A Man Called Ahok (2018) : Inspiratif dan Edukatif

Courtesy of The United Team of Art, 2018

Pro-Kontra atau Pengagum-Pembenci tokoh yang satu ini menjadi sebuah kontroversi dan fenomenal dalam sejarah bangsa Indonesia, ya dialah Basuki Tjahaja Purnama atau yang kerap dipanggil Ahok. Tanpa memihak salah satu kubu, kali ini saya mencoba untuk meninjau objektivitas sebuah film mengenai kehdiupan masa lalu Ahok, hingga terbentuk karakter unik yang dimilikinya.

Dilihat dari judulnya, inspiratif dan edukatif tentu saja bukan mengenai sepak terjang Ahok sebagai politisi, tapi lebih fokus kepada pembentukan karakter dari hubungan ayah dan anak, keluarga, lingkungan sosial serta keterkaitannya dengan problema birokrasi.

Biar bagaimanapun juga, film biografi tentang politikus tak akan pernah bisa lepas dari alat politik yang dipergunakan. Meski demikian, fakta berbicara bahwa film A Man Called Ahok berhasil mendapatkan lebih dari satu juta penonton selama lebih dari seminggu sejak penyangannya di tnaggal 8 November kemarin. Terlepas dari SARA atau politik apapun, film tersebut mengangkat sebuah kisah yang mengandung nilai filosofi dan pembelajaran.
 
Belitung 1976, Ahok (Eric Febrian) adalah anak sulung dari lima bersaudara, anak dari seorang pengusaha tambang dan kontraktor bernama Kim Nam (Denny Sumargo). Mereka hidup berkecukupan, dan Kim Nam kerap menolong warga disekitarnya tanpa pamrih, meski ia harus mengorbankan finansialnya.

Courtesy of The United Team of Art, 2018

Di sisi lain, seorang pejabat korup (Donny Damara) juga mempersulit usaha Kim Nam dengan segala cara. Hal itulah yang membuat Kim Nam mengharapkan agar Ahok menjadi pemimpin Belitung dan mensejahterakan rakyat. Ketika Ahok dewasa (Daniel Mananta) dan lulus S2 di Jakarta, ia yang geram dengan tindakan pejabat korup tersebut serta perbedaan visi dengan ayahnya (Chew Kin Wah)  yang mengakibatkan Ahok membuka usaha tambangnya sendiri.

Namun karena pejabat tersebut masih ada dan malah semakin merajalela, usaha tambang Ahok pun terpaksa gulung tikar, hingga akhirnya Ahok termotivasi untuk menjadi seorang Bupati melalui proses menjadi anggota DRPD.

imdb.com
  
Kelarisan film ini harusnya didasari atas premis cerita yang diunggulkan, diadaptasi dari sebuah buku yang juga best seller dengan judul yang sama karya Rudi Valinka. Elemen kunci di film ini mengisahkan tentang hubungan ayah Ahok bernama Kim Nam dengan Ahok sendiri dari masa sekolah hingga dewasa. Karakter Ahok terbentuk secara internal yakni lingkungan keluarga terutama ayahnya dan eksternal melalui lingkungan sosialnya serta birokrasi pemerintah yang ia rasakan.

Kedisiplinan, ketegasan, kejujuran, keberanian dan integritas adalah nilai-nilai yang Kim Nam tanamkan pada diri Ahok dan anak-anaknya. Jiwa sosial yang tinggi dan menolong sesame tanpa pandang bulu juga menjadi bagian dari keteladanan dalam hidup dalam perbedaan. Film ini pada dasarnya memiliki dua struktur cerita, bagian pertama yakni ketika Ahok masih remaja bagaimana ia mengalami keadaan pasang-surut keluarganya dan yang kedua ketika ia dewasa menimba ilmu di Jakarta namun memiliki perbedaan visi dengan ayahnya.

Courtesy of The United Team of Art, 2018

Bagian pertama di film ini diperlihatkan begitu kuat, mulai dari narasi yang dibangun dengan ritme yang enak untuk diikuti, serta berbagai sekuen dan adegan menarik, terutama dari karakterisasi dan atmosfir yang mendalam akan bagaimana kehidupan masyarakat Belitung di masa itu. Beralih ke bagian kedua, terasa ada penurunan energi dan sepertinya kehilangan sentuhan dalam arahan dan gaya akan emosi dan drama, cenderung menjadi sebuah ‘rutinitas’ regular meski disisipi sedikit unsur humor dan intrik yang kuat.

Dalam film ini karakter Kim Nam-lah yang berperan sentral sebagai protagonis yang terlihat berkarisma dan diperankan dengan brilian dan apik oleh Denny Sumargo. Yang mengherankan adalah casting Chew Kin Wah sebagai Kim Nam versi tua, sangat terasa perbedaannya saat diperankan oleh Denny Sumargo, padahal bisa saja Denny Sumargo terus berperan sebagai Kim Nam dengan bantuan efek make-up.

Courtesy of The United Team of Art, 2018

Karakter ibu Ahok yang diperankan oleh Eriska Rein dan Sita Nursanti dalam dua bagian itupun cukup cemerlang sebagai seorang ibu yang mengalami konflik batin dan kegelisahaan akan kondisi keluarganya. Penampilan Daniel Mananta sebagai Ahok memang tidak bisa dipungkiri, terlihat agak dipaksakan dengan suara serak dan gayanya yang kelewat berlagak, memang sepertinya sulit menemukan aktor yang pas untuk peran sebagai Ahok.

Malah penampilan Eric Febrian sebagai Ahok belia, menarik atensi atas penampilan fisik, mimik wajah serta gayanya yang lebih mirip dan natural. Sedangkan beberapa karakter pendukung yang dimainkan oleh Donny Damara sebagai antagonis cukup signifikan akan penampilannya yang arogan, juga ada penampilan Ferry Salim sebagai Asun dan Jill Gladys sebagai adik Ahok, yakni Fifi Lety versi dewasa.

Courtesy of The United Team of Art, 2018

Film ini tentu saja unggul dalam sinematografi yang memperlihatkan keindahan panorama Belitung, seperti pantainya, terus juga hamparan dataran berwarna putih dengan genangan air besar (seperti danau) berwarna biru yang berada di pinggir jalan, atau sepanjang jalanan off-road yang di kanan-kirinya banyak pepohonan dan perkebunan, semuanya itu dikombinasikan dengan sorotan kamera yang dinamis sehingga memperlihatkan kemegahan landskap alam yang indah dalam beberapa sekuen tertentu.

Setting akan kondisi masyarakat Belitung di tahun 70’an juga terlihat menarik dan nostalgic seperti sebuah apotik yang dikelola oleh ibunya Ahok atau suasana dalam sebuah pasar tradisional, termasuk juga sebuah mobil 4-wheel drive merek Land Cruiser hijau yang melegenda itu.

Sineas Putrama Tuta saya rasa berhasil dalam mengarahkan film secara keseluruhan dengan solid dan menarik, oh ya dialog aksen Bangka Belitung yang berdialek Melayu itu, dicampur dengan bahasa Mandarin (untung ada teks terjemahannya) memang agak sulit untuk bisa langsung dicerna dalam sekejap, mengingat keseharian dan kebiasaan jika nonton film lokal dengan bahasa Indonesia umumnya.

Film A Man Called Ahok juga cocok untuk segmen keluarga, karena banyak nilai positif yang diambil, inspiratif serta bagaimana peran ayah dalam menjaga keluarga sekaligus mendidik anak-anaknya untuk open-minded, berjiwa besar, berbuat baik dengan menolong sesama tanpa pamrih, serta tentunya setia untuk berbangsa dan bernegara, seperti salah satu quote Kim Nam kepada Ahok : “Jangan pernah berhenti mencintai negeri ini, Hok”.

Score : 3 / 4 stars

A Man Called Ahok | 2018 | Drama, Biografi | Pemain: Daniel Mananta, Chew Kin Wah, Sita Nursanti, Denny Sumargo, Eriska Rein, Eric Febrian, Edward Akbar, Donny Damara, Ferry Salim, Jill Gladys | Sutradara: Putrama Tuta | Produser: Ilya Sigma, Emir Hakim, Reza Hidayat | Penulis: Berdasarkan buku “A Man Called Ahok” oleh Rudi Valinka. Naskah oleh Putrama Tuta, Ilya Sigma | Musik: Bembi Gusti, Aghi Narottama | Sinematografi: Yadi Sugandi | Distributor: The United Team of Art | Negara: Indonesia | Durasi: 102 Menit

Popular Posts