Les Diaboliques (1955) : Film Hitchcock Rasa Perancis


Courtesy of Cinédis, UMPO, Gala Films Disits, 1955

Jarang banget saya nonton film Eropa yang umumnya lebih mengedepankan estetika yang terkadang disisipkan unsur surealis, jadi enggak enjoy nontonnya. Khususnya film Perancis, hingga saat ini yang saya tau dan familiar serta enjoyable adalah genre action thriller-nya Alain Delon, atau film detektif tentang misteri pembunuhan seperti The Crimson Rivers (2000), atau juga kisah klasik action horror seperti The Brotherhood of the Wolf (2001), cukup mengena.

Sebenarnya film Les Diaboliques sudah saya ketahui sejak lama, namun baru-baru ini, saya paksakan untuk menonton. Film jadul dengan format hitam-putih juga sound yang belum canggih itupun, semakin memotivasi saya agar terus menunda untuk ditonton. I know, duluan saya pernah baca di salah satu forum internet khusus yang bahas film, bahwa Les Diaboliques adalah film Hitchcock-nya Perancis.

Les Diaboliques dapat dikatakan sebagai film psychological horror atau suspens thriller, seperti film-film Alfred Hitchcock pada umumnya. Hitchcock sendiri sudah berkarya sejak akhir 1920’an hingga petengahan 70’an. Lalu apakah film Les Diaboliques terinspirasi dari film-filmnya Hitchcock? Pertanyaan itu sempat terlintas dalam diri saya waktu itu.

Ternyata, sineas Perancis, Henry-Georges Clouzot-lah yang berhasil dan mencegah Alfred Hitchcock dalam memperoleh hak cipta novel Celle qui n’était plus, untuk diadaptasi ke dalam film (Hayward, 2005:13). Malah film Hitchcock, Psycho (1960), terinspirasi dari film Les Diaboliques.

Dan pertanyaan selanjutnya, mengapa sih pakai format hitam-putih? Tanpa saya harus research lebih lanjut, saya mulai mengerti dan menyadari, bahwa ada motif di balik penyajian Les Diaboliques dengan genre-nya itu. Motif utamanya yakni, film ini disajikan untuk membangun keseraman dan kengerian yang begitu mencekam, alamiah dan ‘nyata’. Jika film Psycho memang sudah terlanjur dikenal dimana-mana, alasan memakai format hitam-putih dan juga spoiler cerita-nya, maka mungkin belum banyak yang tau, bahwa Les Diaboliques-lah yang memulainya.

Penasaran? Gini ceritanya : Di sebuah sekolah asrama khusus anak laki-laki, dikelola oleh Michel Delasalle (Paul Meurisse). Delasalle mengelolanya secara tirani dan kejam, baik terhadap staf gurunya, anak-anak didiknya, pegawainya, bahkan kepada istrinya sendiri, Christina (Véra Clouzot) dan kekasihnya, Nicole Horner (Simone Signoret). Christina sesungguhnya yang memiliki sekolahan sekaligus menjadi guru pengajar. Sedangkan Nicole juga sebagai guru pengajar sekaligus staf di sekolah tersebut.

Christina sering dianiyaya dan diperlakukan tidak pantas oleh Michel, bahkan dipermalukan di depan staf-nya. Sampai suatu ketika, pada saat liburan akan tiba, Nicole yang merasa diperlakukan sama oleh Michel, mengajak Christina untuk membunuh Michel. Skenario pun disusun, tepat sebelum murid-murid beranjak pulang meninggalkan sekolahan, Nicole dan Christina diam-diam pergi menuju apartemen Nicole di luar kota.

Michel yang mengetahui hal tersebut pun akhirnya segera menyusul mereka, setelah sebelumnya menelepon Christina yang mengatakan bahwa ia ingin menceraikan dirinya. Pada saat Michel tiba di apartemen Nicole, Christina memberi Michel minuman yang telah diberi obat penenang, sehingga Michel tak sadarkan diri. Nicole dan Christina akhirnya membunuh Michel dengan menenggelamkan dirinya di dalam bathtub.

Dengan memakai keranjang besar yang diangkut ke dalam mobil, Nicole dan Christina membawa jenazah Michel kembali menuju sekolahan di malam harinya. Diam-diam, tanpa diketahui oleh penjaga sekolah, mereka membuang jenazah tersebut ke sebuah kolam renang yang telah lama tidak terpakai. Hal itu dilakukan untuk membuat alibi, bahwa Michel mengalami kecelakaan dengan terjatuh ke dalam kolam.

Ketika liburan selesai, dan aktivitas sekolah kembali dimulai, Christina yang sering khawatir dan memiliki kelemahan jantung, terlihat panik bahwa jenazah Michel yang anehnya tidak mengambang di kolam. Pada saat kolam tersebut dikuras karena rasa penasaran yang tinggi dan dengan alasan kolam kotor, Chrisitina kaget bukan kepalang hingga ia pingsan, ternyata jenazah Michel tidak ditemukan di dalam kolam tersebut!

Pada saat Nicole menunjukkan kepada Christina tentang berita di surat kabar, bahwa ada mayat ditemukan di tepian sungai, mereka menduga itu jenazah Michel. Christina lalu bergegas ke kamar jenazah, namun bukan Michel yang ia temukan. Christina lalu dihampiri oleh Alfred Fichet (Charles Vanel), seorang pensiunan polisi detektif, menawari bantuannya untuk menyelidiki kasus ‘hilang’nya Michel. 

Sejak saat itu, berbagai kejadian aneh menghampiri Nicole dan Christina yang kini dilanda kecemasan, kepanikan, sekaligus ketakutan. Dari mulai pengembalian sepasang jas dari sebuah jasa laundry yang terakhir Michel pakai, seorang murid yang mengaku bertemu dengan Michel, hingga adanya penampakan Michel yang pada saat sesi pemotretan seluruh staf dan murid sekolah.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Nicole dan Christina yakin telah membunuh Michel? Bagaimana jenazah Michel bisa menghilang? Dan mungkinkah Michel menjelma menjadi hantu, misalnya?

imdb.com

Berbagai pertanyaan dan misteri pun mulai hadir dan berkecamuk di pikiran saya sejak saat itu. Sebenarnya saya merasa sedikit bosan di seperempat awal cerita, dengan penyajian drama dan introduksi beberapa karakter utama, kecuali di adegan ketika Michel menganiaya Christina, aura yang diperlihatkan terasa begitu kejam. Hingga setengah cerita, ketika Nicole membunuh Michel di bathtub, masih terasa belum ada sensasi yang mengguncang. Meskipun adegan pembunuhan, dengan menahan kepala Michele di dalam air sehingga kehabisan nafas, terasa biasa saja … sama halnya dengan film-film lainnya.

Seperti halnya film-film suspens-nya Hitchcock, pada saat adegan Christina pingsan karena jenazah Michel tidak ada di kolam yang telah dikuras, barulah sebuah misteri dimulai! Hingga kepada adegan tentang jenazah yang ditemukan di sebuah sungai, pengembalian sepasang jas milik Michel dari jasa laundry, hingga penyelidikan Christina menuju ke dalam sebuah kamar hotel yang diduga disewa oleh Michel, membuat saya terguncang keras … berbagai pertanyaan berkecamuk : benarkah Michel tidak mati?

Aroma misteri dan sedikit aura supranatural secara tidak langsung, sepertinya tersirat, dari adegan demi adegan. Akting Véra Clouzot sebagai Christina yang memiliki kelemahan jantung, begitu terlihat panik dan paranoid, terlebih pada saat diinterogasi oleh Alfred Fichet. Clouzot berhasil membawa karakter sebagai seorang wanita rapuh yang tersiksa, sekaligus ingin balas dendam, namun di sisi lain, masih memiliki rasa iba dan belas kasihan terhadap Michel.

Paul Meurisse sebagai Michel pun tampil sepadan, yang seakan-akan selalu memanipulasi Christina, bahwa dirinyalah sebagai seorang suami yang tidak pantas diceraikannya. Karakter Michel yang keras, kasar, galak, bahkan tidak segan-segan menggunakan kekerasan, seketika bisa menjadi seseorang yang cukup romantis dan lembut. Namun karakter Michel memang seharusnya sengaja dibuat untuk dibenci oleh audiens.

Adapun akting Simone Signoret sebagai Nicole, sepertinya dibuat sebagai back-up Christina. Nicole yang dingin, tegas dan berprinsip, menempatkan dirinya senasib dengan Christina, merasa dimanipulasi oleh Michel. Nicole pun membenci Michel dan mempengaruhi Christina untuk membunuhnya.

Tampaknya memang film ini memiliki gaya yang hampir sama dengan film-filmnya Hitchcock, baik dari alur cerita, dialog, sinematografi dan juga mengandung unsur noir. Kengerian yang dibangun secara perlahan dan misterius, paranoia dan khususnya penalaran investigasi begitu terasa dipaparkan secara halus.

Soal format visual hitam-putih memang sangat mengena, terutama di seperempat akhir cerita. Hebatnya, penggunaan original score yang tidak terdengar di sepanjang cerita, turut andil besar dalam menyuguhkan cerita yang seakan-akan begitu nyata. Maaf … gak ada jump scare atau permainan speed dan zoom kamera yang menakut-nakuti kita dengan lebay. Permainan cahaya di climax ending itupun dibuat menjadi a very natural creepy scenes!

Hebatnya (lagi), di akhir dialog, kita dihadapkan oleh beberapa pilihan konklusi : apakah cerita tersebut masih menjadi misteri atau malah cerita tersebut yang malah memanipulasi kita … ah, sulit untuk menjelaskannya, karena mengandung spoiler!

Terlepas dari sebuah film klasik/kuno/jadul, apalagi format hitam-putih, Les Diaboliques ternyata mengesankan saya secara utuh, bagaimana film suspense thriller atau misteri bahkan horor itu sebagaimana mestinya. Jarang ada film seperti ini … a masterpiece? Yes! Les Diaboliques memang direkomendasikan untuk dinikmati pada malam hari.   

Sumber Referensi : 
Susan Hayward, Les Diaboliques (Henry-Georges Clouzot), University of Illinois Press, 2005  

Score : 4 / 4 stars

Les Diaboliques | 1955 | Drama, Misteri, Suspens, Thriller, Noir | Pemain: Simone Signoret, Véra Clouzot, Paul Meurisse, Charles Vanel  | Sutradara: Henry-Georges Clouzot | Produser: Henry-Georges Clouzot  | Penulis: Berdasarkan novel “Celle qui n’était plus” oleh Boileau-Narcejac  | Musik: Georges Van Parys | Sinematografi: Armand Thirard | Distributor: Cinédis (Perancis), UMPO (Amerika Serikat), Gala Film Disits. (Inggris)  | Negara: Perancis | Durasi: 114 Menit 

Popular Posts