Jacob’s Ladder (1990) : Jenjang Paranoia Mengerikan

Courtesy of TriStar Pictures, 1990

Dalam rangka menyambut sebuah film remake yang berjudul sama seiring dengan rasa pesimis yang ada, sebaiknya saya bahas versi orisinalnya yang sudah tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Jacob’s Ladder adalah sebuah film horor psikologis tentang seorang veteran perang yang mengalami serangkaian kejadian ganjil melalui berbagai visual mengerikan.

Disutradarai oleh Adrian Lyne, sineas spesialis film-film thriller erotis semacam 9 1/2 Weeks (1986), Fatal Attraction (1987), Lolita (1997) atau Unfaithful (2002), serta dibintangi oleh aktor yang sering membintangi film-film drama dan komedi yakni Tim Robbins, film Jacob’s Ladder merupakan sebuah gebrakan baru di jalur perfilman horor bagi keduanya dan bahkan menyandang status cult.

Vietnam 1971, seorang prajurit bernama Jacob Singer (Tim Robbins) yang berada dalam sebuah peleton, tiba-tiba panik ketika ada serangan mendadak, ia pun sempat tertusuk bayonet musuh dan dilarikan menuju helikopter. Kemudian ia terbangun dan menyadari mimpi buruknya itu, ketika sedang berada di dalam kereta subway di kota New York.

Jacob yang telah berpisah dengan istirnya dan kehilangan anak bungsunya yakni Gabe, kini hidup dengan kekasihnya bernama Jezzie (Elizabeth Peña). Ia juga mendapat perawatan terapi punggung yang dideritanya dari seorang dokter bernama Louis (Danny Aiello). Namun sejak itu, Jacob melihat dan mengalami berbagai visi yang menyeramkan akan sosok monster dan iblis di sekitarnya.

Adalah Paul (Pruitt Taylor Prince) teman seperjuangannya dalam satu peleton juga ternyata mengalami hal yang sama, ketika ia bertemu dan menceritakan kepada Jacob. Namun apa yang dialami oleh Jacob selanjutnya malah bertambah buruk, karena ia semakin tidak bisa membedakan realita dan halusinasi.

imdb.com

Salah satu film yang boleh dikatakan langka di jamannya, mengingat sebuah kisah yang terkesan ambigu akan dunia metafisika terhadap karakter yang terjebak di dalamnya, disajikan dengan setting tempat dan waktu yang silih berganti, seakan membuat kebingungan saya dalam menyimak sejak awal cerita. Hal itulah yang menginspirasikan sejumlah sineas dalam generasi berikutnya seperti M. Night Shyamalan atau Christopher Nolan akan film-film suspens sejenis dengan gaya yang mirip.

Tidak hanya menggunakan plot non-linear saja, namun kompleksitas kerangka cerita pada awal itupun seakan diacak yang sempat membuat saya gelisah bercampur jenuh, namun lambat laun berkat arahan brilian sang sutradara, hal tersebut teratasi dengan peruncingan menuju sebuah konklusi mengejutkan yang diselingi oleh berbagai kengerian, sehingga akhirnya menjadi sebuah twist yang membuat saya menggeleng-geleng kepala.

Courtesy of TriStar Pictures, 1990

Mulai dari awal cerita tatkala karakter Jacob sedang berada di belantara Vietnam, diperlihatkan betapa brutalnya pertempuran mereka ketika dibombardir oleh musuh, namun sudah diberi petunjuk ketika beberapa rekannya mengalami berbagai gejala aneh. Kemudian setting cerita beralih ketika Jacob terbangun dalam kereta subway, melanjutkan aktivitasnya sebagai tukang pos.

Jacob tinggal dengan kekasihnya, Jezzie. Maka disitulah awal ia melihat berbagai kejanggalan seperti sosok iblis menyeramkan secara samar yang siap menyerangnya di beberapa lokasi. Diceritakan juga bahwa Jacob telah berpisah dengan istrinya, Sarah dan anaknya yang bungsu bernama Gabe tewas karena kecelakaan sebelum Jacob berperang di Vietnam.

Courtesy of TriStar Pictures, 1990

Setelah beberapa sekuen berlangsung, setting cerita kemudian flashback saat Jacob tinggal bersama istrinya Sarah dan ketiga anaknya, termasuk Gabe yang masih hidup kala itu. Lalu cerita beralih lagi dengan setting di medan perang saat Jacob yang terluka parah dibawa menuju helikopter. Hingga akhirnya plot cerita kembali lagi pada kehidupan Jacob yang tinggal bersama Jezzie, begitu pun pola yang sama terulang selanjutnya, namun diperlihatkan tanpa ‘framing’ yang terpisah, sehingga seakan tiga plot cerita tersebut dilebur menjadi satu.

Begitu kentalnya suasana mencekam akan thriller suspense dari film ini, yang diperkuat dengan atmosfir horor ambigu, membuat narasi akan cerita ini cenderung lebih realistis, ditambah dengan dramatisasi karakter serta berbagai efek spesial minim namun efektif, sehingga mampu mengejutkan dan begitu menganggu secara visual. Kesengajaan meminimalisir cahaya dalam setting, adalah salah satu contoh akan aura misterius, mencekam seta mengerikan, sekaligus membuat penasaran dalam adegan selanjutnya.

Courtesy of TriStar Pictures, 1990

Dalam berbagai adegan ‘mimpi buruk di neraka’ dan sosok iblis itupun bisa dikatakan memorable, seperti saat Jacob yang diikat di sebuah ranjang rumah sakit, dibawa menuju sebuah koridor kumuh yang menyeramkan (sepertinya di dalam bangsal), di sepanjang koridor Jacob melihat berbagai sosok manusia cacat atau freak baik yang aktif maupun sekarat, cipratan darah pada dinding, serta berbagai organ manusia berserakan di lantai, cukup mengganggu.

Sosok iblis berupa manusia tanpa mata pun boleh dibilang ikonik, serta tentunya yang paling populer adalah gerakan cepat kepala memutar, dengan teknik pergerakan kamera, yang kini lazim dipakai oleh film-film horror thriller jaman NOW. Berbagai hal itulah yang menginspirasikan franchise permainan game horor Silent Hill beserta film adapatasinya. 
  
Courtesy of TriStar Pictures, 1990

Film Jacob’s Ladder tanpa karakter yang kuat adalah sia-sia. Penampilan gemilang Tim Robbins yang terbiasa dengan film komedi, mampu dengan sangat baik berperan sebagai Jacob Singer, seseorang yang memiliki ketakutan dan paranoia, serta guncangan jiwa dari apa yang ia alami setelah berkonfrontasi dengan berbagai sosok iblis yang menerornya. Penampilan memorable-nya yakni ekspresi muka dan pancaran matanya ketika ia terbaring dalam bathub, setelah mengalami demam tinggi.

Penampilan berani nan-sensual dari aktris Elizabeth Peña sebagai Jezzie pun mencuri perhatian, tipikal film-filmnya Adrian Lyne dengan adegan yang cukup vulgar, namun estetis. Selain itu tentu saja peran kecil dari Macaulay Culkin sebagai Gabe -sebelum membintangi film Home Alone (1990)- cukup mengesankan dengan wajah imutnya. Scoring dari komposer Maurice Jarre juga berpengaruh besar di setiap adegan yang mencekam dan menegangkan.

Film Jacob’s Ladder adalah sebuah contoh keberhasilan bagaimana menyajikan sebuah kisah horor psikologis yang stylish dan cermat dalam penggunaan efek, serta di setiap sekuen yang dramatis namun menegangkan serta membuat penasaran hingga akhir. Meski awalnya membingungkan, alur cerita yang disampaikan pun mulai tertata dengan pola yang cukup teratur, sehingga kita dialihkan dengan berbagai kengerian yang dibangun perlahan serta ending yang sulit ditebak.  

Score : 3.5 / 4 stars

Jacob’s Ladder | 1990 | Horor, Psikologi, ThrillerPemain: Tim Robbins, Elizabeth Peña, Danny Aiello, Matt Craven Sutradara: Adrian Lyne  | Produser: Allan Marshall | Penulis: Bruce Joel Rubin | Musik: Maurice Jarre | Sinematografi: Jeffrey L. Kimball | Distributor: TriStar Pictures Negara: Amerika Serikat | Durasi: 113 Menit


Comments