12 Angry Men (1957) : Mereka Marah karena Apa?

United Artist

Sudah cukup banyak pengulas merekomendasikan film ini. Sekilas, saya menduga akan film klasik membosankan berformat hitam-putih dengan judul 12 orang yang marah, lalu mereka marah karena apa?
12 (dua belas) adalah jumlah orang sebagai juri dalam persidangan. Dari judulnya pun, saya sekali lagi menduga akan kemarahan dua belas orang juri terhadap tersangka, yang mungkin membuat geram publik. Atau mungkin juga bakal hadir berbagai konflik diantara kedua belas orang juri dalam menentukan hasil akhir persidangan.

Dari semua dugaan dalam benak saya, ternyata sebagian benar adanya, namun sebagian besar tidak! Saya pribadi memberikan apresiasi kepada para pengulas film lokal untuk mengenalkan sekaligus mempopulerkan salah satu film terbaik bertemakan persidangan. Tidaklah heran jika film tersebut memiliki rating tertinggi dari para kritikus. 

Pertama kali saya tonton film 12 Angry Men, adegan awal memperlihatkan situasi dan dialog di dalam ruang persidangan. Dari beberapa dialog mengutarakan akan kasus pembunuhan seorang anak remaja yang menjadi tersangka, setelah ia membunuh ayahnya.

Lalu kamera beralih ke dalam suatu ruangan khusus yang terdiri dari satu meja panjang dan besar, dikelilingi oleh banyak kursi. Tidak lama kemudian, satu-persatu datanglah kedua belas orang tersebut, yang tak lain adalah para juri.

Artinya persidangan telah dilakukan, dan kini sedang rehat untuk memutuskan tersangka bersalah atau tidak. Nah, disitulah perjalanan dimulai! Awal mulanya, kedua belas orang juri yang tak kenal satu sama lain, mulai membuka obrolan santai, sebelum mereka mengadakan rapat untuk keputusan sidang.


United Artist

Maka, rapat pun dibuka dengan berbagai argumen hingga kepada pengumpulan suara terbanyak diantara mereka. Sebelas orang menentukan tersangka bersalah, namun hanya satu orang yang menyuarakan tidak bersalah.
 
FIlm 12 Angry Men fokus pada dialog antar dua belas karakter yang mengalir secara real time selama sekitar 1,5 jam. Dialog dibangun secara realistis terhadap berbagai argumen dan perdebatan, hingga menimbulkan intrik dan konflik satu-sama lain, karena adanya perbedaan opini, berdasarkan nalar dan logika.

Narasi yang berdasarkan kasus pembunuhan dengan menghadirkan alibi terdakwa dan beberapa orang saksi yang memberatkannya, diungkapkan secara detail melalui berbagai hipotesa dan analisis dari persepsi semua juri, hingga terjadilah serangkaian argumen spontan, perdebatan yang memicu emosi dan bahkan terkadang keluar jalur kearah personal.

Puncaknya, yakni ketika berbagai konflik terjadi diantara mereka yang beberapa kali mengadakan voting untuk penentuan keputusan, mengakibatkan berimbangnya suara terhadap keputusan "bersalah" dan "tidak bersalah" terhadap terdakwa.

Penulis skenario Reginald Rose, begitu piawai dalam memamndu emosi audiens untuk terus penasaran dan larut dalam keputusasaan kedua belas juri, sementara waktu terus berjalan untuk menekan sebuah keputusan bulat.

Kepiawaian Sidney Lumet dalam mentransfer skenario tersebut, sangat terasa akan atmosfir suasana riil, seakan mambawa saya atau audiens menjadi seorang pendengar yang hadir di dalam ruangan tersebut. Tidak ada adegan lain dalam ruang dan waktu yang berbeda.
 
Sederetan aktor legendaris di masanya, berperan masing-masing sebagai karakter unik satu sama lain. Ada yang hanya saling kenal saja, ada jalinan pertemanan atau keakraban selama rapat, ada kebencian dan perselisihan, ada pula yang bersimpati atau malah berantipati. 

United Artist
Aktor legendaris Henry Fonda sebagai Davis atau Juri No. 8 yang konsisten sejak awal menyatakan terdakwa tidak bersalah dan terus berusaha berpendirian teguh akan argumennya, lalu ada Martin Balsam sebagai Juri No. 1 alias pimpinan yang menjadi mediator dan berusaha netral.

Lalu aktor Lee J. Cobb sebagai Juri No. 3 yang terkesan arogan, keras kepala dan boleh dibilang antagonis yang selalu bertentangan dengan Davis. Sedangkan juri lain, beberapa diantaranya terlihat mengalami perubahan sikap dan keraguan untuk sebuah keputusan besar melalui voting terakhir. Ada yang terlihat pasif, galau, sopan dan lemah lembut, terlalu rasional, sensitif, tangguh, terlalu reaktif, cerdas hingga cerewet.

12 Angry Men yang merepresentasikan judulnya itu sendiri, disimbolkan dengan setting dan sudut pengambilan adegan, melalui format hitam-putih, yang menggambarkan hawa panas di dalam sebuah ruangan tanpa pendingin udara, sehingga mempermudah amarah yang meledak-ledak, terkait isu sensitif sebagai instrumen dari persoalan hukum yang dihadapi.

Hingga akhirnya turun hujan, suasana berubah tiba-tiba meredakan konflik diantara mereka yang sepertinya mulai mengarah kepada sebuah konklusi. Sungguh melankolis di tengah kegelisahan dan keputusasaan dalam pengambilan keputusan menjelang detik-detik terakhirnya. Secara tidak langsung, mereka akhirnya lebih mengenali karakteristik dan kepribadian satu sama lain.

Tanpa harus diiringi scoring yang dramatis, semua adegan dalam film ini sudah sangat emosional dan begitu dalam, melalui berbagai ekspresi dan dialog tajam.

Film 12 Angry Men akhirnya menjelaskan judulnya itu sendiri, atas pertanyaan: mereka marah karena apa. Narasi film ini tidak hanya bertutur mengenai bagaimana melucuti alibi terdakwa, melalui reka ulang dan argumen rasional semata. Film ini secara jelas mengangkat isu sosial sensitif dalam kultur lingkungan Amerika saat itu, dalam sudut pandang objektif dari kedua belas juri tersebut.

Film ini memang sangat direkomendasikan sebagai tontonan yang mempertanyakan keadilan di mata hukum, melalui opini objektif secara manusiawi.

Score : 4 / 4 stars

12 Angry Men | 1957 | Drama, Thriller, Pengadilan | Pemain: Henry Fonda, Lee J. Cobb, Ed Begley, E.G. Marshall, Jack Warden, Martin Balsam | Sutradara: Sidney Lumet | Produser: Henry Fonda, Reginald Rose | Penulis: Reginald Rose | Musik: Kenyon Hopkins | Sinematografi: Boris Kaufman | Distributor: United Artists | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 96 Menit

Comments