Midnight Express (1978) : Politik dan Penjara Turki


Courtesy of Columbia Pictures, 1978

Setelah saya nonton film action yang dibintangi Sharon Stone, berjudul Cold Steel (1987), sayapun membaca sekilas di wikipedia akan biografi lawan mainnya, yakni aktor Brad Davis. Aktor mendiang tersebut memang kurang dikenal di Indonesia. Setelah saya lirik filmografinya, ada judul yang menarik, yakni Midnight Express (1978). Saya pikir, itu film pasti ada hubungannya dengan kereta api.

Ternyata saya telusuri lebih lanjut, film itu ‘berbicara’ tentang penjara, based on true story pula! Kata Midnight Express sendiri adalah sebuah ungkapan akan aksi melarikan diri dari sebuah penjara. Midnight Express diadaptasi dari sebuah buku non-fiksi oleh Billy Hayes dengan judul yang sama. Dalam buku tersebut, diceritakan pengalamannya terkait penyelundupan hashish –ganja yang dibuat berbentuk seperti coklat batang- dan akhirnya dipenjara di Turki.

Film dimulai di Turki, tahun 1970, ketika Billy Hayes (Brad Davis), menyelundupkan banyak batangan hashish yang ditempelkan di badannya, dengan menggunakan selotip. Bersama dengan kekasihnya, Susan (Irene Miracle), di bandara, mereka akan pulang ke Amerika. Dikarenakan terkait terorisme yang memuncak kala itu, keamanan di bandara begitu diperketat oleh polisi dan tentara.

Sialnya, Billy ketahuan saat tubuhnya digeledah, tepat sebelum menaiki pesawat. Sementara Susan terpaksa terbang sendirian, Billy diinterogasi dan digeledah di kantor polisi setempat. Tex (Bo Hopkins), seorang Amerika yang gak jelas –mungkin Interpol- menghampiri Billy, dan menterjemahkan kepadanya dari seorang detektif polisi lokal. Billy diberi tahu, bahwa ia akan pulang, jika ia bekerjasama dalam mengidentifikasi penjual hashish tersebut.

Bersama dengan polisi, Billy tiba di sebuah bar, dan berhasil mengidentifikasi orang tersebut. Sementara polisi menghampiri dan menangkapnya, Billy malah  kabur. Billy berhasil tertangkap oleh Tex, dan dijebloskan ke penjara.

Di sebuah penjara inilah, beberapa karakter diperkenalkan :  Hamidou (Paul Smith) adalah seorang kepala sipir yang kejam. Rifki (Paolo Bonacelli) adalah seorang napi licik, ia selalu berjualan barang apapun demi mendapatkan uang. Ia adalah tipe penjilat, yang suka mengadu kepada Hamidou. Billy kemudian berteman dengan Jimmy (Randy Quaid), Max (John Hurt) dan Erich (Norbert Weisser).

Dari informasi Max, Billy mendapat nama seorang pengacara yang dapat diandalkan, yakni Yesil (Franco Diogene). Tak lama berselang, Billy tiba-tiba mendapat kunjungan dari ayahnya yang sengaja terbang dari Amerika, ditemani oleh perwakilan dari kedubes Amerika dan Yesil. Mereka membicarakan tentang pembebasan dan pembelaan Billy pada saat di pengadilan.

Pada saat sidang, seorang Hakim yang simpati kepada Billy, lalu menjatuhkan hukuman 4 tahun penjara karena kepemilikan hashish. Yesil menjelaskan, bahwa itu adalah keringanan hukuman, setelah Jaksa menuntut hukuman seumur hidup karena penyelundupan narkoba. Ayah Billy yang frustasi dan Billy sendiri yang sudah emosi, mau tak mau harus menghadapi keputusan sidang. Ayah Billy akan berusaha sekuat tenaga untuk segera  melepaskan Billy dari penjara.

Empat tahun berselang, 53 hari menjelang kebebasannya, ketika seorang dari Kedubes Amerika menginformasikan kepada Billy, bahwa Pengadilan Tinggi di Ankara menuntut hukuman 30 tahun penjara kepada Billy. Billy yang putus asa, bersama dengan Max dan Jimmy lalu mencoba kabur, dengan menjebol tembok batu di dapur, menuju terowongan. Usaha mereka kandas setelah menemui jalan buntu.

Pada tahun 1975, Susan mengunjungi Billy dan memberikan sebuah album foto. Susan juga menginformasikan kepada Billy, bahwa seorang senator Amerika sedang melobi Turki untuk membebaskan dirinya. Saat itu, hubungan Amerika Serikat dibawah pemerintahan Nixon dan Turki agak merenggang, dan ternyata Billy dijadikan bidak untuk sebuah ‘permainan politik’. Susan meminta Billy agar segera pergi dari penjara … lalu bagaimana kisah selanjutnya?

Logikanya, Billy Hayes bisa menulis buku dan menceritakan pengalamannya semasa ia di penjara, berarti ia telah keluar dan kembali ke Amerika. Tentu saja, kalo di versi film, berbagai adegan, cerita drama dan sedikit fiksi jelas hadir sebagai bumbu penyedap. Terdapat beberapa perbedaan mendasar antara kisah di film dan fakta. Berikut adalah faktanya berdasarkan buku :

1.    Billy dalam keadaan sendirian, pada saat ia ditangkap di bandara Turki.
2.    Billy hanya 17 hari selama berada di rumah sakit jiwa di dalam penjara di tahun 1972.
3.    Tidak ada adegan penganiayaan Billy terhadap Rifki atau siapapun.
4.  Selama 5 tahun, Billy dipindahkan ke penjara lain yang berada di sebuah pulau, bukan mendekam di penjara yang sama.
5.    Hamidou, kepala sipir penjara, nyatanya keburu ditembak mati oleh salah seorang napi yang telah bebas. Hamidou sebelumnya sempat menghina keluarga napi tersebut.
6.    Billy melarikan diri dari penjara tersebut, dengan mencuri sebuah kapal kecil, jalan kaki dan naik bus ke Istanbul, lalu menyeberangi ke perbatasan Yunani.

Courtesy of Columbia Pictures, 1978

Kondisi saat itu, memang sedang rawan-rawannya peredaran narkoba secara masif, mulai dari Turki, menyeberangi Eropa hingga ke Amerika, yang sempat dibuat filmnya, seperti The French Connection (1971), makanya aparat di Turki benar-benar super ketat mengawasinya. Namun, inti cerita film Midnight Express adalah adanya penangkapan, pendekapan di penjara, persidangan, dan akhirnya Billy bisa kabur dari penjara. Beberapa adegan mengejutkan disajikan lewat film ini. Dengan gaya dan alur cerita yang dimainkan dengan tempo yang pas, membuat saya tidak merasa jenuh.

Billy sendiri yang menjadi narator, ketika ia mulai kehidupannya di penjara, bagaimana ia menuliskan surat kepada Susan dan kepada keluarganya, atau bagaimana ia mengenalkan lebih dalam beberapa karakter narapidana yang berinteraksi dengannya. Kesan yang saya dapat yakni adanya keputusasaan Billy dalam empat tahun pertama di penjara, makanya dibuatlah narasi, seakan Billy memasuki ‘dunia lain’.  
  
Tentu saja akting Brad Davis sebagai Billy Hayes yang menjadi atensi sentral di film ini, begitu sempurna. Dimulai di awal cerita bagaimana ia memperlihatkan kegugupan dan ketegangannya dalam menyelundupkan hashish. Kegelisahan dan keputusasaannya ketika baru dipenjara, kekecewannya pada saat mendengar vonis 30 tahun penjara, kebrutalan dan kegilaannya dalam menganiaya Rifki, ketidakwarasannya ketika bertemu dengan Susan … semua itu dengan ekspresi wajah dan gestur tubuh yang dimainkan dengan cemerlang.

Sekilas, tampang Brad Davis ketika berambut agak panjang, mengingatkan saya akan Brad Pitt. Ketika adegan Billy di penjara berambut cepak, mirip Matt Damon … betul gak sih?? Hahaha

Hal yang paling mengejutkan, tentu saja adanya semacam metamorfosis di dalam karakter Billy Hayes, meski tak se-ekstrim Travis Brinkle di film Taxi Driver (1976) atau Michael Corleone dalam The Godfather (1972). Ia yang tadinya seorang yang baik-baik, begitu masuk penjara dan divonis 4 tahun, terasa ketakutan dan gelisah. Hal tersebut terpapar ketika ia meminta ayahnya untuk segera membebaskannya.

Puncaknya, adalah ketika Billy divonis 30 tahun penjara, ia mulai putus harapan, seakan ditinggal oleh semua orang yang dikasihinya, pasrah dan malah sudah terbiasa dengan ‘dunia gila’. Adegan paling terkenal dan brutal, tentu saja pada saat Billy menganiaya Rifki, dengan menggigit lidahnya hingga putus! Amarah yang meledak sudah tidak bisa ditolerir oleh Billy. Film ini mengisyaratkan transformasi mental dan perilaku Billy yang mulai beringas, tak peduli akan konsekuensinya.

Selain itu tentu saja, akting dari aktor watak asal Inggris, John Hurt, yang berperan sebagai Max malah lebih brilian. Diperlihatkan sebagai seseorang yang ‘kelihatannya lemah’ namun eksentrik, Max memiliki karakter yang begitu cepat akrab dan bersahabat dengan orang asing. Max yang sering disakiti oleh Rifki dan Hamidou, berhasil mendapatkan empati saya. Tak ketinggalan, karakter Jimmy yang diperankan Randy Quaid –kakak kandung aktor Dennis Quaid- yang cenderung lebih banyak memakai otot daripada otak!

Oh ya … ternyata kebanyakan aktor dari Amerika dan Italia –dan mungkin Armenia- yang memerankan berbagai karakter orang Turki.

impawards.com

Jika diperhatikan, deskripsi penjara di film ini, mirip dengan sebuah penginapan kumuh. Narapidana bisa dengan leluasa keluar kamar sel, menuju ruang makan, dapur dan kamar mandi umum, di dalam sebuah bangunan tua –seperti barak- yang luas. Jika penjara umumnya, narapidana tidak boleh keluar masuk kamar sel, ini malah dengan bebas bisa mengunjungi kamar sel lainnya.

Film ini tidak banyak memperlihatkan keindahan kota Turki. Paling hanya sesekali memperlihatkan panorama kota. Paling, yang berkesan adalah interior shoot ketika Billy menjalani persidangan, terutama saat ia menunggu hasil keputusan Hakim di sebuah teras gedung. Angle kamera memperlihatkan kemegahan gedung, lengkap dengan pilar bergaya arsitektur khas Turki. Dan juga penggunaan sebuah bangunan penjara yang kuno dan unik, bergaya Mediterania.

Alunan musik synthesizer yang khas dari Giorgio Moroder, memiliki andil besar dalam meningkatkan emosi dan simpati saya kepada karakter Billy Hayes. Adegan memorable-nya ketika di tengah malam, Billy sedang merenung di penjara, menunggu kepastian pembebasannya, serta di akhir cerita ketika Billy kabur dari penjara hingga akhirnya bisa menghirup udara kebebasan diluar sana. Tak lupa, alunan musik pun terus menyambung di akhir kredit, dengan montase foto bergaya dokumenter hitam-putih, ketika Billy tiba di Amerika bertemu ayah-ibu nya dan Susan.     

Sayangnya, film ini juga banyak dikritik dikarenakan memberikan stereotip negatif kepada orang-orang dan penjara-penjara Turki, dalam hal ini saya setuju. Turki digambarkan seperti negara yang menyeramkan, padahal negara tersebut menganut sistem sekuler, layaknya di Indonesia.

Berkat arahan sutradara, kualitas akting dan bumbu drama yang kuat itulah, film ini patut diacungi jempol. Lupakan film-film bertema penjara dengan bumbu action tentang balas dendam terhadap sipir, penjaga atau napi lainnya, yang rasanya berlebihan dan absurd.

Untuk keotentikan kisahnya –meski ada sedikit fiksi- film ini bolehlah saya sandingkan dengan Escape from Alcatraz (1979), yang sama-sama juga berdasarkan kisah nyata. Bagi yang niat menonton film yang bertemakan penjara, siap-siap untuk pilu, ngilu, tegang dan greget. Namun jangan lupa … anda mungkin saja akan tersenyum lega di akhir cerita.    

Score : 4 / 4 stars

Midnight Express | 1978 | Drama, Thriller, Kriminal | Pemain: Brad Davis, John Hurt, Randy Quaid, Paolo Bonacelli, Paul Smith, Norbert Weisser, Bo Hopkins    | Sutradara: Alan Parker | Produser: Allan Marshall, David Puttnam  | Penulis: Berdasarkan Buku Non-Fiksi “Midnight Express” oleh Billy Hayes; Naskah oleh Oliver Stone  | Musik: Giorgio Moroder | Sinematografi: Michael Seresin | Distributor: Columbia Pictures  | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Durasi: 121 Menit 



Popular Posts