Papillon (1973) : Pantang Menyerah Kabur dari Penjara

Courtesy of Allied Artist, Columbia Pictures 1973

Banyak yang ‘bilang’ film ini recommended alias bagus, tapi sejujurnya saya tidak terlalu suka sama film bertemakan kehidupan di penjara, meski dilihat dari duo Steve McQueen dan Dustin Hoffman menjanjikan, tetap saja beberapa tahun yang lalu, saya tunda untuk menontonnya. Hanya beberapa film dengan tema serupa, setelah saya tonton, ternyata menarik juga, seperti The Great Escape (1963), Midnight Express (1978), Escape from Alcatraz (1979), Escape to Victory (1981), Lock-Up (1989), The Shawshank Redemption (1994), The Green Mile (1999) atau Escape Plan (2013).

Film Papillon sendiri ternyata diangkat dari buku autobiografi dengan judul yang sama, yang ditulis oleh tokoh utamanya sendiri, yakni Henri Charrière. Ia adalah mantan narapidana asal Perancis, yang dituduh telah membunuh seorang germo, sehingga ia diasingkan dan dipenjara di salah satu wilayah koloni Perancis, bernama French Guiana (atau Guyana, yang berada wilayah di Amerika Selatan). Nama “Papillon” sendiri adalah istilah dalam bahasa Perancis, yang artinya “Kupu-kupu”, karena Charrière memiliki tato Kupu-kupu di dadanya.

Tentu saja yang namanya adaptasi ke dalam bentuk film, umumnya ada beberapa perbedaan dan bumbu fiktif di dalamnya, meski demikian dalam bukunya sendiri masih diperdebatkan keaslian ceritanya. Henri Charrière yang dipanggil Papillon (Steve McQueen) seorang narapidana, diasingkan ke wilayah Guyana-Perancis bersama dengan segerombolan napi lainnya. Dalam perjalanan dengan sebuah kapal, ia bertemu dengan seorang penipu ulung yang terkenal, bernama Louis Dega (Dustin Hoffman).

Charrière berjanji akan melindungi Dega, asalkan ia bisa kabur dari penjara dengan bantuan Dega untuk mengusahakan sebuah perahu. Di saat bersamaan, Charrière pun bertemu dengan Julot (Don Gordon) yang kemudian pura-pura terjatuh dari kapal pada saat mereka mendarat di Guyana dan dilarikan ke rumah sakit. Dengan bantuan otoritas napi setempat, Dega bernegosiasi untuk membeli sebuah kapal, dalam rangka melarikan diri bersama Charrière di dua minggu selanjutnya.

Suatu hari, Dega dianiaya oleh sipir penjara, akibat enggan setelah melihat jenazah Julot yang telah dibunuh dan disiksa. Charrière membela Dega dengan menyerang sipir penjara dan berhasil kabur, namun akhirnya tertangkap dan dibawa ke dalam penjara isolasi dan disiksa selama enam bulan. Setelah Charrière kembali, ia bertemu dengan Clusiot (Woodrow Parfrey), dan bersama dengan Dega dan seorang napi lainnya, mereka melarikan diri di suatu malam, ketika sedang diadakan konser … berhasilkah mereka?

Ketika pertama kali membaca sinopsis ceritanya sekilas, film ini menarik untuk disimak. Intinya, adalah bagaimana usaha Charrière, Dega dan kawan-kawan untuk melarikan diri dari penjara. Namun berbagai usaha untuk melarikan diri, memang tidak semudah yang diduga, seperti halnya di film-film serupa, banyak rintangan dan kejadian yang mengejutkan, lebih tepatnya, berbagai aksi petualangan yang menurut saya malah berlebihan.

Tokoh utamanya memang Henri Charrière itu sendiri, dalam petualangannya ketika berhasil kabur dari penjara, bagaikan seorang Indiana Jones –kebetulan setting cerita di tahun 30’an- mulai dari pelarian dan berlayar menyeberangi lautan, dikejar-kejar tentara dan diburu oleh suku Indian di sebuah hutan tropis, diselamatkan oleh suku Indian lainnya –mirip suku Amazon- di sebuah desa di pinggir pantai, hingga berlindung di sebuah biara. Jika pengalaman seorang Henri Charrière seperti itu, maka saya meragukannya! How come?   

impawards.com

Alur ceritanya sendiri pun bergerak lambat dan sedikit membosankan. Mulai dari penjara dalam kapal menuju perjalanan ke Guyana, suasana di penjara Guyana yang menyerupai barak, kamp outdoor untuk bekerja, penjara khusus untuk isolasi, hingga pemukiman suku Indian yang terisolir dari dunia luar. Rasanya kurang sreg nonton selama 2,5 jam yang sekitar hampir setengah cerita, banyak dialog yang mengalir biasa saja, meski jalan cerita cukup menarik untuk disimak.

Untungnya, kebosanan cerita tentang bagaimana caranya kabur dari penjara, kemudian gagal karena sebuah insiden yang mengakibatkan Charrière mendekam di sel isolasi, hingga mereka akhirnya beraksi untuk melarikan diri, diimbangi dengan petualangan solo Papillon selanjutnya, yang cukup menghibur dengan berbagai aksi menegangkan dan selalu membuat penasaran. Beberapa adegan kekerasan secara eksplisit pun diperlihatkan dengan cukup lugas, seperti pemenggalan kepala seorang napi dengan guillotine, dalamnya sayatan leher jenazah Julot atau seorang tahanan yang membantu Charrière tertancap jebakan maut berupa dahan-dahan runcing ... cukup mengejutkan!  

Kekuatan film ini ada pada transformasi karakter Charrière, yang semula terlihat tegar, kuat dan tangguh, bisa berubah menjadi rapuh, mulai hilang kewarasan, terkadang berhalusinasi, hingga fisiknya pun menua. Steve McQueen berperan dengan sangat baik di film ini, hingga saya hampir tak mengenal wajah khas-nya, ketika ia berada di sel isolasi. Jangan bandingkan penampilan Steve McQueen yang terkenal dengan film Bullitt (1968), namun bandingkan persamaan karakter lainnya di film The Great Escape (1963), bagaimana usahanya kabur dari penjara yang pantang menyerah. Itulah nilai filosofi film ini, anda hanya fokus tentang bagaiaman caranya melarikan diri, meski berkali-kali gagal … masalah berhasil atau tidaknya, lihat nanti!

Pun demikian dengan aktingnya Dustin Hoffman sebagai Louis Dega, sebagai seorang yang lebih hati-hati, cerdik, penuh perhitungan dan bermain aman, sekaligus terlihat pasrah dengan keadaan dirinya meringkuk dalam penjara, sambil bermain-main dengan resiko yang dihadapinya. Dega yang awalnya ‘berbisnis’ dengan Charrière, akhirnya bersahabat erat. Mereka saling mendukung dan menolong satu sama lain, disaat Dega sudah putus asa, Charrière-lah yang menyemangatinya dengan ide-ide dan semangat tanpa putus asa.

Keindahan berbagai landskap dengan latar belakang pemandangan tropis, disajikan dengan menarik, serta pengambilan dari berbagai sudut kamera yang enak dilihat. Bagaimana diperlihatkan keindahan pemukiman suku Indian di tepi pantai dengan pasir putih dan laut birunya, hamparan luas hutan belantara ala Amazon yang penuh dengan ngarai, lembah dan sungai, hingga landskap barak penjara di tepi pantai pun yang sunyi dan jauh dari keramaian apapun berkesan seperti benteng militer.  

Alunan musik indah dari komposer Jerry Goldsmith yang catchy dan memorable dengan sentuhan alunan khas Eropa, ketika beberapa sekuen tentang keputusasaan dan perubahan karakter Charrière ketika disiksa di sel isolasi, atau ketika ia bertemu kembali dengan Dega dan tentunya di beberapa sekuen terakhir, begitu berkesan dan menghadirkan emosi kerinduan akan rasa kebebasan.

Film Papillon sepertinya ingin mengutarakan pengalaman Charrière ketika berada di penjara dan usahanya untuk melarikan diri, namun kelebayan (terlalu berlebihan) akan aksi petualangannya-lah, yang membuat seakan-akan menambah keseruan yang cenderung fiktif. Film ini tidaklah se-efektif film Escape from Alcatraz yang sama-sama berdasarkan kisah nyata, yang menurut saya cukup hadir selama dua jam saja, agar fokus pada cerita bagaimana proses kabur dari penjara … kalo udah berhasil, kelar kan filmnya?

Score : 3 / 4 stars

Papillon | 1973 | Drama, Thriller, Petualangan, Biografi | Pemain: Steve McQueen, Dustin Hoffman, Don Gordon, Woodrow Parfrey | Sutradara: Franklin J. Schaffner  |  Produser: Robert Dorfmann, Franklin J. Schaffner, Ted Richmond  | Penulis: Berdasarkan Buku “Papillon” oleh : Henri Charrière. Naskah: Dalton Trumbo, Lorenzo Semple, Jr. | Musik: Jerry Goldsmith | Sinematografi: Fred J. Koenekamp | Distributor: Allied Artist (Amerika Serikat), Columbia Pictures (Internasional) | Negara: Amerika Serikat, Perancis | Durasi: 150 Menit


Baca juga : Bullitt (1968) : Bukan Sekadar Aksi Mobil Cepat | Midnight Express (1978) : Politik dan Penjara Turki | Straw Dogs (1971) : Penyerangan Brutal yang Kontroversial

Popular Posts