Bohemian Rhapsody (2018) : Mengenang 45 tahun Karir Queen

Courtesy of 20th Century Fox, 2018

Gara-gara film Wayne’s World (1992) yang dibintangi oleh Mike Myers, dan satu tahun setelah kematian Freddie Mercury, lagu “Bohemian Rhapsody” kembali menjadi hits secara global, hingga saya ikut-ikutan beli album Queen, Greatest Hits (1981) … format kaset tape tentunya! Kini, setelah 26 tahun dan mengalami proses penundaan panjang, film biopic (biographical movie) mereka berjudul Bohemian Rhapsody akhirnya dirilis.

Queen adalah legenda hard rock band asal Inggris yang lahir di era 70’an dan nama mereka sama besarnya dengan Black Sabbath, Led Zeppelin, Deep Purple, Judas Priest, KISS, Aerosmith dan masih banyak lagi. Keunikan Queen adalah harmonisasi vokal (lead dan background), simfoni musik yang berakar dari progressive rock, art rock, psychedelic rock dan heavy metal yang dipadukan dengan pop, opera, folk, gospel hingga disco. Kekuatan musik Queen terletak pada skill permainan gitar Brian May, dentuman bass 'groovy' ala John Deacon, gebukan drums Roger Taylor, hingga dahsyatnya vokal Freddie Mercury yang konon melebihi 3 oktaf.

Courtesy of 20th Century Fox, 2018

Film Bohemian Rhapsody fokus mengisahkan tentang perjalanan awal karir Queen dari tahun 1970 hingga penampilan mereka dalam konser Live Aid di tahun 1985, disertai dengan kehidupan pribadi Freddie Mercury. Semuanya berawal saat Farrokh Bulsara alias Freddie Mercury (Rami Malek) tertarik dan menawarkan diri untuk bergabung sebagai vokalis rock band bernama Smile yang digawangi oleh gitaris Brian May (Gwilym Lee) dan drummer Roger Taylor (Ben Hardy) setelah ditinggal oleh pemain bass mereka. 

Dalam momen tersebut, Freddie bertemu dengan Mary Austin (Lucy Boynton) dan mereka menjadi sepasang kekasih. Smile berganti nama menjadi Queen, serta merekrut pemain bass bernama John Deacon (Joseph Mazello), lalu mereka menjual sebuah mobil van untuk memproduksi debut album dan label rekaman. EMI pun tertarik untuk memproduseri mereka. Freddie mempertanyakan seksualitas dirinya setelah perilisan tiga album pertama, dan terutama saat mereka tur di Amerika, ia pun mengaku sebagai seorang biseks kepada Mary.

Popularitas Queen pun dimulai saat mereka merilis album A Night at The Opera di tahun 1975 dan dan terus meraih kesuksesan, sementara kehidupan pribadi Freddie juga dieksplorasi, seperti hubungannya dengan manajer pribadinya, pertengkaran dengan anggota band lainnya yang menyebabkan ia bersolo karir, hingga ia mengidap AIDS.

impawards.com

Umumnya film biopic tidak 100% akurat, selalu ada elemen fiktif yang hadir untuk mendramatisir ceritanya. Perasaan saya saat nonton film ini bercampur aduk antara puas dan tidak puas, rupanya agak seimbang antara kelemahan yang signifikan dengan kelebihan yang memuaskan dan menghibur di film ini, terutama saat seperempat cerita berjalan.  

Saya mulai dari kelemahannya : Yang paling mendasar dan tidak akurat adalah kronologi karir Queen dalam menghadirkan lagu mereka. Setelah mereka merilis album ketiga mereka berjudul Sheer Heart Attack (1974) mereka tur ke Amerika, namun dalam konser, mereka memainkan lagu “Fat Bottomed Girls” yang faktanya ada di album Jazz (1978). Kesalahan fatal ada ketika ceritanya di tahun 1980, Freddie yang telah berambut pendek dan berkumis, mereka mulai merekam lagu “We Will Rock You” yang faktanya ada di album News of the World (1977).

Manajer Queen John Reid menangani mereka sejak album pertama, faktanya ia menangani mereka sejak album A Night at The Opera (1975), setelah Queen hampir bangkrut dan putus kontrak dengan Trident Studios, sehingga mereka harus mencari manajemen penggantinya. Ketidakakuratan lainnya tidaklah mengganggu saya, mengingat film biopic kalo tidak ada bumbu drama, maka tak seru, misalnya ketika Queen secara “last minute” bisa gabung dalam konser Live Aid setelah rekonsiliasi Freddie dan anggota band lainnya.

Courtesy of 20th Century Fox, 2018

Sedangkan kelebihannya adalah : Sekuen reka ulang penampilan Queen dalam konser Live Aid yang sangat epik! Kehebatan menampilkan peristiwa besar dalam sejarah musik di tahun ’85 itu, baik dalam menghadirkan puluhan ribu audiens –dengan hair and dress style mereka ala 80’an- dalam Wembley Stadion, penampilan Queen yang bisa meniru dokumen aslinya dengan mendekati sempurna baik dalam performa, momen dan energi yang ditampilkan oleh Rami Malek sebagai Freddie Mercury.

Mulai dari lagu “Bohemian Rhapsody”, kekompakkan puluhan ribu audiens dalam gerakan tepuk tangan, melambaikan tangan dan bernyanyi “Radio Ga Ga”, momen a cappella Freddie Mercury hingga lagu penutup “We are the Champions” sungguh terasa atmosfir realistis, dengan kedinamisan sorotan kamera, serasa nonton ‘konser beneran’!

Karakterisasi masing-masing anggota band Queen juga patut diapresiasi, terutama sang bintang Freddie Mercury yang diperankan dengan sangat baik oleh seorang aktor Amerika turunan Koptik (salah satu etnis Mesir), Rami Malek. Mulai dari penampilan awal Freddie dengan rambut gondrong, hingga berambut pendek dan berkumis, karakter suara dan vokal, sorotan mata yang dalam, mimik, ekspresi dan gaya flamboyan akan cara berbicara dan menyanyi yang khas karena gigi depannya yang besar itu!

Courtesy of 20th Century Fox, 2018

Sayangnya, karakter Brian May agak tenggelam dan kurang terekspos, kalah dengan John Deacon yang kalem tapi bisa mencuri perhatian, karena tampang dan gayanya yang mudah di-bully, apalagi dengan Roger Taylor yang cenderung keras dan temperamental. Elemen komedi dengan berbagai dialog humor segar, membuat semua karakter, termasuk karakter pendukung dalam cerita ini lebih hidup dan dramatis.

Momen favorit di film ini adalah ketika Freddie terkena AIDS, ia berobat dan konsultasi dengan dokter, diiringi lagu “Who Wants to Live Forever” yang liriknya sangat menyentuh itu … ah, jadi teringat film Highlander (1986). Juga tak kalah kerennya, ketika Queen mulai merekam lagu “Another One Bites to Dust” dan sekuen beralih kepada kehidupan seksual Freddie, serta ketika Freddie memecat manajer pribadinya muncul lagu “Under Pressure”.

Saya tidak nonton ending credit-nya hingga akhir …hmmm, coba kalo lagu “The Show Must Go On” dimunculkan ya …

Film Bohemian Rhapsody lebih banyak mengunggulkan unsur ‘fun’ ketimbang kedalaman karir musik dari Queen itu sendiri jika dibandingkan dengan film fiksi This is Spinal Tap (1984) misalnya, namun eksploitasi sosok Freddie Mercury yang unik tersebut menjadi wajar, mengingat eksistensi Queen tanpanya belum tentu menjadi legenda. Meskipun demikian, film ini menawarkan memori dan mengangkat kembali kebesaran abadi Queen sepeninggal Freddie Mercury.

Score : 3 / 4 stars

Bohemian Rhapsody | 2018 | Biografi, Drama, Musikal Pemain: Rami Malek, Lucy Boynton, Gwilym Lee, Ben Hardy, Joseph Mazello, Aidan Gillen, Tom Hollander, Mike Myers | Sutradara: Bryan Singer  |  Produser: Graham King, Jim Beach | Penulis: Anthony McCarten, Peter Morgan  | Sinematografi: Newton Thomas Sigel | Musik: Queen | Distributor: 20th Century Fox | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Durasi: 134 Menit



Popular Posts