Paranoia Trilogy : Klute (1971)

Courtesy of Warner Bros Pictures, 1971

Bagaimana rasanya, jika ada seseorang yang sepertinya selalu mengawasi gerak-gerik anda sehari-hari? Apakah anda merasa paranoid?
 
Jika anda menyukai film-film suspense thriller layaknya garapan Alfred Hitchcock atau Brian De Palma, maka ‘haram’ rasanya, jika anda melewatkan film-film thriller besutan sineas Alan J. Pakula yang memproduseri To Kill a Mockingbird (1962). Memang beliau bukan spesialis di genre tersebut, namun film semacam Rollover (1981), Presumed Innocent (1990) dan The Pelican Brief (1993) adalah beberapa contoh bagaimana kesukesan meramu suspense thriller dengan unsur politik di dalamnya.

Bicara soal genre suspense thriller yang bernuansa politik, atau yang disebut film politic thriller, nama Alan J. Pakula bisa disejajarkan dengan Sidney Lumet dan Sydney Pollack. Karya besar Alan J. Pakula yang paling populer yakni Klute (1971), The Parallax View (1974) dan All the President’s Men (1976), merupakan serangkaian film yang kerap disebut Paranoia Trilogy, dengan cerita yang masing-masing berdiri sendiri.

Mengapa ada istilah ‘paranoia’? Well, seperti halnya dalam dunia politik, selalu ada cerita menarik yang melibatkan karakter (biasanya protagonis) dalam sebuah kasus kriminal, yang melibatkan sebuah organisasi atau pemerintahan, lalu berbagai aksi yang melibatkan karakter tersebut, biasanya menimbulkan paranoid. Ada kekuatan besar yang mengancam, namun tak terlihat!

Saya akan bahas rangkaian film Paranoia Trilogy tersebut satu-persatu, dimulai dari film pertamanya, yakni Klute, yang berkisah tentang hilangnya seorang eksekutif di sebuah perusahaan minyak di kota Pennsylvania yang bernama Tom Gruneman. Setelah 6 bulan tanpa hasil dari pihak kepolisian, seorang detektif swasta sekaligus teman keluarga Tom, yakni John Klute (Donald Sutherland) mengajukkan diri untuk menyelidikinya.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 1971

John mendapat restu dari atasan Tom yang bernama Peter Cable (Charles Cioffi) dan juga istri Tom. Satu-satunya petunjuk dari polisi yakni sebuah surat yang tidak senonoh, ditemukan berada di meja Tom, yang ditujukkan kepada seorang wanita panggilan bernama Bree Daniels (Jane Fonda) yang tinggal di kota New York. Bree pun menerima beberapa surat yang serupa.

John kemudian tinggal di sebuah kamar, berlokasi di basement apartemen yang dihuni oleh Bree, dengan menyadap percakapan telepon Bree. Awalnya, Bree enggan terhadap John, saat pertama kali dihampiri untuk dimintai informasi, namun setelah John membuntuti Bree dan mengawasi aktivitasnya, akhirnya Bree mengaku pernah dianiaya oleh seorang pria dua tahun lalu, namun tidak mengingat dan mengenali Tom.

Pria yang menganiaya Bree tersebut, ternyata adalah klien dari mucikari Bree yang bernama Frank Ligourin (Roy Scheider). John lalu meminta Bree untuk bersama menemui Frank. Lewat Frank, John mendapat dua nama wanita panggilan lainnya yang bernama Jane McKenna dan Arlyn Page. Namun usaha menemui kedua wanita tersebut sulit dilakukan, karena Jane telah bunuh diri, sedangkan Arlyn tidak diketahui keberadaannya, sejak ia menjadi pecandu narkoba.

Disaat bersamaan, hubungan John dan Bree semakin dekat, namun di sisi lain Bree merasa paranoid, karena ia merasa ada orang lain yang selalu mengawasinya, salah satunya melalui ‘teror’ telepon. Penyelidikan John pun berlanjut, hingga akhirnya menemukan sebuah kejutan yang tak disangka, sementara itu nyawa Bree pun dalam bahaya …

impawards.com

Gaya penuturan cerita dalam film ini, awalnya terasa membosankan, hanya menyajikan dialog dan berbagai sekuen drama umumnya, yang diawali dengan percakapan dalam jamuan makan, tampak John, Peter dan Tom bersama beserta keluarganya. Kemudian sekuen beralih kepada percakapan dan interogasi dari detektif polisi kepada istri Tom, John dan Peter, mengenai hilangnya Tom. Aura misteri yang diiringi oleh musik berupa alunan piano yang membuat suasana mulai terasa mencekam, ketika opening credits ditampilkan, bersamaan dengan pemutaran tape yang berisi tentang suara seorang wanita panggilan, tampaknya sedang mengucapkan beberapa kalimat kepada seseorang.

Lalu the story goes, seperti aktivitas Bree sebagai seorang wanita panggilan yang mencoba peruntungannya menjadi seorang model, sekaligus selalu berkonsultasi dengan seorang psikiaternya, sedangkan John memulai investigasinya dengan mengamati Bree. Cerita dengan alur yang lambat, tidak semerta-merta menjadi membosankan, malah memiliki unsur suspense thriller yang kental sekali dan terkadang ada sedikit rasa horor didalamnya.

Beberapa adegan yang membuat saya merinding adalah ketika beberapa kali Bree merasa bahwa ia sedang diteror, diamati, diintip dan diikuti oleh seseorang yang sama sekali tak terlihat, baik ketika ia sendirian, maupun bersama dengan John. Teror pertama tentunya bunyi telepon, ketika ia angkat tidak ada suara, seperti orang iseng atau ada yang mengerjainya. Berbagai suasana tersebut terjadi dalam kondisi di apartemennya, dengan minimnya penerangan lampu di dalam unit apartemennya, maupun di gedung apartemen itu sendiri.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 1971

Bahkan ketika Bree sedang ‘bekerja’ untuk memenuhi ‘kebutuhan’ kliennya, seorang pria paruh baya -pengusaha penjahit dan permak pakaian- di sebuah workshop-nya yang gelap dan remang-remang tersebut. Sorotan kamera dilakukan dengan jarak yang agak jauh di dalam kegelapan, seakan-akan sedang mengintip aktivitas Bree dengan kliennya di sebuah ruangan kecil yang menjadi kantornya, dengan penerangan lampu yang minim.

Hal yang sama, diarahkan dalam sekuen ketika John menginterogasi Bree di dalam unit apartemennya itu. John yang curiga, sepertinya ada seseorang yang mengintip dari atas unit apartemen Bree –ternyata diatas ruangan itu bukan langit-langit, melainkan ada semacam tingkap-, lalu John diam-diam dalam kegelapan mencari tahu dan penasaran menuju tingkap tersebut melalui tangga darurat, koridor, hingga sampai pada atap gedung apartemen, apakah ada seseorang disitu.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 1971

Dengan sorotan cahaya senter, John menelusuri sebagian gedung apartemen kecil itu sendirian. Mungkin adegan inilah salah satu yang paling creepy, ditambah dengan latar musik horor yakni kombinasi suara piano dan vokal wanita yang bersenandung menyeramkan! Hal itu diulangi lagi ketika Bree mendatangi kembali kliennya pengusaha jahitan baju di workshop-nya, dan menulis pesan kepada kliennya itu di dalam ruangan kantornya dalam keadaan remang-remang, sementara itu dalam keadaan gelap di workshop tampak sorotan kamera mengintip Bree dari kejauhan diantara deretan baju-baju yang digantung.

Akting Jane Fonda sebagai Bree Daniels bermain sangat brilian –akhirnya berhasil mendapatkan Oscar -, sebagai seorang wanita yang memiliki kompleksitas pertentangan batin dalam jiwa dan pikirannya. Di satu sisi, ia merasa sebagai ‘aktris’ karena lihai dalam memanipulasi para klien ketika mereka berhubungan … makanya ia pun berusaha beralih profesi sebagai aktris atau model, namun di sisi lain ia juga merasa membutuhkan seseorang yang selalu berada di sisinya dan ia menemukan sosok John Klute mungkin yang paling tepat, meski ia sempat menyangkal dirinya sendiri … makanya ia terus berkonsultasi dengan psikiaternya.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 1971

Sedangkan lawan mainnya, Donald Sutherland sebagai John Klute, yang biasanya memainkan karakter bergaya nyentrik dan terkadang eksentrik, kali ini pembawaannya lebih kaku, tidak banyak omong, straight to the point dan agak membosankan. Sebuah peran kecil dari aktor Roy Scheider sebagai Frank Ligourin kali ini tampaknya sedikit aneh, mengingat berbagai karakter yang ia mainkan selalu protagonis dan heroik, meski cara ia berbicara dan bersikap sama dengan berbagai karakter yang ia perankan di film-film lainnya.

Jika ditinjau dari storytelling, teknik pengambilan gambar dan sorotan kamera, serta beberapa adegan tertentu, film Klute boleh dikatakan mengandung unsur noir. Namun unsur thriller yang diperkuat oleh suspens-lah, menjadikan film ini layak disandingkan dengan film-film Hitchcock dan Brian De Palma, misalnya.

Mungkin elemen terbaik di film ini sepertinya dengan cerdik mampu mempermainkan pikiran kita, yang larut ke dalam alur cerita menarik dari satu sekuen menuju sekuen lainnya. Juga beberapa adegan mencekam, baik yang disorot dalam keadaan remang, gelap, bahkan terang –outdoor- sekalipun, sangat terasa akan paranoia yang tenang sekaligus mematikan!

Bagi anda yang terbiasa menonton film-film detektif dengan gaya noir atau drama thriller misteri, film Klute adalah salah satu unggulan yang minim akan original score yang memompa adrenalin anda … lupakan itu! Ini bukan film tentang aksi pahlawan dan penjahat. Try to relax, enter to the ambience, just focus to the dialogue and the story.

Score : 4 / 4 stars

Klute | 1971 |  Drama, Thriller, Suspens Pemain: Jane Fonda, Donald Sutherland, Charles Cioffi, Roy Scheider  | Sutradara: Alan J. Pakula  |  Produser: Alan J. Pakula | Penulis: Andy Lewis, Dave Lewis  | Sinematografi: Gordon Willis | Musik: Michael Small | Distributor: Warner Bros | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 114 Menit

Baca juga : The Washington Post vs Nixon dalam Empat Film | Paranoia Trilogy : The Parallax View (1974) | Paranoia Trilogy : All the President's Men (1976)

Popular Posts