Soekarno (2013) : Kontroversial Namun Sangat Vital

Courtesy of MVP Pictures, 2013

Diantara sekian banyak film nasional yang melibatkan Bung Karno sebagai tokoh sejarah terbentuknya Republik Indonesia sekaligus Presiden pertama, sejauh yang saya ketahui, belum ada yang menggarap film biopic tentang beliau. Tahun 2013 menjadi saksi sejarah –meski menuai kontroversi- ketika perilisan film Soekarno sebagai sebuah biopic yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan ditulis oleh Ben Sihombing.

Meski demikian, dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI yang ke-74, demi memperingati Sang Proklamator, maka saya coba angkat film Soekarno sebagai tema hari ini tepat di tanggal 17 Agustus. Film tersebut bagaikan terbelah dua oleh banyak pihak yang menilainya, ada yang memuji, namun ada pula yang mencibirnya sebagai penyimpangan fakta sejarah serta penggambaran karakter yang tidak sebagaimana mestinya.

Bagaimanapun juga, yang namanya film biopic dari negara manapun –bahkan Hollywood sekalipun- tak lepas dari kontroversi. Perbedaan sudut pandang dari sebuah narasi yang ingin disampaikan oleh sineas atau produser dengan beberapa pihak lain (terutama relasi dari karakter utama yang diangkat dalam film), terkadang menimbulkan gesekan. Terlepas dari hal itu, film Soekarno tampaknya ingin menegaskan terutama kepada generasi yang lebih muda, agar tetap menjaga spirit kemerdekaan yang merupakan bagian dari sejarah terpenting bangsa Indonesia.

Courtesy of MVP Pictures, 2013

Film Soekarno mengisahkan sekilas tentang masa kecil hingga remaja Bung Karno, hingga saat ia dewasa (Ario Bayu) terjun ke dalam panggung politik, berkampanye memenangkan hati rakyat dari berbagai kalangan, suku, golongan serta agama, dalam masa Kolonial Belanda di tahun 30’an. Soekarno yang telah beristrikan Inggit Garnasih (Maudy Koesnadi) dan telah memiliki beberapa anak, sempat dipenjara di Bandung akibat kampanye perlawanan terhadap penjajah.

Saat ia dibuang ke Ende, ia sempat mundur sejenak dari aktivitas politik akibat penyakit malaria yang dideritanya. Kemudian ketika Soekarno berada di Bengkulu bersama keluarganya, ia bertemu dengan Fatmawati (Tika Bravani), salah seorang murid yang kritis sekaligus memikat hatinya. Lamaran Soekarno kepada Fatmawati, membuat rumah tangganya dengan Inggit sempat terguncang, bersamaan dengan itu pula pasukan Jepang tiba di Indonesia dan mengusir Belanda, sehingga pembantaian terhadap rakyat pun terus berlanjut.

Ketika berada di Jakarta, Soekarno bertemu kembali dengan Mohammad Hatta (Lukman Sardi) dan Sutan Sjahrir (Tanta Ginting) yang merupakan rival politiknya. Sementara Sjahrir ingin melawan Jepang, Sukarno malah meyakinkan mereka bahwa melalui jalur diplomasi dengan Jepang, Indonesia bisa meraih kemerdekaan. Hatta berposisi netral namun akhirnya berduet dengan Soekarno, sedangkan Sjahrir mengupayakannya secara eksternal.

Duet Soekarno-Hatta terus maju berkampanye untuk kemerdekaan dan kedaulatan, sambil bernegosiasi dengan pihak Jepang melalui berbagai cara. Soekarno pun mendapat dukungan dari tentara PETA bentukan Jepang (cikal bakal TNI), namun kerap mendapat pertentangan oleh sekelompok pihak lain yang mencapnya sebagai pengkhianat. Kemudian harapan semakin mendekati nyata tatkala Jepang menyerah kepada Sekutu dan akan meninggalkan Indonesia, maka Soekarno-Hatta yang juga disesak oleh Sjahrir harus segera memproklamasikan kemerdekaan RI.

Courtesy of MVP Pictures, 2013

Selama sekitar 2,5 jam, audiens disuguhkan oleh perjalanan Soekarno yang fokus pada karir politik dan persoalan rumah tangganya. Pada awal jalan cerita, tampak Hanung menggunakan plot non-linear secara bergantian saat penangkapan atau pidato Soekarno serta masa kecil dan remajanya. Cerita dibuka pada tahun 1929 saat Soekarno tertangkap di Yogyakarta, lalu beralih ke tahun 1912 saat ia masih kecil dan sakit, bergulir hingga ia remaja hingga beranjak dewasa ketika mulai terjun ke politik.

Kemudian alur cerita mulai mengalir normal, terutama dimulai tahun 1934 di Ende kemudian ia beserta keluarga pindah ke Bengkulu dan perjalanan pun dimulai. Di film ini tampaknya perjuangan beliau kerap kali menemukan kesulitan pada masa penjajahan Belanda, hingga tahun 1942 ketika Jepang menguasai tanah air, perlahan-lahan mulai tampak titik terang menuju diplomasi dalam rangka proklamasi kemerdekaan.

Meski demikian, upaya diplomasi Soekarno dengan Jepang harus dibayar mahal ketika ia harus menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana para wanita muda penduduk setempat dipaksa untuk melayani tentara Jepang, serta para pria harus menjalankan Romusha (kerja paksa), alih-alih Jepang membantu Indonesia dengan mendirikan tentara PETA.

Courtesy of MVP Pictures, 2013

Terlihat jelas akan konflik batin dalam diri Soekarno di satu sisi ia begitu miris melihat penderitaan rakyat, tapi di sisi lain ia bersama Hatta mengambil berbagai langkah taktis terhadap Jepang menuju kemerdekaan hingga terus mencari celah yang bisa dimanfaatkan untuk pencapaian terbesar bangsa, sambil tetap teguh dan yakin akan tetap berhasil.

Ketegangan internal pun begitu terlihat ketika beberapa pihak menentang Soekarno karena dianggap mengambil langkah yang keliru, bahkan dianggap sebagai ‘antek asing’ atau kolaborator Jepang, termasuk Sjahrir meski ia tetap bekerjasama dengan Soekarno sekaligus mengagguminya. Film ini mencoba untuk memberikan gambaran sederhana tentang peta perpolitikan saat itu. 

Sisi manusiawi Soekarno pun dalam sebuah dilema terhadap persoalan wanita dan rumah tangga, jelas terekam melalui berbagai adegan baik keharmonisannya dengan Inggit serta anak-anaknya, ketertarikannya dengan Fatmawati yang mengakibatkan dimulainya keretakan rumah tangga Soekarno hingga mempengaruhi psikologis anak-anaknya.

Courtesy of MVP Pictures, 2013

Saat Soekarno terpisah dengan Fatmawati sejak kedatangan Jepang untuk pertama kali, ia seringkali melamun saat beraktivitas atau berbincang dengan Hatta, yang terkadang beberapa adegan tersebut berlebihan. Saat Soekarno menikah dengan Inggit dan melahirkan anak pertamanya, Riwu anak lelaki hasil pernikahan dengan Inggit terlihat begitu tersiksa, dan di satu adegan tampak Riwu dan Fatmawati saling tidak menyukai.

Tanpa mengurangi rasa respek, film ini menggambarkan karakter Inggit yang lebih baik daripada Fatmawati, mungkin karena selain kematangan, juga sikap dan kebijakan yang berlainan diantara keduanya, sehingga jelas posisi Inggit lebih mendapatkan simpati ketimbang Fatmawati yang kala itu masih berusia sangat muda. Performa ciamik Maudy Koesnaedi sebagai Inggit, mampu menghantarkan seorang karakter sebagai seorang istri bersahaja untuk Soekarno, walau sebelumnya Inggit pernah menikah dengan orang lain namun lebih memilih Soekarno sebagai pendamping hidupnya.

Karakter Soekarno sendiri yang dimainkan cukup baik oleh Ario Bayu dirasa pas, meski sedikit kurang berkarisma, serta ketidakcocokan suaranya yang berbeda saat adegan pembacaan Teks Proklamasi, bisa dibandingkan perbedaan signifikan suara Ario Bayu dengan rekaman audio dari suara asli milik Soekarno. 

Courtesy of MVP Pictures, 2013

Diantara semua karakter di film ini, maka performa terbaik datang dari Lukman Sardi sebagai Mohammad Hatta, sebagai seorang yang begitu tenang, bersikap netral dan objektif, open-minded tanpa terburu-buru men-judge sesuatu, namun tetap tegas dan yakin, ditambah dengan kecerdasan intelektual yang saling mendukung dengan Soekarno sebagai tandem-nya.

Visual film ini disajikan dengan gaya klasik atau vintage, melalui penurunan saturasi warna, sambil sesekali cenderung grayscale ataupun monochrome (hitam-putih) termasuk selingan footage video dokumenter, kecuali warna merah, termasuk bendera Merah-Putih yang sengaja ditonjolkan saat dikibarkan atau dibawa oleh orang-orang, sambil menyanyikan lagu kebangsaan. Tampaknya visual tersebut menjadi trend modern atau tidaknya dalam perfilman nasional dalam penggarapan nuansa klasik, saya tidak banyak tahu, tapi overall tetap bisa dinikmati.

Courtesy of MVP Pictures, 2013

Oh ya, kelemahan mendasar tampak dalam adegan di taman Istana Gubernur Jenderal yang merupakan rumah dinas petinggi militer Jepang, sangat kentara manipulasi digital matte terhadap istana tersebut. 

Momen setelah Jepang menyerah dari Sekutu namun beberapa petinggi Jepang masih di Indonesia, serta di sisi lain Soekarno-Hatta dalam keadaan genting harus segera memproklamirkan kemerdekaan itulah yang paling menarik di film ini, saat di seperempat akhir cerita.   

Terlepas dari keakuratan fakta dan sejarah tentang kehidupan Soekarno dan seputar perjuangan serta rumah tangganya, film Soekarno sendiri bisa diapresiasi sebagai salah satu tontonan yang masih pantas dinikmati sebagai pengenalan (terutama generasi muda) dan pengingat yang sangat vital dalam momen 17 Agustus. Jika memang penasaran akan kontroversi penyimpangan fakta sejarah, bisa langsung dipelajari melalui berbagai referensi yang valid.

Mungkin nanti ada film biografi Soekarno versi lainnya? Kita lihat saja.

Score : 3 / 4 stars

Soekarno | 2013 | Drama, Biografi, PolitikPemain: Ario Bayu, Lukman Sardi, Tanta Ginting, Maudy Koesnaedi, Matias Muchus, Sujiwo Tejo, Tika Bravani, Ferry Salim, Emir Mahira, Agus Kuncoro | Sutradara: Hanung Bramantyo Produser: Raam Punjabi | Penulis: Berdasarkan biografi dan kisah hidup Soekarno oleh Ben Sihombing | Musik: Tya Subiakto Satrio | Sinematografi: Faozan Rizal | Distributor: MVP Pictures Negara: Indonesia | Durasi: 137 Menit

Comments