12 Film ‘Friday the 13th’ yang Perlu Anda Ketahui

 

duabelas review film friday the 13th
New Line Cinema, Paramount Pictures

“Kill her Mommy, kill her!”

Bersama dengan Freddy Krueger dan Michael Myers, Jason Voorhees adalah salah satu ikon horor modern yang paling populer, yang uniknya merupakan hasil pengembangan yang muncul dalam sekuel sebagai antagonis utama sejak film ke-2 dan menggunakan topeng hoki es di film ke-3.

Hingga saat ini, waralaba Friday the 13th telah mencapai total sebanyak 12 film lepas, termasuk crossover dalam film Freddy vs. Jason, setelah mengalami banyak sekuel termasuk 2 film dengan sub judul “Final”, tapi masih ada kelanjutannya.

Waralaba ini memang berbeda dari yang lainnya, karena sejatinya terdapat dua karakter antagonis selain Jason, yakni sang ibu Pamela Voorhees yang terdapat dalam film perdana maupun sekuelnya, serta film Freddy vs. Jason. Adapun musuh bebuyutan Jason yakni Tommy Jarvis yang muncul mulai dari seri ke-4 hingga ke-6. 

Baca juga: 11 Film 'Halloween' yang Perlu Anda Ketahui

Meski sempat mati dan hidup kembali dengan berbagai cara apapun, umumnya pengembangan narasi dalam waralaba ini saya rasa mengalami keterbatasan seperti pergantian karakter sentral protagonis hingga lokasi cerita. Maka dapat dinilai hampir rata di setiap filmnya, kecuali yang perdana dan beberapa sekuel tertentu.

Sean S. Cunningham memang sosok terpenting dalam waralaba ini sejak awal sebagai sutradara merangkap produser, namun sang kreator Victor Miller yang pertama kali menerbitkan karakternya berkolaborasi dengan Cunningham dan artis efek spesial Tom Savini, sehingga naskah dikembangkan oleh Ron Kurz, Martin Kitrosser serta Carol Watson dalam dua sekuel berikutnya.

Berikut adalah urutan 11 film Friday the 13th yang terdiri dari 1 film orisinal, 9 film sekuel serta 1 film reboot. Pengecualian terhadap film crossover berjudul Freddy vs. Jason yang telah dibahas dalam artikel Ulasan Singkat 9 Film ‘A Nightmare on Elm Street’.

friday the 13th rebooth
New Line Cinema, Paramount Pictures
11. Friday the 13th (2009)

Clay menuju Crystal Lake guna mencari adik perempuannya yang menghilang selama enam bulan. Tak sengaja ia bertemu dengan sekelompok anak muda yang sedang berlibur di salah satu rumah peristirahatan, tanpa disadari Jason Voorhees sedang mengincar mereka.

Lagi-lagi Michael Bay sebagai biang keladi pembuatan ulang sejumlah waralaba horor ikonik seperti A Nightmare on Elm Street dan The Texas Chainsaw Massacre, film Friday the 13th versi ini meski menggabungkan empat film orisinal awal, tetap saja tidak ada gunanya untuk membuang energi yang sulit untuk dinikmati.

Masih menggunakan formula klise horor dan seks yang hanya dimiliki era 70’an dan 80an, aksi cepat dan lincah Jason Voorhees, teknik pewarnaan film modern ala terkini (bukan pewarnaan vivid), karakterisasi amburadul, serta shaky camera yang sangat mengganggu, sungguh merupakan kesalahan yang tidak dapat diampuni. Score: 0 / 4 stars

ulasan film jason x
New Line Cinema
10. Jason X (2001)

Di tahun 2010, Jason Voorhees tertangkap oleh pemerintah dan dijadikan eksperimen dalam sebuah penelitian. Sebuah insiden terjadi saat Jason berkonfrontasi dengan ilmuwan Rowan LaFontaine dan mereka terjebak cairan kriogenik hingga beku.

445 tahun kemudian mereka berdua ditemukan oleh sekelompok peneliti dari populasi manusia yang kini hidup di planet lain, membangkitkan mereka kembali, namun rupanya menganggap remeh Jason, meski telah diperangatkan oleh Rowan.

Sekali lagi, hiraukan akhir cerita di film sebelumnya saat Jason kembali hidup dalam formasi lengkap dengan topeng ikoniknya. Kali ini narasi yang sangat konyol memaksa agar waralaba Friday the 13th tetap dihidupkan, lupakan Crystal Lake atau bahkan Manhattan, karena saatnya Jason bertualang di luar angkasa!

Semuanya menjadi buruk apa adanya, kecuali sejumlah adegan pembunuhan yang masih brutal dan sadis, serta desain Jason versi ‘Superhero Villain’ yang cukup impresif. Film Jason X memang terlalu jauh berada di galaxi, sehingga sulit diterima sebagai kewajaran waralaba yang seharusnya. Score: 0.5 / 4 stars

ulasan film jason takes manhattan
Paramount Pictures
9. Friday the 13th Part VIII: Jason Takes Manhattan (1989)

Jason kembali bangkit setelah insiden yang menyebabkan aliran listrik ke tubuhnya di dasar danau Crystal Lake. Setelah membunuh sepasang kekasih di dalam kapal, tampak ia mengarungi danau dengan kapal tersebut menuju dermaga.

Jason lalu menyelundup ke dalam kapal pesiar yang berisikan sejumlah lulusan anak remaja yang akan berangkat ke kota New York. Maka aksi pembunuhan pun terjadi, hingga membawa petualangan horor tersebut menuju Manhattan.

Melanjutkan absurditas dengan menyingkirkan nalar dasar, sekuel ini seharusnya menjadi epik dan menarik, tatkala Jason berada di kota New York. Sayangnya, eksekusi buruk pun begitu mengecewakan, baik melalui adegan, terlalu lemahnya kekerasan berdarah, semakin bergaya komik, serta banyak sekali pemaksaan narasi itu sendiri.

Film Friday the 13th Part VIII: Jason Takes Manhattan tak lebih sebagai pengisi belaka terhadap waralaba yang terkesan serakah ingin meraup keuntungan semata. Score: 1 / 4 stars

ulasan film jason goes to hell the final friday
New Line Cinema
8. Jason Goes to Hell: The Final Friday (1993)

Jason Voorhees berhasil diledakkan hingga tubuhnya hancur oleh para agen yang menjebaknya, namun mereka tidak menyadari bahwa jantungnya masih utuh, sehingga mulai merasuki seorang petugas yang dekat dengan jasadnya saat sedang eksaminasi. Kini sosok Jason berupa entitas misterius, diterapkan antar tubuh manusia sebagai induk semangnya, serta mengincar Diana berserta putrinya Jessica dan anaknya.

Dengan mengacuhkan akhir cerita dari film terdahulunya –seperti yang saya duga karena begitu absurd- film yang kembali diproduseri oleh sutradara orisinalnya yakni Sean S. Cunningham, berada di jalur yang tepat melalui gaya horor yang lebih serius dan mengerikan.

Namun ide cerita film ini menggabungkan tiga semesta ikon horor sekaligus hingga terwujud sebuah crossover film Freddy vs. Jason sepuluh tahun setelahnya, kecuali waralaba The Evil Dead. Sangat menarik, di saat kejenuhan melanda para penggemarnya akibat sekuel yang semakin buruk kualitasnya.

Mungkin juga terinspirasi dari film The Hidden (1987), terkesan kurang menarik hanya karena porsi kehadiran fisik Jason Voorhees tidaklah banyak seperti yang diharapkan. Sejumlah efek spesial terhadap adegan pembunuhan dan transformasi, dieksekusi dengan baik dan meyakinkan.

Keterlibatan salah satu aktor utama dalam versi serial televisinya yakni John D. LeMay, cukup mengobati sedikit ekspektasi akan crossover kedua semesta film tersebut yang tidak pernah terealisasi. Film Jason Goes to Hell: The Final Friday memang sudah seharusnya benar-benar mengakhiri waralabanya sendiri. Score: 1.5 / 4 stars

friday the 13th a new beginning
Paramount Pictures
7. Friday the 13th: A New Beginning (1985)

Tommy Jarvis telah tumbuh dewasa setelah ia berhasil membunuh Jason Voorhees, namun demi penyembuhan trauma berkepanjangan, ia distransfer dari rumah sakit menuju kamp Pinehurst Halfway House. Meski demikian, ia tetap saja berhalusinasi dan paranoid seakan Jason kerap menghampirinya.

Sementara sesaat setelah seorang penghuni kamp tewas terbunuh oleh sebuah insiden, lalu pembunuh misterius yang mengenakan topeng Jason Voorhees mulai melakukan aksi sadisnya, bernarkah Jason masih hidup?

Film Friday the 13th: A New Beginning memang mengunggulkan penekanan psikologis saat sang protagonis sekaligus musuh bebuyutan Jason Voorhees, yakni Tommy Jarvis berada di tengah penyembuhan traumatiknya, sehingga cukup meyakinkan.

Ditambah dengan misteri dibalik topeng hoki es yang biasa dikenakan Jason, apakah memang dia ataukah orang lain, serta apa motivasinya.

Bagaimanapun juga, ide bagaimana menghidupkan citra Jason dengan ikon topengnya, tak lebih sebagai horor slasher yang mengumbar kesadisan berdarah, masih bergaya komik melalui kombinasi horor psikologis yang cenderung suram serta seksual eksplisit. Score: 1.5 / 4 stars

friday the 13th the new blood
Paramount Pictures
6. Friday the 13th Part VII: The New Blood (1988)

Tina yang memiliki trauma masa kecil akan kekuatan psikokinetik-nya, dalam sebuah insiden tak sengaja membangkitkan kembali Jason Voorhees, alih-alih ingin membangkitkan kembali ayahnya. Maka, ancaman pun menghampiri Tina dan ibunya, serta tetangga mereka yakni sekumpulan anak muda yang sedang mempersiapkan pesta.

Film Friday the 13th Part VII: The New Blood adalah sebuah sekuel yang tampaknya kehabisan ide segar dan cerita menarik, tatkala mempertemukan Jason dengan karakter protagonis heroik dengan kekuatan fenomenal.

Bagaimanapun juga, arahan film ini tidaklah seburuk yang dibayangkan, melalui gaya kelam dan serius dibandingkan film terdahulu, karakter Tina cukup impresif dan simpatik, meski motivasi karakter Dr. Crews mengambang tak karuan.

Setting yang sepertinya dalam musim gugur di pinggir danau Crystal Lake, memperkuat nuansa mistis dan sedikit melankoli. Film ini menjadi sekuel terakhir yang paling lumayan. Score: 2 / 4 stars


ulasan friday the 13th part 2
Paramount Pictures
5. Friday the 13th Part 2 (1981)

Lima tahun setelah peristiwa dari film pertamanya, Paul membuka sekolah untuk para konselor kemah musim panas tepat di sebelah Camp Crystal Lake yang kini tidak pernah terpakai.

Bersama dengan kekasih Paul bernama Ginny serta sejumlah anak muda lainnya, mereka mempersiapkan pelatihan hingga sebagian dari mereka termasuk Paul dan Ginny menyempatkan diri ke kota untuk bersenang-senang semalam.

Sementara enam orang tinggal di kabin tidak menyadari bahwa ada sosok jahat tengah mengintai dan siap membunuh mereka satu-persatu. Paul dan Ginny pamit terlebih dahulu untuk kembali menuju kabin saat hujan deras, menuju tempat pembantaian yang sedang dilakukan oleh Jason Voorhees.

Sesungguhnya adegan akhir di film pertamanya tak lebih dari sekadar gurauan akan gaya film horor yang klise, namun karena mengalami sukses maka karakter Jason Voorhees versi dewasa yang kini menjadi antagonisnya.

Adegan pembuka pun memang mencekam dan mengejutkan dari apa yang terjadi terhadap karakter protagonisnya. Selebihnya adalah narasi sama tentang sekelompok anak muda yang berada di perkemahan musim panas lalu dibantai satu-persatu oleh antagonis Jason Voorhees.

Bagaimanapun juga berbagai adegan pembunuhan hampir sama tingkat kesadisan dan kreatvititasnya, tidak seperti sejumlah sekuel berikutnya dengan level yang lebih tinggi. Maka hilanglah sudah elemen suspens di film ini, meski Jason masih menggunakan penutup kepala dengan menggunakan karung, tetap saja mengerikan.

Friday the 13th Part 2 adalah awal pengenalan karakter Jason Voorhees yang nantinya bakal ikonik. Score: 2.5 / 4 stars

ulasan friday the 13th part 3
Paramount Pictures
4. Friday the 13th Part III (1982)

Chris bersama dengan teman-temannya kembali menuju Higgins Haven, sebuah kabin yang pernah ia tempati di Crystal Lake, yang terungkap bahwa dirinya sedang menghadapi ketakutannya di masa lalu terkait penyerangan di dalam hutan. Sementara Jason Voorhees yang masih hidup, tentu saja tengah mengincar mereka.

Meski Friday the 13th Part III menyajikan pengulangan bagaimana pembantaian terjadi terhadap sekelompok orang di Crystal Lake, namun mengandung dua hal signifikan, yakni bagaimana Jason mengenakan topeng hoki es yang ikonik itu, serta adegan pembunuhan yang kian variatif dan lebih tereksploitasi sadis tentunya.

Hanya saja yang sangat disayangkan yakni tema lagu dalam kredit pembuka dan penutup yang terdengar konyol, alih-alih saat itu menggunakan teknologi format 3D di bioskop, melalui genre musik disko yang terkesan sebagai film porno murahan. Score: 2.5 / 4 stars

ulasan film jason lives
Paramount Pictures
3. Friday the 13th Part VI: Jason Lives (1986)

Sambil membawa topeng Jason Voorhees, diam-diam Tommy Jarvis dan temannya nekat menuju pemakaman Jason, untuk memastikan sekaligus membakar jasadnya, sehingga benar-benar mati.

Seketika pula petir menyambar sesaat setelah Tommy menikam jasad Jason dengan tiang besi, mengalirkan energi supranatural, mengakibatkan monster tersebut bangkit kembali.

Menghadirkan kembali sosok legendaris Jason Voorhees, dengan mengabaikan konklusi akhir di film sebelumnya yang mengecewakan audiens, juga menegaskan sisi heroik karakter Tommy Jarvis sebagai lawan tangguh yang menyulitkan Jason.

Meski dengan mudahnya membangkitkan Jason dari kuburnya, film Friday the 13th Part VI: Jason Lives juga dengan mudahnya memberikan suntikan baru dan segar, melalui sejumlah elemen humor dan aksi laga ala 80’an, tak lupa tema lagu yang dibawakan oleh Alice Cooper, sehingga memberikan warna tersendiri. Score: 3 / 4 stars

ulasan friday the 13th the final chapter
Paramount Pictures
2. Friday the 13th: The Final Chapter (1984)

Jason Voorhees yang masih hidup, segera bangkit dan melarikan diri dari rumah sakit segera setelah peristiwa di film sebelumnya, lalu kembali ke Crystal Lake untuk meneror sekelompok anak muda di sebuah rumah yang bertetangga dengan kediaman keluarga Jarvis, seorang ibu dan kedua anaknya.

Meski semula bertujuan untuk mengakhiri Jason Voorhees, film ini hanyalah akhir dari tahap pertama, melalui narasi yang lebih kuat dan kompleks dibandingkan dua sekuel sebelumnya. Elemen drama remaja meski bergaya tipikal horor klise, tetap saja diarahkan cukup apik.

Atmosfir di film ini seperti kembali lagi menuju dua film awalnya, bagaimana sineas Joseph Zito mampu menghadirkan nuansa yang lebih merinding dan kelam. Film ini juga menandakan pertama kali karakter protagonis Tommy Jarvis yang berusia belia dalam aksi yang tak terlupakan di adegan pamungkas.

Film Friday the 13th: The Final Chapter memang pantas menjadi penutup manis, jika saja tidak dilanjutkan kisahnya. Score: 3 / 4 stars

ulasan film friday the 13th
Paramount Pictures
1. Friday the 13th (1980)

Sekelompok anak muda yakni Ned, Jack, Bill, Marcie, Brenda serta Alice bekerja sebagai konselor untuk mempersiapkan sebuah resor untuk kegiatan kemah musim panas di Camp Crystal Lake yang dimiliki oleh Steve. Mereka tidak menyadari ada seorang pembunuh misterius yang ternyata telah mengintai mereka, sejak mendapat peringatan oleh seseorang bernama Ralph yang diduga tidak waras.

Film ini mempopulerkan horor slasher dengan tema kemah musim panas, yang sarat dengan sang pembunuh berantai misterius dan bakal terungkap menjelang akhir cerita. Alurnya pun ditata dengan cukup solid dan menutup rapat bocoran maupun petunjuk tentang sosok siapa pembunuh sebenarnya.

Sederhana, menegangkan serta berdarah-darah, film Friday the 13th begitu efektif dalam menyajikan narasi yang identik dengan lingkungan alam danau dan hutan nan sepi jauh dari pemukiman penduduk, sehingga terkesan angker dan mencekam. 

Seperti halnya Donald Pleasance dalam Halloween (1978) dan John Saxon dalam A Nightmare on Elm Street (1984), film Friday the 13th kembali menaikkan pamor aktris veteran yakni Betsy Palmer dengan performa kuatnya dan selalu dikenang sebagai Pamela Voorhees.

sinopsis review friday the 13th
Paramount Pictures
Adapula sejumlah adegan pembunuhan berdarah yang cukup sadis serta mengejutkan, lumayan mengesankan meski belum se-kreatif dalam sejumlah sekuelnya. Salah satu adegan terbaiknya yakni pembunuhan terhadap karakter yang dimainkan oleh Kevin Bacon yang belum dikenal saat itu.

Untuk efek spesialnya, memang Tom Savini merupakan orang yang tepat untuk mengerjakannya, serealistis ala 80’an tanpa bantuan digital yang serba palsu itu. Scoring unik yang dibawakan Harry Manfredini dalam pengucapan “ki ki ki ma ma ma” selalu terngiang di telinga, setiap kali terdapat adegan intens.

Friday the 13th adalah pembuka jalan untuk potensi karakter antagonis penerusnya. Score: 3.5 / 4 stars

Comments

Popular Posts