Blue Thunder (1983) : Malapetaka Dibalik Helikopter Canggih

Courtesy of Columbia Pictures, 1983

Unik, jarang ada, bahkan mungkin inspiratif buat film-film penerusnya macam serial televisi Airwolf atau filmnya Nicolas Cage, Air Birds (1990). Kalo film tentang pesawat tempur sih banyak, lha helikopter tempur? Jarang ada! Berdasarkan ide yang ditulis oleh kreator film Alien,
Dan O’Bannon, berduet dengan Don Jakoby, Blue Thunder menceritakan tentang eksploitasi helikopter militer canggih, dengan segala kemampuan handalnya.

Apakah anda sadar, kalo ada helikopter melintas di atas kepala kita … sebenarnya, apa yang mereka lakukan? Cuma melintas aja? Ah, yang bener! Can you imagine, seandainya helikopter tersebut ternyata dari unit kepolisian yang sebenarnya memantau semua aktivitas kita semua di darat? Apalagi kalo mereka pake helikopter canggih alias siluman, yang misalnya anti radar atau bunyi mesinnya nyaris tak terdengar!

Film-film tentang surveillance atau pengintaian atau -lebih jelasnya lagi- penyadapan memang sudah banyak yang diproduksi, terutama di era digital sekarang ini, seperti Enemy of the State (1998) atau Eagle Eye (2008). Konspirasi dan efek paranoia menjadi sajian utama dari film-film bertema sejenis. Blue Thunder adalah film dengan jenis yang dimaksud, dengan menggunakan helikopter canggih sebagai andalannya. Kesuksesan film ini diadaptasi di serial televisi yang mengudara di tahun 1984.

Dikisahkan officer Frank Murphy (Roy Scheider) yang berpartner dengan Richard Lymangood (Daniel Stern), sebagai satuan bantuan udara di kepolisian Los Angeles. Kerjaan mereka sehari-hari adalah menerbangkan sebuah helikopter, guna memantau aktivitas kota tersebut, dengan me-monitoring hal-hal berbau kriminal yang mencurigakan atau yang sedang berlangsung.

Suatu ketika, mereka mengintai sebuah perampokan, yang akhirnya diketahui identitas korbannya bernama Diane McNeely. McNeely adalah seorang anggota dewan di pemerintahan. Saat kejadian di lokasi, polisi berhasil menembak para perampoknya, setelah sebelumnya salah satu perampok tersebut terlanjur membunuh McNeely.

Murphy yang juga veteran Perang Vietnam sebagai pilot helikopter, mengalami trauma atas kejadian mengerikan semasa perang. Ditemani oleh agen dari Washington, Murphy dan atasannya, Kapten Jack Braddock (Warren Oates), diperintahkan untuk menghadiri sebuah demonstrasi helikopter tempur canggih, yang dinamakan Blue Thunder. Murphy juga terpilih sebagai pilot untuk mengoperasikan Blue Thunder, yang akan digunakan pada event Olimpiade 1984 di Los Angeles, demi mencegah ancaman besar yang mungkin terjadi.

Kejutan muncul, setelah pilot yang mengendarai Blue Thunder dalam demo tersebut adalah Kolonel F.E. Cochrane (Malcolm McDowell), yang semasa Perang Vietnam menjadi atasan Murphy. Mereka tidak menyukai satu sama lain, karena adanya insiden dalam perang. Kemudian, helikopter Blue Thunder dibawa ke markas Murphy. Uji coba pun dilakukan.

Lambat laun, masalah besar mulai muncul secara perlahan satu demi satu, dimulai dengan pengintaian berbahaya hingga terjadi insiden, serta duel besar di udara yang membawa malapetaka …

Film Blue Thunder memiliki alur cerita yang sangat asyik untuk ditelusuri satu-persatu. Adegan demi adegan tidak terasa membosankan, mengalir begitu saja seperti aliran sungai jernih dari pegunungan hingga ke daratan … aah, so fuckin’ poetic! But it’s true, itu yang saya alami, ketika pertama kali menyaksikannya, hingga kedua kalinya, dan bakal saya tonton lagi suatu waktu.

impawards.com

Film ini memperlihatkan ritme yang cukup sibuk di awal-awal adegan, seakan begitu dinamisnya pekerjaan polisi, terutama untuk unit air support. Kondisi markas di sebuah gedung, digambarkan memiliki rooftop luas, khusus untuk helipad. Saya jadi teringat kondisi hiruk-pikuk di kapal induk dalam film Top Gun (1986). Kemudian, ritme mulai melambat disaat pengintaian pertama Murphy dan Richard, terlebih saat adegan stalking seorang wanita di sebuah apartemen.

Cerita di film ini memang bukan semata-mata memerangi tokoh jahat atau kriminal, tetapi lebih kepada latar belakang politik dan konspirasi. Itu justru yang menjadi point plus di film ini. Duet Murphy dan Richard bukan lagi sebagai polisi reguler, tetapi melebihi batas, seakan seperti polisi detektif yang secara tak disengaja, malah membawa mereka untuk menyelidiki kepada sebuah kasus kriminal besar, yang melibatkan adanya konspirasi berbahaya.

Sutradara John Badham, saya kenal lewat film-film drama dipadukan dengan action yang mumpuni, dengan bumbu thriller yang berhasil membuat ketegangan seakan nyata di depan mata. Sebut saja WarGames (1983), Stakeout (1987) atau Nick of Time (1995), yang memancing saya begitu menikmati ketegangan syaraf. Berbagai keseruan dan kejutan di beberapa adegan yang signifikan, dengan baik dipadukan oleh permainan kamera yang enak dilihat.

Kebanyakan adegan film Blue Thunder, tentu saja berada di udara, sesuai dengan tema filmnya. Wajar saja, sang sinematografer, John A. Alonzo yang pernah menangani film kejar-kejaran mobil di Vanishing Point (1971), neo-noir di Chinatown (1974), action thriller di Black Sunday (1977) hingga crime drama di Scarface (1983), didapuk untuk menangani film ini.

Saya memuji kejeniusan beliau dalam banyak adegan helikopter di udara, dengan latar belakang gedung-gedung bertingkat di Los Angeles, lengkap hiruk-pikuknya lalu lintas, serta hamparan pegunungan jauh dibelakangnya. Beberapa adegan memorable tentu saja ketika Murphy dan Richard sedang latihan dengan helikopternya, mengikuti instruksi dari Cochrane dengan Blue Thunder-nya. Bagaimana diperlihatkan beberapa manuver indah, hingga helikopter Muprhy mengalami kecelakaan, dan mendarat darurat di sebuah proyek bangunan. Adegannya cukup kocak, karena helikopter tersebut menimpa salah satu kantor kontraktor, hingga sang manajer yang marah-marah kepada Murphy.

Juga ada adegan action yang terkocak, adalah ketika sebuah pesawat tempur F-16, menembakkan rudal kearah helikopter Blue Thunder yang dikemudikan Murphy, malah menghantam sebuah gedung! Gak kebayang, korban yang berada di gedung??? Dan yang paling kocak, lagi-lagi F-16 dipancing Murphy dengan sasaran peluncuran rudal, yang berakhir sebuah restoran hotdog di kawasan Little Tokyo.


Namun, tak ada yang bisa mengalahkan adegan di puncak cerita, ketika Murphy dengan Blue Thunder-nya berduel dengan musuh yang sesungguhnya yang juga menggunakan helikopter tempur ….. Adegan pertempuran yang teramat taktis itu pun luar biasa. Bagaimana mereka saling menembaki, diantara gedung-gedung bertingkat dan sebuah pabrik. Juga ketika Murphy dan musuhnya bergantian bersembunyi di balik gedung-gedung tinggi, seperti main kucing-kucingan, dan pas ketemu, langsung tembak-tembakkan.

Courtesy of Columbia Pictures, 1983

Adegan tergila, adalah ketika Murphy mengemudikan Blue Thunder, dengan manuver hingga 360 derajat! Sungguh lebay, mungkin! Saya tak habis pikir, bagaimana mereka bisa membuat efek spesial yang begitu mengaggumkan dan berlangsung seru, apa adanya, tanpa bantuan fuckin’ CGI. Berbagai motion kamera dari adegan per adegan action di udara, begitu halus dengan tidak memainkan speed atau zoom-in/zoom-out secara cepat, yang ‘menyakitkan’ mata.

Kesan pertama ketika melihat helikopter Blue Thunder, mirip dengan helikopter Apache. Saya kira aslinya, Blue Thunder dimodifikasi dari helikopter siluman itu. Ternyata yang benar adalah modifikasi dari helikopter Perancis, yakni AĆ©rospatiale SA-341GGazelles.

Untuk porsi action dan drama, masing-masing memiliki takaran yang seimbang. Berbagai dialog yang dipaparkan pun disisipi humor segar. Bahkan menurut saya, quote yang catchy di film ini adalah beberapa kali Cochrane mengatakan “Catch you later” kepada Murphy. Arti kalimat yang mengandung makna yang dalam! Oh ya, juga ada istilah yang bersifat sarkastik, seperti huruf JAFO yang terdapat di topi milik Richard. JAFO yang artinya “Just A Fuckin’ Obeserver” secara tak langsung, menyindir dirinya sendiri, yang artinya hanyalah tak lebih dari seorang pengamat.

Akting Malcolm McDowell sebagai Cochrane memang menjadi sosok yang misterius. Kita tak akan pernah bisa menebak, apakah karakter tersebut sebenarnya protagonis atau antagonis, mirip dengan perannya di film fenomenal, A Clockwork Orange (1971). Sebenarnya geli juga ya film Amerika, memaksakan aktor/aktris Inggris, berperan sebagai orang Amerika. Karakter Cochrane sebenarnya konyol dalam memerankan seorang Kolonel Amerika, dengan logat British yang kental.

Karakter Cochrane digambarkan tricky dan licin, serta sepertinya selalu berseteru dengan Murphy. Sedangkan karakter Murphy sendiri digambarkan sebagai seorang yang traumatis, emosional serta cukup berkarisma. Sedangkan karakter Richard yang diperankan oleh Daniel Stern yang masih muda, digambarkan sebagai seorang pilot junior, yang bertindak agak ceroboh. Penampilan aktor veteran, Warren Oates sebagai Kapten Jack Braddock, digambarkan sebagai seorang pemimpin yang tegas, sekaligus akrab dengan Murphy selaku senior officer.  

Film Blue Thunder mungkin menjadi benchmark dari film-film action tentang pertempuran di udara, baik itu pesawat tempur maupun helikopter. Menurut saya, film ini cukup komplit dari penyajian cerita yang kuat, dialog yang mudah dimengerti, action spektakuler hingga selingan humor segar. A very recommended movie!

Score : 4 / 4 stars

Blue Thunder | 1983 |  Aksi Laga, Petualangan, Thriller | Pemain: Roy Scheider, Warren Oates, Malcolm McDowell, Daniel Stern, Candy Clark | Sutradara: John Badham  |  Produser: Gordon Caroll, Phil Feldman, Andrew Fogelson | Penulis: Dan O’Bannon, Don Jakoby  | Musik: Arthur B. Rubinstein | Sinematografi: John A. Alonzo  | Distributor: Columbia Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 109 Menit

Popular Posts