Alita : Battle Angel (2019), Sisi Emosional Cyborg

Courtesy of 20th Century Fox, 2019

Lagi-lagi kontroversi seputar “white supremacy” mungkin kembali terulang, setelah film Ghost in the Shell (2017) dengan pemeran utama Scarlett Johansson yang notabene kulit putih dan beberapa film yang adaptasi dari negeri Sakura lainnya, kini film Alita : Battle Angel pun bisa jadi mengundang kontroversi yang sama.

Sekalipun diproduseri oleh spesialis sineas science fiction ikonik, James Cameron dan disutradarai oleh Robert Rodriguez yang sukses di jalur serupa lewat franchise film Spy Kids, serta tampilan karakter utamanya, Alita yang dibintangi Rosa Salazar, dibuat semenarik mungkin layaknya fisik wajah manga atau anime khas Jepang, namun tetap saja terasa seperti ‘pemaksaan’ dengan menggunakan animasi 3D. Meski demikian, karena nama Cameron-lah yang membuat saya penasaran menyambangi filmnya.

Courtesy of 20th Century Fox, 2019

Film Alita : Battle Angel yang diadaptasi dari manga berjudul Gunm karya Yukito Kishiro, mengisahkan sebuah dunia futuristik dengan kehidupan bercirikan cyberpunk dan dystopian, dengan setting waktu 300 tahun setelah masa “The Fall” atau Kejatuhan (peperangan besar). Adalah Dr. Ido (Christoph Waltz) yang menemukan sosok cyborg yang masih hidup di tempat rongsokan. Cyborg tersebut kemudian diperbaharui oleh Dr. Ido dan dinamakan Alita (Rosa Salazar). Melalui Dr. Ido, Alita mengetahui bahwa mereka hidup di sebuah kota yang bernama Iron City.

Alita juga mempelajari bahwa diatas dunia mereka, terdapat kota terapung yang dinamakan Zalem, namun terlarang bagi penduduk Iron City. Setelah bertemu dengan Hugo (Keean Johnson), Alita mulai berteman dan mereka saling tertarik satu sama lain.
Kehadiran Alita mencuri perhatian Dr. Chiren (Jennifer Connely), mantan istri Dr. Ido yang bekerjasama dengan Vector (Mahershala Ali), dari Zalem. Dr. Chiren dan Vector mengabdi kepada sosok misterius Nova yang ternyata menginginkan kematian Alita, karena dianggap sebagai sebuah ancaman terbesar.

Sementara, Alita lambat laun mulai teringat masa lalunya sepotong demi sepotong, setelah ia menyelinap dan mengikuti diam-diam akan kegiatan malam hari yang dilakukan Dr. Ido, serta berkonfrontasi dengan para cyborg pemburu bayaran (bounty hunter) yang ternyata menjebak Dr. Ido. Alita mulai menyadari kekuatan istimewa yang dimilikinya, bahwa ia adalah sesuatu yang sangat penting dalam sejarah penemuan manusia, sekaligus menjadi ancaman bagi Nova.

impawards.com

Premis cerita Alita : Battle Angel mirip akan film, yang juga diadaptasi dari novelnya Philip K. Dick, yakni Blade Runner (1982) yang menekankan sisi manusiawi dari sosok android atau cyborg. Entah teknologi yang kelewat maju atau unsur lainnya, sosok cyborg pun berkembang menjadi semakin mirip manusia, memiliki nurani dan perasaan, selain panca indera tentunya. Hal itu juga yang menjadi poin terpenting dalam film ini, khususnya karakter Alita, meski tidak diketahui penyebab awal terbentuk “core” (otak dan hati) yang dimilikinya.

Narasi, alur cerita, serta berbagai adegan yang emosional di film ini pun terasa mirip dengan apa yang disajikan oleh film Cameron sebelumnya, yakni Avatar (2009) yang sarat dengan animasi 3D, mengingat memang film ini diinisiasi oleh Cameron sendiri, termasuk kerjasamanya dalam penulisan naskah. Meski tidak semegah Avatar, berbagai arahan dan gaya penyajian film Alita : Battle Angel memang menarik dan impresif, berkat kepiawaian Robert Rodriguez yang mampu memainkan ritme dengan pas antara drama dan aksi selama durasi 2 jam itu.

Courtesy of 20th Century Fox, 2019

Beberapa hal yang ditekankan yakni saat-saat awal cerita, diperlihatkan karakter Alita yang begitu manusiawi layaknya gadis remaja biasa, ketika berinterkasi dengan Dr. Ido dan asistennya, Hugo dan teman-temannya. Bagaimana kecermatan Alita dalam memperhatikan dan mempelajari lingkungan sekitar, serta aksi pertamanya dalam permainan motorball, juga aksi pertarungan pertamanya dengan para cyborg antagonis, disajikan dengan berbagai adegan yang enak untuk dinikmati.

Hingga saat Alita menyadari akan amnesia-nya dan mengetahui potensi besar dalam dirinya terkait masa lalu, maka berbagai konflik pun terjadi, baik antara dirinya dengan Dr. Ido sekaligus pertarungannya dengan cyborg penjahat terkuat, yakni Grewishka (Jackie Early Haley) yang disajikan secara dramatis. Beberapa unsur twist pun hadir, mulai pertengahan hingga setelah tigaperempat cerita, yang mengaitkan sosok Dr. Chiren dan Hugo hingga Dr. Ido, yang membuat ceritanya cukup kompleks.

Courtesy of 20th Century Fox, 2019

Meski awalnya saya sempat meragukan pemeran ‘kulit putih’ sebagai karakter Japanese, namun penampilan aktris Rosa Salazar, terutama dari wajahnya, saya pikir cocok untuk memerankan Alita, thanks to the 3D Animation untuk polesan efek bentuk mata yang dibuat layaknya dalam manga dan anime Jepang. Begitu pula dengan akting Christoph Waltz sebagai Dr. Ido yang digambarkan sebagai sosok bijak dan berkarisma, sekaligus pelindung dan penyayang, terkait masa lalu anaknya yang ia wujudkan melalui Alita.

Penampilan Jennifer Connely meski sudah berumur, namun masih tetap mempesonakan, walau tidak mendapatkan porsi akting yang besar. Penampilan Jackie Early Haley yang dipoles CGI sebagai villain cyborg Grewishka, mengingatkan saya akan sosok Thanos di film Avangers : Infinity Wars.

Courtesy of 20th Century Fox, 2019

Beberapa adegan aksi pertarungan Alita dengan para cyborg, disuguhkan secara impresif, dengan gaya ala anime Jepang yang dikombinasikan dengan gerakan slow-motion ala film The Matrix, melalui berbagai variasi sudut kamera, terutama saat Alita mengeluarkan beberapa jurus pamungkasnya. Juga berbagai aksi seru dalam permainan motorball pun sepertinya juga terinspirasi dari film dystopian berjudul Rollerball (1975).

Rendering animasi 3D-nya pun memang terasa halus, baik pada karakter cyborg maupun latar setting-nya, yang dikombinasikan secara pas dengan live-action shooting, meski pada dasarnya adalah film yang terlalu mengandalkan efek CGI. Meski saya tidak terlalu familiar dengan film anime dan manga, rasanya Hollywood cukup berhasil untuk mengimplementasikan gaya khas-nya ke dalam bentuk film.


Courtesy of 20th Century Fox, 2019

Yang saya paling suka di film ini adalah keberhasilan eksploitasi sisi emosi yang terdapat pada karakter Alita, bagaimana hubungan istimewanya dengan Hugo dan hubungannya dengan Dr. Ido yang dianggap sebagai sosok ayah, bahkan termasuk akrab dan penyayang terhadap seekor anjing mungil.

Alita adalah sosok cyborg atau android yang diperlihatkan begitu humanis layaknya manusia. Kali ini saya acungkan jempol untuk Rodriguez yang berhasil menterjemahkan visi Cameron yang identik dengan unsur emosional antar karakter seperti halnya dalam film The Abyss, Terminator 2 : Judgment Day, Titanic atau Avatar.

Akhir cerita film ini jelas berpotensi kepada sebuah sekuel yang saya rasa patut dikhawatirkan kualitasnya, mengingat sebuah konklusi terhadap beberapa karakter yang terlibat … oh ya, asal-usul Alita yang masih misterius itupun tidak diceritakan di film ini.

Film Alita : Battle Angel ternyata sama sekali tidak mengecewakan saya, malah bakal menjadi memorable, terlepas dari kelarisan dan kepopulerannya. From my personal opinion, it’s worth to be watched!

Score : 3.5 / 4 stars

Alita : Battle Angel | 2019 | Fiksi Ilmiah, Aksi Laga | Pemain: Rosa Salazar, Christoph Waltz, Jennifer Connely, Mahershala Ali, Ed Skrein, Jackie Early Haley, Keean Johnson | Sutradara: Robert Rodriguez | Produser: James Cameron, Jon Landau | Penulis: Berdasarkan Manga “Gunm” karya Yukito Kishiro. Naskah: James Cameron, Laeta Kalogridis | Musik: Tom Holkenborg | Sinematografi: Bill Pope | Distributor: 20th Century Fox | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 122 Menit


Comments