Eastrail 177 Trilogy : Unbreakable, Split, Glass

Courtesy of Buena Vista Pictures, Universal Pictures, 2000, 2016, 2019

The Sixth Sense (1999) merupakan awal dari ciri khas sineas M. Night Shyamalan akan film-film suspense thriller dengan twist ending mencengangkan. Hal itu juga berlaku dalam film Unbreakable yang masih diperankan Bruce Willis yang kali ini didampingi Samuel L. Jackson, keduanya pernah bekerjasama di film Die Hard with a Vengeance (1995). Mengambil tema superhero, film Unbreakable sukses secara komersil dan disambut baik para kritikus, serta berstatus cult.

Adalah film Split (2016) dan Glass (2019) merupakan dua sekuel lanjutannya. Khusus film Split yang dibintangi James McAvoy itu, lebih cenderung mengambil tema horor psikologi. Sedangkan Glass merupakan film terakhir yang menggabungkan tiga karakter utamanya, sehingga ketiga film itu terangkai dalam “Eastrail 177 Trilogy”.

Mungkin ulasan ini mengandung sedikit spoiler di kedua film awal, namun saya usahakan sebaik mungkin untuk mencegah celah kebocoran tersebut.


Unbreakable (2000)
Courtesy of Buena Vista Pictures, 2000

Elijah Prince yang dijuluki “Mr. Glass” (Samuel L. Jackson) dilahirkan dalam keadaan tulang yang rapuh, sehingga semasa kanak-kanak, ia diberikan komik superhero oleh ibunya, setiap ia memberanikan diri keluar rumah. Sementara, David Dunn (Bruce Willis) selamat tanpa luka sedikitpun dari sebuah kecelakaan kereta yang menewaskan semua penumpangnya. Tak lama berselang, David menerima sebuah pesan berbentuk kartu, yang mengantarkan ia menuju kepada Elijah yang kini memiliki galeri komik.

Elijah menganggap David memiliki kemampuan super, namun David malah menganggap Elijah tidak waras dan mengada-ngada. Namun seiring dengan kekuatan besar yang tak ia sadari, membuat David mempertanyakan eksistensi dan jati dirinya, mengapa ia bisa memiliki kemampuan super.

Sebuah premis unik dan berbeda dari kebanyakan film superhero lainnya, mengingatkan saya akan film Watchmen (2009). Keraguan jati diri, ketidaksadaran, konflik batin, penyangkalan diri, kebohongan, usaha perbaikan hubungan keluarga, merupakan aspek yang ditonjolkan dalam film ini yang dipaparkan dengan solid.

Namun ada satu kekurangan yang masih saya pertanyakan di akhir cerita, sebenarnya apa tujuan akhir yang ingin dicapai dari pencarian tersebut, maksudnya untuk apa? Hal tersebut terasa begitu menganggu dan menggantung, tanpa ada penjelasan lebih lanjut.

Dengan menggunakan alur yang lambat dari awal hingga akhir, film bertemakan hal spesifik ini terasa sedikit jenuh dan mengganggu, tanpa diselingi sebuah aksi layaknya superhero, benar-benar murni drama thriller. Hanya ada satu adegan aksi yang dilancarkan oleh David, itupun cenderung kurang berkesan. Meskipun demikian, berbagai elemen yang mengejutkan selalu hadir ‘mengganggu’ adrenalin saya dengan hal-hal mengejutkan.

Penyajian berbagai sekuen seperti permainan sudut kamera dalam sebuah setting, mampu menutupi kejenuhan akan adegan per adegan yang dilakukan dengan lamban. Scoring minim ala James Newton Howard pun turut andil dalam meresapi lebih jauh terhadap semua adegan yang terasa lebih real, serta dialog yang lebih natural.

Sama halnya dalam The Sixth Sense, akting Bruce Willis sama bagusnya dalam membawakan karakter David Dunn yang terasa frustasi dan kesulitan dalam pembuktian diri terhadap keluarganya itu. Penampilan Samuel L. Jackson sudah tidak diragukan lagi karismanya di film ini.

Unbreakable | 2000 | Drama, Misteri, Superhero | Score: 2.5 / 4 stars | Pemain: Bruce Willis, Samuel L. Jackson, Robin Wright Penn, Spencer Treat Clark, Charlayene Woodward Sutradara: M. Night Shyamalan  | Produser: Barry Mendell, Sam Mercer, M. Night Shyamalan | Penulis: M. Night Shyamalan | Musik: James Newton Howard | Sinematografi: Eduardo Serra | Distributor: Buena Vista Pictures Negara: Amerika Serikat | Durasi: 106 Menit


Split (2016)
Courtesy of Universal Pictures, 2016

Kevin Wendell Crumb (James McAvoy) adalah seorang pasien yang mengalami gangguan jiwa yang memiliki 23 kepribadian di dalam dirinya. Ia dengan rutin selalu berkonsultasi dengan psikiaternya, Dr. Fletcher (Betty Buckley). Pada suatu ketika, Kevin menculik ketiga gadis remaja termasuk Casey (Anya Taylor-Joy) yang memiliki masa kecil kelam.

Saat Casey dan kedua temannya berusaha melarikan diri, Dr. Fletcher mengetahui bahwa ada satu lagi karakter yang ke-24 sekaligus paling berbahaya di dalam diri Kevin, sehingga akan mengancam siapapun yang berinteraksi dengannya.

Film Split menceritakan sebuah kisah klise tentang multi kepribadian seorang psikopat, dalam aksinya menculik dan mendekap ketiga gadis remaja dengan tujuan yang sepertinya tidak jelas, mengingat karakter Kevin memang tidak waras. Namun melalui film inilah bukti kemampuan Shyamalan untuk kembali menangani suspens/horor thriller yang menjadi spesialisasinya, boleh dikatakan sejak film Signs (2002).

Dengan gaya penyajian yang lambat, diselingi plot non-linear mengenai masa kecil Casey secara bergantian, sejujurnya tidak ada yang diistimewakan sejak awal hingga akhir cerita itu sendiri. Kurangnya greget akan rasa penasaran yang tinggi, ditunjang dengan setting lokasi yang kurang manipulatif, serta minimnya mega-twist yang menggedor pikiran saya, menyebabkan film ini terasa seperti film-film psycho thriller umumnya.

Namun berkat penampilan brilian nan jenius dari James McAvoy, memberikan catatan tersendiri akan sebuah energi yang ia hadirkan dengan begitu megah sekaligus mengancam. Kekuatan akting dan dialog, serta lagi-lagi sorotan kamera unik yang dimainkan, turut membantu menjaga kestabilan mood hingga di akhir film. Beberapa adegan yang sedikit gory pun diperlihatkan, sebuah inovasi dari film-filmnya Shyamalan terdahulu yang biasanya bersih dari hal itu.

Film Split adalah sebuah karya standar Shyamalan yang cukup baik dalam menghadirkan tontonan menegangkan.
  
Split | 2016 | Horor, Psikologi, Thriller Score: 2.5 / 4 stars Pemain: James McAvoy, Anya Taylor-Joy, Betty Buckley Sutradara: M. Night Shyamalan  | Produser: M. Night Shyamalan, Jason Blum, Marc Bienstock | Penulis: M. Night Shyamalan | Musik: West Dylan Thordson | Sinematografi: Mike Gioulakis | Distributor: Universal Pictures Negara: Amerika Serikat | Durasi: 117 Menit


Glass (2019)
Courtesy of Universal Pictures,  2019

David (Bruce Willis) terlibat konfrontasi dengan Kevin (James McAvoy), hingga tiba-tiba mereka ditangkap oleh sekelompok polisi dan dijebloskan ke institusi penelitian kejiwaan yang dipimpin oleh Dr. Ellie (Sarah Paulson). Dr. Ellie meyakinkan David, Kevin dan Elijah (Samuel L. Jackson) yang juga pasien di tempat tersebut bahwa mereka sebenarnya mengidap gangguan kejiwaan dan tidak memiliki kekuatan super, sekaligus meyakinkannya kepada Joseph (Spencer Treat Clark), Casey (Anya Taylor-Joy) dan Mrs. Price (Charlayene Woodward).

Diam-diam Elijah memanfaatkan Kevin untuk melawan David, sekaligus melarikan diri dari institusi tersebut, sehingga terjadilah sebuah pertarungan yang tidak akan disangka.

Film Glass adalah seri ketiga dan terakhir, serta merupakan sebuah konklusi dari misteri kehidupan para ‘superhero’ dan ‘supervillain’, dengan menggabungkan karakter David, Elijah serta Kevin, yang sebenarnya audiens pun bertanya-tanya sebelum nonton film ini, mengapa ketiga karakter tersebut harus dipertemukan?

Karena tidak ingin spoiler, maka film inilah yang akan menjelaskan karakter kunci dalam suatu peristiwa di masa lalu, maka sangat disarankan untuk nonton terlebih dahulu film Unbreakable dan Split, sehingga bisa memahami betul kerangka ceritanya secara keseluruhan.

Film Glass boleh dikatakan sebagai yang terbaik diantara ketiga seri dalam trilogi ini, karena setelah sekian lama, Shyamalan rupanya berhasil comeback dalam mengeksekusi sebuah karya yang menjadi ciri khasnya –suspense thriller- dengan solid dan kuat akan sebuah pengembangan narasi dari ketiga film itu. Dalam film Unbreakable dan Split, masing-masing fokus terhadap karakternya sehingga sebenarnya tidak ada relevansi narasi diantara keduanya, meski pada ending credits film Split, dimunculkan karakter David sebagai cameo.

Namun dalam seri ketiga (Glass) dari trilogi ini, ketiga karakter dipertemukan oleh karakter baru bernama Dr. Ellie yang juga misterius, sehingga kita pun bertanya-tanya apa motivasi dan latar belakangnya, siapakah dia sebenarnya? Meski kelihatannya bahwa Dr. Ellie adalah manusia biasa yang berusaha untuk menyembuhkan ‘jiwa’ ketiga karakter tersebut, serta kita tidak mampu men-judge apakah Dr. Ellie adalah protagonis atau antagonis, bahkan mungkin ia malah bukanlah karakter penting.

Kembali karakter Kevin yang diperankan sama briliannya oleh James McAvoy, menjadi bintang utama dalam cerita di film ini. Bagaimana Elijah tertarik dengannya, dan dengan perlahan berhasil melakukan koneksi terhadapnya, atau tepatnya berusaha untuk mempengaruhinya dalam berkonflik dengan David. Namun, ada satu hal yang mengganggu, yakni kejanggalan karakter Casey yang masih menaruh simpati dan care terhadap Kevin, padahal Kevin pernah ‘menyakitinya’ dengan menculiknya di film Split.

Untungnya, kejanggalan tersebut mampu ditutupi oleh chemistry hubungan kedua karakter tersebut dengan cukup dalam dan menarik. Begitu pula hubungan Joseph dengan ayahnya David, yang beberapa kali diingatkan dalam sepenggal kisah flashback di film Unbreakable, meski kedua karakter tersebut di film ini tidak seistimewa dari seri pertamanya.

Yang lebih menarik justru kembalinya hubungan yang terkoneksi antara Elijah dengan ibunya, Mrs. Price. Elijah yang mengundang banyak kejutan itu, lebih mengeksplorasi sisi psikologi masa kecilnya dan hubungan dengan ibunya, yang dikisahkan secara flashback dengan kisah baru.

Lewat film ini, karakterisasi yang kuat terutama diantara mereka bertiga dan masing-masing hubungannya dengan manusia biasa, mengakibatkan adanya garis yang sangat tipis dalam menilai siapa sebenarnya hero dan villain, mengingat berbagai elemen hubungan manusiawi yang dibangun cukup kuat dengan tone yang suram, layaknya berbagai cerita akan superhero dalam graphic novel.

Tercatat, ada dua twist besar sebagai konklusi akhir dari rangkaian trilogi ini yang mencengangkan saya, mengingat cukup rapatnya celah untuk diterobos dalam menebak sebuah ending cerita. Secara keseluruhan, film Glass lebih baik daripada dua film terdahulu.

Glass | 2019 | Drama, Misteri, Thriller | Score: 3 / 4 stars Pemain: James McAvoy, Bruce Willis, Anya Taylor-Joy, Sarah Paulson, Samuel L. Jackson, Spencer Treat Clark, Charlayene Woodward Sutradara: M. Night Shyamalan  | Produser: M. Night Shyamalan, Jason Blum, Marc Bienstock, Ashwin Rajan | Penulis: M. Night Shyamalan | Musik: West Dylan Thordson | Sinematografi: Mike Gioulakis | Distributor: Universal Pictures Negara: Amerika Serikat | Durasi: 128 Menit

Comments