The Nun (2018) : Horor Gothic yang Kurang Asyik

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Mumpung masih hangat dalam perbincangan moviegoers akan film horor yang lagi hype ini, saya menyempatkan diri untuk langsung menyaksikan di bioskop, sehubungan dengan ketertarikan saya dengan film horor yang bertemakan Gothic. Bersama dengan The Conjuring dan Annabelle franchise, film The Nun merupakan bagian dari The Conjuring Universe, semuanya dimulai sejak tahun 2013 silam.

Karakter The Nun atau yang disebut Valak sendiri muncul pertama kalinya melalui film The Conjuring 2 (2016), lalu akhirnya dibuatlah film spin-off yang rilis baru-baru ini. Mungkin karena sosoknya yang unik, memakai jubah biarawati dan pastinya memiliki latar belakang misterius yang berhubungan dengan Gereja Katholik, maka bisa jadi sesuatu yang menarik untuk dieksplorasi lebih dalam. Hal tersebut menandakan hubungan kuat akan tradisi kuno mengenai pertentangan antara yang baik versus yang jahat, kerap dinarasikan melalui organisasi keagamaan berabad-abad lamanya.

Tahun 1952 sebuah Biara Cârţa di Rumania, tampak kekuatan jahat keluar dari sebuah pintu terlarang yang bertuliskan “Tuhan berakhir disini”, menyerang kepala biarawati hingga tewas, sedangkan seorang biarawati bernama Victoria akhirnya lompat gantung diri, setelah dikejar oleh kekuatan jahat tersebut.

Cerita kemudian beralih di Vatikan, ketika pastur Burke (Demián Bichir) ditugaskan untuk menyeldiki biarawati yang bunuh diri tersebut. Atas perintah Vatikan pula, Burke kemudian meminta Suster Irene (Taissa Farmiga) bersama dengannya mendatangi Biara Cârţa. Irene awalnya merasa heran dengan tugas tersebut, mengingat ia dalam masa percobaan dan belum resmi menjadi biarawati.

Dengan bantuan Maurice “Frenchie” Theriault (Jonas Bloquet), seorang warga lokal yang pertama kali menemukan jasad Victoria, mereka memasuki Biara tersebut. Namun apa yang mereka alami selanjutnya, menjadi sebuah teror yang mengerikan …

impawards.com

Sebenarnya, permis cerita yang diusung film ini sangat sederhana, yakni ada kekuatan jahat berupa setan atau iblis yang berada di dalam Biara tersebut. Karakter Valak atau The Nun, tak lain merupakan salah satu wujud iblis itu sendiri. Datangnya kedua karakter (Burke dan Irene) sebagai perwakilan kekuatan baik (Vatikan), bertujuan untuk memerangi kekuatan jahat tersebut, yang membuat audiens bertanya mengapa mereka yang terpilih.

Misteri asal-usul datangnya kekuatan jahat yang berada di dalam biara pun menjadi pertanyaan selanjutnya, serta mengapa kekuatan itu berwujud menjadi seorang biarawati juga menjadi hal yang membuat penasaran. Semuanya itu dikemas menjadi suatu rangkaian utuh yang diimplementasikan ke dalam alur yang cukup rapih dan bisa dinikmati dengan oktan horor yang cukup tinggi, hingga banyak adegan intens dengan permainan ritme yang diatur cukup rapat.

Seperti pada film-film lainnya dalam The Conjuring Universe, arahan dan gaya akan berbagai adegan aksi dan menyeramkan, disajikan secara old school. Dominasi kesuraman, minimnya cahaya, kengerian akan berbagai kehadiran ganjil, ditambah dengan setting bangunan biara kuno klasik dari abad pertengahan itu, menguatkan atmosfir horor yang kental dengan suasana mencekam, jauh dari peradaban atau pemukiman penduduk.

Banyak kejutan yang terjadi di sepanjang cerita, namun yang dimaksud adalah berbagai adegan yang mengejutkan atau istilahnya jump scare yang tidak perlu. Banyak kejutan untuk menakut-nakuti karakter protagonis dengan menggunakan teknik horor modern yang seharusnya diminimalisir, alih-alih menghadirkan kejutan dalam memecahkan misteri cerita. Karakter Irene, Burke dan Frenchie yang awalnya dibuat penasaran oleh berbagai kehadiran ganjil dengan ritme yang pas, lalu dengan tiba-tiba dikejutkan begitu saja, banyak adegan tersebut yang terjadi sehingga kadang menyebalkan.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Misteri yang akhirnya terpecahkan dalam cerita film tersebut, seiring dengan mudahnya beberapa elemen serta jalan cerita yang bisa ditebak selanjutnya. Tidak adanya unsur twist ataupun intrik yang signifikan, mengakibatkan lemahnya konklusi cerita yang berubah menjadi sesuatu  yang tampaknya klise. Hal itu juga diperparah dengan tidak adanya kedalaman karakter Irene dan Burke, sesuai dengan latar belakang mereka masing-masing. Tidak diperlihatkan adanya pertentangan batin atau eksploitasi pemberontakan jiwa pada diri mereka, ketika berkonfrontasi dengan kekuatan jahat tersebut.

Penampilan Taissa Farmiga sebagai Suster Irene, cukup mencuri perhatian dengan keluguan yang terpancar melalui wajah dan matanya, meski seharusnya ia diberi naskah yang lebih berbobot dengan akting yang lebih prima. Aktor Demián Bichir sebagai Pastur Burke mengingatkan saya akan karakter Pastur Philip Lamont. yang diperankan Richard Burton di film Exorcist II : The Heretic (1977), sebagai seorang yang kaku dan kurang ekspresif. Sedangkan karakter Frenchie dinilai tak lain sebagai penggembira yang cukup menghibur.

Original score yang diaransemen oleh Abel Corzeniowski cukup standar sebagai film horor umumnya, namun mungkin yang bisa dikatakan ikonik adalah efek suara ketika sosok Valak yang bergerak mendekat dari kejauhan dalam kegelapan koridor, terasa sangat mengerikan dan mencekam. Oh ya, seperti halnya di film The Conjuring 2, sosok Valak alias The Nun yang mirip dengan vokalis rock band Dee Snider (Twisted Sister), tidaklah menyeramkan begitu kamera menyoroti mukanya dari dekat, mungkin efek CGI? Begitulah film jaman now.

Film The Nun ternyata tidak semenarik ketika berpromosi dengan embel-embel The Conjuring Universe-nya, hal tersebut berlaku untuk film seperti Annabelle (2014), in my opinion. Dibalik kisah horor klasik dengan tema dan setting yang menjanjikan, kurangnya kedalaman eksplorasi akan elemen cerita, serta tidak adanya eksploitasi karakter, mengakibatkan film ini lebih menjual sisi menyeramkan dari sebuah tempat yang dianggap suci (biara). Bagaimanapun juga, The Nun cukup menghibur sebagai tontonan horor dengan tema yang cukup unik belakangan ini.  

Score : 2 / 4 stars

The Nun | 2018 |  Horor, Suspens, Gothic Pemain:  Demián Bichir, Taissa Farmiga, Jonas Bloquet, Bonnie Aarons, Ingrid Bisu | Sutradara: Corin Hardy   | Produser: Peter Safran, James Wan | Penulis:  James Wan, Gary Dauberman | Sinematografi: Maxime Alexandre | Musik: Abel Corzeniowski | Distributor: Warner Bros Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 96 Menit 



Popular Posts