Us (2019) : Horor Blaxploitation dan Doppelgänger


Courtesy of Universal Pictures, 2019

Diantara sekian banyak film-film horor modern yang sarat akan CGI dan jump scare kacangan, terselip film cerdas yang berangkat dari sudut pandang berbeda. Film Us adalah sebuah horor Blaxploitation dengan gaya penuturan yang tidak biasa. Sineas Jordan Peele yang menangani film ini sebelumnya juga pernah menggarap film horor Get Out (2017), serta turut memproduseri film BlacKkKlansman (2018).

ALERT! Sangat disarankan untuk menonton filmnya terlebih dahulu, dikarenakan ulasan ini mengandung sedikit spoiler.

impawards.com

Tahun 1986 di Santa Cruz, ketika Adelaide (Lupita Nyong’o) cilik bersama dengan kedua orang tuanya bermain di sebuah karnaval, tiba-tiba ia terpanggil untuk masuk ke dalam arena permainan funhouse, hingga saat memandangi bayangannya di depan cermin besar, terdapat sosok doppelgänger dirinya sendiri.

Setting beralih ke masa kini ketika Adelaide memiliki suami bernama Gabe (Winston Duke) dan kedua anaknya bernama Zora (Shahadi Wright Joseph) dan Pluto (Evan Alex) dan menjalani kehidupan normal. Mereka kembali mendiami rumah orangtua Adelaide di Santa Cruz, meski demikian Adeaide masih memiliki trauma masa kecilnya terkait kemunculan doppelgänger di sebuah karanval pantai.

Courtesy of Universal Pictures, 2019

Mengalah oleh Gabe demi anak-anaknya, Adelaide terpaksa bersama dengan mereka di pantai yang sama, dan bersantai bersama dengan tetangga mereka yakni suami-istri Josh dan Kitty. Pluto yang hendak menuju toilet, tiba-tiba menghampiri seseorang misterius yang memakai jubah merah.

Saat malam hari ketika keluarga Adelaide kembali ke rumah mereka, dengan terkejut mereka didatangi oleh masing-masing doppelgänger-nya, sehingga teror mengerikan pun dimulai …

Courtesy of Universal Pictures, 2019

Saat pertama kali menyaksikan di awal cerita dengan setting waktu masa lalu Adelaide, saat mereka sedang berada di sebuah karnaval lalu dilanjutkan dengan salah satu adegan menyeramkan, yakni ketika Adelaide bertemu dengan doppelgänger-nya dalam sebuah arena funhouse, dengan pencahayaan yang sangat minim tersebut.

Kemudian dalam setting waktu di masa kini ketika Adelaide telah berkeluarga, maka hilanglah kesan horor dan misteri dari satu sekuen menuju sekuen lainnya, melalui pace yang cukup lambat namun tetap enjoyable, dan ditolong oleh dialog yang menarik, jauh dari kesan monoton.

Courtesy of Universal Pictures, 2019

Horor sesungguhnya dimulai saat karakter Pluto menghampiri sosok misterius berjubah merah di pantai, dan puncaknya yakni ketika doppelgänger mereka menghampiri rumah Adelaide, dengan mengklaim atas hak mereka. Di poin ini, sebenarnya atmosfir horor tidak terlalu berasa mencekam atau menyeramkan, bahkan jauh dari kesan mengerikan. Namun malah aura thriller dan suspens berkat dialog yang dikeluarkan oleh doppelgänger-nya Adelaide begitu kuat.

Sementara berbagai aksi yang dilakukan oleh masing-masing doppelgänger –selain Adelaide- terhadap karakter Gabe, Zora dan Pluto pun terasa seperti film-film home invasion dengan kombinasi horor dan thriller. Secara keseluruhan, arahan dan gaya Peele di film ini sepertinya terinspirasi dari film-film horor di era 60’an atau 70’an (bukan slasher), mulai dari mise-en-scéne yang tersaji dengan pengambilan sudut kamera, adegan aksi, visual hingga pencahayaan yang begitu menarik dan tidak biasa, hingga minimnya scoring di sepanjang cerita film kecuali dalam beberapa adegan tertentu.

Courtesy of Universal Pictures, 2019

Untuk sebuah film horor misteri, film ini pun dibuat lebih dinamis dengan menyelipkan beberapa dialog humor yang pas (bukan humor lebay dengan gaya hip-hop-nya ala kulit hitam). Sedangkan untuk urusan akting, performa Lupita Nyong’o sebagai Adelaide dalam usaha mempertahankan dirinya dan keluarganya, sekaligus menyelamatkan anak-anaknya pun patut diacungi jempol, melalui aksi heroiknya yang natural.

Kekontrasan latar belakang dirinya ketika masih anak-anak itulah yang cukup membuat bulu kuduk merinding, bagaimana penampilan wajahnya, serta sorotan mata bulat besar yang tajam khas orang kulit hitam dalam beberapa adegan tertentu, sungguh menambah keseraman yang ada.

Yang sangat disayangkan dan yang merusak filmnya itu sendiri, yakni penulisan Peele yang saya anggap gagal total dalam menuju konklusi cerita hingga akhir. Setelah saya begitu enjoy dalam ¾ cerita, tiba-tiba sebuah kejanggalan besar yang bahkan diluar nalar dasar pun terjadi, saat keluarga Adelaide berniat meninggalkan kawasan rumah tinggal mereka dengan sebuah mobil.

Courtesy of Universal Pictures, 2019

Dan bahkan sebelumnya, audiens pasti sudah menebak serta menarik kesimpulan bahwa bakal ada apocalypse terkait doppelgänger yang meluas di berbagai wilayah. Sehingga film ini tak ubahnya sebagai film-film modern tentang wabah virus seperti zombie atau sejenisnya, yang membedakan hanya adanya elemen supranatural di film ini.

Dalam beberapa adegan sesudahnya, tidak ada hal yang menarik, kecuali saat Adelaide menelusuri sebuah terowongan yang tampaknya menyimpan banyak rahasia itu. Namun yang paling parah yakni sebuah twist yang begitu dipaksakan oleh Peele, alih-alih ingin memberikan kejutan terakhir kepada audiens. Tampaknya hal tersebut malah menjadi sesuatu yang blur atau mungkin bias dalam menilai pertentangan karakter good versus evil akan konteks film horor, yang seharusnya bisa dibuat sederhana.

Film Us sebenarnya sangat menjanjikan sebagai sebuah horor brilian dengan kuatnya karakterisasi serta gaya yang cenderung suspens dan impresif, namun sekali lagi tampaknya Peele harus menimbang ulang bagaimana menyelesaikan ide ceritanya itu sendiri dengan cermat.

Score : 2.5 / 4 stars

Us | 2019 |  Horor  Pemain: Lupita Nyong’o, Winston Duke, Elisabeth Moss, Tim Heidecker, Shahadi Wright Joseph, Evan Alex, Madison Curry, Ashley McKoy | Sutradara: Jordan Peele | Produser: Jason Blum, Ian Cooper, Sean McKittrick, Jordan Peele  | Penulis: Jordan Peele   | Musik: Michael Abels | Sinematografi: Mike Gioulakis | Distributor: Universal Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 116 Menit 


Baca juga : 3 Generasi 'Shaft' dalam 5 Film

Comments