Midnight Express (1978) : Politik dan Penjara Turki

Dunia Sinema Review Midnight Express
Columbia Pictures

Saya mengetahui film Midnight Express, setelah menonton film action yang dibintangi Sharon Stone berjudul Cold Steel (1987), dengan lawan mainnya yakni mendiang aktor Brad Davis yang tidak familiar bagi saya.

Film yang bertemakan penjara yang diadaptasi dari kisah nyata tersebut, diadaptasi dari buku dengan judul yang sama dan ditulis oleh karakter nyata bernama Billy Hayes yang mengisahkan pengalamannya. Judulnya sendiri merupakan sebuah ungkapan akan aksi  melarikan diri dari sebuah penjara.

Naskahnya ditulis oleh Oliver Stone, serta mendapat pujian dari kritikus namun kontroversial karena dianggap mendiskreditkan perilaku orang-orang Turki dengan cara yang negatif.
 
Midnight Express mengisahkan tahun 1970 di Turki, ketika Billy Hayes (Brad Davis), menyelundupkan banyak batangan hashish (sejenis narkoba), dengan cara menempelkan dengan selotip ke badannya, saat akan pulang ke Amerika bersama dengan kekasihnya, Susan (Irene Miracle). Setibanya di bandara, mereka harus kembali melakukan body check tepat sebelum menaiki pesawat, karena keamanan ketat terkait aktivitas terorisme saat itu.

Sialnya, Billy ketahuan dan ditahan polisi, sedangkan Susan terpaksa terbang sendirian. Billy pun diinterogasi, lalu agen Interpol bernama Tex (Bo Hopkins), berjanji akan membebaskannya jika ia mau bekerjasama dengan menunjuk kepada penjual hashish tersebut. Setibanya di lokasi, dalam satu kesempatan, Billy melarikan diri namun tertangkap dan akhirnya dipenjara.

Di penjara itulah, beberapa karakter diperkenalkan, yakni kepala sipir kejam bernama Hamidou (Paul Smith) dan seorang napi licik dan hipokrat bernama Rifki (Paolo Bonacelli). Sedangkan Billy berteman dengan tiga orang napi yakni Jimmy (Randy Quaid), Max (John Hurt) dan Erich (Norbert Weisser).

Maka, perjuangan Billy untuk memperjuangkan keadilan atas perbuatannya pun dimulai melalui beberapa keputusasaan atas sebuah harapan besar, hingga ia dan ketiga temannya berusaha untuk melarikan diri.

Dalam film diceritakan bahwa persidangan pertama, Billy dijatuhkan sanksi 4 tahun penjara, setelah jaksa menuntutnya dihukum seumur hidup. Lalu 53 hari menjelang berakhirnya masa hukuman, ia diinformasikan malah dituntut 30 tahun penjara oleh pengadilan tinggi Ankara.  


Dunia Sinema Midnight Express Billy Hayes
Columbia Pictures

Billy Hayes memang berhasil melarikan diri dari penjara, dan tentu saja dalam versi film, terdapat dramatisasi fiktif akan beberapa adegan tertentu. Terdapat beberapa perbedaan mendasar antara kisah di film dan fakta. Berikut adalah faktanya berdasarkan buku :
  1. Billy dalam keadaan sendirian, saat ia ditangkap di bandara Turki.
  2. Billy hanya 17 hari selama berada di rumah sakit jiwa di dalam penjara di tahun 1972.
  3. Tidak ada adegan penganiayaan Billy terhadap Rifki atau siapapun.
  4. Selama 5 tahun, Billy dipindahkan ke penjara lain yang berada di sebuah pulau, bukan mendekam di penjara yang sama.
  5. Hamidou sang kepala sipir penjara, nyatanya keburu ditembak mati oleh salah seorang napi yang telah bebas, karena sebelumnya ia sempat menghina keluarga napi tersebut.
  6. Billy melarikan diri dari penjara dengan mencuri sebuah kapal kecil, lalu jalan kaki serta naik bus ke Istanbul, hingga menyeberangi ke perbatasan Yunani.
Peredaran narkoba secara masif dari Asia menuju Eropa hingga Amerika, memang sedang gencar, sementara hubungan diplomasi antara Amerika Serikat dan Turki pun sedang memanas saat itu. Midnight Express sendiri mengangkat tema bagaimana sebuah ketidakadilan yang menimpa Billy Hayes, tampaknya dijadikan pion oleh pemerintah Turki terhadap Amerika Serikat.

Billy Hayes sendiri juga menjadi narator di film ini, dimulai dalam ia mulai kehidupannya di penjara, rangkaian kalimat dalam surat yang ia tuliskan kepada Susan dan juga kepada keluarganya, serta ia mengenalkan lebih dalam beberapa karakter narapidana yang berinteraksi dengannya. Terdengar akan keputusasaan dalam nada suaranya.

Performa brilian Brad Davis sebagai Billy Hayes, terlihat begitu sempurna dalam kegugupan dan ketegangan di awal cerita, saat ia menyelundupkan hashish. Kegelisahan dan keputusasaannya ketika baru dipenjara, serta kekecewannya pada saat mendengar vonis 30 tahun penjara.

Dalam momen itulah, transisi karakternya mulai berubah, seiring berjalannya waktu selama hampir 4 tahun. Yang paling mengejutkan, tentunya kebrutalan dan kegilaannya akibat amarah yang meledak terhadap tindakan Rifki yang sudah tidak bisa ditolerir lagi, dengan mengigit lidahnya hingga putus, yang membuat saya syok!

Sehingga berakhir dengan ketidakwarasannya ketika bertemu dengan Susan. Semua itu dilakukan melalui ekspresi wajah dan gestur tubuh yang dimainkan dengan cemerlang. Sekilas, tampang Davis ketika berambut agak panjang, mengingatkan saya akan Brad Pitt sewaktu muda, juga saat ia di penjara berambut cepak, mirip Matt Damon. Itulah konsekuensi dari seorang aktor yang kurang saya kenal!

Selain itu tentu saja, performa John Hurt sebagai Max malah lebih 'gila', dengan menjadi seorang yang tak berdaya namun eksentrik. Ia begitu cepat akrab dan bersahabat dengan orang asing. Ia pula yang sering disakiti oleh Rifki dan Hamidou, sehingga berhasil mendapatkan empati saya.


Dunia Sinema Midnight Express Para Napi Penjara
Columbia Pictures

Tak ketinggalan, karakter Jimmy yang diperankan Randy Quaid yang sedikit mengangkat keceriaan dalam mewarnai suramnya narasi film ini, karena ia cenderung lebih banyak memakai otot daripada otak. Ternyata kebanyakan aktor dari Amerika dan Italia (dan mungkin Armenia) yang memerankan berbagai karakter orang Turki.

Jika diperhatikan, setting bangunan penjara di film ini, mirip dengan sebuah penginapan kuno yang kumuh bergaya
Mediterania. Narapidana bisa dengan leluasa keluar kamar sel, menuju ruang makan, dapur dan kamar mandi umum, terkesan seperti barak yang luas. Jika penjara umumnya, narapidana tidak boleh keluar masuk kamar sel, ini malah dengan bebas bisa mengunjungi kamar sel lainnya.

Film ini tidak banyak memperlihatkan keindahan kota Turki. Paling hanya sesekali memperlihatkan panorama kota. Interior shot yang cukup signifikan terlihat dalam adegan saat Billy menjalani persidangan, ia menunggu hasil keputusan hakim di sebuah teras gedung. Sudut kamera tertentu juga memperlihatkan kemegahan gedung, lengkap dengan pilar bergaya arsitektur khas Turki. 

Scoring musik synthesizer yang khas dari Giorgio Moroder, memiliki andil besar dalam meningkatkan emosi akan apa yang dialami Billy Hayes.

Adegan memorable-nya saat tengah malam, ia sedang merenung di penjara, menunggu kepastian pembebasannya, serta di akhir cerita ia berhasil kabur dari penjara dan menghirup udara kebebasan di luar. Disambungkan hingga ending credits, bersama dengan montase foto dokumenter hitam-putih, ketika ia tiba di Amerika bertemu orangtuanya dan juga Susan.

Berkat arahan sutradara
Alan Parker, kualitas akting dan bumbu drama yang kuat itulah, film ini patut diacungi jempol. Midnight Express mengisahkan imbas politik dan sebuah 'senjata' berupa penjara Turki terhadap Amerika Serikat, melalui seorang tumbal bernama Billy Hayes.
 
Di tahun berikutnya, film bertemakan yang sama, yakni melarikan diri dari penjara juga berdasarkan kisah nyata, dirilis dengan judul Escape from Alcatraz yang memiliki kualitas sama. Bagi yang berniat menonton film
Midnight Express, siap-siap untuk pilu, ngilu, tegang dan greget. Namun anda mungkin saja akan tersenyum lega di akhir cerita.

Score : 4 / 4 stars

Midnight Express | 1978 | Drama, Thriller, Kriminal | Pemain: Brad Davis, John Hurt, Randy Quaid, Paolo Bonacelli, Paul Smith, Norbert Weisser, Bo Hopkins | Sutradara: Alan Parker | Produser: Allan Marshall, David Puttnam | Penulis: Berdasarkan buku Midnight Express oleh Billy Hayes dan William Hoffer. Naskah: Oliver Stone | Musik: Giorgio Moroder | Sinematografi: Michael Seresin | Distributor: Columbia Pictures | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Durasi: 121 Menit

Comments