Snowden (2016) : Pengintaian dan Paranoia

snowdenfilm.com (Courtesy of Open Road Films, 2016)
Note :
Tulisan saya ini pernah dimuat di www.kompasiana.com (klik disini) di tanggal 24 Oktober 2016. Khususnya di blog ini, saya edit dengan sedikit penambahan prakata dan review film. 

Pengintaian yang berakibat paranoia, atau paranoia yang disebabkan oleh pengintaian? Adalah dua hal yang saling melengkapi satu sama lain dan tidak dapat dihindari, jika kita membicarakan konspirasi politik dalam pemerintahan. Selalu ada pihak yang merasa menjadi korban dan pihak yang menyangkal. Di satu sisi dianggap pahlawan, sementara di sisi lainnya dianggap kriminal.  

Film yang berdasarkan kejadian nyata yang terungkap tiga tahun silam, merupakan skandal, guncangan besar, sekaligus pukulan telak bagi Amerika Serikat untuk kesekian kalinya. Sejak berakhirnya Perang Dunia II, masyarakat Amerika berharap kepada kehidupan modern yang lebih baik seiring dengan ideologi negara yang mengedepankan demorasi liberal, sesuai impian dan harapan masa depan. Utopia publik akan kedamaian, kesejahteraan, kemakmuran, keamanan dan kenyamanan tampaknya akan menjadi kenyataan. 

Namun sejarah berkata lain, peristiwa Perang Dingin dengan Uni Soviet (kini Rusia), Perang Korea, Krisis Misil Kuba, Perang Vietnam, Pembunuhan JFK, Skandal Pentagon Papers, Skandal Watergate9/11, Perang di Afganistan, Irak dan Suriah, Wikileaks hingga pemboman serta penembakan massal yang kini gencar terjadi di ‘tanah impian’, lagi-lagi membuat rakyat Amerika berada dalam ketidakpastian gejolak politik.  Apa yang sebenarnya terjadi? Lagi-lagi konspirasi? Siapa yang salah?

Review Film

Film yang diangkat berdasarkan buku The Snowden Files: The Inside Story of The World's Most Wanted Man oleh Luke Harding, fokus pada perjalanan Edward Snowden, dari seorang prajurit, beralih profesi menjadi ahli komputer intelijen C.I.A. dan N.S.A., hingga akhirnya memutuskan keluar dan membocorkan dokumen rahasia kepada publik, melalui beberapa media ternama.

Dengan plot non-linear yang berpindah mundur-maju dari tahun 2013, intinya terbagi dalam beberapa bagian: dimulai dari tahun 2004 pada saat Snowden menjadi tentara;  pada saat Snowden aktif di C.I.A yakni training dan bertugas di Swiss dan mengundurkan diri; aktif di N.S.A dan bertugas di Jepang; balik lagi ke Amerika; dan aktif lagi di C.I.A dan bertugas di Hawaii. 

Pengaturan plot tersebut dibuat seakan-akan bergaya semi-dokumenter dan ditambah unsur dramatisasi yang tidak berlebihan. Satu hal yang tampaknya cukup ditonjolkan secara manusiawi yakni hubungan emosional antara Snowden dengan kekasihnya, Lindsay Mills, yang mengalami gejolak dan pasang-surut. Bagaimana seorang Snowden yang memiliki bakat jenius dalam bidang komputer sekaligus memiliki tanggung jawab besar sebagai patriot negara, harus berhadapan dengan kehidupan pribadi yang membutuhkan privasi dan ekspresi individu.

Akting Joseph Gordon-Levitt berhasil dalam meniru gaya dan mimik tokoh utama, terutama nada bicara yang khas. Selain itu, yang menarik perhatian adalah akting karismatik dari aktor watak, Rhys Ifans sebagai superior Snowden di C.I.A, sebagai figur karismatik misterius, bijak sekaligus mengancam. Salah satu adegan cukup menegangkan, yakni pada saat ia 'mengancam' Snowden lewat videocall di suatu ruang meeting. Secara keseluruhan, film ini merealisasikan sebuah dokumenter yang dibungkus oleh drama, baik dari perjalanan karir Snowden, percintaan dengan kekasihnya hingga berbagai tekanan, konflik dan pergumulan batin antara pekerjaan, kehidupan pribadinya serta perbuatan benar atau salah. 

Mulai dari pertemuan Snowden dengan Lindsay Mills dengan sedikit drama romantis, intrik mulai tumbuh dalam lingkungan pekerjaannya, perlahan namun pasti. Puncaknya adalah ketika Snowden sedang mengunduh file-file rahasia yang akan diekspos kepada media di tengah-tengah hiruk-pikuk kantor dan was-was terhadap supervisornya yang sedang menuju ke ruangannya, dan pada saat itu juga sebuah memory card jatuh ke lantai, tepat sesudah dia mengunduh file. Juga adegan Snowden diwawancarai oleh media di kamar hotel, lantaran membocorkan rahasia negara. Adegan paranoid dibangun secara natural, jika ada orang yang memata-matai atau mendobrak pintu kamar hotel.  

Saya rasa tidak ada yang spesial untuk efek kamera atau sinematografi, hanya untuk adegan penutup saja, yang langsung mentransformasikan pada saat adegan Snowden yang diperankan Joseph Gordon-Levitt di kamar hotel kepada Edward Snowden yang sesungguhnya, yang diambil dari clip film dokumenternya Snowden, cukup menyentuh. Bagi penikmat film politik atau conspiracy thriller, film ini tidak menawarkan suatu kejutan akan eksplorasi atau penemuan suatu konspirasi nyata, toh bagaimanapun juga film ini berdasarkan kejadian sesungguhnya.

Refleksi Film

Bagi seorang whistleblower seperti Snowden, tentu memiliki tujuan khusus terkait pembocoran dokumen rahasia tersebut yang tergerak oleh hati nurani nya. Ia ingin publik Amerika khususnya dan dunia umumnya mengetahui, bahwa selama ini pemerintah Amerika Serikat selalu mengawasi dan memata-matai seluruh kegiatan internet warga sipil di seluruh perangkat seperti telepon seluler dan komputer, baik berupa e-mail, media sosial dan lainnya, dalam bentuk percakapan telepon, surat elektronik, chatting hingga sosialisasi. 

Boleh dikatakan bahwa pesan yang ingin ia sampaikan yakni ketika privasi seseorang sebagai mahluk sosial dalam era teknologi digital untuk berekpresi dan berinteraksi, diusik oleh pemerintah. Peran pemerintah dalam menguntit dan mengintai account seseorang yang dicurigai sebagai ‘musuh’ negara, dapat menimbulkan paranoia publik. Setiap gerak dan langkah yang kita lakukan di dunia ini, dapat dengan mudah diketahui oleh pemerintah. 

Apa yang telah dilakukan oleh Snowden, memberi pelajaran kepada kita semua akan penggunaan teknologi dalam bersosialisasi dengan siapapun, agar lebih bijak dalam bertindak. Film yang diarahkan oleh Oliver Stone, tampaknya ingin menekankan pada dunia, bahwa ada konspirasi besar tersembunyi di dalam pemerintahan dan musuh sebenarnya adalah bukan dari negara tertentu, namun para individu yang ingin menggulingkan pemerintahan. Perang secara fisik hanyalah opsi akhir dari perang cyber yang saat ini sedang berlangsung. 

Seperti yang diketahui, umumnya karya Oliver Stone memiliki tendensi ‘anti perang’ dengan mengeksploitasi sisi gelap manusia, seperti seorang tentara ‘gila’ dalam Platoon (1986), revolusi gerakan sayap kiri dalam Salvador (1986), kejahatan kapitalis dalam Wall Street (1987), konspirasi pembunuhan presiden dalam JFK (1991), sepasang pembunuh berantai akibat trauma masa kecil dalam Natural Born Killers (1994), serta sosok kontroversial Aleksander Agung dalam Alexander (2004) atau Presiden W. Bush dalam W (2008).  

Pengintaian bukanlah barang baru di dunia perfilman, sebut saja THX 1138 (1971), The Conversation (1974), Ninenteen Eighty-Four (1984), Brazil (1985), Sneakers (1992), The Net (1995), Enemy of the State (1998), Antitrust (2001), Minority Report (2001), V for Vendetta (2006) atau Eagle Eye (2008). Mungkin jaman dulu, sebelum teknologi ‘merasuki’ umat manusia, bahwa orang yang percaya akan eksistensi Tuhan, meyakini bahwa Tuhan lah yang tahu persis segala pemikiran dan tindakan manusia setiap saat. 

Namun kini, antar manusia dapat melakukannya, kecuali mungkin dalam hal membaca pikiran. Pengintaian terjadi jika ada sesuatu yang mencurigakan dan berpotensi membahayakan keamanan massal, namun dalam implementasinya, terkadang disalahgunakan atau diselewengkan demi kepentingan ‘yang lain’. 

Pemerintah merupakan badan otoritas negara, yang memiliki hak dan kewajiban terhadap kepentingan publik, selain tentunya berperan dalam hubungan politik internasional. Poin yang diangkat dari film Snowden (2016), yakni di satu sisi, pemerintah melindungi warga sipil dari berbagai ancaman terhadap negara, namun di sisi lain atas nama keamanan negara sekaligus juga dapat menjadi ‘ancaman’ terhadap warga sipilnya sendiri. 

Sesuatu yang tidak bisa kita hakimi begitu saja, karena ada nilai positif dan negatif dalam kebijakan politik yang diusung pemerintah suatu negara. Jadi yang paranoid siapa? Rakyat terhadap pemerintah atau pemerintah terhadap rakyat?

Score : 3 / 4 stars

Snowden | 2016 | Biografi, Drama, Thriller, Politik  Pemain: Joseph Gordon-Levitt, Shailene Woodley, Melissa Leo, Zachary Quinto, Tom Wilkinson, Scott Eastwood, Logan Marshall-Green, Timothy Olyphant, Ben Schetzer, LaKeith Lee Stainfiled, Rhys Ifans, Nicholas Cage | Sutradara: Oliver Stone | Produser: Moritz Borman, Eric Kopeloff, Philip Schulz-Deyle, Fernando Sulichin | Naskah: Kieran Fitzgerald, Oliver Stone | Musik: Craig Amstrong | Sinematografi: Anthony Dod Mantle | Distributor: Open Road Films | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 134 Menit






Popular Posts