Dawn of the Dead (1978) : Bersama Zombie di Dalam Mall



Courtesy of United Film Distribution Company, 1978

Jika anda dikepung oleh para zombie yang menyerbu sebuah mall, apa yang anda lakukan? Mungkin di saat tertentu anda bahagia bisa tinggal di dalam mall berhari-hari, semua kebutuhan mewah terpenuhi, namun di saat lain, anda harus berpikir keras untuk keluar, karena tidak mungkin anda tinggal berlama-lama disana.

Film ikonik klasik nan kultus berjudul Dawn of the Dead -bukan remake-nya- adalah salah satu film horor zombie terbaik, bagian kedua dari franchise yang dipelopori oleh maestro zombie, George A. Romero. Tema tentang bagaimana keempat survivor berada di dalam sebuah mall, harus berhadapan dari serbuan zombie, adalah sesuatu yang unik dan menawarkan pengalaman baru.

Ceritanya sendiri merupakan lanjutan dari Night of the Living Dead (1968), yakni ketika wabah zombie semakin meluas di Amerika, maka seluruh pasukan keamanan dikerahkan untuk membasminya. Stephen “Flyboy” Andrews (David Emge) dan Francine Parker (Gaylen Ross), kedua staff media televisi, berhasil menuju stasiun traffic dan mencuri helikopter, ketika pada saat bersamaan mereka bertemu dengan dua orang SWAT bernama Roger Di Marco (Scott Reiniger) dan Peter Washington (Ken Foree) yang juga melarikan diri.

Berempat, mereka mengemudikan helikopter meninggalkan Philadelphia dari segala kekacauannya. Setelah mereka mendarat di suatu tempat untuk mengisi bensin, mereka menemukan sebuah mall, namun dari luar tampak sekelompok zombie yang mengelilinginya. Merekapun penaaran dan mendarat di atap mall. Diam-diam, mereka masuk ke dalam mall dengan waspada, untuk menemukan kemungkinan mereka bisa bertahan hidup serta menghindar dari serangan zombie.  

impawards.com

Dengan durasi hampir 2,5 jam, film ini menyuguhkan saga petualangan keempat karakter utama, yakni Stephen, Francine, Roger dan Peter. Bagian pertama cerita, dimulai dari suasana hiruk-pikuk di stasiun televisi yang menayangkan siaran langsung debat mengenai wabah zombie, ketika Francine dan Stephen diam-diam sepakat untuk melarikan diri dari kepanikan dan ketakutan.

Pada cerita bagian ke-2 dengan lokasi berbeda, dilanjutkan oleh penyerbuan tim SWAT terhadap para pemberontak dan gerombolan zombie di sebuah apartement. Karakter Roger dan Peter diperkenalkan lewat serangkaian aksi mereka dalam membantai para zombie yang memakan korban sipil. Berbagai adegan dan visual yang cukup gory pun diperlihatkan cukup jelas, serta tentunya berbagai adegan konfrontasi brutal antara tim SWAT dengan para zombie.

Cerita bagian ke-3, ketika keempat karakter melakukan perjalanan malam hari dengan helikopter meninggalkan kota, maka petualngan sesungguhnya dimulai. Bagian ke-4 terjadi ketika mereka harus mendarat di lapangan kosong untuk mengisi bensin, terjadi beberapa konfrontasi dengan para zombie ganas. Tak jauh dari lokasi tersebut, terdapat sub-plot cerita yang mengisahkan bagaimana sekumpulan tentara dengan artileri-nya, polisi, petugas pemadam kebakaran dan para relawan, beriringan melakukan long march, yang akhirnya berkumpul di sebuah lokasi. Sambil beristirahat minum dan ngemil, berkongkow atau berfoto ria, mereka menembaki para zombie yang mencoba mendekat, diiringi oleh latar lagu country.

Courtesy of United Film Distribution Company, 1978

Kembali kepada keempat karakter tadi dan bagian ke-5 cerita, ketika mereka mendarat di sebuah mall, dengan harapan mereka bisa bertahan disana. Lalu cerita bergulir tentang bagaimana mereka menyusun strategi dan menyiasatinya, dengan menyelidiki keseluruhan gedung, suplai makanan serta mengamati para zombie yang berkeliaran di dalam mall. Berbagai keseruan, ketegangan, intrik diantara mereka, mengharuskan kekompakkan agar mencapai tujuan, seperti bagaimana mereka mengakali untuk masuk ke dalam salah satu outlet mall, dengan menghindar para zombie itu … konsep aksi hit & run mereka terapkan.

Salah satu sekuen yang paling menarik dan intens adalah ketika mereka mengakali cara untuk memblokir para zombie lainnya agar tidak masuk ke dalam mall, dengan cara membawa beberapa truck dari sebuah depot bensin, yang berada tidak jauh dari mall tersebut. Mereka mengatur, bagaimana Francine dengan membawa senjata mengamati para zombie dari atap mall, Roger dan Peter masing-masing membawa truck bensin dari depot menuju mall yang dipandu oleh Stephen dengan helikopternya. Hal tersebut harus dilakukan bebrapa kali, karena mereka membutuhkan beberapa truck.


Courtesy of United Film Distribution Company, 1978

Intensitas cerita menurun cukup drastis, ketika mereka berhasil mensterilkan di dalam mall, layaknya berada di angan-angan, merekapun hidup dengan kemewahan dan kenyamanan, berdasarkan kebutuhan dan hiburan atau kesenangan, selama berada di dalam mall tersebut. Disitulah berbagai adegan romantis sekaligus humor dan lifestyle bercampur aduk menjadi satu dalam tempat perlindungan dari dunia horor apokaliptik.

Peningkatan intensitas kembali perlahan demi perlahan, ketika segerombol perompak –ala bikers dan gypsy- membobol dan menjarah mall tersebut, kekacauan terjadi lagi dengan diperparah oleh masuknya kembali serbuan zombie ke dalam mall. Semenjak momen itu, mood dan atmosfir kembali menuju kekacauan, kepanikan dan kegilaan bahkan sepertinya kehancuran … tinggal menghitung saja siapa yang bertahan hingga akhir cerita.


Courtesy of United Film Distribution Company, 1978

Gaya penyutradaraan Romero termasuk unik, dengan menyeimbangkan antara horor, ketegangan dan gory dengan suasana santai, humor dan menyelipkan adegan siaran televisi dengan nara sumber yang berhubungan dengan fenomena zombie. Tanpa harus berakting brilian, film ini juga berhasil menciptakan kedalaman beberapa karakter kuat seperti karakter Peter yang berkarisma, mengingatkan saya akan karakter antagonis Candyman.

Beberapa karakter unik juga hadir, seperti Stephen alias “Flyboy”, dengan jaket kulit ala pilot, kemudian ada pula karakter antagonis yang dimainkan oleh Tom Savini sebagai seorang biker yang bersenjatakan sebilah golok (machete), selain juga ada beberapa karakter bikers pendukung lainnya. Sedangkan karakter para zombie yang terkenal unik dan terkesan humor adalah seorang Hare Khrisna yang lengkap dengan jubbah dan atribut yang nyentrik itu. Bicara tentang humor, berbagai adegan ‘konyol’ pun diperlihatkan bagaimana para perompak mengerjai dan membantai para zombie, selain itu beberapa karakter dan tingkah laku zombie memang sepertinya dibuat cukup kocak.

Courtesy of United Film Distribution Company, 1978

Dibandingkan filmnya terdahulu, Night of the Living Dead, kali ini unsur extreme gory disajikan cukup menjijikan, seperti bagaimana kepala hancur, kepala ditancap oleh golok, usus dan organ terburai atau kedua lengan terputus, juga ketika para zombie memakan dengan lahap bagian paha, iga atau bagian tubuh manusia lainnya, namun porsinya tidak sebanyak dan se-ekstrim di film berikutnya, Day of the Dead (1985). Kreativitas tersebut adalah hasil karya dari salah satu legenda efek spesial artis film-film horor, Tom Savini.

Dengan mengusung musik ala elektronik dari The Goblins, maka tak heran jika sosok Dario Argento juga berperan signifikan di film ini, selain mensuplai original score juga membantu membiayai produksi film. Dawn of the Dead adalah sebuah film horor bertemakan zombie, dengan mengusung tradisi gaya serta karakterisasi zombie klasik, tanpa harus membuat rangkaian adegan aksi yang berlebihan atau terlalu cepat yang biasanya diperlihatkan di film-film zombie modern. Secara kritik, kualitas film ini tidak jauh atau bahkan mungkin boleh menyamai Night of the Living Dead.

Meski secara kualitas versi remake-nya cukup bagus, namun versi orisinal-lah pada akhirnya yang berhasil memainkan transisi horor zombie ke gaya yang lebih modern di jamannya dengan tetap konsisten pada karkteristik zombie itu sendiri. Dari film-B, Dawn of the Dead bertransformasi menjadi mainstream, laris, berstatus cult, ikonik, many memorable scenes … lalu apa lagi?  

Score : 4 / 4 stars

Dawn of the Dead | 1978 |  Horor, Aksi Laga, Survival   Pemain: David Emge, Ken Foree, Scott Reiniger, Gaylen Ross | Sutradara: George A. Romero | Produser: Richard P. Rubinstein  | Penulis: George A. Romero  | Musik: The Goblins, Dario Argento | Sinematografi: Michael Garnick | Distributor: United Film Distribution Company | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 127 Menit 

Baca juga : Suspiria (1977) : Okultisme di Sekolah Balet

Popular Posts