12 Angry Men (1957) : Mereka Marah karena Apa?

Courtesy of United Artists, 1957

Sudah cukup banyak orang Indonesia yang me-review dan merekomendasikan film ini, hingga akhirnya saya pun ‘gatal’ dan ingin ikut-ikutan komentar sedikit. Sekilas, saya menduga akan film jadul hitam-putih tentang persidangan, lebih spesifiknya … ya tentang juri, mengapa? 

Ya karena 12 (dua belas) adalah jumlah juri dalam persidangan. Dari judulnya pun, saya sekali lagi menduga akan kemarahan dua belas orang juri terhadap tersangka, yang mungkin membuat geram publik. Atau mungkin juga bakal hadir berbagai konflik diantara kedua belas orang juri dalam menentukan hasil akhir persidangan, maksudnya film tersebut fokus di adegan persidangan.

Dari semua dugaan dalam benak saya, ternyata sebagian benar adanya … namun, sebagian besar tidak! Saya pribadi memberikan apresiasi kepada para reviewer, karena film lawas nan semi-purba tersebut, terlebih dengan format hitam-putih, dan dengan genre drama persidangan yang pastinya tidak menghadirkan apa-apa selain dialog, adalah sesuatu yang langka di Indonesia. 

Setelah saya browsing di internet, memang tak heran jika film tersebut memiliki rating tinggi –terutama 100% dari rottentomateos.com- dari para top kritikus. Dan hal lainnya, jujur saya tidak menyukai film dengan format hitam-putih. Ini adalah film hitam-putih ke-5 yang saya tonton setelah Casablanca (1942), Citizen Kane (1941), Raging Bull (1980) dan Schindler’s List (1993). Film Gone with the Wind (1939) yang membosankan pun, saya tonton dengan format restorasi warna (colours).

Pertama saya putar film tersebut, adegan awal memperlihatkan situasi dan dialog di sebuah persidangan. Dari beberapa dialog mengutarakan akan kasus pembunuhan seorang anak remaja yang menjadi tersangka, setelah ia membunuh ayahnya. Lalu kamera beralih ke dalam suatu ruangan yang terdiri dari satu meja panjang dan besar, dikelilingi oleh banyak kursi. Tidak lama kemudian, satu-persatu datanglah kedua belas orang tersebut, yang tak lain adalah para juri. 

Artinya, persidangan telah dilakukan, dan kini sedang rehat untuk memutuskan tersangka bersalah atau tidak. Nah, disitulah perjalanan dimulai! Awal mulanya, kedua belas orang juri yang tak kenal satu sama lainnya, berbincang-bincang satu sama lain, sebelum mereka mengadakan rapat untuk keputusan sidang. Dan, rapat pun dibuka dengan pengumpulan suara terbanyak diantara mereka. Sebelas orang menentukan tersangka bersalah … namun hanya satu orang yang menyuarakan tidak bersalah.

Seperti biasa, kesebelas juri tersebut menanyakan alasannya. Sebut saja Juri 8, yang beragumen bahwa tersangka tidak bersalah. Juri 8 lalu mengemukakan berbagai alasan dengan adanya berbagai kemungkinan, dan ia yakin bahwa tersangka kemungkinan tidak bersalah. Dan semenjak itu, berbagai dialog yang mengalir pun dimulai. Tentunya berbagai intrik akan perbedaan dugaan, opini, logika, hipotesa, dan argumen tercampur aduk, semuanya mengalir begitu saja, berdasarkan berkas, alibi dan berbagai pernyataan dari pengacara, jaksa serta saksi di persidangan. 

Puncaknya adalah ketika berbagai konflik terjadi diantara mereka yang berkali-kali mengadakan voting untuk penentuan keputusan, hingga terjadilah suara yang berimbang antara keputusan ‘bersalah’ dan ‘tidak bersalah’ terhadap tersangka. Hmmm … cukup menarik bukan? Lalu bagaimana kelanjutannya? Apakah mereka akhirnya berhasil menentukan suara terbanyak? Apakah tersangka akhirnya menjadi terdakwa? Kita lihat saja … hehehe.

impawards.com

Baru kali ini saya menonton sebuah film yang sangat lawas, dengan format hitam-putih, dijejali dengan dialog sepanjang film, begitu menarik perhatian. Benar kata reviewers, film tersebut tidaklah membosankan! Malah sangat menarik dan ‘seru’, bukan seru dar-der-dor yaaa. 

Tak heran, sang sutradara Sidney Lumet adalah salah satu sineas terbaik, yang melahirkan film-film berkualitas semacam Serpico (1973), Murder on the Orient Express (1974), Network (1976), Power (1986) atau Before Devil Knows You’re Dead (2007). Ternyata, film 12 Angry Men benar-benar mengajak kita untuk hadir di dalam satu ruang meeting, berkumpul dengan kedua belas juri tersebut, selama 1,5 jam hanya untuk menentukan bersalah atau tidaknya seorang tersangka pembunuhan. 

Yang artinya, kepiawaian seorang Sidney Lumet dalam mengarahkan semua kru, membuat kita menjadi juri yang ‘ke-13’. Kalau kata orang, film tersebut memiliki setting real time, artinya seperti kita menghadiri rapat di dalam film itu. Tidak ada adegan lain dalam ruang dan waktu yang berbeda, semuanya mengalir seperti dalam kehidupan nyata pada saat itu juga!

Yang menarik, tentunya sederetan aktor legendaris di masa nya yang mengisi berbagai karakter yang berbeda satu sama lainnya. Ada yang hanya saling kenal saja, ada jalinan pertemanan atau keakraban, ada kebencian dan perselisihan, ada pula simpati dan antipati. Saya penyuka film lawas, namun saya pun tidak begitu kenal mereka. 

Dalam benak saya, hanya aktor legendaris seperti Henry Fonda –saya teringat Jane Fonda, Bridget Fonda dan Peter Fonda- sebagai pemeran protagonis, dan aktor seperti Martin Balsam yang kala itu masih muda … hahaha, saya jadi aneh sendiri ya, mengingat saya gemar nonton film-film lawas. Dan ada satu aktor yang tidak begitu saya kenal, yakni Lee J. Cobb yang berperan sebagai Juri 3 yang terkesan ‘arogan’, keras kepala dan boleh dibilang antagonis, dia selalu bertentangan dengan Juri 8. 

Lalu ada pula dengan hebatnya, deretan aktor yang memerankan berbagai karakter juri yang unik. Ada yang menyebalkan, ada yang bijak, ada yang tukang ngocol dan acuh tak acuh, ada yang cupu, ada yang jaga image, ada yang selalu bimbang alias galau, ada yang sopan, ada yang kaku, ada yang pasif, ada yang over-reactive, dan lain sebagainya. Pokoknya lengkap semuanya, bersatu sekaligus berselisih paham dalam menentukan sebuah keputusan dalam waktu yang terbatas!

Dialog yang dibangun pun di awal adegan, begitu natural dan apa adanya, seperti halnya kita dengan beberapa orang yang baru kita kenal, baik ngobrol sana-sini atau berkenalan satu sama lain, meski sebagian ada yang cuek dan ada yang egois atau ada yang menutup diri. Dialog mulai serius pada saat Juri 8 pertama kalinya menyuarakan ‘tidak bersalah’ dan bersikukuh meyakinkan juri lainnya dengan berbagai argumen cerdas ala seorang detektif. 

Seingat saya, ada suatu kalimat yang tadinya dipakai oleh Juri 3 untuk menyerang Juri 8, yang akhirnya menjadi senjata makan tuan … sungguh telak bagaikan skakmat di permainan catur! Disitulah saya tertawa keras. Mungkin adegan tersebut adalah puncak konflik dari perseteruan mereka berdua.   

Akting prima mereka tidak perlu diragukan lagi. Semuanya wajar, tanpa ada dramatisasi adegan atau hal-hal berlebihan lainnya. Pengambilan sudut kamera yang diperkuat oleh nuansa hitam-putih, yang menggambarkan cuaca panas di dalam satu ruangan tanpa AC pun, menambah kerunyaman dan ‘panas’ nya intrik diantara mereka semua. 

Hingga akhirnya turun hujan, suasana berubah tiba-tiba meredakan konflik, suasana agak melankolis di tengah kegelisahan dan keputusasaan dalam pengambilan keputusan. Sesuatu yang buntu? Mungkin saja sengaja dibaut skenario seperti itu, untuk menghadirkan jeda dari berbagai konflik yang berkepanjangan. Dan mulai disitulah, mereka secara tidak langsung mulai lebih mengenal karakteristik dan kepribadian satu sama lainnya.

Bagaimana dengan musik? Oh No! Saya tidak pernah menyadarinya, apakah ada yang signifikan dengan musik dalam film tersebut. Maaf, mungkin saya tuli, namun saya terhanyut dalam dunia ‘nyata’ mereka.

Hmmm … apa lagi yang bisa review? Mungkin cukup sampai disini, jika anda minat, langsung coba nikmati. Wajar saja nilai 100% di rottentomatoes.com pantas diberikan. Recommended? Indeed! Bagi pelahap film dengan genre apapun seperti saya, you just seat, relax and enjoy the movie … mungkin suatu saat, saya bakal tonton lagi film ini.

Score : 4 / 4 stars

12 Angry Men | 1957 | Drama, Thriller, Pengadilan | Pemain: Henry Fonda, Lee J. Cobb, Ed Begley, E.G. Marshall, Jack Warden, Martin Balsam  | Sutradara: Sidney Lumet | Produser:  Henry Fonda, Reginald Rose | Penulis: Reginald Rose | Musik: Kenyon Hopkins | Sinematografi: Boris Kaufman | Distributor: United Artists | Negara:  Amerika Serikat | Durasi: 96 Menit 


Baca Juga : The Taking of Pelham One Two Three (1974) : Tidak Sekadar Bajak Kereta | Head to Head : Film Murder on the Orient Express 1974 dan 2017 | The Washington Post vs Nixon dalam Empat Film

Popular Posts