The Taking of Pelham One Two Three (1974) : Tidak Sekadar Bajak Kereta


Courtesy of United Artists, 1974

Mungkin karena saya ‘alergi’ dengan yang namanya remake/re-boot/re-invision atau apalah istilahnya, saya melupakan versi filmnya di tahun 2009 yang dibintangi John Travolta dan Denzel Washington, meski disutradari oleh mendiang Tony Scott yang telah piawai menggarap film-film action sekalipun! Dan saya tekankan disini, bahwa saya tidak menyukai gaya kamera dengan kecepatan tinggi atau tiba-tiba dengan cepat di-zoom atau bergerak cepat dari satu titik ke titik lainnya, kurang lebih seperti itu.

Film orisinilnya, The Taking of Pelham One Two Three (1974) akhirnya menjawab rasa kepenasaran saya, dan berhasil menghibur saya dari menit awal hingga menit akhir! Garapan seorang sutradara yang tidak saya kenal, Joseph Sargent, dengan jajaran bintang legendaris -kalau boleh dibilang klasik- yakni mendiang Walter Matthau dan Robert Shaw. Dibanding remake-nya, saya rasa film ini lebih mengutamakan sisi drama kelam meski ada beberapa adegan laga, dan tentunya dibubuhi sedikit komedi, itu yang saya suka!

Film yang diadaptasi dari novel yang berjudul sama di tahun 1973 oleh John Godey tersebut, mengisahkan pembajakan kereta bawah tanah. Adalah Mr. Blue (Robert Shaw), Mr. Green (Martin Balsam), Mr. Grey (Hector Elizondo) dan Mr. Brown (Earl Hindman) yang masing-masing dari stasiun yang berbeda, menaiki kereta yang sama, yakni kereta Pelham One Two Three, di kota New York. Lantas pembajakan pun dimulai, Mr. Blue pimpinan komplotan, meminta uang tebusan kepada Walikota dan mengancam akan membunuh penumpang satu-persatu, jika tuntutannya tidak terpenuhi.

Di lain tempat, Lt. Lt. Zachary Garber (Walter Matthau), seorang Letnan Polisi Otoritas Transit, yang mengetahui pembajakan tersebut, berusaha mencegah dan memburu para pembajak kereta. Konflik dan berbagai ketegangan pun terjadi, terlebih kehadiran sang Walikota (Lee Wallace) yang terus dibujuk oleh wakilnya agar menyerahkan uang tebusan, demi menarik simpati publik dengan harapan dapat terpilih kembali untuk pencalonan selanjutnya. Lalu berhasilkah Garber meringkus para pembajak tersebut?

Film yang berdurasi lebih dari 100 menit tersebut memang berhasil ‘menyihir’ saya dengan berbagai pesona akting, dialog dan drama. Adapun untuk aksi laga dan background view disajikan cukup memukau. Menit demi menit tak terasa cepat berlalu, tanpa ada rasa kebosanan. Dikarenakan ini film ‘jadul’, maka saya puas menikmati adegan demi adegan yang dibuat secara natural, artinya tanpa ada pergerakan speed dan zoom kamera yang dinamis (seperti menonton film animasi atau membaca komik).

imdb.com

Sebelum saya menonton film ini, ada satu aktor veteran ternama dengan karakter kuat, yakni mendiang Robert Shaw. Shaw mulai dikenal lewat salah satu peran antagonisnya di film James Bond, From Russia With Love (1963), dan terkenal lewat film Jaws (1975). Lagi-lagi memerankan tokoh antagonis sebagai Mr. Blue di film ini, memiliki karisma kuat sebagai pimpinan pembajak kereta bawah tanah. Mr. Blue digambarkan kejam, namun masih memiliki sedikit nurani dan dispensasi, terutama ketika sedang bernegosiasi dengan otoritas. Mr. Blue juga cukup bijak dalam memimpin gerombolannya dan tidak bertindak dengan brutal kepada para sandera, yang tak lain adalah penumpang kereta bawah tanah.

Kontras dengan asistennya, Mr. Grey (Hector Elizondo) yang memiliki karakter begitu temperamen, kejam, brutal, tanpa basa-basi, sesuatu yang membuat Mr. Blue geram. Ada pula Mr. Green –yang diperankan oleh aktor watak, mendiang Martin Balsam- yang selalu grogi dan sepertinya ‘dipaksa’ untuk bergabung dalam pembajakan tersebut. Mr. Green boleh dibilang kalem namun tidaklah stabil dan sepertinya paranoid. Sedangkan karakter Mr. Brown boleh dibilang sebagai penggembira saja, karena tidak ditonjolkan.

Yang tak kalah menarik, jika kita lihat dari sisi protagonis … Nah! Kekuatan film ini tak pelak lagi, yakni diwarnai oleh berbagai karakter kuat, baik antagonis maupun protagonis. Merekalah yang menghidupkan film ini menjadi lebih drama, komedi dan humor, serta aksi laga. Pemeran protagonis utamanya, mendiang Walter Matthau sebagai Letnan Polisi Otoritas Transit, Zachary Garber, awalnya terlihat ‘cupu’ agak ‘kikuk’ dan sedikit ‘linglung’, apalagi jauh dari kata ‘wibawa’ terutama di adegan awal, pada saat ia harus menemani sejumlah media dari Jepang dalam tur nya di sebuah pusat kendali stasiun kereta. Namun tak disangka, berkat pengalaman dan insting nya, ia perlahan-lahan beraksi dalam memburu para pembajak kereta tersebut. Ia berhasil bertransformasi menjadi seseorang yang patut mendapat simpati dari penonton.

Ada pula karakter Frank Correll (yang diperankan oleh mendiang Dick O’Neill) sebagai kepala pusat kendali kereta, sebagai seseorang yang arogan dan keras kepala. Frank awalnya begitu dominan terhadap Zachary, namun akhirnya kondisi menjadi terbalik seiring berjalannya alur cerita. Ada pula karakter Letnan Polisi Rico Patrone (Jerry Stiller) yang mencairkan ketegangan film, dengan berbagai dialog humor dan akting komedi yang membuat kita tertawa lepas.   

Sedangkan di sisi lain, seorang Walikota New York, yang diperankan oleh Lee Wallace, memiliki karakter yang mirip dengan Zachary, namun lebih parah tentunya. Ia didominasi –lebih tepatnya, berbagai keputusannya dipengaruhi- oleh Warren LaSalle (Tony Roberts). Peran Warren yang karismatik begitu dominan dan meyakinkan.

Tidak seperti remake-nya, film ini dikarenakan juga belum mengenal CGI di jamannya, sangat bisa dinikmati adegan per adegan. Kota New York yang divisualisasikan dengan suasana stasiun bawah tanah (subway station) hingga berbagai adegan di dalam kereta, semuanya diatur dengan pas. Seperti film-film di era 70an, film ini jelas tidak berlebihan dalam pengaturan pergerakan kamera dan aksi laga yang berlebihan.

The Taking of Pelham One Two Three berhasil mendapat nominasi di ajang BAFTA Awards dan Writers Guild of America Award. Dan hebatnya, mendapat angka 100% di rottentomatoes. Saya yakin, angka tertinggi itu akibat dari segi akting yang menghidupkan berbagai karakter jempolan. Untuk urusan plot, aksi laga, sinematografi, sound atau yang lainnya, menurut saya tidak terlalu spesial.

Jelas menurut saya, film ini tidak bisa dibandingkan dengan –lagi-lagi- versi remake-nya, bahkan saya melupakannya, karena tidak ada yang berkesan, kecuali mungkin sedikit dari memori saya mengenai akting dari John Travolta. Maka film ini sangat direkomendasikan sebagai tontonan yang sangat menghibur dari campuran antara genre drama, thriller, sedikit aksi laga dan humor segar.

 Score : 4 / 4 stars

The Taking of Pelham One Two Three | 1974 | Drama, Aksi Laga, Thriller | Pemain: Walter Matthau, Robert Shaw, Martin Balsam, Hector Elizondo | Sutradara: Joseph Sargent | Produser:  Edgar J. Scherick | Penulis: Novel The Taking of Pelham One Two Three oleh John Godey | Musik: David Shire | Sinematografi: Owen Roizman | Distributor: United Artists | Negara:  Amerika Serikat | Durasi: 104 Menit 


Baca juga : 12 Angry Men (1957) : Mereka Marah Karena Apa? | Head to Head : Film Murder on the Orient Express 1974 dan 2017 | The Washington Post vs Nixon dalam Empat Film



Popular Posts