Robocop (1987) : Satir Kapitalisme yang Ikonik

Courtesy of Orion Pictures, 1987

Ide orisinil yang fresh dan brilian dengan menyertakan elemen futuristik atau cyberpunk, bertemakan cyborg/robot polisi dalam menghadapi aksi kriminal yang semaikn merajalela, sarat dengan satir politik dan kapitalisme yakni kekuasaan, keserakahan, manipulasi serta permainan kotor … itulah film Robocop!

Disuguhkan dengan berbagai aksi brutal, humor segar, ultra-violence secara eksplisit, makian dengan kata-kata kotor, plus terdapat selingan berita dan komersial di sepanjang cerita, RoboCop adalah sebuah ikon yang menjadi pop culture. Karya duo penulis Edward Neumeier dan Michael Miner tersebut, memang benar terinspirasi dari film Blade Runner (1982), jika ditinjau dari berbagai elemen yang sudah saya sebutkan di awal.

Dinobatkan sebagai salah satu film terbaik di tahun 1987, RoboCop bukan hanya menonjolkan sisi science fiction action saja, namun banyak aspek yang diperlihatkan cukup mendetil, dengan gaya sinisme yang elegan. Saya tak kebayang, apa jadinya jika bukan Paul Verhoeven yang menjadi sutradara, mengingat keberaniannya keluar dari jalur pakem Hollywood dari zona nyaman.

Film RoboCop adalah sebuah contoh nyata dan eksplisit, mengenai kapitalisme sekaligus kekuatan adanya kekuasaan yang otoritarian dan salah satunya melakukan propaganda melalui media televisi, seperti yang difiksikan dalam sebuah perusahaan bernama OCP (Omni Consumer Products). OCP muncul, sebagai jawaban atas peningkatan kriminalitas yang semakin ‘gila’ di kota Detroit, setelah kepolisian tidak bisa mengantisipasi hal tersebut. Sebagai imbalannya, OCP akan membangun kota elit ‘idaman’ yang disebut Delta City.

CEO dari OCP yang bernama Dick Jones (Ronny Cox) secara tak sengaja menimbulkan insiden dengan terbunuhnya satu orang eksekutif, saat pertama kalinya mengenalkan dan mendemonstrasikan robot ED-209 untuk membantu kepolisian. Pimpinan OCP yang kecewa akhirnya malah menyetujui proposal RoboCop dari eksekutif Bob Morton (Miguel Ferrer).

Hal tersebut membuat Dick menjadi marah dan dendam kepada Bob. Sementara di tempat lain, Officer Alex Murphy (Peter Weller) yang tiba di kepolisian Detroit, di hari pertamanya berpatroli dengan rekannya, Anne Lewis (Nancy Allen). Mereka lalu mengejar kelompok criminal yang dipimpin oleh Clarence Boddicker (Kurtwood Smith) hingga ke sebuah gudang. Aksi penangkapan mereka gagal, malah Murphy secara brutal disiksa dan diberondong peluru hingga hampir tewas.

Tak lama kemudian, tim medis OCP segera membawa Murphy untuk diselamatkan dan akhirnya dijadikan RoboCop, sebuah prototip yang merupakan proyeknya Bob Morton. Awalnya, Murphy tidak sadar bahwa ia masih hidup dengan kondisi yang berbeda dari sebelumnya, hingga ia tak sengaja bertemu dengan salah satu anak buah Boddicker yang berteriak kepadanya, bahwa ia telah membunuhnya.

Hingga akhirnya, Murphy melacak keberadaan Boddicker dan komplotannya untuk segera menangkapnya, namun ternyata usahanya tidaklah sesederhana itu …

impawards.com

Tampaknya, cerita yang dipaparkan di film RoboCop kelihatan sederhana : kisah tentang  seorang polisi yang sekarat, namun ‘dibangkitkan’ kembali menjadi cyborg. Sang polisi tersebut masih hidup, namun seluruh tubuhnya dijadikan robot. Artinya pula, ia masih memiliki jiwa, meski otak (pikiran)-nya sudah diprogram sedemikian rupa untuk patuh pada sistem prosedural.

Akibatnya, terjadi pertentangan dan pergumulan antara pikiran dan hati-nya, dimulai dengan mimpi buruk yang dialaminya, menunjukkan bahwa jika manusia masih hidup dalam kondisi apapun, masih ada memori yang terpanggil kembali meski hanya berupa serpihan-serpihan acak … tema yang mirip dengan film Total Recall (1990). Maka, dengan naluri yang kembali muncul, iapun mulai menyelidiki keberadaan rumahnya dan mendatangi para penjahat yang telah ‘membunuhnya’.

Kebangkitan RoboCop dari manusia biasa menjadi manusia ‘super’ mungkin bisa dikatakan ada kemiripan dengan film superhero yang lagi hype itu, atau film-film science fiction sejenis. Namun dengan pendekatan yang lebih realistik, mungkin saja di masa depan hal tersebut bisa terjadi. Lupakan teknologi yang kelewat canggih seperti mobil terbang, transfer manusia menuju lokasi lain atau dimensi ruang dan waktu, dan sebagainya … terlalu jauh.

Apa yang digambarkan di film ini, mungkin saja terjadi dalam waktu dekat -kecuali teknologi robot ED-209- seperti peningkatan kriminalitas yang melambung dan hadirnya korporasi raksasa yang mampu mengendalikan otoritas secara penuh. Kapitalisme, konsumerisme, individualisme serta otoriter, menyebabkan adanya distopia yang dimulai dari satu wilayah, dan mungkin bisa tersebar secara global dengan pengaruh politik yang kuat serta manipulatif dan bahkan tak mustahil jika terjadi kondisi seperti yang digambarkan di film kultus, Escape From New York (1981).  

Film RoboCop digambarkan begitu sempurna dari berbagai aspek, dimulai dari penuturan alurnya yang mudah diikuti, tidak bertele-tele, serta tetap menarik dari satu adegan menuju adegan lainnya. Pada dasarnya, cerita mengambil dua bagian, yang masing-masing mengalami kisah ‘pertarungan’ dengan sisi jahat. Murphy sebagai polisi memburu penjahat yang dipmpin Boddicker, sedangkan gejolak yang timbul di OCP dikarenakan adanya ketidaksukaan Dick Jones terhadap Bob Morton.

Lantas, kedua hal tersebut ‘disatukan’ oleh kisah tragis Murphy yang kemudian dirubah menjadi RoboCop yang intinya, Murphy dimanfaatkan oleh Bob untuk mengalahkan Dick. Film ini juga dengan gamblang memperlihatkan kerasnya dunia di masa depan. Semakin tinggi kekuasaan di dalam sebuah korporat, maka semakin tinggi pula permainan yang dilakukan, baik secara internal maupun eksternal. Begitu pula dengan penggambaran bahwa dunia semakin tidak aman, dengan hadirnya para kriminal yang semakin kejam dan brutal, serta kekacauan masal yang mudah terjadi.

Banyak sekali adegan memorable dan paten diperlihatkan, seperti ketika robot ED-209 pertamakali diperkenalkan di sebuah ruang meeting direksi dan terjadinya sebuah insiden, penyiksaan serta penembakan brutal Murphy oleh geng Boddicker, sudut pandang Murphy yang dirubah menjadi RoboCop pertama kalinya bagaikan melihat dari balik kaca jendela, Bob yang tidak sengaja bertemu Dick di sebuah toilet sedangkan orang-orang disekitarnya pada kabur ketakutan, RoboCop menembak alat vital penjahat yang menembus rok wanita yang dibekapnya, Murphy mendatangi rumahnya yang telah ditinggalkan oleh istri dan anaknya, serta beberapa adegan puncak aksi pertarungan antara RoboCop dengan geng Boddicker.

Di adegan akhir pun, kata yang diucapkan oleh Murphy sebagai RoboCop begitu keren dan mengena, setelah sebelumnya Murphy/ RoboCop melakukan kebiasaan memutar pistol dengan jari telunjuk. Desain dari RoboCop itu sendiri juga unik sekaligus tegas. Rob Bottin adalah orang yang bertanggung jawab dibalik efek spesial film The Thing (1982), mendesain RoboCop sedemikian rupa dan mendetil hingga ke garis atau panel di setiap bagiannya.


Courtesy of Orion Pictures, 1987

Dengan adanya warna hitam yang dipadukan dengan warna steel, desain RoboCop tampaknya ingin memanipulasi dari kostum yang dipakai oleh aktor peter Weller. Bayangkan, jika harus memakai animatronic puppet atau menggunakan stop motion, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan. Yang bikin saya kagum, adalah jenis cat yang digunakan pada warna steel tersebut, ketika RoboCop bergerak dalam keadaan tertentu, tampak ada warna biru keungu-unguan yang terpancar.

Juga yang tak kalah kagumnya, efek yang begitu halus dari manipulasi kamera (mungkin reproduksi) ketika helm RoboCop dibuka, tampak wajah Murphy dengan kepala pelontos bagian depan, meski memang sedikit kentara dari pencahayaan yang timbul. Dan jika kepala Murphy disorot dari samping, kelihatannya tidak proporsional –hal itu dikarenakan bagian belakang kepalanya adalah robot- antara depan dan belakang … again, it’s a movie magic! Anyway, ‘sarung’ pistol di dalam paha RoboCop adalah yang paling cool diantara semuanya! Oh ya, saya perhatikan, dari betis hingga telapak kaki, mirip dengan endoskeleton-nya T-800 (Terminator).

Demikian dengan kehadiran sebuah robot ED-209 yang didesain menarik. Di awal kehadirannya, ED-209 tampak begitu menyeramkan dan tidak friendly. Di adegan pertarungannya dengan RoboCop, ternyata suara ED-209 seperti monster. Namun adegan humor yang memorable tentunya, yakni ketika robot tersebut nekad turun dari tangga, terpeleset, jungkir balik, jatuh dalam keadaan terlentang … ED-209 pun meronta-ronta dan mengeluarkan suara seperti bayi.

Film RoboCop juga dikenal kontroversinya dengan menyajikan ‘hidangan’ gory ultra-violence sekaligus estetis (aesthetic violence), seperti adegan penembakan brutal ED-209 terhadap salah satu eksekutif di ruang meeting, adegan penyiksaan dan penembakan Muprhy oleh geng Boddicker, cukup mengerikan dengan practical effect yang realistik. Sebaliknya, pertarungan RoboCop dengan geng Boddicker, juga ada adegan salah satu geng terkena limbah kimia dan berakhir menggenaskan. Yang terakhir adalah adegan puncak pertarungan RobCop dengan Boddicker satu lawan satu, cukup singkat namun mengejutkan, dengan cara yang gory pula.

Dari berbagai aspek kekerasan, kebrutalan, serta ketegangan, muncul pula sebuah konsep yang boleh dikatakan cukup revolusioner di jamannya. Kalo kita sebut breaking news atau siaran berita reguler dan iklan komersil, dengan topik yang berkaitan dalam cerita film, diselipkan di sepanjang cerita film itu sendiri, maka artinya kalo film-film kolosal jadul tahun … let say 50’an adalah berupa “intermission”. Hal tersebut berkaitan dengan munculnya jeda, untuk meredakan ketegangan film yang mengandung ‘disturbing visuals.’

Salah satu humor yang dihadirkan yakni iklan komersil televisi, seperti permainan video game, atau iklan ‘konyol’ mobil 6000 SUX. Mobil tersebut adalah hasil modifikasi dari mobil Pontiac 6000 dan juga dipakai oleh geng Boddicker. Speaking about cars … kehadiran Ford Taurus juga memeriahkan ‘future feel’ sebagai kendaraan patroli polisi Detroit.  

Courtesy of Orion Pictures, 1987

Film RoboCop dibuat begitu artistik dan stylish dan, terutama dari segi visual, angle serta sound. Derap langkah kaki RoboCop ketika pertama kali memasuki kantor polisi (precinct) tempat Murphy bekerja, begitu berwibawa sekaligus menandakan hadirnya sosok pahlawan baru, berupa manusia-mesin. Kemudian kamera menyoroti pandangan dari jarak yang cukup jauh, di sebuah ruangan, yang tertuju pada sebuah koridor dengan banyak kerumunan orang, saat itu juga tampak sekilas RoboCop berjalan melewati koridor.

Berbagai sudut kamera yang diambil, kebanyakan menyoroti RoboCop hanya setinggi dada-nya, yang diambil dari sudut pandang mata manusia rata-rata, mengingat ketinggian RoboCop melebihi manusia. Apalagi, bagian pangkal lengan dekat bahu-nya, dibuat melebihi ketinggian bahu itu sendiri, jadi berkesan lebih gagah. Berbagai gerakan RoboCop pun dibuat se-elegan sekaligus sekarisma mungkin, dengan perpaduan gerakan robotik yang kaku dan gerakan motorik manusia yang lebih fleksibel berdasarkan feeling.

Adegan ketika para polisi sedang latihan menembak, diiringi bunyi letusan kaliber berat, sementara kamera berjalan menyoroti satu-persatu dari depan dengan posisi menyerong. Tapi tiba-tiba sorotan kamera beralih dan fokus pada perhatian sebuah tangan besi sedang menembaki target, menggunakan pistol kaliber super besar, sekali tembak, banyak peluru yang berhamburan dengan suara yang paling keras, mirip senjata otomatis. Sontak, para polisi kaget! Satu-persatu secara serentak berhenti menembak, melongokkan kepalanya kearah samping, kearah RoboCop sedang latihan.

Atau juga sorotan kamera berada di posisi bawah, membelakangi betis hingga telapak kaki RoboCop, saat berhadapan dengan dua orang begundal yang sedang membekap seorang wanita, dengan menodongkan pisau di lehernya … aah, banyak sekali adegan serta trik kamera yang dibuat impresif! Wajar, jika film ini berhasil memenangkan Oscar untuk kategori Best Sound Effects Editing di tahun 1987, juga penghargaan Saturn Awards untuk kategori Best Science Fiction Film  di tahun yang sama.

Peter Weller yang didapuk menjadi RoboCop, berhasil mengintegrasikan dirinya ke dalam wujud sesuatu yang terprogram layaknya sebuah komputer. Aktingnya dilakukan dengan baik, dengan mampu menunjukkan adanya keterasingan, kesendirian, sekaligus pergumulan batin, konflik internal, yang mengembalikan keadaan dirinya menjadi ‘manusia’ kembali. Berbagai gerakan manipulatif seperti seorang robot, mampu ia selaraskan dengan gerakan, serta mimik alamiah manusia di pertengahan hingga akhir cerita, pun juga dengan suara yang keluar dari mulutnya.

Karakter Dick Jones yang diperankan oleh aktor veteran Ronny Cox juga impresif, meski sudah kentara jahatnya di awal cerita. Akting klasik tersebut memang kontras dengan apa yang dibawakan oleh aktor yang umumnya berperan sebagai seorang figur baik-baik (protagonis), sungguh kontras. Oh ya, akting Kurtwood Smith sebagai antagonis Boddicker pun berhasil membuat kebencian audiens terhadapnya. Berbagai aksi dan dialognya cukup signifikan dan BADASS tentunya!

Hampir saya lupakan ... original score epik dari Basil Poledouris, turut membantu berbagai adegan aksi menjadi lebih epik pula! No further comment ... Kepopuleran film ini jelas menjadi pop culture, sebagai iconic science fiction movie yang berpengaruh luas … sangat direkomendasikan untuk ditonton. 

So please, jangan bandingkan film ini dengan remake-nya di tahun 2014!

Score : 4 / 4 stars

RoboCop | 1987 | Fiksi Ilmiah, Aksi Laga | Pemain: Peter Weller, Nancy Allen, Daniel O’Herlihy, Ronny Cox, Kurtwood Smith, Miguel Ferrer  | Sutradara: Paul Verhoeven  |  Produser: Arne Schmidt | Penulis: Edward Neumeier, Michael Miner | Musik: Basil Poledouris | Sinematografi: Jost Volcano | Distributor: Orion Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 102 Menit


Baca juga : Escape from New York (1981) | Blade Runner (1982) | Blade Runner 2049 (2017) | Memburu Easter Egg dalam 'Ready Player One (2018)'

Comments