Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) : Menghapus Memori Abadi

Courtesy of Focus Features, 2004

Dari beberapa film tentang penghapusan memori seseorang, tidak ada yang sebaik dan semenarik romansa fiksi ilmiah  –dengan sedikit komedi- berjudul Eternal Sunshine of the Spotless Mind, berdasarkan tulisan kolaborasi serta naskah karya Charlie Kaufman.

Tidak seperti adaptasi novel Philip K. Dick, Blade Runner (1982) dan Total Recall (1990) atau novel lainnya seperti The Manchurian Candidate (1962) dan Shutter Island (2010) yang ber-genre thriller, psychological, political maupun action, tidak juga karya Christopher Nolan, Memento (2000) yang mengacak-acak alur menjadi semerawut ataupun Inception (2010) yang terlalu megah itu, film Eternal Sunshine of the Spotless Mind dengan orisinal cerita dan kesederhanaannya, mampu memberikan kesan mendalam dan sangat mengena.

Dengan bermodalkan ide cerita Michel Gondry dan Pierre Bismuth yang kemudian dipoles oleh Kaufman tersebut serta diproduksi oleh studio independen, wajar mendapat sambutan sangat positif dan digadang-gadang menjadi salah satu film penting sepanajng masa, termasuk meraih Oscar untuk kategori Best Original Screenplay serta beberapa penghargaan lainnya hingga berstatus cult.  

Eternal Sunshine of the Spotless Mind mengisahkan tentang Joel (Jim Carrey), pria yang hidup sendiri secara tak sengaja bertemu  Clementine (Kate Winslet).dalam perjalanannya dari Montauk. Dari perbincangan awal pertama kali bertemu, mereka akhirnya menjalin hubungan romantis. Namun tiba-tiba keanehan terjadi pada diri Clementine yang tidak mengenali Joel dan bahkan berpcaran dengan pria yang jauh lebih muda dari Joel.

Lewat sahabat Joel, yakni Rob dan Carrie, diketahui bahwa memori Clementine terhadap Joel telah dihapus dengan menggunakan jasa Lacuna Inc. Setelah pimpinan Lacuna Inc., Dr. Howard (Tom Wilkinson) menjelaskan bahwa Clementine menghapus memorinya tersebut atas dasar ketidakcocokkan hubungannya itu, maka Joel pun ingin menghapus memorinya tentang Clementine, yang dibantu oleh asisten Howard yakni Stan (Mark Ruffalo) dan Patrick (Elijah Wood).

Stan memiliki kekasih bernama Mary (Kirsten Dunst) yang tak lain adalah asisten Howard, sedangkan Patrick tertarik dan menjalin hubungan dengan Clementine tanpa sepengetahuan Joel. Kemudian terjadilah sebuah intrik saat Mary tertarik kepada Howard, pria setengah baya yang telah beristri dan di saat bersamaan dalam proses penghapusan memorinya, Joel yang hidup di dunia memori, menyadari ada sebuah kesalahan yang harus diperbaiki.

impawards.com

Awalnya, film ini menuturkan sebuah cerita bergaya standar dengan narasi suara yang diisi oleh karakter Joel, tentang bagaimana tiba-tiba ia bolos kerja menuju sebuah pantai yang dinamakan Montauk, hingga perjumpaannya dengan Clementine semuanya berjalan normal, hingga saat Joel mengantarkan Clementine ke rumahnya dan menunggunya di dalam mobil, bersamaan dengan opening credits dan tiba-tiba Joel dalam keadaan malam sendirian menangis, maka keanehan terjadi.

Lalu mulailah timbul berbagai adegan yang tidak diketahui kejelasan apa yang menimpa Joel, seperti munculnya karakter Stan dan Patrick dan seorang tetangga yang berbincang dengannya dan yang saya rasakan memang mengganggu konsentrasi alur cerita yang tadinya dibangun rapih menjadi ‘acak’ dan cenderung surealis.

Hingga tiba dalam adegan yang akhirnya Joel bertemu dengan Rob dan Carrie, dengan menceritakan flashback bagaimana saat ia bertemu dengan Clementine yang tidak mengenali dirinya, kemudian alur kembali dengan kelanjutan kisah Joel yang mendatangi Lacuna Inc. dan ingin menghapus memori tentang Clementine. Lalu, adegan pun mulai bergulir hingga membagi menjadi dua bagian utama dalam satu alur yang berjalan pararel : Berbagai adegan Joel dan Clementine dalam dunia memori (di benak) Joel, serta berbagai adegan di dunia nyata, yakni drama hubungan antara Stan dan Patrick, Stan dan Mary, Patrick dan Clementine serta Mary dan Howard.

Courtesy of Focus Features, 2004

Menurut saya, premis dan pesan yang ingin disampaikan melalui film ini didasari oleh hubungan cinta yang begitu mendalam antar hubungan manusia. Sebuah perasaaan sesungguhnya yang tak terelakkan, telah meresap hingga ke dalam jiwa dan sanubari seseorang, hingga mungkin saja dalam dunia medis, semaksimal apapun jika memori seseorang dihapus, pasti meninggalkan sebuah bekas sekecil apapun itu, yang tidak dapat disentuh oleh teknologi … hal tersebut diperlihatkan tatkala Joel mampu keluar dari “brain map” ketika dalam proses penghapusan memori, sehingga tak terdeteksi oleh mesin.

Courtesy of Focus Features, 2004

Dengan menyajikan sebuah alur non-linear yang awalnya membuat saya kesulitan untuk mengikutinya, namun saat alur berada dalam berbagai adegan memori antara Joel dan Clementine, saya mulai menikmati hingga sampai pada sebuah konklusi akan penyelesaian cerita, dengan menjaga alur hingga kembali pada jalur yang tepat dan tentunya hal tersebut adalah sebuah kejutan yang tidak pernah saya sangka sebelumnya, terutama dalam dialog di akhir cerita.

Sepertinya, konsep yang boleh dikatakan sebagai ‘time circulation’ terjadi dalam berbagai momen terhadap karakter Joel tersebut di dunia nyata, meski terkadang agak sulit membedakan dengan dunia memori. Berbagai visual yang disuguhkan dalam dunia memori pun begitu impresif dan terlihat manipulatif dalam ‘mengerjai’ pikiran dan emosi saya yang tertarik dengan kelanjutan adegan-adegannya.

Courtesy of Focus Features, 2004

Hanya saja –lagi-lagi- gerakkan shaky kamera terkadang hadir dalam beberapa adegan, yang agak mengganggu, mungkin saat itu memang gaya perfilman modern sedang nge-trend, alih-alih menghadirkan visual unik. Sedangkan keunggulan berbagai efek yang digunakan, sangat efektif dan mengaggumkan untuk ukuran film indie, seperti dalam adegan saat karakter Joel bertubuh kecil di bawah meja, yang berinteraksi dengan Clementine dengan tuuh berukuran normal. Permainan cahaya pun tampaknya dilakukan seakan menutupi keterbatasan efek spesial yang digunakan, seperti saat sebuah rumah yang mulai roboh perlahan.

Begitu pula dengan scoring film ini yang tahu diri akan kemunculan dalam adegan yang tepat, ditambah dengan beberapa efek suara yang unik sehingga di beberapa momen, film ini terasa mencampurkan sedikit elemen psycholgical thriller terhadap drama romantis, dengan bumbu komedi yang cenderung gelap itu.   

Kehebatan akting para pemerannya di film inilah yang mampu mengantarkan dan menghidupkan kekuatan akan narasinya itu sendiri. Kemampuan akting serius non-komedi Jim Carrey sebagai seseorang introvert yang kaku dan tidak menarik, bahkan sebagai seorang pria yang tidak memiliki karisma apapun dalam karakter Joel, dilakukannya dengan total. Hal tersebut juga diimbangi dengan akting prima Kate Winslet sebagai Clementine, sosok ekstrovert berjiwa bebas, dengan gaya bicara blak-blakan yang agresif dan sikapnya yang spontan sekaligus lugas itu.

Hubungan kedua karakter tersebut bukanlah hubungan dua insan yang melodrama dan over romantic, namun terlihat lebih riil layaknya di dunia nyata, berkat berbagai adegan dan dialog yang diperlihatkan di film ini. Begitu pula dengan penampilan Mark Ruffalo yang cenderung nerd atau performa Kirsten Dunst yang cukup menarik akan sebuah intrik yang menimpa karakter yang diperankannya.

Film Eternal Sunshine of the Spotless Mind boleh saya katakan sebagai sebuah film romansa fiksi ilmiah yang berangkat dari premis sederhana tentang kekuatan abadi hubungan manusia, yang secara estetis sekaligus sedikit ambigu diutarakan dengan melompati alur sehingga terasa kompleks. Namun dibalik itu semua, pada akhirnya cerita film itu menuju kepada sebuah tujuan yang menyederhanakan sehingga timbul sebuah makna yang signifikan akan kebesaran cinta sejati yang selalu membekas tanpa batas.   

Score : 3.5 / 4 stars

Eternal Sunshine of the Spotless Mind | 2004 | Drama, Fiksi Ilmiah, Komedi, Romantis | Pemain: Jim Carrey, Kate Winslet, Kirsten Dunst, Mark Ruffalo, Elijah Wood, Tom Wilkinson | Sutradara: Michel Gondry | Produser: Steve Golin, Anthony Bregman | Penulis: Charlie Kaufman, Michel Gondry, Pierre Bismuth. Naskah: Charlie Kaufman | Musik: Jon Brion | Sinematografi: Ellen Kuras | Distributor: Focus Features | Negara: Amerika Serikat, Perancis | Durasi: 108 Menit



Comments