The Apartment (1960) : Nilai Sebuah Pertukaran

Courtesy of United Artists, 1960

Maukah anda menukarkan sesuatu yang begitu krusial anda miliki, dengan sebuah kompensasi yang menurut anda sepadan? Tentu saja jawabannya bervarian dan tergantung akan objek apa yang ditukarkan tersebut. Film The Apartment adalah salah satu film komedi romantis klasik terbaik sepanjang masa, meski sudah berusia 58 tahun serta berformat hitam-putih, film tersebut masih sangat pantas untuk bisa dinikmati.

Nama Jack Lemmon beberapa kali saya dengar sebagai aktor veteran yang berjaya di era tersebut, namun hingga kini belum satupun saya tonton film-filmnya. Dari sederetan kru di film tersebut, hanya aktris Sherly MacLaine –kakak kandung aktor Warren Beatty-  yang saya kenal, selebihnya saya tidak tahu sama sekali. Film The Apartment sukses secara komersial dan kritik, serta masuk dalam pelestarian dalam National Film Registry oleh United States Library of Congress dan juga pernah dinominasikan di ajang Oscar dan Golden Globe.

Film ini berkisah tentang C.C. “Bud” Baxter (Jack Lemmon), seorang karyawan di salah satu perusahaan asuransi terbesar di Amerika. Ia tinggal di sebuah unit apartemen yang ternyata sering dimanfaatkan oleh para manajernya sebagai kencan mereka dengan selingkuhannya. Baxter bahkan sudah terbiasa kurang tidur dan harus menunggu di luar malam hari, demi kompensasi para rekan seniornya yang menjanjikan Baxter untuk naik jabatan.

Suatu hari, Baxter dipanggil oleh kepala personalia, Sheldrake (Fred MacMurray) yang mencurigai referensi dari keempat manajernya itu mengetahui apa yang terjadi antara mereka dengan Baxter yang awalnya menyangkal hal tersebut. Namun tak disangka, malah Sheldrake sendiri melakukan hal yang sama terhadap Baxter, sehingga Baxter pun akhirnya bisa naik jabatan.

Sementara Baxter pun tertarik kepada operator lift gedung, yakni Fran (Sherly MacLaine) dan mengajaknya kencan. Awalnya Fran enggan dan sudah ada jadwal kencan sebelumnya, namun akhirnya ia berjanji akan menemui Baxter setelahnya, sehingga akan ada banyak kejutan menanti.

impawards.com

Film The Apartment mengisahkan tentang kerumitan hubungan yang dialami oleh karakter Baxter, serta dilema yang dialami oleh karakter Fran, yang akhirnya menemukan solusi dan menyelesaikannya melalui rangakaian adegan yang enak untuk diikuti. Sejak di awal-awal cerita pun, sebenarnya banyak terjadi berbagai kejutan yang tidak pernah terlintas di benak saya barang sedikitpun, mungkin karena larut untuk menikmati setiap dialog dan adegan yang ada.

Dalam pembuka cerita, kita disajikan oleh sebuah narasi yang disuarakan oleh karakter Baxter sebagai tokoh utama, siapa dia dan bagaimana aktivitas sehari-harinya. Kemudian cerita bergulir secara menarik dan memperlihatkan detail setiap adegan dari aktivitas dan interaksi karakter dengan lingkungannya. Hingga timbullah suatu kejutan yang menuju kepada intrik antar karakter sehingga menimbulkan suatu titik penurunan di saat karakter merasa kecewa dan sakit hati.

Dalam poin terendah itulah, beberapa karakter yang terlibat berusaha bangkit dan membangun kembali sebuah harapan dan perbaikan yang kebetulan terjadi atas ‘momen pahit’ dalam masa Liburan Natal tersebut. Dalam prosesnya, mereka berusaha menemukan kembali arti sebuah hubungan sejati sekaligus mempertanyakan diri sendiri akan sebuah nilai yang dimilikinya. Akhirnya, dalam momen menuju Tahun Baru itulah proses jati diri dan rekonsiliasi terjadi yang mereka harapkan akan terjadi.

Courtesy of United Artists, 1960

Beberapa unsur komedi di film ini diperlihatkan dengan sangat menarik, tentunya diselingi berbagai humor ringan dalam aksi dan momen maupun dialog yang dilontarkan, membuat saya tertawa renyah di beberapa adegan tertentu. Seperti ketika Baxter yang mengatur jadwal penggunaan unit apartemennya terhadap keempat manajer, dialog seorang manajer dengan seorang operator yang merupakan selingkuhannya, Sheldrake yang tak disangka meminjam kunci apartemen milik Baxter, pemilik apartemen dan seorang dokter yang merupakan tetangga Baxter yang selalu komplain karena terganggu ketenganannya, serta masih banyak lagi.

Adapun beberapa suasana meriah dan momen yang membuat saya larut dalam atmosfir cerita yakni suasana aktivitas yang crowded di gedung perkantoran tempat Baxter bekerja, perayaan Natal di dalam kantor yang cukup ‘chaos’, atau suasana perayaan Malam Tahun Baru si sebuah bar. Sedangkan berbagai momen yang cukup tragis yakni ketika Baxter dalam keadaan kecewa berada di sebuah bar atau Fran yang dalam kesendirian menelan obat tidur.

Yang tak kalah memorable-nya adalah berbagai quotes yang cukup dalam dan tajam, dari berbagai dialog yang tersaji seperti :

Shut up and deal
We never close at Buddy-boys
I just have this talent for falling in love with the wrong guy in wrong place at the wrong time
… I’ve decided t become a “mensch”. You know what I means? A human being

Courtesy of United Artists, 1960

Karakter Baxter yang diperankan dengan sempurna oleh Jack Lemmon, mengingatkan saya akan gaya akting Tom Hanks yang terkenal dengan berbagai film komedi romantis di era 90’an itu. Baxter adalah seseorang yang sebenarnya tegar sekaligus easy-going, alias cepat move on setelah melalui sebuah ‘badai’ yang menerpanya, mengakibatkan sebuah kekecewaan mendalam bagai gayung tak bersambut. Ia adalah seorang yang rela dan berbesar hati ketika hasratnya ‘direnggut’ oleh pihak lain yang sebenarnya tidak pantas secara moral.

Akting seorang Shirley MacLaine yang kala itu masih muda, cukup impresif dan menarik perhatian dengan performa prima yang mampu membawa pesona sebagai seorang wanita baik-baik, yang bimbang dan labil, sepertinya terlalu mudah untuk terbuai oleh janji manis yang belum tentu membawa kebahagiaan, serta mengalami ketidakpastian rasa.

Selain itu, penampilan Jack Kruschen sebagai Dr. Dreyfuss, tetangga Baxter juga memberikan suasana humor yang mampu mencairkan suasana kritis maupun suram, tak lupa keempat karakter manajer (Joe, Al, Vanderhoff, Eichelberger) dengan berbagai kelakuan mereka yang selalu mengundang tawa. Dan yang terakhir tak kalah penting adalah kehadiran Miss Olsen yang diperankan Edie Adams, merupakan tokoh kunci yang terkesan setengah antagonis.

Sebuah pesan yang sangat berharga disampaikan dengan jelas dalam film tersebut, bahwa jabatan atau kekuasaan belum tentu membawa kebahagiaan dan ketenangan jiwa, jika ditukar dengan sebuah pengorbanan yang rasanya tidak pantas serta merenggut kehidupan yang krusial, baik bagi diri seseorang, maupun bagi diri orang yang ia cintai.

Film The Apartment adalah sebuah film drama komedi romantis yang memberikan sebuah storytelling menarik akan perjalanan lika-liku kisah para karakter utama dalam menemukan arti hubungan istimewa yang sejati. Meski sayangnya film ini ber-format hitam-putih, namun tetaplah bisa dinikmati dengan utuh.

Score : 3.5 / 4 stars

The Apartment | 1960 | Drama, Komedi Romantis | Pemain: Jack Lemmon, Sherly MacLaine, Fred MacMurray, Jack Kruschen | Sutradara: Billy WIlder |  Produser: Billy WIlder.| Penulis: Billy Wilder, I.A.L. Diamond | Musik: Adolph Deutsch | Sinematografi: Joseph LaShelle | Distributor: United Artists | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 127 Menit


Comments