Labyrinth (1986) : Pubertas Remaja dalam Dongeng Klasik

film labyrinth pubertas remaja
TriStar Pictures

Sinema petualangan fantasi review Labyrinth tentang pubertas seorang remaja putri dalam dongeng klasik.

Sekilas, film fantasi Labyrinth terkesan klise, namun sarat makna penting tentang pubertas seoran remaja putri.

Labyrinth memberikan narasi menarik melalui dongeng klasik tentang penculikan, penebusan, serta refleksi diri.

Mulanya, film yang diinisiasikan oleh sineas sekaligus kreator The Muppet Show, Jim Henson tersebut tidak laris dan sepertinya terlupakan. 

Berkat kelarisan film ini dalam format home video serta peninjauan ulang kritik, maka Labyrinth menyandang status cult.

Jim Henson kembali menggunakan teknik penggunaan boneka animatronic di film ini setelah sebelumnya ia garap di film The Dark Crystal (1982). 

Nama Jennifer Connelly sejak saat itu mulai dikenal, sedangkan performa David Bowie sebagai Jareth the Goblin King menjadi salah satu ikon populer. 

Baca juga: The Dark Crystal (1982) : Dongeng Boneka Impresif Tanpa 'CGI' 

Labyrinth mengisahkan Sarah (Jennifer Connelly), seorang gadis remaka berusia 15 tahun, memainkan drama sendiri dari sebuah buku fantasi The Labyrinth.

Seketika konsentrasi nya buyar saat ia memandang seekor burung hantu yang menatapinya dengan tajam.

Menjalang sore hari, Sarah enggan setelah berargumen dengan orang tuanya yang hendak pergi.

Keengganan Sarah yakni harus menjaga adik kandungnya yang masih bayi bernama Toby sementara kedua orang tuanya pergi sampai malam hari.

Sementara Toby terus menangis, semakin membuat Sarah kesal sejak ia merasa jenuh, hingga ia mengharapkan Toby diculik oleh para goblin. 

Tiba-tiba Sarah terkejut tatkala muncul Jareth (David Bowie) menculik Toby, sekaligus menawarkan impian indah kepada Sarah demi sebuah imbalan menggiurkan.

review film labyrinth
TriStar Pictures
 
Sarah yang terkejut menyesalinya, lalu mendesak Jareth untuk mengembalikan Toby. 

Jareth menolaknya, namun memberikan waktu selama tiga belas jam untuk membebaskan Toby sebelum dijadikan goblin.

Petualangan Sarah pun dimulai dengan memasuki istana Jareth yang dikelilingi labirin.

Dalam perjalanan, Sarah bertemu dengan sejumlah figur kurcaci yakni Hoggle, monster besar Ludo, serta manusia rubah Sir Didymus.

Meski memiliki premis standar dengan tipikal film sejenis, Labyrinth mampu fokus terhadap petualangan seputar objek labirin menuju istana goblin.

Objek labirin bisa dikatakan sebagai senjata andalan sebuah narasi film yang menyingkap pesan implisit.

Labirin itu sendiri memang menarik untuk dijadikan kisah fiksi fantasi ringan, diramaikan sejumlah figur monster dan mahluk aneh lain, termasuk goblin dari sisi antagonis.
 
Sempat terkecoh dalam awal adegan, saat saya mengira cerita Labyrinth memang berada di ruang dan waktu dalam dunia dongeng.

Hal itu terlihat saat Sarah mengenakan pakaian bergaya abad pertengahan dan mengucapkan dialog ala pertunjukan teater.

Elemen fantasi sangat terasa dengan kehadiran seekor burung hantu yang terkesan memberikan sinyal supranatural kepada Sarah.

Maka mulai terjadi keanehan terhadap objek boneka Teddy Bear di dalam kamar Sarah, serta penampakan gaib akan sejumlah mahluk goblin di dalam kamar Toby.

ulasan film labyrinth
TriStar Pictures

Umpatan kesal Sarah berupa harapan buruk tersebut, langsung mendapatkan sinergi dengan elemen mistis dari dunia goblin. 

Lucunya, cerita fiktif dalam buku The Labyrinth kepunyaan Sarah pun menjadi kenyataan.

Selanjutnya, cerita bergulir pada petualangan Sarah dalam dunia fantasi yang surealis untuk menyelamatkan Toby dari tangan Jareth si Raja Goblin.

Meski demikian,
pesan implisit yang hendak disampaikan Jim Henson sebagai penulis sekaligus sutradara, mengindikasikan transisi pubertas Sarah sebagai sosok sentral.

Mulai dari argumentasi dengan sang ibu, rasa kesal dan jenuh, hingga saat ia bertualang dalam dunia goblin.

Puncaknya terjadi saat Sarah bertemu dengan Jareth sebagai sosok yang mewakili simbol pria menarik, terutama dalam adegan dansa di istana goblin. 
 
Baca juga: The Rocketeer (1991): Aksi Sang Roket Misterius

Tapi kelemahan narasi Labyrinth yakni tidak memperlihatkan lingkungan dan pergaulan sosial Sarah dengan teman-temannya, terkesan ia terisolasi.


sinopsis film labyrinth
TriStar Pictures
 
Hal tersebut menjadi tanda tanya, apakah Sarah seorang gadis introvert, anti-sosial atau pengaruh dari lingkungan keluarga.

Padahal lingkungan rumahnya merupakan pemukiman reguler dan terlihat normal.

Sarah yang diperankan Jennifer Connelly sewaktu remaja, bagi saya mampu menyihir audiens dengan pesona kecantikan luar biasa.

Meski akting nya tidaklah istimewa namun termasuk yang paling dikenang dalam layar sebagai kultus klasik.

Sedangkan sang lawan main, penyanyi legendaris David Bowie, tampak prima dengan performa karismatik sekaligus ikonik melalui dialog khas British Gentleman.

Koreografi dan adegan Jareth bernyanyi menjadi salah satu yang memorable sambil sesekali menggendong Toby dan mengayunkan nya hingga terlempar ke atas.

Sementara para goblin di sekelilingnya turut bernyanyi dan menari, bagaikan pertunjukan The Muppet Show dalam negeri dongeng.

Selain itu, sejumlah adegan menarik lain hadir seperti saat Sarah mengejar Toby namun dicegat Jareth dalam ruangan yang memutar-balikan gravitasi.

Ada juga adegan menarik lainnya saat Sarah terjatuh ke dalam jurang namun ditolong oleh banyak tangan raksasa.
 
Keindahan dan kemegahan setting yakni miniatur dan replika labirin serta istana goblin, termasuk pengaturan warna langit pada matte paintings di saat fajar, senja, dan bahkan siang hari.

dongeng klasik film labyrinth
TriStar Pictures
 
Dominasi pencahayaan matahari yakni berwarna pastel, violet, jingga berlapis atau langit biru terang berawan dalam sejumlah adegan tertentu.

Sinarnya menimpa labirin, tampak pula ada pohon gundul, sehingga mampu menciptakan atmosfir misterius, sunyi, sedikit menyeramkan, sekaligus suasana rileks dalam taman megah.

Sama halnya dengan film The Dark Crystal, efek praktis dalam Labyrinth begitu riil dan fantastis, tanpa perlu kehadiran CGI manipulatif.

Ada adegan ambigu dan mengerikan yakni monster Fireys yang gemar mencopot kepalanya sendiri dan saling bertukar kepala satu sama lain.

Adegan aneh, melalui gaya kartun yang cukup kejam dan aneh, sambil diselingi latar berupa lagu. 

Baca juga: The Company of Wolves (1984) : Dongeng Unik Kawanan Serigala 

Film Labyrinth sejatinya menggambarkan pubertas seorang gadis remaja dalam dongeng klasik sebagai pengalaman sekaligus pelarian dari kenyataan suram yang dialami sang figur utama.

Labyrinth layak ditonton sebagai salah satu karya yang mengingatkan pada kita semua, agar jangan menyumpah saat sedang dalam kondisi buruk.  

Demikian sinema petualangan fantasi review Labyrinth tentang pubertas seorang remaja putri dalam dongeng klasik.

Score: 3 / 4 stars

Labyrinth | 1986 | Fantasi, Petualangan, Remaja | Pemain: Jennifer Connelly, David Bowie | Sutradara: Jim Henson | Produser: Eric Rattray | Penulis: Dennis Lee, Jim Henson. Naskah: Terry Jones | Musik: Trevor Jones | Sinematografi: Alex Thomson | Distributor: TriStar Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 101 Menit

Comments