Bullitt (1968) : Bukan Sekadar Aksi Mobil Cepat


Courtesy of Warner Bros.-Seven Arts, 1968

Jauh sebelum ada The Fast and the Furious, tiga tahun sebelum muncul Dirty Harry, ada yang namanya BULLITT. Film action thriller rilisan tahun 1968 tersebut begitu populer dengan aksi kejar-kejaran dua mobil keren di jalanan kota San Francisco, permainan berbahaya, serta petualangan polisi yang bernama Frank Bullitt, yang dibintangi oleh aktor legendaris sekaligus pembalap profesional bernama Steve McQueen.

Film Bullitt boleh dikatakan sebagai tonggak awal dari popularitas film-film action lainnya yang mengandalkan mobil tipe laju kencang atau modifikasi –yang dikenal sebagai muscle cars- sebagai bintang utamanya dan dahsyatnya balapan mobil dalam sebuah pengejaran yang dramatis, sebut saja Vanishing Point (1971), Smokey and The Bandit (1977), The Driver (1979), Mad Max 1 dan 2 (1979, 1981), The Blues Brothers (1980) hingga The Canonball Run (1981) mungkin terinspirasi dari Bullitt.

Adalah novel yang berjudul Mute Witness karya Robert L. Fish yang diadopsi ke dalam bentuk film, yang akhirnya menghasilkan kesuksesan besar secara finansial dan kritik. Film Bullitt juga berhasil mendapat pengharagaan Oscar dalam kategori Best Film Editing di tahun 1969. Tiga elemen utama yang menjadi kekuatan film Bullitt, yakni storytelling, dua unit mobil yang menjadi simbol film, serta gaya Steve McQueen dalam melakukan dan ikut mengarahkan –beberapa adegan dilakukan tanpa stuntman- berbagai adegan car chasing, mengakibatkan terjadinya hantaman budaya pop hingga kini, wajar jika di tahun 2007 oleh Library of Congress, film tersebut dinyatakan “Signifikan secara kultural, historis maupun estetis”.

Cerita di film ini juga cukup pelik namun sangat menarik, berawal dari seorang politikus ambisius di San Francisco bernama Walter Chalmers (Robert Vaughn), berencana untuk menghadirkan seorang mantan anggota Mafia yang bernama Johnny Ross dari Chicago, dalam acara Jajak Pendapat Tentang Organisasi Kriminal oleh para Senat.

Beberapa hari sebelum acara dimulai, Walter meminta bantuan kepada detektif San Francisco untuk melindungi Johnny sebagai saksi, maka diutuslah Frank Bullit (Steve McQueen) dan kedua rekannya, untuk menjaga Johnny di sebuah hotel tempatnya menginap. Keesokan harinya, tanpa diduga, seorang tamu yang mengaku sebagai Walter ingin bertemu dengan Johnny, namun orang tersebut malah menembak Johnny dan seorang detektif yang menjaganya.

Nyawa Johnny akhirnya tak tertolong, setelah dilarikan ke rumah sakit, bahkan sebelumnya ada percobaan pembunuhan lagi terhadap dirinya. Frank yang bekerjasama dengan dokter setempat, segera menyembunyikan jenazah Johnny, sebelum diketahui oleh Walter, dengan maksud ingin mengulur waktu agar ia bisa menyelidiki pembunuhan tersebut.

Berdasarkan keterangan dari supir taksi yang pernah mengantar Johnny ke hotel tersebut, Frank mereka ulang kejadian dan aktivitas Johnny sebelum dan pada saat tiba di hotel. Sebelum masuk hotel, ternyata Johnny pernah menelepon panggilan jarak jauh kepada seseorang. Dari seorang informan Frank, diketahui bahwa Johnny pernah tertangkap akibat mencuri sejumlah uang dari Mafia di Chicago dan melarikan diri ke San Francisco. Sementara itu, Walter mengecam atasan Frank, dan menduga seolah-olah Frank tidak ingin ia bertemu dengan Johnny.

Frank yang akhirnya beterus terang kepada atasannya, mengetahui bahwa Johnny menelepon kekasihnya, yakni Dorothy Simmons yang berada di kota San Mateo. Frank beserta kekasihnya, yakni Cathy (Jacqueline Bisset), menemukan Dorothy tewas terbunuh, setelah mendatangi kediamannya … bagaimana kisah selanjutnya?

impawards.com

Di awal cerita film, berbarengan dengan opening credits, tampak ada seseorang yang dikejar beberapa orang yang hendak menangkapnya, di sebuah gedung perkantoran. Lalu ada orang lain yang membantu orang tersebut untuk kabur, serta terpampang pula tulisan di jendela pintu, yakni John Ross dan Peter Ross. Sepertinya audiens diperlihatkan adegan seorang Johnny Ross yang dibantu oleh suadaranya Pete Ross, dari kejaran kelompok kriminal di kota Chicago.

Setting ceritapun beralih di kota San Francisco, dengan sentral karakter bernama Frank Bullitt, seorang detektif polisi bagian pembunuhan. Ia bergaya nyentrik, dengan menggunakan sebuah mobil tipe sport, yakni Ford Mustang GT Fastback dengan mesin 390 V8 keluaran tahun 1967, menghasilkan bunyi knalpot yang menggerung itu. Tampaknya, Bullitt memang gemar kebut-kebutan, mengingat di kehidupan nyata, aktor Steve McQueen memang seorang pembalap mobil profesional.

Tema cerita yang diusung juga sangat sederhana, yakni Frank Bullitt harus melindungi seorang saksi yang ingin mendapat perlindungan dari kejaran kelompok kriminal alias mafia, sekaligus akan mengungkap informasi kelompok kriminal tersebut kepada senat. Namun berbagai kejanggalan terjadi, ketika seorang saksi tersebut tewas dibunuh oleh pembunuh bayaran, dan Frank pun harus mengusut tuntas.

Sajian cerita yang dirangkai hampir selama dua jam tersebut, awalnya bergerak agak lambat serta berfokus kepada pertemuan antara Frank dengan Walter hingga Frank dan rekan-rekannya secara bergantian menjaga Johnny. Adegan penembakan brutal terhadap rekan Frank dan Johnny, menjadi salah satu adegan yang mengejutkan, sekaligus mengerikan, mengingat adanya disturbing violence di jaman itu (akhir tahun 60’an).

Kemudian, alur bergerak dengan ritme yang melambat lagi, ketika cerita bergulir di rumah sakit, ritme agak menanjak ketika Walter sempat bersitegang dengan Frank dan kemudian keberadaan Johnny yang tidak ditemukan oleh Walter di rumah sakit keesokan harinya, dilanjutkan dengan Frank dan rekannya, secara diam-diam menyelidiki kasus Johnny melalui rekonstruksi.

Courtesy of Warner Bros.-Seven Arts, 1968

Untungnya, alur yang lambat tersebut berhasil diimbangi oleh keindahan berbagai sudut dan ambience akan kota San Francisco, seperti suasana di kediaman Walter, saat fajar ketika Frank pulang memarkirkan mobilnya kemudian mampir di mini market, hingga ia tiba di apartemennya. Dari jendela-jendela besar unit apartemen Frank di lantai 2, tampak terlihat suasana jalanan yang menurun di pagi hari, ketika Frank bersiap-siap untuk berangkat lagi, sementara Cathy sedang sarapan dekat jendela dengan pemandangan perempatan jalan.

Nah, setelah itu, puncak adegan aksi mulai terjadi! Ketika terjadi penguntitan dua orang penjahat terhadap Frank. Kedua pembunuh tersebut menggunakan mobil Dodge Charger dengan mesin 375bhp. Awalnya, kedua penjahat itu membuntuti Frank yang telah mengetahui bahwa dirinya diikuti oleh mereka, di sebuah pusat kota San Francisco.

Setelah melalui beberapa tikungan, mereka tidak menyadari, tiba-tiba mobil Frank ada di belakang mereka, beriringan dengan itu, alunan musik jazz yang menjadi ciri khas komposer Lalo Schifrin pun hadir. Setelah Frank mengikuti mereka dalam keadaan bergerak pelan, tiba-tiba saja mereka tancap gas, belok ke kiri, Frank pun dengan segera mengikutinya dengan cepat, dan alunan musikpun berhenti. Yang ada hanya suara decitan rem dan ban yang mengenai aspal, mesin mobil yang meraung-raung kencang akibat akselerasi perpindahan gigi dan ketika ngebut, benturan mobil ketika sedang bermanuver, hingga lompatan dan hantaman ban dari suspensi mobil ketika menemui aspal yang datar pada saat mobil sedang menurun berlapis-lapis.

Courtesy of Warner Bros.-Seven Arts, 1968

Visualnya pun sangat jelas terasa bagaikan rekaman footage sungguhan. Pengaturan rute dari satu titik ke titik lain, divisualisasikan dengan beberapa kombinasi, baik dari sudut kamera, maupun arah pengambilan gambar berdasarkan pergerakkan gambar dalam sekuen. Setidaknya ada tiga point of view untuk audiens, yakni sebagai penonton di jalanan, sementara dua mobil saling kejar-kejaran, bergerak dari satu titik ke titik lainnya. Yang kedua yakni audiens seakan-akan senantiasa ikut di mobil lainnya, diluar kedua mobil tersebut, dengan merekam kedua mobil dengan memakai handycam. Dan yang ketiga adalah bagaimana rasanya jika audiens menjadi Frank atau penjahat, dalam mengendarakan mobilnya tersebut.

Courtesy of Warner Bros.-Seven Arts, 1968

Struktur dan kontur jalanan di kota San Francisco memang terkenal dengan kondisi mananjak dan menurun, serta memiliki tikungan tajam. Sudah banyak film action di jalanan San Francisco dalam kejar-kejaran mobil ketika menurun secara berturut-turut atau berlapis, tentu saja mengalami benturan keras pada saat mendarat di jalanan datar. Adapun salah satu adegan memorable yang keren, yakni ketika Frank yang gagal manuver –bebelok tajam- dan ia harus memundurkan mobilnya dengan segera, tampak ban belakang mobil mengeluarkan asap, sementara rem mobil berdecit kencang, sementara Frank pun melongok ke belakang dari jendela mobilnya.

Courtesy of Warner Bros.-Seven Arts, 1968

Adegan aksi hanya ada dua bagian di film ini, yakni kejar-kejaran mobil dan aksi ‘gila’ lainnya, seperti pengejaran –lari, bukan pake mobil!- di sebuah bandara pada malam hari …termasuk di landasan pacu pesawat. Selebihnya, film ini lebih mengutamakan kepada proses penyelidikan prosedural, yang seakan mengajak audiens untuk terkejut, berpikir keras sekaligus menikmati berbagai romansa, ancaman, intrik serta manipulasi yang penuh dengan trik.

Courtesy of Warner Bros.-Seven Arts, 1968

Yang menjadi bintang di film ini, jelaslah Steve McQueen sebagai karakter ikonik yang memiliki gaya tersendiri. Seperti biasa, dengan karakter bertangan dingin dan berwajah kaku, Frank Bullitt selalu mengerjakan tugasnya dengan lugas serta tricky, meski terkesan text book. Begitu pula hubungan asmaranya dengan kekasihnya yang bernama Cathy yang diperankan oleh aktris cantik asal Inggris, Jacqueline Bisset, mengalami pasang-surut gara-gara profesi Frank sebagai polisi.

Courtesy of Warner Bros.-Seven Arts, 1968

Sedangkan karakter yang diperankan oleh Jacqueline Bisset sendiri, tampak seperti pelangkap cerita saja, tidak ada sesuatu yang berarti banyak. Namun karakter Walter Chalmers-lah yang diperankan dengan sangat baik oleh Robert Vaughn, mengingatkan saya akan sebuah pisau bermata dua. Di satu sisi, sebagai seorang politikus atau pejabat negara, Walter kelihatannya orang baik-baik, namun di sisi lainnya, ia bisa menjadi ancaman serius, jika ada sesuatu merenggut darinya. Beberapa dialognya saya suka, meski tidak memorable. Oh ya, aktor Robert Duvall juga memiliki peran kecil sebagai supir taksi.

Film Bullitt adalah sebuah film drama thriller dengan selingan aksi laga yang fantastis di jamannya. Film ini begitu stylish, sehingga mampu menciptakan ikon seorang polisi tangguh dengan mobil muscle-nya yang senantiasa siap untuk berpacu memburu penjahat. Mungkinkah nama “Bullitt” berasal dari kata “Bullet” yang artinya “Peluru”? Penasaran … setelah saya telusuri, nama “Bullitt” adalah nama keluarga, tradisi Amerika dari abad pertengahan. Nama tersebut memiliki banyak variasi, diantaranya Bullet, jadi mungkin saja ada korelasinya. Sehingga mungkin saja nama “Bullitt” di film ini, merujuk pada karakter polisi yang bisa bertindak cepat, secepat mobil yang ditumpanginya …
  
Saya pribadi, jauh lebih menyukai film yang memacu adrenalin kejar-kejaran mobil di jaman ‘dulu’, jauh lebih natural dan apa adanya, tanpa sentuhan ‘animasi’ yang terkadang absurd tak karuan. Film ini sangat direkomendasikan bagi anda penggemar otomotif atau balapan mobil … so cool!
   
Score : 4 / 4 stars

Bullitt | 1968 | Aksi Laga, Petualangan, Thriller Pemain: Steve McQueen, Robert Vaughn, Jacqueline Bisset  | Sutradara: Peter Yates  |  Produser: Philip D’ Antoni | Penulis: Berdasarkan Novel “Mute Witness” oleh : Robert L. Fish. Naskah : Alan L. Trustman dan Harry Kleiner | Musik: Lalo Schifrin | Sinematografi: William A. Freiker | Distributor: Warner Bros-Seven Arts | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 113 Menit


Baca juga : Papillon (1973) : Pantang Menyerah Kabur dari Penjara

Popular Posts