Once Upon a Time in Hollywood (2019) : Saga Epik Transisi Era ‘Klasik’ dan ‘New Wave’ Hollywood

Courtesy of Sony Pictures Releasing, 2019
 
What an excellent homage from Tarantino to the pop culture era in the late 60’s!

Boleh dibilang Quentin Tarantino adalah salah seorang sineas yang selalu membangkitkan kejayaan era American New Wave atau New Hollywood di era medio 60’an hingga awal 80’an, melalui jalur mainstream berkat kesuksesan film-filmnya. Berbagai karyanya jelas terpengaruh dari sisi eksploitasi (kekerasan eksplisit dan umpatan dalam dialog), gaya aksi laga (termasuk gaya film action produksi Hongkong dan martial arts), hingga sinematografi serta soundtrack

Dari gaya dan arahan serta beberapa film favoritnya, Tarantino tampak terinspirasi oleh Martin Scorsese, Brian De Palma, Francis Ford Coppola, William Friedkin, Sergio Leone hingga John Woo. Berbagai genre telah ia garap, mulai dari drama, crime thriller dan action, horor hingga Spaghetti Western. Bahkan genre terakhir yang disebutkan tadi, melalui dua film garapannya, juga mungkin terpengaruh dari film The Wild Bunch (1969)-nya Sam Peckinpah atau McCabe and Mrs. Miller (1971)-nya Robert Altman.

Melalui film terbarunya, Once Upon a Time in Hollywood, Tarantino rupanya ingin mengajak audiens bernostalgia sekaligus mengingatkan kembali akan masa kebangkitan ‘gerakan baru’ yang terjadi di Hollywood, dalam masa transisi berakhirnya era Klasik atau Golden Age of Hollywood yang telah berlangsung sejak akhir era 20’an.

impawards.com

Selain menjadikan referensi terhadap sejarah perfilman Hollywood, narasi film tersebut menyertakan peristiwa “Tate Murders” oleh “Manson Family” melalui beberapa figur populer seperti Sharon Tate, Charles Manson, Bruce Lee, Steve McQueen, Roman Polanski dalam masa counterculture (kaum hippies) dan anti-perang.

Dengan setting di tahun 1969, filmnya sendiri mengisahkan tentang seorang bintang televisi serial western era 50’an Bounty Law, bernama Rick Dalton (Leonardo DiCaprio) khawatir akan karirnya yang terancam. Seorang agen bernama Marvin Schwarz (Al Pacino) menyarankan Dalton untuk menjadi aktor dalam film ber-genre Spaghetti Western yang sedang populer saat itu, ketika Dalton yang ditemani oleh stuntman-nya bernama Cliff Booth (Brad Pitt) berkeliling kota.
Courtesy of Sony Pictures Releasing, 2019

Dalton kedatangan tetangga baru, seorang aktris bernama Sharon Tate (Margot Robbie) dan sineas Roman Polanski. Tate dan Polanski pada malam harinya bersama dengan seorang hairstylist bernama Jay Sebring (Emile Hirsch), menghadiri pesta selebriti di Playboy Mansion. Impian Dalton yakni ingin berkenalan dan berteman dengan tetangganya itu untuk memperbaiki status selebritinya.
 
Setelah membintangi beberapa film sebagai karakter antagonis, Dalton akhirnya mendapat salah satu peran dalam serial percobaan berjudul Lancer, sementara Booth kebagian menjadi stuntman di serial The Green Hornet dan bahkan sempat berkelahi untuk pembuktian adu kekuatan dengan aktor Bruce Lee di area studio. Lain halnya dengan Tate yang sedang menonton film The Wrecking Crew (1969) yang dibintanginya di salah satu bioskop.

Suatu hari Booth curiga setelah bertemu dan mengantar seorang gadis hippie yang ternyata tinggal bersama dengan “Manson Family” di Spahn Ranch, yang dimiliki oleh George Spahn yang pernah disewakan untuk syuting serial Bounty Law. Sedangkan Dalton berjuang memperbaiki reputasinya yang mulai redup melalui akting terhadap peran baru untuk kembali menaikkan karirnya, hingga Schwarz-lah yang mengakibatkan Dalton akhirnya bersedia syuting beberapa film Spaghetti Western dan action di Italia.

Courtesy of Sony Pictures Releasing, 2019

Note : Saya menyadari bahwa mayoritas orang Indonesia, apalagi generasi muda tampaknya kurang tertarik dengan film Tarantinto kali ini, berdasarkan durasi tayang dan jumlah penonton di bioskop, terlebih durasi filmnya yang cukup panjang (lebih dari dua setengah jam). Generation gap, modern culture saat ini, serta selera akan tema dan pengetahuan sinematik audiens jelas berbicara!

Sungguh judul yang terinspirasi dari filmnya Sergio Leone, Once Upon a Time in the West (1968) dan Once Upon a Time in America (1984).

Courtesy of Sony Pictures Releasing, 2019

Pada dasarnya, secara struktur cerita, film ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama sekaligus utama, yakni petualangan karakter fiktif Dalton dan Booth yang berjuang memperbaiki karir serta menaikkan reputasi status selebriti. Keduanya membaur dalam rangkaian figur dan objek nyata di jamannya, seperti aktor Bruce Lee dalam serial The Green Hornet (1966-1967), serial Lancer (1968-1970) dan aktornya James Stacy, Wayne Maunder serta sutradaranya Sam Wanamaker, Spahn Ranch dan pemiliknya George Spahn.

Struktur kedua dan ketiga hanya sebagai pendukung, berdasarkan peristiwa nyata di tahun 1969 mendekati peristiwa pembunuhan “Tate murders”, yakni aktris dan model Sharon Tate dan hairstylist Jay Sebring sebelum terbunuh oleh “Manson Family”, peristiwa tersebut terkoneksi dengan sineas Roman Polanski dan aktor Steve McQueen, serta beberapa figur terkait.


Courtesy of Sony Pictures Releasing, 2019

Struktur ketiga yakni “Manson Family”, saat Charles Manson mengunjungi rumah pasangan Polanski dan Tate, aksi malam pembunuhan yang dilakukan empat orang anggota “Manson Family”, serta fiksi yang mengkoneksikan karakter Booth mengunjungi Spahn Ranch.

Kelihaian Tarantino untuk memasukkan kisah dunia fiktif duo Dalton-Booth dalam timeline kisah nyata menjelang “Tate murders”, kemudian mengkombinasikannya dengan cermat terhadap dunia nyata saat itu (figur, objek, referensi), menjadikan film ini begitu menarik untuk ditelusuri. Ditambah dengan gaya suspens yang terkesan lebih realistis terhadap penggambaran “Manson Family”, mengingat pasti ada elemen violence yang terlebih diarahkan oleh Tarantino, sulit ditebak akan adegan selanjutnya.

Courtesy of Sony Pictures Releasing, 2019
  
Dengan mempertunjukkan alur melalui pace yang begitu lambat, terutama dalam 1st dan 2nd act yang dijejali dengan begitu banyak dialog serta berbagai adegan drama reguler, untungnya diselingi oleh beberapa iringan lagu rock n’ roll dan pop yang tengah hits saat itu, serta tidak terdapat sedikitpun scoring dari komposer.

Juga berbagai humor dialog dan adegan komedi ringan, terutama dari karakter Dalton, sungguh menghibur. Namun dengan catatan, jika anda memiliki pengetahuan pop culture di era New Hollywood, pasti akan tersenyum geli dan tertawa puas.

Figur Sharon Tate : Sony Pictures Releasing, 2019
 
Duo chemistry brilian DiCaprio dan Pitt sebagai Dalton dan Booth, begitu kuat dan terasa atmosfir bromance-nya. Dalton yang sedang mengalami krisis identitas kebintangannya yang merosot hingga frustasi mabuk-mabukkan, perlahan memperbaiki dirinya mulai dari level ‘bawah’ dengan memerankan berbagai karakter antagonis.

Dalton bahkan sempat kesulitan menghapal dialog dalam sebuah adegan serial Lancer, hingga akhirnya bertemu dengan aktris cilik lawan mainnya, sehingga dalam film ini terciptalah adegan memorable dialog Dalton dengan aktris cilik tersebut, saat mereka sedang istirahat syuting.

Courtesy of Sony Pictures Releasing, 2019

Booth yang sejatinya adalah pemeran pengganti alias stuntman-nya Dalton, adalah sahabat sejati Dalton, yang selalu sabar dan loyal serta menyemangati Dalton, bahwa karirnya belum berakhir. Dengan latar belakangnya yang misterius eks-veteran perang, Booth rupanya sempat bermasalah dengan polisi dan digosipkan menjadi tersangka pembunuh istrinya.

Hingga dalam adegan ketika Booth tengah berkelahi dengan Bruce Lee, tiba-tiba istri seorang stunt coordinator (Kurt Russell) muncul, lalu mengusir Booth, saking bencinya dan meyakini bahwa Booth adalah sosok kriminal. Sebuah adegan dan dialog menggelikan.

Figur Bruce Lee : Sony Pictures Releasing, 2019

Performa Margot Robbie sebagai aktris Sharon Tate, meski minim dialog dan kesannya hanya sebagai ‘pemanis’, malah menjadi karakter kunci dan figur nyata terpenting di film ini. Meski saya belum pernah menonton film-filmnya Tate, berbagai adegan yang dimainkan Robbie berhasil memunculkan empati saya terhadap figur selebritis yang akan menjadi korban pembunuhan. Selain itu, performa Margaret Qualley sebagai gadis hippie bernama “Pussycat” juga tak kalah menariknya. 

Figur Charles Manson : Sony Pictures Releasing, 2019
 
Adegan menjelang berakhirnya 2nd act, dirasa menegangkan saat Booth memasuki sebuah rumah hendak menemui kawan lamanya, George Spahn yang kini didiami oleh “Manson Family” yang memiliki behavior ambigu dan tidak friendly. Sedangkan puncak adegan aksi penuh kejutan dalam 3rd act, saya merasakan mixed feeling ketika keempat anggota “Manson Family” hendak membunuh para orang kaya dengan mendekati area rumah Dalton dan Tate.

Figur Roman Polanski : Sony Pictures Releasing, 2019

Adegan humor mulai muncul ketika mereka hendak melakukan aksinya, namun puncaknya adalah aksi yang mereka lakukan saat memasuki sebuah rumah yang diincarnya. Brutalitas yang hilarious, aksi kekejaman dan kekerasan dipadukan dengan gaya komedi yang cenderung ‘dark’ menjadi satu, dalam rangkaian sekuen mendebarkan sekaligus sesekali saya tertawa. Boleh dibilang, seperti parodi film Straw Dogs (1971). Meski demikian, ending-nya cukup memuaskan.

Figur Steve McQueen : Sony Pictures Releasing, 2019

Unsur sinematografinya pun impresif, mengingat beberapa adegan flashback sekilas tanpa harus mengungkap keseluruhan cerita melalui voice over oleh suara Kurt Russell, juga narasi yang menciptakan adegan ‘film dalam film’ seakan audiens menonton Dalton di kehidupan nyatanya, sekaligus karakternya saat ia syuting film. Artificial footage bergaya retro dari film ‘fiktif’-nya Dalton berjudul The 14 Fists of McCluskey, tampak ia beraksi dengan flamethrower-nya adalah referensi dari filmnya Tarantino, Inglourious Basterds (2009).

Sedangkan yang bikin saya geli, ketika Dalton berdialog dengan aktor James Stacy dan membicarakan bahwa Dalton tidak mendapatkan peran yang malah jatuh ke tangan Steve McQueen dalam film The Great Escape (1963), lalu adegan diselingi dengan footage film tersebut, diperlihatkan Dalton menggantikan McQueen sebagai Virgil Hilts ketika berdialog dengan perwira Nazi. Meski sudah jaman digital, namun masih tetap terlihat manipulasi editing-nya.

Penampilan terakhir Luke Perry : Sony Pictures Releasing, 2019

Juga beberapa footage lain, baik kombinasi orisinal maupun artificial, mampu membedakan visual terhadap adegan di film itu sendiri, melalui format hitam-putih dalam serial fiktif Bounty Law, maupun beberapa film lainnya dengan penurunan piksel serta saturasi. Bahkan hingga opening logo Columbia Pictures pun diperlakukan hal yang sama di film ini, sebelum membuka adegan.

Once Upon a Time in Hollywood secara keseluruhan merupakan nostalgia sekaligus penegasan akan kejayaan dan awal permulaan revolusi pop culture ikonik dalam dunia perfilman Hollywood, sebagai landasan dan basis terhadap film-film modern hingga saat ini.

Kisah yang berlatar “Tate murder” dan “Manson Family” itu, merupakan drama dark comedy dengan merasakan langsung sebuah transisi akibat lahirnya generasi baru (Baby Boomers) … sebuah cerminan tak langsung terhadap karya-karya Tarantino sendiri, berdasarkan pengaruh tersebut.

Film ini memang bukan film generik yang overhype, tapi memang keren berdasarkan persepsi penikmat film sesungguhnya.

Score : 3.5 / 4 stars  

Once Upon a Time in Hollywood | 2019 | Drama, Komedi, Petualangan | Pemain: Leonardo DiCaprio, Brad Pitt, Margot Robbie, Emile Hirsch, Margaret Qualley, Timothy Olyphant, Austin Butler, Dakota Fanning, Bruce Dern, Luke Perry, Al Pacino. Narator: Kurt Russel | Sutradara: Quentin Tarantino |  Produser: David Heyman, Shannon McIntosh, Quentin Tarantino | Penulis: Quentin Tarantino | Sinematografi: Robert Richardson | Distributor: Sony Pictures Releasing | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 161 Menit

Baca juga : Bullitt (1968): Film Balap Mobil Terbaik | The Great Escape (1963) : Upaya Pelarian Diri Massal Tentara Sekutu | Papillon (1973) : Pantang Menyerah Kabur dari Penjara 

Comments