RoboCop (2014) : Remake ala Superhero

Courtesy of Sony Pictures Releasing, 2014

Apa yang bisa ditawarkan dari remake sebuah film yang telah menjadi pop culture? Sudut pandang, penambahan elemen lain atau modifikasi? Memangnya bisa lebih baik, sama saja atau makin parah? Itulah yang akan saya bahas di film Robocop versi 2014 ini.

Sejak awal pelirisannya lima tahun silam, saya sama sekali tidak tertarik untuk menontonnya, apalagi setelah lihat kostumnya … so terrible! Iseng-iseng untuk menemani makan malam saya, film RoboCop (2014) baru saya tonton sepenuhnya dari awal hingga akhir, sampai terkadang saya merasa ngantuk di pertengahan cerita. Oh ya, saya santai banget nonton sambil makan, mengingat film ini memiliki rating PG-13.

Untungnya tidak ada sineas, produser ataupun aktor/aktris dari film orisinalnya, yang kembali menangani film remake atau re-boot ini, Thank GOD for that (bernada emosi). Premis ceritanya lebih kurang sama dengan orisinalnya. Kota Detroit di tahun 2028, sebuah perusahaan besar bernama OmniCorp memproduksi berbagai robot untuk kepentingan militer Amerika Serikat yang digunakan di negara-negara yang berkonflik.

Adalah sang pemilik sekaligus C.E.O. OmniCorp, Raymond Sellars (Michael Keaton) yang selalu ditentang oleh seorang Senator yang mengesahkan Undang-Undang, dengan melarang penggunaan robot untuk kepentingan militer dan kepolisian di Amerika Serikat. Sementara di lain tempat, Polisi detektif Alex Murphy (Joel Kinnaman) sedang menyelidiki sebuah kasus narkoba yang menggiring kepada target seorang bandar.

Ternyata dua orang rekan Murphy yang terlibat dengan bandar narkoba, berusaha menyingkirkan Murphy, dengan menaruh bom di mobilnya. Murphy yang terkena ledakan bom mobil, dalam kondisi kritis segera ditangani oleh ilmuwan OmniCorp, Dr. Dennett Norton (Gary Oldman), untuk dijadikan robot polisi, setelah sebelumnya Sellars berniat untuk membuat hal tersebut, guna menawarkan produk yang akan menjadi favorit rakyat Amerika, dengan tujuan menurunkan jumlah kriminalitas.

Dengan persetujuan istri Murphy, yakni Clara, OmniCorp berhasill membuat Murphy menjadi sosok seperti cyborg, dengan melakukan berbagai tes dan simulasi, sebelum diperkenalkan kepada publik dan menjadi bagian dari Kepolisian Detroit. Murphy yang semula frustasi dan enggan dengan keadaannya, akhirnya mau tidak mau harus menjalaninya. Kecanggihan program teknologi tak lantas membuat Murphy menjadi patuh seperti mesin, namun jiwanya masih ada, ketika ia dimasuki semua file dari berbagai kasus yang ia tangani.

Hal itu yang membuat emosinya berada di level tertinggi, sehingga ia nekad melakukan investigasi sendiri, berdasarkan file dari kasus terkahir yang ia tangani. Dari kasus itupun, akhirnya ia mengetahui rekan-rekannya terlibat kriminalitas. Murphy pun memburu mereka, sekaligus memburu sang penjahat yang ia incar sejak awal. Sementara itu, Sellars yang frustasi akan tindakan Murphy dan berambisi untuk mencapai tujuannya, juga berencana untuk melakukan sesuatu terhadap Murphy.

impawards.com

Sebenarnya inti ceritanya sama dengan film RoboCop (1987), hanya perbedaan ada kepada rekan-rekan Murphy yang terlibat kriminal, kehadiran istri dan anaknya, serta Dr. Norton sebagai tokoh protagonis, aplikasi teknologi berupa digitalisasi, jenis robot, sepeda motor, senjata … dan juga RoboCop-nya itu sendiri!

Tidak seperti pendahulunya, film ini menurut saya lebih mengedepankan pamer teknologi dan berusaha untuk mendramatisasi situasi dengan tanggung, dengan tone dan feel yang darker. Elemen satir politik, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan dan pemanfaatan media untuk mempengaruhi publik diulang kembali, namun lebih faktual.

Hal itu terlihat di awal cerita, ketika The Novak Element, sebuah program televisi dengan host Patrick Novak (Samuel L. Jackson) yang menyiarkan dan mempromosikan kehebatan para robot –salah satunya robot legendaris ED-209- milik OmniCorp dalam memerangi musuh di Timur Tengah. Talk Show dari The Novak Element, selalu hadir di sela-sela hingga akhir cerita. Satu-satunya improvement di film ini, yang menggantikan program berita dan komersial televisi biasa seperti di film orisinalnya.

Program acara tersebut jelas selalu memihak penggunaan robot untuk keamanan dan pertahanan di Amerika sendiri, yang ditentang oleh Senator. Berbagai sindiran pedas yang dilontarkan Patrick Novak, membuat audiens berhak mencurigai, jangan-jangan OmniCorp ada di belakang semua itu. Lagi, sebuah satir yang cukup bagus, mengingatkan adanya ‘ancaman’ pengandalan robot yang menggantikan manusia.


Courtesy of Sony Pictures Releasing, 2014

Berbagai dialog dan drama, ketika Murphy bertemu kembali dengan keluarganya, disajikan kurang berkesan dan dengan sangat lamban. Sementara, berbagai adegan aksi Murphy dalam menangani kasus jaringan narkoba, atau ketika ia menjadi RoboCop disajikan kurang menggigit, kurang seru dan kurang brutal … beda jauh dengan versi orisinalnya. Penggunaan kamera ‘goyang’ pun, meski sesekali malah semakin mengganggu saya.

Oh ya, missing point … kenapa gak ada adegan aksi ketika RoboCop mengeluarkan senjata dari paha-nya dalam sebuah pertarungan yah? Saya juga kecewa dengan berbagai adegan aksi di puncak akhir cerita, ketika RoboCop berkonfrontasi dengan Mattox, tidak epik … pertarungan dengan ED-209, tidak se-keren di versi orisinalnya … dan tidak ada kejutan yang berarti di akhir cerita. Efek CGI-nya pun kurang realistik, terutama adegan saat Murphy terkena ledakan mobil.

Akting Joel Kinnaman sebagai Murphy/RoboCop cukup baik dalam membawakan emosinya, baik ketika ia menolak kondisinya setelah terkena bom, atau ketika ia berkonfrontasi kepada orang-orang yang ia hadapi. Tapi kurang bisa memberikan empati, layaknya akting Peter Weller di versi orisinal. Akting Gary Oldman cukup baik dan standar, layaknya tokoh Alfred di trilogi The Dark Knight.

Adapun akting Michael Keaton sebagai Sellars, cukup layak diapresiasi sebagai tokoh antagonis yang tidak ‘se-kejam’ yang kita bayangkan. Ia dengan memunculkan sedikit rasa simpati, berusaha membuat keseimbangan dalam hal kepahlawanan dan ke-ego-an pribadinya. Sedangkan beberapa karakter antagonis di film orisinalnya, jauh lebih signifikan serta dapat menekan audiens untuk membencinya sekaligus menakutkan.


Courtesy of Sony Pictures Releasing, 2014

Ada yang salah –menurut saya- dengan kostum RoboCop. Sudah benar, di awal-awal cerita, jika kostumnya itu berwarna steel, yang memang menjadi karakter utama layaknya sebuah robot. Mengapa dirubah menjadi warna yang cenderung hitam, seperti kostum superhero? Meski desainnya lebih modern atau tepatnya streamline, atau aero-dinamis, warna tetap memiliki pengaruh besar untuk menurunkan nilai desain itu sendiri, maybe.

Tema musik ikonik ala Basil Poledouris, ketika title card “RoboCop” muncul di awal, mengajak saya kembali nostalgia, meski hanya sekitar satu detik saja, juga di bagian akhir dari ending credits. Di film ini, tema musik yang diusung Pedro Bromfman tidak mengesankan saya, tapi untungnya hanya dipakai di adegan-adegan tertentu saja.

Minus humor, adegan brutal dan memorable, serta kedalaman eksploitasi karakter RoboCop itu sendiri, membuat film ini lagi-lagi hanya mengulang, dengan sedikit polesan dari apa yang telah disampaikan jauh sebelumnya. Nampaknya film ini bukan menghadirkan kriminalitas yang menjadi ancaman menakutkan di sebuah kota, melainkan lebih mengkampanyekan teknologi perangan di negara dalam wilayah konflik, seperti saya nonton film superhero seperti Iron Man (2008).

Film ini sepertinya kehilangan jiwa seutuhnya yang ada pada franchise RoboCop, sehingga penilaian pribadi saya terhadap film ini, membuat perbandingan yang memang sudah saya tebak sebelumnya. Superioritas film RoboCop (1987) dengan rating-R sangat layak dan direkomedasikan untuk ditonton, meski sebenarnya saya kurang menyukai gory violence yang berlebihan. 

Score : 1.5 / 4 stars

RoboCop | 2014 | Fiksi Ilmiah, Aksi Laga | Pemain: Joel Kinnaman, Gary Oldman, Michael Keaton, Samuel L. Jackson | Sutradara: José Padilha |  Produser: Marc Abraham, Eric Newman | Penulis: Berdasarkan karya Edward Neumeier dan Michael Miner. Naskah: Joshua Zetumer dan Nick Schenk  | Musik: Pedro Bromfman | Sinematografi: Lula Carvalho | Distributor: Sony Pictures Releasing | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 118 Menit


Baca juga : Robocop (1987) : Satir Kapitalisme yang IkonikEscape from New York (1981) : Melarikan Diri dari Permainan Berbahaya | Blade Runner (1982) : Dampak Penciptaan 'Manusia' | Blade Runner 2049 (2017) : Jati Diri yang Dipertanyakan

Comments