RoboCop (2014) : 'Remake' ala Superhero

Dunia Sinema Review RoboCop 2014
Sony Pictures Releasing

Apa yang bisa ditawarkan dari pembuatan ulang sebuah film ikonik yang telah menjadi budaya populer? Apakah dari perbedaan sudut pandang ataupun modifikasi sejumlah elemen lain? Saya rasa film RoboCop (1987) tidak perlu dibuat ulang, karena memang menjadi remake ala superhero belaka.

Sejak awal pelirisannya lima tahun silam, saya sama sekali tidak tertarik untuk menontonnya, terlebih melihat desain kostumnya yang begitu mengkhawatirkan. Jangan hanya karena populernya film superhero, maka pembuatan ulang RoboCop dialihkan menuju gaya yang sama melalui peringkat PG-13.

RoboCop versi ini mengisahkan di kota Detroit tahun 2028, sebuah perusahaan besar bernama OmniCorp memproduksi sejumlah robot untuk militer Amerika, yang dimiliki sekaligus dipimpin oleh Raymond Sellars (Michael Keaton). Ia ditentang oleh seorang Senator berkenaan dengan Undang-undang penggunaan robot untuk pertahanan.

Sementara, Polisi detektif Alex Murphy (Joel Kinnaman) dijebak oleh rekannya dalam kasus narkoba, sehingga kritis. Ia lalu ditangani ilmuwan OmniCorp, yakni Dr. Dennett Norton (Gary Oldman), untuk dijadikan robot polisi.

Murphy yang lambat laun menyadari bahwa dirinya adalah RoboCop, mulai melakukan penyelidikan sendiri terkait kejadian yang ia alami sebelumnya, sehingga kerap melanggar protokol programnya sendiri. Sellars yang frustasi akan hal tersebut,  merencanakan sesuatu terhadap Murphy.

Melalui premis yang berbasis sama, film RoboCop versi ini hanya membongkar sedikit  saja seperti pengkhianatan rekan Murphy, keterlibatan istri dan anaknya yang mengetahui kondisi dirinya, Dr. Norton boleh dikatakan sebagai mentor dan pendampingnya, serta modifikasi teknologi yang lebih canggih.

Satir berupa politik, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, serta propaganda media untuk mempengaruhi publik diulang kembali, namun lebih faktual.


Dunia Sinema Review RoboCop 2014
Sony Pictures Releasing
 
Hal itu terlihat di awal cerita, ketika The Novak Element, sebuah program televisi yang dipandu Patrick Novak (Samuel L. Jackson), mempromosikan kehebatan para robot, salah satunya robot legendaris ED-209 milik OmniCorp dalam sejumlah aksi di Timur Tengah.

Acara Perbicangan dari program media tersebut, selalu hadir di sela-sela hingga akhir cerita, sebagai bentuk mutakhir terhadap versi orisinal film RoboCop berupa program berita dan iklan komersial televisi.

Jelas tersirat, bahwa Novak Element mendukung program robot dari OmniCorp, sekaligus menyindir seorang Senator yang menentangnya. 

Ada pula dramatisasi saat Murphy bertemu kembali dengan keluarganya, begitu hambar dan kurang menyentuh. Sementara, berbagai aksi laganya sebelum maupun setelah menjadi RoboCop, disajikan dengan sangat standar, tanpa intensitas yang menggenjot adrenalin, termasuk beberapa adegan mengganggu karena menggunakan shaky camera.

Adegan aksi di puncak akhir cerita saat RoboCop berkonfrontasi dengan robot Mattox, tidak semegah dan tanpa ada kejutan berarti dibandingkan versi orisinalnya, saat bertarung dengan ED-209. Efek CGI-nya pun kurang realistik, terutama dalam adegan Murphy terkena ledakan mobil.

Performa Kinnaman sebagai Murphy/RoboCop cukup baik dalam membawakan emosinya, saat ia menolak kondisinya setelah terkena bom, atau saat berkonfrontasi terhadap sejumlah orang yang ia hadapi.

Walaupun demikian, masih tidak mampu memberikan empati layaknya versi orisinal yang lebih mengeksploitasi drama psikologis dari karakter utamanya. Sedangkan performa Oldman medioker seperti karakter Alfred di trilogi film The Dark Knight.


Dunia Sinema Review RoboCop 2014
Sony Pictures Releasing

Satu-satunya performa cemerlang di film ini tentu saja Keaton sebagai Sellars, yang mampu menunjukkan peran antagonis kompleks, melalui keseimbangan heroik manipulatif dan egoisme pribadi.

Sedangkan beberapa karakter antagonis di film ini jelas terlupakan, tidak seperti karakter Boddicker di versi orisinalnya.

Kostum konyol RoboCop di film ini, meski lebih modern dengan bentuk streamline dan kesan aero-dinamis lebih nyata, tetap saja bagaikan kostum superhero modern atau seperti di film Tron : Legacy (2011) dengan warna dasar hitam. Padahal sebelumnya sempat memakai warna steel sesuai aslinya. 

Tema musik ikonik dari Poledouris, ketika title card “RoboCop” muncul di awal, mengajak saya kembali nostalgia meski hanya sekitar satu detik saja, juga di bagian akhir dari ending credits. Selebihnya malah terlupakan.

Tanpa adanya humor, adegan brutal, serta eksploitasi psikologis, film RoboCop versi ini merupakan sebuah pengulangan yang malas dan seadanya, yang hadir melalui dunia futuristik fiktif belaka. 

Film RoboCop ini memang sebuah remake ala superhero, tanpa ada ancaman yang nyata.

Score : 1 / 4 stars

RoboCop | 2014 | Fiksi Ilmiah, Aksi Laga | Pemain: Joel Kinnaman, Gary Oldman, Michael Keaton, Samuel L. Jackson | Sutradara: José Padilha | Produser: Marc Abraham, Eric Newman | Penulis: Berdasarkan karya Edward Neumeier dan Michael Miner. Naskah: Joshua Zetumer dan Nick Schenk | Musik: Pedro Bromfman | Sinematografi: Lula Carvalho | Distributor: Sony Pictures Releasing | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 118 Menit

Comments