Horor Gaya Baru itu ada di Film "A Quiet Place"


Courtesy of Paramount Pictures, 2018

Akhirnya rekor review terpendek terpecahkan juga!

Setelah ulasan saya di film Happy Death Day (2017) yang fenomenal itu, kini film A Quiet Place (2018) juga tak mau kalah dalam memberikan nuansa horor yang beda alias eksklusif, dalam penyampaiannya. Jika Happy Death Day mengusung konsep time-loop atau déjà vu yang terus berulang, dengan mengkombinasikan beberapa genre, maka A Quiet Place menyuguhkan kisah standar, namun dengan keheningan bahkan kesunyian bisu hampir di sepanjang cerita.

Ide brilian dari Bryan Woods dan Scott Beck inilah yang berhasil mengangkat keunikan film dengan mengkombinasikan genre science fiction, thriller dan aroma horor. Adalah John Krasinski yang berhasil mengarahkan sekaligus membintangi film ini dengan cemerlang, yang sebelumnya ikut menulis naskah bersama kedua penulis yang saya sebut sebelumnya. Alhasil, A Quiet Place mencetak hits dengan pendapatan lebih dari US$ 320 juta (atas modal US$ 17 juta’an), serta mendapat banyak pujian dari kritikus.

Premis film ini sangatlah standar, mengenai pembantaian manusia secara global dan masal, oleh invasi mahluk asing tersebut yang membantai dengan mengandalkan indera pendengaran yang super sensitif, makanya suara sekecil apapun dari manusia, berakibat fatal.

Ceritanya, sebuah keluarga yang hidup di pinggir kota dan memiliki ladang jagung, terdiri dari Lee Abbott (John Krasinski) dan Evelyn Abbott (Emily Blunt), memiliki tiga orang anak yakni Regan (Millicent Simmonds), Marcus (Noah Jupe) dan Beau. Suatu hari, sebuah insiden mengakibatkan Beau dimangsa oleh mahluk asing, ketika ia diberi sepasang baterai oleh Regan, gara-gara ingin memainkan mainan pesawat.

Sealnjutnya, fokus cerita bergulir pada keluarga Abbott di kediaman mereka dekat lading jagung. Setting berada setahun kemudian dan Evelyn sedang hamil anak keempat. Lee masih terus berkontak dengan pihak lain melalui gelombang radio dan mencari solusi mencari titik kelemahan alien, sedang bereksperimen membuat alat bantu dengar untuk Regan.

Keesokan harinya, Lee mengajak Marcus untuk menangkap ikan di sungai. Sementara, Evelyn dan Regan berada di rumah. Namun sebuah insiden yang ditimbulkan oleh Evelyn, membuat mahluk asing tersebut memburunya …

impawards.com

Ide cerita mahluk asing yang mengandalkan kekuatan pendengaran tersebut, sehingga meneror manusia, adalah sesuatu yang berbeda. Akibatnya, manusia pun tidak bisa mengeluarkan bunyi sedikitpun, jika tidak maka akan fatal dan akan merenggut nyawa. Salah satu komunikasi mereka adalah dengan bahasa isyarat atau body language, bahkan merekapun tidak pernah memakai alas kaki … padahal bagaimana kalo terinjak dedaunan kering atau ranting kecil? Padahal rumah mereka bukan di tengah kota.

Film yang memiliki pace lambat ini (very slow down), dibuka dengan adegan di sebuah toko atau seperti supermarket yang tampaknya telah porak-poranda. Beberapa orang tampak berjalan wara-wiri, namun tidak ada suara sama sekali, dan ternyata mereka tidak memakai alas kaki! Saya kira, sekuen ini –dengan permainan kombinasi cahaya gelap dan terang, serta permainan siluet-  sebagai pembuka ketegangan akan aksi sang antagonis dalam memakan korban jiwa … biasanya kan film horor seperti itu. Ternyata bukan, ternyata mereka sekeluarga sedang ‘menjarah’ barang di supermarket yang tak berpenghuni.

Lalu terjadilah komunikasi dengan memakai bahasa isyarat. Saya pikir, anak mereka yang paling kecil, tidak dapat bicara … ternyata film ini berhasil menjelaskan kepada audiens secara bertahap dari satu sekuens ke sekuens lainnya, ada apa gerangan, tanpa harus memakai teks deskripsi tentang, misalnya “bumi diserang oleh mahluk asing yang peka terhadap suara … bla … bla … bla …”. Biasanya teks tersebut berada di awal-awal cerita film.

Tapi memang film ini harus memakai teks untuk dialog, mengingat diatas 95% mereka memakai bahasa isyarat dan gerak tubuh, karena saya tidak mengerti. Bisa dibayangkan, hidup bertahun-tahun tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, apa ada efeknya gitu?

Kekuatan film ini, selain menyajikan storytelling dengan akting –hampir- tanpa dialog, juga diperlihatkan beberapa detail, seperti pada saat keluarga Abbott sedang makan, mereka sama sekali tidak menggunakan peralatan makan modern atau ketika Lee dan Evelyn berdansa sambil mendengarkan musik dengan menggunakan earphone.

Namun ada beberapa hal yang dirasa janggal, ketika adegan Evelyn kakinya tertancap paku yang cukup dalam –ngilu- tapi ia masih sanggup menahan teriakan, dengan gerak tubuh yang masih tenang, meskipun ia tampak kesakitan luar biasa … bayangkan, ia seorang ibu rumah tangga, bukan prajurit! Atau ketika Evelyn melahirkan, suara tangis bayinya ‘kemana’? Harusnya mengeluarkan suara nyaring, begitu pula ketika ia berusaha menyelamatkan bayinya dari gangguan alien tersebut … mungkin kebetulan saja pas bayinya sedang tenang!

Beberapa adegan dalam momen puncak ketegangan pun dibangun secara utuh, cukup kreatif, serta bergaya old school horror, seperti di film Alien (1979) atau Halloween (1978). Kehadiran mahluk asing yang cukup menyeramkan tersebut, cukup baik dan unik akan visualisasi bentuknya. Seperti campuran antara mahluk Alien, Venom (musuhnya Spider-Man), Spawn dan lain sebagainya, meski dirasa semuanya full animasi ala CGI itu.

Well, tidak banyak yang saya bahas di film ini, saya hanya menikmati gaya baru dari science fiction horror ini, yang secara tak langsung seperti membangkitkan kembali atau malah terinspirasi dari film-filmnya M. Night Shyamalan, yang mengingatkan saya akan film Signs (2002). Dan seperti biasa, kesuksesan film ini akan berlanjut dari pengembangan cerita yang masih membuat penasaran itu.

A Quiet Place direkomendasikan untuk dinikmati, meski tidak sehebat film-film klasik yang sempat saya singgung sebelumnya, A Quiet Worth to be Watched

Score : 3 / 4 stars

A Quiet Place | 2018 | Drama, Fiksi Ilmiah, Horor, Thriller, Misteri Pemain: Emily Blunt, John Krasinski, Millicent Simmonds, Noah Jupe  | Sutradara: John Krasinski  |  Produser: Michael Bay, Andrew Form, Brad Fuller | Penulis: Bryan Woods, Scott Beck | Musik: Marco Beltrami | Sinematografi: Charlotte Bruus Christensen | Distributor: Paramount Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 90 Menit


Popular Posts