Paranoia Trilogy : Klute (1971)

paranoia trilogy film klute
Warner Bros Pictures

Bagaimana rasanya, jika ada seseorang yang sepertinya selalu mengawasi aktivitas anda setiap harinya? Apakah anda merasa paranoid?

Jika anda menyukai film thriller suspens ala Alfred Hitchcock atau Brian De Palma, maka hambar rasanya, jika anda melewatkan sejumlah film sejenis yan digarap Alan J. Pakula.

Meski Pakula bukan spesialis dalam genre tersebut, namun film semacam Rollover (1981), Presumed Innocent (1990) dan The Pelican Brief (1993) adalah beberapa contoh bagaimana caranya memperlakukan hal tersebut dengan melibatkan elemen politik atau konspirasi.

Nama Pakula bisa disejajarkan dengan Sidney Lumet dan Sydney Pollack yang memang sejak era 70’an populer melalui serangakaian film thriller politik atas reaksi publik terhadap pemerintah Amerika saat itu.

Salah satu karya terbesar Pakula yakni film Klute (1971), The Parallax View (1974) serta All the President’s Men (1976), yang tergabung dalam Paranoia Trilogy, meski masing-masing kisah dalam filmnya berdiri sendiri.


Baca juga: Paranoia Trilogy : The Parallax View (1974)

Mengapa disebut “Paranoia”? Tentu saja premisnya selalu melibatkan karakter dalam sebuah kasus kriminal misterius dengan melibatkan sebuah organisasi atau pemerintahan dalm konspirasi, melalui sejumlah teror implisit, sehingga timbullah gejala paranoia.

Film Klute mengisahkan hilangnya seorang eksekutif perusahaan minyak di Pennsylvania yang bernama Tom Gruneman. Setelah pencarian 6 bulan tanpa hasil dari pihak kepolisian, seorang detektif swasta sekaligus teman keluarga Tom, yakni John Klute (Donald Sutherland) mengajukkan diri untuk menyelidikinya.

review film paranoia trilogy klute
Warner Bros Pictures
 
John mendapat restu dari istri Tom, serta atasannya bernama Peter Cable (Charles Cioffi). Satu-satunya petunjuk dari polisi yakni sebuah surat yang tidak senonoh, ditujukkan kepada seorang wanita panggilan bernama Bree Daniels (Jane Fonda) di kota New York. Bree pun menerima beberapa surat yang serupa darinya.

John kemudian tinggal di sebuah kamar, berlokasi di basement apartemen yang dihuni Bree, dengan menyadap percakapan telepon Bree. Awalnya, Bree enggan saat pertama kali dihampiri John untuk dimintai informasi.

Akhirnya Bree mengaku pernah dianiaya oleh seorang pria dua tahun lalu, namun tidak mengingat dan mengenali Tom. Penyelidikan kemudian hinggap kepada seorang mucikari Bree bernama Frank Ligourin (Roy Scheider), hingga terdapat dua nama wanita panggilan lainnya yang sulit untuk ditemui keberadaannya.

Disaat bersamaan, hubungan John dan Bree semakin dekat, namun di sisi lain Bree menjadi paranoid, sejak ia merasa ada orang lain yang selalu mengawasinya, salah satunya melalui teror telepon.

Penyelidikan John pun berlanjut, hingga akhirnya menemukan sebuah kejutan yang tak disangka, sementara itu nyawa Bree pun dalam bahaya.

Gaya penuturan cerita dalam film Klute awalnya terasa membosankan, hanya menyajikan dialog terhadap sejumlah adegan drama umumnya, yang diawali dengan percakapan dalam jamuan makan antara John, Peter serta Tom bersama keluarganya. 

Kemudian adegan beralih kepada percakapan dan interogasi dari detektif polisi kepada istri Tom, serta John dan Peter, mengenai hilangnya Tom.

ulasan film paranoia trilogy klute
Warner Bros Pictures
 
Aura misteri yang diiringi oleh musik berupa alunan piano yang membuat suasana terasa mencekam saat kredit pembuka ditampilkan, bersamaan dengan pemutaran audio tape yang memutar suara seorang wanita panggilan, tampaknya sedang mengucapkan beberapa kalimat kepada seseorang.

Yang menarik yakni serangkaian adegan yang fokus pada karakter Bree sebagai seorang wanita panggilan yang mencoba peruntungannya menjadi seorang model, sekaligus selalu berkonsultasi dengan seorang psikiaternya melalui dialog dengan makna yang dalam.

Sedangkan John memulai investigasinya dengan mengamati Bree. Cerita dengan alur yang lamban itu, mulai dibangun secara perlahan dan semakin kuat dalam menghadirkan kisah misteri thriller yang kental sekali, sehingga terkadang ada sedikit rasa horor yang mampu merindingkan saya dalam adegan tertentu.

Seperti ketika beberapa kali Bree merasa bahwa ia sedang diteror, diamati, diintip serta diikuti oleh seseorang yang sama sekali tak terlihat, baik ketika ia sendirian, maupun bersama dengan John.

Teror pertama tentunya bunyi telepon bagaikan orang iseng yang mengerjai Bree saat berada di apartemennya, disertai minimnya penerangan lampu di dalam unitnya, maupun di gedung apartemen itu sendiri.

Bahkan ketika Bree sedang melayani kliennya berupa seorang pria paruh baya di sebuah ruang berupa workshop pakaian yang gelap dan remang-remang tersebut, terpapar melalui adegan dalam sorotan kamera dari jarak yang agak jauh di dalam kegelapan, seakan-akan sedang mengintip aktivitas mereka dari balik sejumlah pakaian yang digantung.

Dua adegan paling menyeramkan yakni saat John bertemu Bree di dalam unit apartemennya itu. Ia mencurigai ada seseorang yang mengintip dari atas unit tersebut (berupa tingkap, bukan langit-langit tertutup) lalu ia diam-diam dalam kegelapan menuju tingkap tersebut melalui tangga darurat, koridor, hingga sampai pada atap gedung apartemen.

sinopsis film paranoia trilogy klute
Warner Bros Pictures
  
Begitu pula saat Bree mendatangi kembali kliennya di sebuah workshop, lalu saat ia menulis pesan kepada kliennya itu, sorotan kamera sama persis saat adegan dirinya melayani kliennya tersebut.

Dua adegan itu diperkuat oleh scoring horor dengan kombinasi dentingan piano dan vokal wanita yang bersenandung, begitu menyeramkan.

Perfroma brilian Jane Fonda sebagai Bree Daniels memang pantas dengan pembuktian mendapat Oscar, sebagai seorang wanita yang memiliki kompleksitas pertentangan batin dalam jiwa dan pikirannya.

Sementara di sisi lain, ia merasa lihai dalam memanipulasi para klien ketika mereka berhubungan intim, maka ia pun berusaha beralih profesi sebagai aktris atau model. Sedangkan kesepiannya membutuhkan seseorang yang selalu berada di sisinya, saat bersama dengan John, ia sempat menyangkal dirinya sendiri.

Sedangkan performa Donald Sutherland sebagai John Klute, yang biasanya memainkan karakter bergaya nyentrik dan terkadang eksentrik, kali ini pembawaannya lebih kaku, sedikit berbicara namun lugas, serta agak membosankan.

Sebuah peran kecil dari Roy Scheider sebagai Frank Ligourin kali ini tampaknya sedikit aneh, mengingat berbagai karakter yang ia mainkan selalu protagonis dan heroik, meski cara ia berbicara dan bersikap sama dengan berbagai karakter yang ia perankan di sejumlah film lainnya.

Film Klute sendiri cenderung mengutamakan elemen noir dalam penyajian narasi serta karakterisasinya, selain elemen thriller suspens  dengan gaya serius yang mampu memperkuat nuansa menyeramkan hingga mengakibatkan paranoid.

Film ini dengan cerdik mampu mempermainkan pikiran audiens, yang semestinya bisa larut ke dalam alur yang menarik antar adegan, serta penyampaian dialog menarik.

Bagi anda yang terbiasa menonton sejumlah film detektif bergaya noir atau drama thriller misteri, film Klute merupakan salah satu yang terbaik dalam memompa adrenalin secara cerdas.

Score : 4 / 4 stars

Klute | 1971 | Drama, Thriller, Suspens | Pemain: Jane Fonda, Donald Sutherland, Charles Cioffi, Roy Scheider | Sutradara: Alan J. Pakula | Produser: Alan J. Pakula | Penulis: Andy Lewis, Dave Lewis | Sinematografi: Gordon Willis | Musik: Michael Small | Distributor: Warner Bros Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 114 Menit

Comments

Popular Posts