Shazam! (2019) : Sihir Magis Pahlawan Super

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2019

Sinar terang DC sudah mulai terlihat jelas sejak dimulai kebangkitan melalui Wonder Woman (2017) dan Aquaman (2018), meski masih ada bias dalam argumen di film Man of Steel (2013), Batman v Superman : Dawn of Justice (2016) serta Justice League (2017), setelah ditinggal sekian lama sejak trilogi The Dark Knight oleh Christopher Nolan, dua film Batman oleh Tim Burton dan bahkan sejak kemunculan Superman : The Movie (1978).

Film-film DC yang terkesan suram dan kelam sekaligus ‘terlalu serius’ itu, kini mulai berubah kearah yang lebih tepat, salah satunya film Shazam! yang jeli menangkap segmen keluarga melalui elemen komedi berkualitas. Film ini merupakan bagian ke-7 dari DCEU yang dibintangi oleh Zachary Levi dan Asher Angel ebagai William “Billy” Batson sekaligus superhero Shazam dan disutradarai oleh David F. Sandberg yang telah menyutradarai Annabelle : Creation (2017).

Karakter Shazam mulanya dinamakan Captain Marvel berdasarkan kreasi C.C. Beck dan Bill Parker, melalui Fawcett Comics yang hadir di tahun 1940. Captain Marvel adalah jelmaan seorang pria superhero yang merupakan alter ego seorang bocah bernama Billy Batson dengan mengucapkan kalimat SHAZAM (akronim dari sesepuh abadi yakni Solomon, Hercules, Atlas, Zeus, Achilles dan Mercury).

Di tahun 1953, DC Comics menuntut Fawcett Comics karena diklaim meniru karakter Superman. Maka di tahun 1972, kepemilikkan Captain Marvel berpindah tangan kepada DC Comics, namun di era 60’an saat berlangsungnya proses hukum tersebut, Marvel Comics sudah kepalang memperkenalkan karakter Captain Marvel versinya sendiri. Maka sejak itu, karakter Captain Marvel yang telah dimiliki oleh DC Comics berganti nama menjadi Shazam.

dccomics.com

Film Shazam! sendiri menceritakan di tahun 1974 ketika seorang bocah bernama Thaddeus Sivana dibawa oleh penyihir bijak bernama Shazam (Djimoun Hounsou) menuju tempatnya bernama Rock of Eternity. Tujuan Shazam yakni mencari juara baru guna meneruskan warisan kekuatan sihirnya kepada orang bijak, sekaligus menguji Thaddeus yang mencoba menyentuh Eye of Envy yang akan mengakibatkan terlepasnya 7 Dosa berupa arwah mahluk ganas ke Bumi.

Karena Thaddeus tidak memiliki hati yang murni, maka ia gagal. Kemudian cerita beralih ke masa kini tentang seorang remaja laki-laki bernama Billy Batson (Asher Angel), seorang yatim-piatu setelah hilang dari ibu kandungnya dalam sebuah karnaval, ketika ia masih kecil. Billy pernah mencoba beberapa kali melarikan diri dari panti asuhan dan berusaha menemukan kembali ibu kandungnya namun tak berhasil.

Sampai suatu saat Billy disarankan untuk tinggal bersama sepasang orang tua asuh yakni Victor dan Rosa Vasquez di sebuah rumah besar yang dihuni oleh anak-anak asuh yakni Freddie (Jack Dylan Grazer), Mary (Grace Fulton), Eugene (Ian Chen), Pedro (Jovan Armand) dan Darla (Faithe Herman). Billy merasa enggan tinggal di rumah tersebut dan terlihat jaga jarak dengan anak-anak lainnya.

impawards.com

Sementara Dr. Thaddeus (Mark Strong) menjadi seorang peneliti yang masih terobsesi dengan kekuatan sihir milik Shazam, berusaha keras memecahkan kode dalam simbol menuju Rock of Eternity, melalui dokumentasi dan penelitian berbagai orang yang pernah dipanggil ke tempat tersebut. Hingga akhirnya ia berhasil membuka gerbang menuju tempat tersebut lalu berkonfrontasi dengan Shazam, lalu membebaskan 7 Mahluk Dosa tersebut hingga bersatu dengan fisiknya.

Billy dan Freddie pun akhirnya berteman, hingga saat Billy membela Freddie dari dua anak senior yang mengejarnya hingga menuju kereta subway, Billy dipanggil oleh Shazam dan terpilih sebagai juara baru. Billy pun mewarisi kekuatan sihir Shazam menjadi manusia super berjubah dengan fisik dewasa (Zachary Levi).

Dalam keadaan bingung, Billy dewasa menceritakan semuanya kepada Freddie lalu akhirnya mereka berdua melakukan berbagai uji coba kekuatan supernya, hingga Billy mengetahui bahwa ia tinggal mengucapkan SHAZAM maka akan bertransformasi kembali menjadi anak remaja, begitu pula sebaliknya. Namun setelah diberitahu oleh 7 Mahluk Dosa, Dr. Thaddeus mencari tahu keberadaan Billy untuk mengalahkannya sekaligus mengambil kekuatan yang diwariskan oleh Shazam.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2019

Setelah Marvel merilis superhero dengan elemen komedi kental seperti dua film Guardians of the Galaxy dan Deadpool yang sukses di pasaran, maka saatnya DC menyainginya secara kompetitif melalui Shazam! (juga Aquaman yang digarap lebih ‘fun’) yang memang enak untuk diikuti ceritanya dari awal hingga akhir.

Premis Shazam! sendiri memang ringan dan simple, sehingga lebih mudah untuk mengarahkan cerita yang memang berfokus kepada karakter utamanya yakni seorang anak remaja bernama Billy Batson, alter ego superhero dewasa Shazam yang mencoba merekonsiliasikan hubungan dengan ibu kandungnya, serta beradaptasi dengan saudara-saudara tirinya dan orangtua angkatnya, dalam petualangan akan sebuah berkah berupa kekuatan sihir, guna melawan sang antagonis.


Courtesy of Warner Bros Pictures, 2019

Berangkat dari hal itulah, sebuah formula yang memang seharusnya mudah disukai oleh fans film superhero dan audiens umumnya, yakni ringan dan menghibur. Contoh kemiripan dari formula ini yakni film klasik The Goonies (1985), The Monster Squad (1987) atau bahkan sekilas mengingatkan pada film Honey, I Shrunk the Kids (1989), baik dari storytelling maupun karakterisasinya.

Sedangkan perubahan karakter dari remaja pria menjadi dewasa memangya banyak yang bilang mirip dengan film Big (1988), bahkan di salah satu adegan ketika Shazam bertarung dengan Thaddeus di dalam toko mainan, tampak Shazam tak sengaja menginjak floor mat piano, serta tak lupa selalu disertakan karakter figurine Superman dan Batman, termasuk Batarang Batman yang bakal menjadi senjata kunci.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2019

David F. Sandberg selaku sutradara film ini, begitu piawai dalam mengarahkan film superhero bertemakan keluarga bergaya komedi, kontras dengan karya sebelumnya melalui horor Annabelle : Creation, maka tak heran jika anda cermati dalam adegan awal ketika Billy mengerjai dua orang polisi dalam sebuah toko barang bekas, tampak boneka Annabelle terpajang di salah satu sudut rak.

Arahan dan gaya melalui berbagai adegan dan dialog di film ini, begitu kental dengan film-film remaja dan anak-anak era 80’an dan 90’an, ketika suatu tema yang pure berhasil dikemas menjadi tontonan menarik berkat dukungan efek teknologi masa kini, tanpa ada kelebayan gerakan aksi laga yang didramatisir.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2019

Karakterisasi Billy versi remaja pun dirasa pas, artinya tidak berlebihan dan mencoba tenang dalam berbagai situasi, ia seorang yang cool dan berhasil diperankan sangat baik oleh Asher Angel. Sedangkan versi dewasa yang diperankan Zachary Levi pun sama hebatnya terhadap akting yang bertingkah sebagai anak remaja yang awalnya kebingungan dan cemas, namun berkat dibantu oleh Freddie, ia pun belajar dan beradaptasi atas kekuatan super-nya itu.  

Kontras dengan karakter Freddie yang mencoba menjadi seorang oportunis dengan mengandalkan Shazam sebagai sesuatu yang ‘show-off’ bagi dirinya serta terkadang manipulatif atau sering bluffing, maka tak heran ia sering di bully oleh orang lain, dengan melihat tampangnya saja sudah ketahuan bahwa Freddie tidak bisa dipercaya.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2019

Berbagai keunikan karakter lain pun memperkaya cerita film ini, seperti Eugene sebagai bocah jenius yang tech-nerd, mengingatkan saya akan karakter Data di film The Goonies, selain itu ada karakter Darla sebagai si bungsu yang sulit menyimpan rahasia, karakter Pedro dengan fisik gempal yang tidak pernah berbicara bahkan menyapa, hingga karakter paling sulung yakni Mary yang sedih meninggalkan keluarganya tatkala ia akan masuk kuliah.

Sama seperti film-film superhero besar lainnya, film Shazam! tidak memiliki adegan memorable yang istimewa, karena hampir semua adegan berimbang akan kualitasnya yang tejaga. Mungkin saat yang mengharukan yakni ketika Billy versi remaja bertemu kembali dengan ibu kandungnya, di saat ia sedang terombang-ambing dalam melalui jati diri dalam pencarian arti keluarga yang sesungguhnya.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2019

Setting di kota Philadelphia pun dimanfaatkan oleh dialog yang dilontarkan Shazam alias Billy versi dewasa, dengan mereferensikan karakter petinju legendaris Rocky, ketika ia duduk dengan Freddie di Rocky Steps, depan pelataran Philadelphia Museum of Arts. Juga setting kemeriahan di sebuah karnaval yang dipakai dalam adegan pertarungan final pun cukup mengesankan … oh ya, ada kejutan besar dalam pertarungan tersebut!

Film Shazam! adalah film superhero persembahan DC yang mampu mengkombinasikan petualangan, action dan komedi dalam kosmik fantasi atau magis secara utuh melalui cerita yang menarik serta karakterisasi sekaligus interaksinya yang mengena. DC sudah mulai mampu bersaing dengan Marvel dengan banyak proyek potensial berikutnya. 
   
Score : 3.5 / 4 stars

Shazam! | 2019 | Superhero, Komedi | Pemain: Zachary Levi, Mark Strong, Asher Angel, Jack Dylan Grazer, Djimon Hounsou | Sutradara: David F. Sandberg  |  Produser: Peter Safran | Penulis: Berdasarkan karakter dari SC Comics, dikembangkan oleh Henry Gayden dan Darrren Lemke. Skenario: Henry Gayden | Musik: Benjamin Wallfisch | Sinematografi: Maxime Alexandre | Distributor: Warner Bros Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 132 Menit



Comments