Quest for Fire (1981) : Petualangan Manusia Purba Mencari Api


Courtesy of 20th Century Fox, 1981

Mau tahu kehidupan manusia purba yang –mungkin- mendekati realistis? Jawabannya ada di Quest for Fire, sebuah film epik yang mengisahkan tentang perjalanan menemukan api … ya, api! Gak kebayang kan, kalo kita hidup di jaman purbakala, semuanya serba ganas dan liar, baik hewan maupun manusianya juga.

Kita juga tidak pernah tahu misteri kehidupan di jaman itu, bagaimana manusia –menurut teori Darwin- berevolusi, begitu juga hewan dan tumbuhan. Mungkin di jaman NOW ini, kehidupan alam tidak seganas dahulu kala. Mana ada yang namanya mammoth atau macan bertaring panjang, misalnya? Kalo dinosaurus … hmmm, jangan jauh-jauh deh mikirnya …

Dari judulnya saja, film ini mengangkat objek api sebagai pembahasannya. Api adalah sumber dari segala sumber kehidupan. Api juga suka diasosiasikan atau disimbolkan sebagai sesuatu yang agung, yang hidup atau bahkan yang berkuasa. Tanpa api, tidak ada kehidupan, tidak ada yang namanya siang hari. Makanya, gak kebayang kehidupan saat itu di malam hari, pasti gelap gulita.

Quest for Fire disutradarai oleh sineas Perancis, Jean-Jacques Annaud yang dikenal lewat film The Name of the Rose (1986), Seven Years in Tibet (1997) dan Enemy at the Gates (2001). Arahannya di film yang merupakan kongsi antara Perancis dan Kanada ini sungguh luar biasa, baik pemaparan alur cerita, akting, adegan, sinematografi yang indah, kostum, serta efek spesial yang ‘spesial’ tentunya. Dari beberapa film yang mengisahkan kehidupan purbakala, menurut saya ini yang terbaik dan yang terlogis.

Courtesy of 20th Century Fox, 1981

Berawal tentang aktivitas di lingkungan suku Ulam -yang peradabannya mirip Cro-Magnon- terletak di daratan Eropa, pada jaman Paleolithic Europe, 80.000 tahun yang lalu. Mereka memiliki api kecil yang diletakkan di dalam sebuah tempat terlindung, berbentuk seperti sarang burung –yang terbuat dari tulang-belulang- dan bisa dibawa kemana-mana. Api tersebut berfungsi untuk membuat api unggun di malam hari atau di dalam gua.

Suatu ketika, mereka diserang oleh kelompok ‘manusia kera’ Wagabu. Mereka yang selamat, akhirnya terusir dari gua habitat mereka. Dalam perjalanan di sebuah rawa, mereka panik, karena api tersebut padam. Setelah ada sedikit konfrontasi dan berunding, akhirnya diutuslah tiga orang untuk mengembara menemukan api, yakni Naoh (Everett McGill), Amoukar (Ron Perlman) dan Gaw (Nameer El-Kadi).

Dalam perjalanannya, mereka menemukan suku kanibal Kzamm, mirip Neanderthal, sedang membuat api unggun dan menyandera dua orang dari suku yang mirip Homo-Sapiens. Awalnya mereka bertiga hendak mencuri api, namun akhirnya berkelahi dengan suku Kzamm. Mereka bertiga akhirnya memenagkan perkelahian, dan merebut api, sedangkan kedua orang yang disandera pun lantas kabur.

Courtesy of 20th Century Fox, 1981

Dalam perkelahian tersebut, Naoh mendapat luka di bagian alat vitalnya. Mereka bertiga akhirnya pulang kembali kepada sukunya. Ika (Rae Dawn Chong), salah satu tawanan yang berhasil kabur, membuntuti mereka, mendekat kepada Naoh. Dengan ramuan yang dibuat Ika, ia menyembuhkan luka Naoh.

Ika yang menyadari bahwa ternyata lokasinya berdekatan dengan habitat tinggalnya, mengajak mereka bertiga untuk singgah. Tapi mereka menolak, akhirnya Ika pergi sendirian menuju ‘rumah’nya. Naoh yang kehilangna Ika pun, akhirnya berbalik arah dan mengikuti jejak Ika. Amoukar dan Gaw dengan enggan, akhirnya mengikuti Naoh.

Naoh ketika mendekati pemukiman Ika, tiba-tiba terhisap quicksand. Ia berteriak minta tolong. Segera suku Ivaka pun dengan sigap menolong Naoh, namun sekaligus bersiap-siap menghadapi orang asing bagi mereka. Bagaimana nasib Naoh selanjutnya? Apakah Amoukar dan Gaw berhasil menemukan Naoh?


impawards.com

Film Quest for Fire diadaptasi dari novel Belgia karya J.H. Rosny, dengan judul yang sama, terbit di tahun 1911. Premis ceritanya memang menarik, meski dibuat se-simple mungkin … ya wajarlah, namanya juga kehidupan di jaman purbakala yang serba basic itu. Dengan alur cerita yang juga mengalir lancar, tanpa ada gangguan tumpukan sampah, adegan demi adegan tersaji secara gamblang.

Bagi yang tak terbiasa dengan pemaparan adegan demi adegan oleh Jean-Jacques Annaud, mungkin berkesan agak membosankan dan sepertinya kurang dinamis. Tidak seperti film 10,000 BC (2008) yang lebay itu, film Quest for Fire lebih mengekspos dasar-dasar aktivitas dan latar belakang kultur manusia purba dalam lingkungan sosialnya. Bagaimana kita bisa melihat perbedaan kultur antar suku yang lebih maju dan masih tertinggal.

Courtesy of 20th Century Fox, 1981

Umumnya, saya mengerti jalan ceritanya, meski dialog mereka menggunakan bahasa purbakala –entah apapun bahasanya- yang saya tak mengerti satu patah katapun, Jadi percuma kalo nonton pake subtitle manapun! Ibaratnya nonton acara National Geography tanpa ada narasi pun, dengan gestur atau bahasa tubuh, mimik wajah, serta aksi-aksi atau kegiatan yang mereka lakukan … saya paham, cukup paham!

Dengan memainkan tempo lambat, tidak semerta-merta berbagai adegan menjadi tidak menarik, malah film ini justru ingin memperlihatkan kita kepada dunia purba dengan begitu detil dan realistik. Tidak perlu akting yang baik, apalagi dialog pake bahasa modern, yang perlu diperhatikan adalah mimik, eskpresi, intonasi nada bicara atau teriak, bahasa tubuh dan perilaku … semua itu sudah merepresentasikan maksud dan tujuan dari cerita itu sendiri.


Courtesy of 20th Century Fox, 1981

Dan hasilnya … cukup epik serta sensasional! Banyak adegan menarik yang diperlihatkan dengan lugas sekaligus elegan. Beberapa kejutan dan keseruan, serta humor dan kegelian pun ditunjukkan secara eksplisit. Di awal cerita diperlihatkan, bagaimana pentingnya api untuk menghangatkan dan mencegah dari serangan binatang buas di malam hari.

Peradaban manusia yang berkembang dengan akal dan rasa, apalagi di jaman purba waktu itu mungkin memang lebih banyak pake body language. Apalagi komunikasi yang terjalin antar sesama, sudah memperlihatkan adanya perbedaan karakter yang signifikan satu sama lain. Terjadinya perbedaan pendapat, pertikaian dan konflik dalam suku Ulam adalah salah satu contohnya, tanpa saya mengerti dialognya, yang penting saya tau itu konflik! Atau bagaimana komunikasi Naoh dan Ika yang berbeda suku dan bahasa, tetap bisa terjalin komunikasi.


Courtesy of 20th Century Fox, 1981

Berbagai adegan seru juga diperlihatkan ketika suku Wagabu dengan brutal menyerang suku Ulam yang panik dan ketakutan. Suku Ulam bukanlah para pejuang atau warrior, mereka hanyalah manusia biasa yang bertahan hidup dari keganasan suku-suku lainnya. Atau bagaimana adegan kebrutalan perkelahian antara ketiga sekawan –Naoh, Amoukar dan Gaw- menghadapi suku kanibal Kzamm -yang digambarkan ganas serta kejam- dalam memperebutkan api. Juga, tak lupa adegan penyergapan dan usaha pembunuhan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang bertikai dengan Naoh di sebuah hutan.

Tak semuanya dibuat seru dan serius, karena keseruan yang ditambah humor, menjadikan film ini berhasil membuat saya begitu menikmatinya. Adegan ketika tiga sekawan plus Ika sedang istirahat santai di bawah pepohonan, diperlihatkan bagaimana kejahilan Gaw mengerjai Amoukar, dengan cara yang ‘kurang beradab’ untuk jaman modern tentunya. Atau ketika ketiga sekawan di awal-awal perjalanan, dikejar-kejar oleh seekor Sabre-toothed Cat. Mereka saking paniknya lalu berhasil memanjat sebuah pohon besar, serta berdiam semalaman diatas pohon, sementara hewan tersebut dengan setia menunggunya.





Courtesy of 20th Century Fox, 1981

Saya terpesona oleh efek spesial hewan Sabre-toothed Cat, padahal waktu itu belum ada CGI … bagaimana bisa semulus itu? Mungkinkah seekor singa betina dipasangi taring panjang? Juga dengan keberadaan hewan Mammoth yang saya rasa cukup epik dalam kehadirannya. Kelihaian akan manipulasi sorot kamera pada hewan tersebut berhasil menghadirkan suasana ancaman dan aura yang agung, seperti halnya hewan gajah. Efek spesial untuk hewan ini, memang kentara dari kekakuan geraknya.

Courtesy of 20th Century Fox, 1981

Namun diantara semua efek, saya sangat setuju untuk urusan make-up dan wardrobe … ya wajarlah film ini diganjar Oscar di tahun 1983 untuk kategori Best Makeup. Deskripsi beberapa suku purba yang berbeda, dari struktur muka, bentuk rambut, warna kulit, serta dekorasi tubuh yang digunakan, hingga kedekilan mereka, begitu terlihat realistik. Ada satu catatan khusus dari saya, yakni para pemeran suku Ulam yang diperankan oleh aktor-aktor yang memiliki struktur kepala dan wajah yang paling mendekati. Khususnya untuk aktor Ron Perlman, tidak perlu make-up pun jadi … hahaha!  Wardrobe yang digunakan pun benar-benar dibuat detil dan berkesan otentik, dibandingkan film-film pendahulunya sejenis.

Saya juga mengacungkan jempol untuk sang sinematografer Claude Agostini, yang menghadirkan berbagai keindahan alam purbakala. Beliau bisa mereprentasikan suatu alam yang berbeda dari alam modern, terutama mungkin dari bentuk pepohonan yang ada. Berbagai adegan di sepanjang cerita, tak jauh dari gua, hamparan rawa-rawa yang diselimuti kabut, padang rumput yang dipenuhi ranting-ranting di musim semi/gugur, serta hamparan wilayah pegunungan yang terbuka, menghasilkan impresi nyata akan sebuah dunia purbakala yang misterius dan penuh kejutan.

Tidak banyak film yang merilis cerita tentang kehidupan purbakala yang real, bukan ‘dicampur’ dengan yang aneh-aneh seperti dinosaurus, time atau dimension travel. Film yang sudah saya tonton seperti One Million Years B.C. (1966) dan bahkan 10,000 BC (2008), tidaklah sebagus film Quest for Fire.

Score : 4 / 4 stars

Quest For Fire | 1981 | Drama, Petualangan, Historikal | Pemain: Everett McGill, Rae Dawn Chong, Ron Perlman, Nameer El-Kadi | Sutradara: Jean-Jacques Annaud  |  Produser: Jacques Dorfmann, John Kemeny, Véra Belmont, Denis Héroux, Michael Gruskoff  | Penulis: Berdasarkan Novel “The Quest for Fire” oleh J.H. Rosny. Skenario oleh Gérard Brach  | Musik: Philippe Sarde | Sinematografi: Claude Agostini  | Distributor: 20th Century Fox | Negara: Kanada, Perancis | Durasi: 100 Menit

Comments