School of Rock (2003) : Bukan Sekadar Pelajaran Musik Rock


Courtesy of Paramount Pictures, 2003

Film musikal bertemakan rock atau hard rock/heavy metal yang berkualitas tepatnya, boleh dibilang sangat langka ditemui. Genre musik yang pernah berjaya di era 70’an hingga 80’an tersebut, jika diimplementasikan ke dalam fiksi sebuah film, umumnya bernuansa dewasa meski dikombinasikan dengan elemen komedi. 

Namun lain halnya, jika pada usia dini anak-anak pra-remaja diperkenalkan oleh sebuah genre rock sejati yang memang memiliki akar kuat dari rock & roll dan blues kemudian berkembang menjadi hard rock, merupakan sebuah terobosan penting dalam mengenalkan musik rock (para musisi dan band legendaris) sesungguhnya yang kini sudah semakin ‘lemah’ posisinya oleh berbagai grup rock modern yang cenderung bernuansa pop.

Film School of Rock adalah sebuah mahakarya terpenting dalam genre film musikal, khususnya membangkitkan kembali pengaruh besar hard rock dalam blantika musik dunia kepada generasi baru. Faktor Jack Black juga memiliki pengaruh besar dalam menghidupkan film tersebut hingga menjadi sebuah hiburan bermakna, mengingat Black juga seorang musisi hard rock (Tenacious D), dengan jenis musik yang terpengaruh dari msuik rock era 70’an dan 80’an.

Atas kesuksesan film tersebut, Black dinominasikan sebagai Aktor Terbaik dalam ajang Golden Globe Awards serta memenangkan MTV Awards dalam kategori Best Comedic Performance. Film ini juga diadaptasi ke dalam pertunjukkan teater di Broadway dan televisi melalui Nickelodeon. Adapun kisah filmnya sebagai berikut :

impawards.com

Dalam keadaan darurat, gitaris rock band Dewey Finn (Jack Black) menyamar sebagai guru pengganti yang seharusnya dilakukan oleh teman satu apartemennya, yakni Ned Schneebly (Mike White), dengan berpura-pura sebagai Ned saat diterima oleh Kepala Sekolah Horace Green yang bernama Rosalie Mullins (Joan Cusack) melalui telepon.

Meski di hari pertama Finn tidak melakukan apapun di dalam kelas, ia lalu memanfaatkan semua murid kelasnya untuk membentuk sebuah rock band, saat ia mengamati mereka memainkan alat musik klasik di kelas lain. 

Alih-alih sebagai proyek sekolahan untuk berkompetisi dalam “Battle of the Bands”, Finn sebagai vokalis dan gitaris, memimpin Zack (Joey Gaydos) sebagai gitaris, Freddy (Kevin Clark) sebagai drummer, Katie (Rebecca Brown) sebagai bassist dan Lawrence (Robert Tsai) sebagai keyboardist, sedangkan ketiga anak lainya sebagai vokalis latar, serta sisanya adalah kru termasuk Summer (Miranda Cosgrove) sebagai manajer band

Saat Finn mengetahui kelemahan Mullins dari seorang guru, demi merealisasikan kompetisi “Battle of the Bands”, ia memanfaatkan sebuah momen untuk meminta ijin kepadanya, dengan maksud mengajak seluruh murid kelasnya mengikuti kegiatan musik klasik diluar sekolah. 

Hingga saat menjelang Parent’s Night, Ned mendapat cek pembayaran dari sekolah Horace Green, sehingga ia mengetahui kecurangan Finn. Maka sebuah bencana datang saat Parent’s Night di sekolah, atas inisiasi Patty, polisi mendatangi Finn yang hendak menangkapnya atas tindakan ‘penipuan’ yang ia lakukan.

Courtesy of Paramount Pictures, 2003

Film yang berdurasi selama hampir dua jam tersebut, tentu saja dijejali oleh nuansa musik rock dan hard rock, mulai saat kekonyolan karakter Finn yang manggung bersama rock band-nya, sehingga mengakibatkan dirinya dipecat, kemudian cerita beralih kepada perseteruan Finn dan Patty, hingga petualangan Finn dimulai saat ia menyamar sebagai Ned si sekolahan.

Nah, dalam adegan awal saat Finn pertama kalinya menginjakkan kakinya di dalam kelaspun, sudah sangat terasa akan kecanggungan sekaligus kekontrasan antar dua dunia yang menyatu. Finn seorang musisi rock urakan, dengan penampilan kelimis ala seorang guru, harus berhadapan dengan Kepala Sekolah Mullins serta para murid pra-remaja yang innocent itu.

Courtesy of Paramount Pictures, 2003

Dengan sikap dan gayanya yang cuek tersebut, sambil menaikkan satu kakinya keatas kursi guru di dalam kelas, saat ditanya Mullins jika ada yang hendak ditanyakan lagi, tiba-tiba Finn menanyakkan kepada Mullins “Where’s the lunch?”, merupakan momen yang begitu ridiculous dan hilarious cringe, serta awkward. Terlebih saat Finn meminta makanan kepada salah sau muridnya, serta tidak melakukan apapun di depan murid-muridnya, sambil ia terus menatapi detik jam bubar sekolahan!

Keadaan mulai berubah –bahkan mungkin sebanyak 180 derajat- saat Finn yang tadinya mulai ‘berceramah’ atau tepatnya ‘curhat’ kepada murid-muridnya akan pesimisme tentang realita hidup, maka saat ia mendapat ide untuk memanfaatkan murid-muridnya membentuk sebuah band, segala bentuk komunikasi pun mulai lancar, satu-persatu karakter murid diperkenalkan lebih dalam, serta chemistry antara Finn dengan mereka yang mulanya agak canggung menjadi semakin baik dan bahkan akrab.

Courtesy of Paramount Pictures, 2003

Finn menjadi penyemangat murid-muridnya dalam hal mengajarkan bagaimana caranya bermusik (rock) melalui latihan (band), filosofi pertujukkan, serta berbagai teori yang bersangkutan.

Kini, optimisme sepertinya berada di tangan mereka saat Finn mengarahkan mereka melalui proyek rahasia tersebut. Finn pun menjadi sebuah contoh positif saat mendidik mereka ketika : meluruskan kenakalan Freddy yang bergaul dengan anak band di sebuah van saat mereka mendaftar kompetisi, membuat Lawrence dan Tomica menjadi percaya diri, atau membantu problema Zack menemukan jati dirinya akan ‘cengkeraman’ dari orang tuanya.

Courtesy of Paramount Pictures, 2003

Hubungan guru (Finn) dan para muridnya itulah yang menjadi kekuatan utama di film ini, bagaimana akhirnya para murid bisa menemukan ‘dunia baru’ melalui musik rock, sehingga secara psikologis mereka bisa mulai mengenali dirinya sendiri, meluapkan emosi secara manusiawi, meluaskan pandangan dalam bersikap dan bertindak optimis, serta bersikap positif melalui musik.

Yang paling menarik dlaam film ini, kekomplekkan karakter Finn pun terbagi-bagi, selain terhadap murid-muridnya yang mulai akrab, ia juga harus berhadapan dengan Patty yang menyebalkan. Hubungannya dengan Ned pun terlihat pasang-surut akibat pengaruh Patty yang dominan, sementara Ned sendiri berada dalam kebimbangan dan kegelisahan akan panggilan hatinya terhadap karir barunya itu, kebali bermusik atau menjadi seorang guru.

Courtesy of Paramount Pictures, 2003

Hubungan Finn dengan Mullins pun dari awal hingga menjelang akhir masih terkesan awkward serta cenderung ambigu, terutama pandangan Mullins terhadap Finn. Tapi melalui Finn-lah, Mullins bisa mempertanyakan kembali, apa yang ia inginkan dalam hidupnya.

Performa penuh energi dari Jack Black, melalui totalitas dalam akting dan bermusik itulah yang menjadi nyawa penting di film ini. Banyak humor dan komedi segar, dalam dialog dan aksinya, serta tentu saja performanya dalam latihan dan diatas panggung, mampu ‘menyihir’ audiens untuk larut ke dalam suasana yang dibawa olehnya.

Courtesy of Paramount Pictures, 2003

Beberapa aktor/aktris pendukung lainnya pun memainkan perannya dengan brilian, terutama Joan Cusack sebagai seorang Kepala Sekolah yang memang tipikal dengan citra yang harus selalu ia jaga, namun ia bisa ‘lepas kendali’ tatkala dimanfaatkan oleh Finn. 

Performa aktris komedian Sarah Silverman pun mampu memerankan karakter antagonis yang menyebalkan sebagai Patty, begitu pula peran Mike White dalam karakternya sebagai Ned yang juga sangat piawai dalam mengolah cerita serta naskah, terutama dialog solid di film ini. Performa para aktor/aktris cilik dalam berakting dan juga bermain band adalah para bintang yang sesungguhnya, terutama akting Miranda Cosgrove sebagai Summer yang menonjol.  

Saya begitu larut akan setiap adegan, baik dalam aksi maupun dialog dari semua karakter yang ditampilkan. Tidak ada sedikitpun kejenuhan yang terasa, semuanya mampu memainkan emosi dalam berbagai kecanggungan, tawa, serta ketegangan akan drama yang sangat menghibur ini.

Courtesy of Paramount Pictures, 2003

Sebagai tribut terhadap musik rock atau hard rock, banyak sekali referensi signifikan yang dibawakan oleh Finn, seperti saat ia memainkan intro gitar dan pertama kali mengajarkan kepada murid-muridnya, dengan memainkan lagu Highway to Hell (AC/DC), Iron Man (Black Sabbath), ataupun Smoke on the Water (Deep Purple). Malah di saat awal saat Finn menyebut Led Zeppelin dan murid-muridnya pada pelanga-pelongo tidak ada yang tahu.

Referensi penting lainnya juga saat Finn membagi-bagikan CD musik yang ia pinjami kepada murid-muridnya, seperti album Blondie, Rush, Jimmy Hendrix, Yes hingga Pink Floyd. Finn pun mereferensikan potongan lirik lagunya AC/DC, yakni For Those About to Rock (We Salute You) saat pidato di depan murid-muridnya menjelang kompetisi.

Courtesy of Paramount Pictures, 2003

Salah satu adegan paling memorable yang emosional, yakni ketika adegan Finn dan murid-muridnya berhasil masuk kompetisi, dan di dalam van saat mereka kembali menuju sekolah, Finn memutar lagunya Led Zeppelin, Immigrant Song, sambil bernyanyi!

Adegan akhir saat band mereka yang akhirnya dinamakan “School of Rock” manggung, sangat terasa akan atmosfir yang powerfull dan full of heart, baik dari performa mereka maupun kerumunan audiens. Berbagai kejutan pun terjadi saat menjelang akhir cerita, sementara adegan saat Mullins didekati salah satu anggota rock band yang bekompetisi, lagi-lagi terjadi suasana awkward dan humor yang membuat tawa. Adegan pun terus berlanjut saat ending credits mulai muncul.

Film School of Rock bukan hanya semata-mata kembali mengangkat sekaligus memperkenalkan legenda musik rock kepada generasi baru, namun berbagai nilai filosofi positif yang terdapat dalam musik rock, seharusnya bisa membuka pandangan lebih luas kepada anak-anak remaja akan realita kehidupan yang akan mereka jalani.

Score : 4 / 4 stars

School of Rock | 2003 | Drama, Komedi, Musikal | Pemain: Jack Black, Joan Cusack, Mike White, Sarah Silverman, Miranda Cosgrove, Joey Gaydos, Kevin Clark, Rebecca Brown, Robert Tsai | Sutradara: Richard Linklater | Produser: Scott Rudin | Penulis: Mike White | Musik: Craig Wedren | Sinematografi: Rogier Stoffers | Distributor: Paramount Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 109 Menit

Comments