The Warriors (1979) : Fitnah, Solidaritas dan Eksistensi Jati Diri


Courtesy of Paramount Pictures, 1979

Can you count, suckers?” … “I say the future is ours … if you can count

atau

Can you dig it?” … “Caan youu dig it??” … “Caaan youuu dig it???”

Itulah sepenggal kata-kata dari pidato karismatik Cyrus, seorang pemimpin geng Riffs yang paling berpengaruh di kota New York. Beberapa kalimat lengkapnya ada di awal cerita film cult classic tentang geng jalanan, yakni The Warriors (1979). Filmnya benar-benar menarik, keren, seru, mulai dari opening hingga ending credits, yang rasanya berdurasi hanya selama 1,5 jam sangatlah singkat dan tidak pernah puas.

Jarang banget ada yang nge-garap film berkualitas tentang geng jalanan. Film The Warriors adalah salah satu yang terbaik yang pernah ada. Film garapan spesialis film action, Walter Hill begitu dikagumi dan dikultuskan, bahkan dibuatkan permainan video game-nya yang terkenal di tahun 2005. Saya sendiri mengetahui filmnya dari promosi game-nya itu sendiri, lha gimana enggak? Dari posternya aja keren banget, apalagi title font-nya … must be a really ‘something’ !

Begitu saya tonton, pertama kali disuguhkan dengan beberapa dialog antar anggota geng The Warriors yang bermarkas di wilayah Coney Island, bagian dari kota New York. Sambil memunculkan opening credits, mereka sedang merencanakan pertemuan besar antar geng yang diinisiasi oleh Cyrus dan mereka akan berangkat menuju pertemuan tersebut di Van Cortlandt Park, di wilayah Bronx, kota New York dengan menggunakan kereta metro atau subway train.

Satu-persatu, geng The Warriors diperkenalkan lewat beberapa dialog tadi : Cleon (Dorsey Wright) sebagai pemimpin geng, Swan (Michael Beck) sebagai War Chief, sedangkan anggotanya adalah Ajax (James Remar), Snow (Brian Tyler), Cochise (David Harris), Cowboy (Tom McKitterick), Rembrandt (Marcelino Sanchéz), Vermin (Terry Michos) dan Fox (Thomas G. Waites).

Setelah opening credits selesai, adegan beralih kepada pertemuan besar geng seluruh kota, dengan Cyrus memulai pidatonya. Tujuan Cyrus adalah menyatukan seluruh geng dan berkolaborasi guna memperkuat kekuatan dari ‘ancaman’ para penegak hukum. Sementara, beberapa mobil polisi mulai berdatangan untuk menyergap, Luther (David Patrick Kelly) pemimpin geng Rogues, yang menyelundupkan sebuah pistol, menembak mati Cyrus di tengah kerumunan. Bersamaan dengan penggerebekan polisi, suasana pun menjadi kacau.

Dalm kondisi kacau itulah, Cleon difitnah oleh Luther, bahwa ia yang menembak Cyrus. Karenanya, geng Riffs langsung memukuli Cleon hingga mungkin tewas. Sedangkan personil The Warriors lainnya, sambil dikejar oleh Riffs, melarikan diri ke sebuah taman. The Warriors merencanakan untuk kembali menuju Coney Island, dengan menggunakan kereta metro. Di tengah situasi genting itupun, Swan dan Ajax juga sempat berargumentasi dalam memimpin geng.

Di saat yang bersamaan, pemimpin Riffs juga memerintahkan seluruh geng untuk memburu The Warriors yang menyebabkan tewasnya Cyrus, pesan terselubungnya disampaikan lewat radio. Awalnya The Warriors dikejar oleh geng Turnbull AC’s ketika mereka akan memasuki stasiun kereta metro, namun akhirnya selamat, meski di perhentian stasiun berikutnya, mereka dihentikan oleh insiden kebakaran.

Dengan terpaksa berjalan kaki, The Warriors sempat berkonfrontasi dengan geng Orphans, gara-gara dipicu oleh seorang gadis bernama Mercy (Deborah Van Valkenburgh) yang sempat menantang Swan dan akhirnya bergabung dengan The Warriors. Merekapun berlari menuju stasiun kereta terdekat, namun mereka dihadang polisi, sehingga terpencar. Sementara itu, Luther juga tak ketinggalan memburu The Warriors, untuk menghilangkan jejak kriminalnya … nah, disitulah keseruan yang sesungguhnya dimulai!

Courtesy of Paramount Pictures, 1979

Film ini diadaptasi dari novel dari judul yang sama. Cerita di novelnya mengekspos dari aspek reputasi, keluarga, seksualitas dan bertahan hidup. Tidak ada geng tertentu yang diposisikan sebagai antagonis, seperti geng Rogues di versi film. Di versi novel, cerita mengisahkan geng The Dominators (The Warriors di versi film) sebagai protagonis, dalam perjalanan menuju Coney Island, berseteru dengan beberapa geng, dengan menonjolkan sisi ‘kenjantanan’. 

Duet penulis David Shaber dan Walter Hill dalam memodifikasi cerita dari versi novel, patut diacungi jempol. Tema yang diusung yakni fitnah, solidaritas dalam geng, egoisme, pengakuan, bertahan hidup dan pencarian arah hidup serta pembuktian  jati diri. Sederhananya, perubahan terdapat pada nama-nama geng dan karakter, terutama geng The Warriors sebagai protagonis yang difitnah oleh geng antagonis Rogues dalam insiden penembakan Cyrus, pemimpin geng Riffs. Maka The Warriors pun melarikan diri ke kampung halamannya dari kejaran seluruh geng kota New York yang ‘termakan’ fitnah tersebut.

Masing-masing aktor/aktris, menghidupkan karakternya dengan brilian, sehingga satu-persatu karakternya begitu unik. Dimulai dari karakter geng The Warriors diperkenalkan di sepanjang cerita. Satu hal yang menjadi kekuatan sosio-kultural di film ini adalah gabungan dari semua ras yang ada, terutama di geng The Warriors, baik kulit putih, hitam, bahkan sepertinya Latin juga ada. Cleon, seorang Afro-America sekaligus sang pemimpin, hanya muncul di awal saja. Sementara tokoh sentralnya yakni Swan, seorang kulit putih sekaligus War Chief adalah seorang yang berkarismatik, tidak banyak omong dan memiliki nyali besar.

Saingan Swan, yakni Ajax adalah seorang yang gemar berkelahi, sok jago sekaligus kurang cerdas. Cochise mirip dengan Ajax, untuk hal perkelahian dan kejantanan. Cowboy yang selalu memakai topi fedora itu, orangnya kalem dan bersahabat, agak pemurung. Fox adalah yang paling pandai dan memiliki rasa keingintahuan yang besar. Rembrandt adalah yang paling muda, tukang semprot huruf “W” sebagai penanda geng di berbagai lokasi. Ia adalah orang yang paling baik dan selalu waspada. Snow orangnya mirip dengan Rembrandt, hanya ia lebih cerdik sebagai petarung. Dan yang terakhir adalah Vermin, seorang yang flamboyan dan rileks, sekaligus kurang cerdas.

impawards.com

Tidak ada yang melebihi karisma dari seorang Cyrus, yang berhasil membuat pesona ratusan geng kota New York, dalam sebuah pertemuan besar di awal cerita. Kalimat pidatonya yang membahana itulah, salah satunya adalah quote yang saya cantumkan di awal. Geng Riffs tampak ‘mengerikan’ dengan begitu banyak pasukan, ditambah dengan Masai adalah sosok yang misterius, sebagai pengganti Cyrus.

Banyak karakter dan sosok geng lainnya diperkenalkan di film ini, dengan ciri khas yang berlainan seperti Turnbull AC’s, Orphans, Baseball Furies, Lizzies, Punks, dan lain sebagainya. Yang menarik perhatian dan ikonik, tentunya adalah geng Baseball Furies, dengan mengenakan jersey baseball, wajah mereka juga di make-up ala grup rock band KISS! Dengan seringaian senyum sinis mereka, menambah kesan misterius sekaligus menakutkan.

Selain The Warriors yang identik dengan rompi kulit ala Suku Indian, geng Turnbull AC’s identik seperti Neo Nazi, dengan kepala pelontos-nya. Sedangkan geng Punks –yang mute alias tidak berbicara sepatah katapun- berciri khas menggunakan jeans overall, lengkap dengan sepatu roda-nya.

Namun geng antagonis Rogues-lah sebagai kunci penyebab kekacauan dalam cerita. Luther sebagai pemimpin Rogues, dengan karakter suaranya seperti wanita itu, memang pas dicap sebagai seorang berandal serta bajingan, tercermin dari sifat dan sikapnya.

Courtesy of Paramount Pictures, 1979

Hampir lupa ... karakter Mercy yang diperankan Deborah Van Valkenburgh, juga tak kalah menterengnya. Ia digambarkan sebagai seorang wanita yang bosan dengan kehidupan yang tidak memiliki sesuatu berarti, makaya ia menantang The Warriors sekaligus menantang dirinya sendiri guna bertualang mendapatkan sensasi baru.

Diantara semua film action garapannya, mungkin film ini adalah penggambaran yang paling tepat dari arahan Walter Hill dengan nuansa genre western yang kental. Selain tema dan alur cerita yang dipaparkan, adegan demi adegan yang berlangsung, divisualisasikan dengan sangat dinamis, estetis, serta elegan. Gaya Hill dalam menggarap film action serupa, diulanginya di kemudian hari lewat film Streets of Fire (1984).

Contohnya di beberapa adegan ketika The Warriors sedang berjalan di sebuah kawasan, tampak geng Orphans muncul satu-persatu dari balik atap gedung. Atau ketika The Warriors keluar dari stasiun subway, tiba-tiba dihadang oleh geng Baseball Furies, yang berada di tengah jalan raya yang sepi, dengan posisi melingkar, mengepung mereka. Hingga akhirnya Furies mengejar The Warriors hingga ke sebuah taman, dan perkelahian dimulai. Atau juga ketika The Warriors berada di stasiun subway, muncul geng Punks yang mengikutinya dari kejauhan. Yang paling cool adalah ketika The Warriors dengan kelelahan dan keputusasaan, berjalan beriringan dan dibuntuti oleh sebuah mobil yang dikendarai oleh Rogues.  

Berbagai sorotan kamera yang dilakukan sedemikian indah, sudut demi sudut, menghasilkan berbagai sekuen yang dinamis, menghibur, mengejutkan sekaligus mendebarkan. Berbagai adegan perkelahian pun sangat memukau. Saya salut sama koreografi yang dirancang, sepertinya memadukan gaya film musikal dengan realita adegan aksi yang brutal. Yang pasti, tidak ada disturbing graphic violence yang tidak pantas … semuanya diarahkan secara ciamik!

Courtesy of Paramount Pictures, 1979

Original score di film ini yang dikomposisikan oleh Barry De Vorzon, sepertinya menggunakan elemen music disco dan electronic. Uniknya, soundtrack film ini juga digambarkan dengan adegan seorang DJ Radio yang mengirimkan pesan dari geng Riffs kepada The Warriors, melalui lagu-lagunya yang ber-genre rock, blues, jazz, soul dan pop.

Sebuah film berstatus cult yang ikonik tentang petualangan geng jalanan di kota New York tersebut, begitu populer terutama di Amerika sana. Film yang sukses secara pendapatan dan kritik itupun bahkan hingga dibuatkan berbagai merchandise seperti komik, action figure, board game hingga video games. The Warriors adalah sebuah ‘warisan’ unik tentang potret akan kerasnya kehidupan gangster jalanan, apapun bisa terjadi tanpa terduga, sedangkan di sisi lain juga timbul dilema antara kekompakkan kelompok atau aksi egois untuk pembuktian sesuatu.

Jika memang remake-nya terealisasi, mungkin film ini bakal semakin populer di Indonesia, khususnya untuk generasi jaman NOW. Tapi balik lagi, apakah film remake-nya itu sendiri bisa bicara banyak? …entah. Yang pasti, film ini sangat direkomendasikan sebagai wujud estetis dari sub-culture yang terjadi dalam lingkup sosial masyarakat dimanapun. 

Score : 4 / 4 stars

The Warriors | 1979 | Aksi Laga, Petualangan, Thriller, Gangster | Pemain: Michael Beck, Deborah Van Valkenburgh, James Remar, Brian Tyler, David Harris, Tom McKitterick, Marcelino Sanchéz, Terry Michos, Dorsey Wright, Roger Hill, Thomas G. Waites, David Patrick Kelly | Sutradara: Walter Hill  |  Produser: Lawrence Gordon | Penulis: Berdasarkan Novel “The Warriors” oleh Sol Yurick. Ditulis ulang oleh David Shaber dan Walter Hill | Musik: Barry De Vorzon | Sinematografi: Andrew Lazlo | Distributor: Paramount Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 92 Menit


Baca juga : Crossroads (1986) : Penebusan di Persimpangan Jalan

Popular Posts