Suspiria (1977) : Okultisme di Sekolah Balet

Courtesy of Produzioni Atlas Consorziate, 1977

Dalam rangka menyambut remake film Suspiria (2018) di bulan November mendatang, saya ingin recall dan mengulas untuk versi orisinalnya yang merupakan sebuah masterpiece dari Dario Argento, yang dirilis sejak tahun 1977 silam. Sejak pertama kali menonton film ini sekitar tujuh tahun yang lalu, saya langsung terkesan akan semua aspek yang tersampaikan dengan kuat, kecuali yaa efek spesialnya … wajarlah untuk sekelas film Eropa yang jadul itu, tapi sama sekali tidak mengurangi kengerian yang didapat.

Sineas asal Italia yang terbiasa menggarap film-film horor giallo, Dario Argento, menulis ide ceritanya berdasarkan buku berjudul Suspiria De Profundis (Sighs from the Depth) khususnya dalam esai berjudul Levana and Our ladies of Sorrow, karya Thomas De Quincey. Jadi film Suspiria merupakan bagian pertama dari trilogi The Three Mothers berdasarkan elemen dari esai tersebut, sedangkan kedua film berikutnya yakni Inferno (1980) dan The Mother of Tears (2007) melengkapi rangkaian dari tiga penyihir tersebut.

Kisah film Suspiria sendiri menceritakan misteri dan legenda berdasarkan salah satu dari trio penyihir. Khususnya di film ini, karakter antagonisnya yakni Mater Suspiriorum atau Mother of Sighs. Adalah seorang murid penari balet asal Amerika bernama Suzy Bannion (Jessica Harper) tiba di Freiburg, Jerman, untuk belajar di sekolah balet bernama Tanz Dance Academy. Ketika malam hari ia sampai di lokasi, sudah mulai ada peristiwa janggal yang ia temui.

Berbagai peristiwa menyeramkan dan teror mulai menghantui dirinya serta beberapa orang disekitarnya, setelah temannya Sara (Stefania Casini) mencurigai ada sesuatu yang tidak beres di sekolahan yang dikelola oleh Madame Blanc (Joan Bennett) dan instruktur balet, Miss Tanner (Alida Valli).

imdb.com

Premis cerita yang menarik, tentang salah seorang dari ketiga penyihir yang ‘tersembunyi’ di dalam sekolah balet misterius, membuat penasaran dan pastinya sudah terbayang bakal menyeramkan. Jika anda merasa bahwa film-film horor modern ala Eropa membosankan dengan alur yang lamban, maka tidak demikian dengan film produksi Italia ini. Selama lebih dari 1,5 jam, mata anda akan dimanjakan dengan berbagai visual menarik, serta rasa penasaran yang tinggi hingga akhir cerita.

Dario Argento sang maestro horor giallo, sebelumnya sudah terbiasa menyajikan cerita suspens thriller dengan berbagai adegan pembunuhan yang mengerikan dan gory, kali ini unsur giallo tersebut ditambah dengan elemen supranatural seperti di film lainnya, Phenomena (1985). Sejak di awal cerita, karakter Suzy sudah menemui peristiwa yang aneh, seperti seorang murid yang keluar berlari ketakutan meninggalkan gedung sekolah saat hujan deras di malam hari.

Kejanggalan plot di awal cerita tampak, ketika Suzy yang turun dari taksi dan berpas-pasan dengan murid tadi, lalu ia menekan bel hendak masuk ke dalam sekolah asrama tersebut, namun ia ditolak lewat interkom tanpa alasan jelas. Maka Suzy kembali ke kota (apakah ia menginap di hotel?). Setelah itu, plot beralih kepada karakter yang kabur dari sekolahan itu menuju apartemen temannya, serta terjadilah serangkaian adegan mengerikan. Pada akhirnya, penyelesaian cerita dalam film ini juga dirasa cukup baik dan menegangkan, meskipun aksi yang dilakukan kurang epik dan cukup singkat, namun efektif.


Courtesy of Produzioni Atlas Consorziate, 1977

So anyway, hal tersebut tidak mengganggu keseluruhan film secara signifikan. Jalan cerita yang dibangun dari awal hingga akhir, meski bergerak agak lambat namun disajikan dengan cara yang elegan serta estetis, berkat banyak sekali mise-en-scéne yang menarik, baik dalam visual maupun sound. Berbagai setting, pewarnaan, pencahayaan, teknik penyorotan dan sudut kamera, adegan aksi, hingga scoring yang diimplementasikan di hampir semua sekuen, terasa begitu menggugah mata tanpa ada kebosanan sedikitpun.

Tampaknya unsur neo-noir juga memiliki pengaruh besar dalam memadukannya dengan horor bergaya Eropa. Di awal cerita juga telah diperlihatkan ketika Suzy melihat sesuatu yang misterius dalam malam gelap yang minim penerangan, ditambah dengan hujan deras. Dalam perjalanan dengan sebuah taksi dari bandara menuju sekolahan, tampak selewat berbagai bangunan tua yang megah namun terkesan angker. Begitu pula karakter seorang murid yang kabur dari sekolahan menuju apartemen temannya, tampak jalanan di depan gedung apartemen basah bekas hujan, sedangkan jalanannya hanya diterangi lampu dari gedung.

Courtesy of Produzioni Atlas Consorziate, 1977

Di siang hari pun, aura horor dan misteri tak kunjung mereda, meski terdapat sekuen dengan ritme yang tenang dipenuhi oleh berbagai dialog antara Suzy dengan seorang profesor di pelataran diantara gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi di pusat kota. Di sekuen itulah permainan kamera menyorot mereka dari atas gedung yang sangat tinggi, sehingga terlihat landskap pelataran diantara gedung-gedung itu yang lengkap dengan taman-taman kecil. Juga dalam adegan saat profesor menjelaskan kepada Suzy, sorotan kamera berada agak bawah dari dirinya, sehingga hanya tampak kepala hingga bahunya dengan latar belakang langit luas yang berawan.

Salah satu sekuen menarik sekaligus mengerikan yakni ketika di malam hari yang gelap, seseorang diserang oleh kekuatan yang tak terlihat, dengan setting diantara dua gedung kuno yang besar dan megah yang lengkap dengan berbagai patung dan pilar raksasa ala Romawi. Di satu adegan, tampak kamera menyorot dari atas seakan terbang melewati orang tersebut, serta diperlihatkan sekilas berbagai bayangan hitam di depan gedung (kelihatannya seperti mapping gedung), kemudian orang tersebut disorot dari jarak yang sangat jauh diantara kedua gedung tersebut.

Namun menurut saya, adegan yang paling menyeramkan yakni ketika para murid tidur di aula sekolahan, disekelilingnya ditutupi dengan tirai yang tinggi. Sara yang membangunkan Suzy, dengan berbisik-bisik kepadanya, menjelaskan bahwa ia melihat bayangan kepala direksi sekolah yang datang dan ikut tidur dibalik tirai dekat ranjang mereka berdua. Saya tidak pernah menduga adegan apa selanjutnya, bersiap-siap untuk kaget campur ngeri ...



Courtesy of Produzioni Atlas Consorziate, 1977

Dari dua sekuen yang telah dijelaskan sebelumnya, tampak permainan teknik sorotan kamera antara objek manusia dengan latar gedung disekelilingnya, dimainkan dengan menimbulkan kesan megah dengan sorotan dari jarak jauh, seakan-akan ada yang mengintai. Selain teknik sorotan kamera, pengaturan pencahayaan pun diperlihatkan secara kontras, bergantian antara satu sekuen dengan sekuen lainnya. Cahaya lampu berwarna merah, biru, kuning dan terkadang hijau menjadi dominan menyoroti seorang karakter yang sedang melakukan berbagai adegan.

Setting berupa bangunan kuno Eropa yang megah (serba tinggi dan luas), mungkin boleh dikatakan bergaya baroque atau geometris yang didominasi oleh satu warna, baik dari eksterior maupun interiornya yang memanjakan mata, terlebih dipadukan dengan sorotan kamera dari kejauhan baik dari atas maupun dari bawah, sehingga objek manusia tampak kecil. Contohnya di dalam lobby sebuah apartemen pada awal cerita yang didominasi dengan warna merah agak muda dipadukan dengan warna-warna minor berupa pastel dan putih, dengan aksen geometris.

Setting yang terbaik adalah bangunan Tanz Dance Academy dengan eksteriornya berwarna merah bergaya mediterania, sedangkan interior lobby-nya dengan wallpaper dinding yang didominasi warna biru (blue) berkilau. Yang paling mencolok adalah beberapa sekuen penting dengan setting berada dalam koridor gedung tersebut berwarna merah (red) yang diterangi oleh jajaran lampu dinding dengan cahaya kuning pekat. Sedangkan salah satu ruangan untuk latihan balet-nya terdapat beberapa lukisan abstrak yang colorfull dengan ukuran besar. Selain itu, salah satu ruangan terdapat wallpaper dinding dengan dasar berwarna broken white, berlukiskan ornamen yang eye catching atau mozaik berwarna-warni di ruangan lainnya, atau kamar mandi dengan dinding berwarna krem atau kining muda.

Courtesy of Produzioni Atlas Consorziate, 1977

Seperti umumnya film-film Argento lainnya, akting dan karakterisasi protagonis di film ini kalah dengan karakter antagonisnya. Kredit diberikan kepada karakter antagonis yang misterius dan berkarisma. Aktris Jessica Harper sebagai tokoh utamanya yakni Suzy Bannion yang juga orang Amerika, sepertinya adalah strategi marketing Argento untuk melibatkan aktor/aktris internasional -terutama Amerika- demi perilisan film yang lebih luas.

Musik yang diaransemen oleh Argento sendiri, dibantu oleh band progressive rock asal Italia, Goblin. Mereka sering berkolaborasi dalam film-filmnya Argento. Khususnya di film ini, original score terkadang annoying, namun kehadiran aura horor yang kuat ditambah dengan berbagai efek sound seperti bisikan-bisikan misterius, tetap saja cukup ‘meneror’ telinga.

Courtesy of Produzioni Atlas Consorziate, 1977

Film Suspiria merupakan film horor suspens yang menyeramkan sekaligus estetis dan stylish. Sebuah pencapaian yang luar biasa, dengan mengangkat tema horor tentang okultisme (witchcraft) ke dalam dunia modern, disertai dengan kekuatan alur cerita yang misterius, menjadikan Suspiria sebagai salah satu film horor terbaik sepanjang masa.

Tanpa memerlukan karakter ikonik baik yang protagonis maupun antagonis, film ini sudah banyak mempengaruhi generasi berikutnya dan menjadi bagian dari pop culture yang berakarkan pada mitos atau legenda Eropa, tidak kalah dengan karakter drakula, mumi, atau zombie. Jika anda ingin menonton versi remake-nya, maka wajib ditonton dulu versi orisinalnya, meski terkesan kuno namun tidak kalah mencekamnya.

Score : 4 / 4 stars

Suspiria | 1977 | Drama, Horor, Suspens, Giallo | Pemain: Jessica Harper, Stefania Casini, Flavio Bucci, Miguel Bosé, Barbara Magnolfi, Susanna Javicoli, Eva Axén, Alida Valli, Stefania Casini | Sutradara: Dario Argento  |  Produser: Claudio Argento| Penulis: Dario Argento, Daria Nicolodi | Musik:  Goblin, Dario Argento | Sinematografi: Luciano Tovoli | Distributor: Produzioni Atlas Consorziate | Negara: Italia | Durasi: 98 Menit

Popular Posts