. Sedangkan di sisi negatifnya, film ini seakan menyudutkan atau melemahkan, khususnya peran polisi dalam memberantas kriminal.

Anyway or imagine : Paul Kersey might be savvy … if Inspector Harry Callahan could appear to clean-off all these mess, what do you think??  

Score : 3.5 / 4 stars

Death Wish | 1974 | Aksi Laga, Thriller, Kriminal | Pemain: Charles Bronson, Hope Lange, Vincent Gardenia, William Redfield, Steven Keats   | Sutradara: Michael Winner  |  Produser: Dino De Laurentis, Hal Landers, Bobby Roberts | Penulis: Berdasarkan Novel “Death Wish” oleh Brian Garfield. Skenario oleh Wendell Mayes | Musik: Herbie Hancock | Sinematografi: Arthur J. Ornitz  | Distributor: Paramount Pictures (Amerika Serikat), Columbia Pictures (Internasiona) | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 94 Menit


Baca juga : Death Wish (2018) : Pengulangan yang Gagal dari Sang Vigilante | Vigilante, Sosok 'The Real Superhero' Lebih Baik Buat Prekuel Daripada Remake

Popular Posts