High Noon (1952) : Keterasingan Seorang Penegak Hukum


Membagikan ulasan atau review film, daftar film, maupun opini film di dalam dunia sinema.
Courtesy of United Artists, 1952

They’re making me run. I’ve never run from anybody before.”
 
Pengetahuan dan pengalaman saya nonton film western amat-sangat terbatas, mulai dari era klasik hingga kejayaan yang berakhir di tahun 70’an, melalui John Wayne, Clint Eastwood, Gary Cooper, James Stewart, Robert Duvall, Henry Fonda atau Charles Bronson yang kerap berlangganan membintangi genre tersebut. Begitu banyak film western yang diproduksi, bagaikan lautan luas yang membentang selama tujuh dekade melalui berbagai sub genre di dalamnya.

Film High Noon merupakan salah satu karya terbaik western yang pernah ada, sehingga diganjar tiga penghargaan Oscar (termasuk Best Actor yang diperankan Gary Cooper), dari total tujuh nominasi termasuk Best Picture. Film tersebut juga memiliki pengaruh besar dalam pop culture sebagai inspirasi terhadap film science fiction thriller bejudul Outland (1981) dan beberapa kali direferensikan melalui serial televisi The Sopranos.

High Noon mengisahkan tentang seorang Marshall yang akan pensiun bernama Will Kane (Gary Cooper), baru saja melangsungkan pernikahan dengan Amy (Grace Kelly). Mereka berencana meninggalkan kota tersebut guna membangun kehidupan baru. Namun para penduduk kota kecil tersebut gempar, tatkala datang ketiga orang menjemput Frank Miller (Ian McDonald), yang akan tiba di stasiun kereta tepat jam 12 siang hari.

Miller adalah seorang kriminal yang pernah dipenjarakan oleh Kane dan berniat menuntut balas terhadap Kane. Amy menginginkan ia dan Kane bergegas meninggalkan kota tersebut, namun Kane akhirnya memilih untuk tinggal sementara, sekaligus menghadapi Miller untuk menuntaskan urusan tersebut, terkait posisinya sebagai Marshall masih berlaku. Amy bersikeras meninggalkan kota tersebut dengan memesan tiket kereta jam 12 siang.

Membagikan ulasan atau review film, daftar film, maupun opini film di dalam dunia sinema.
impawards.com

Sementara menunggu datangnya kereta, Amy bertemu dengan Helen Ramirez (Katy Jurado), yang ternyata adalah mantan kekasih Miller dan Kane. Helen membenci kota tersebut dan berniat pergi meninggalkannya, hingga ia dan Amy berencana pergi bersama dalam satu kereta.

Persoalan menjadi semakin rumit saat jarum jam terus berdetak menuju jam 12 siang, dimulai saat Deputy muda bernama Harvey (Lloyd Bridges) yang tidak direkomendasikan oleh Kane sebagai penerusnya, namun ia akan bersama Kane menghadapi Miller, jika ia dilantik secara resmi, sehingga akhirnya Kane menolak. Lalu ada Hakim Percy yang bergegas pergi meninggalkan kota tersebut.

Kane dalam usaha mencari para Deputy dan beberapa orang untuk menghadapi kawanan Miller, ditolak oleh mereka dengan berbagai alasan dan malah menyarankan Kane untuk meninggalkan kota tersebut, demi kebaikan bersama. Marshall senior bernama Howe (Lon Chaney Jr.) pun tidak bisa membantu karena usia dan kondisi fisik yang tidak memungkinkan, sementara Deputy Sam menghindari Kane dengan bersembunyi di dalam rumah saat ia dikunjungi. 

Pria bernama Jimmy bersedia menjadi sukarelawan, namun kondisi penglihatannya tidak baik serta dalam keadaan setengah mabuk, sedangkan Herb yang sudah siap menjadi sukarelawan, langsung mundur, begitu menyadari bahwa tidak ada tambahan orang lagi. Maka dalam keadaan tertekan, Kane harus menghadapi kawanan Miller sendirian dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri …

Courtesy of United Artists, 1952

Melalui durasi sekitar satu setengah jam, alur cerita yang disuguhkan melalui film ini dipaparkan seakan-akan secara ‘real time’, dimulai dalam adegan-adegan awal, jarum jam menunjukkan sekitar pukul 10.40. Yang paling menarik di film ini yakni bagaimana dalam rentang waktu tersebut, karakter sentral Kane sebagai seorang Marshall berada dalam sebuah dilema besar, kondisi yang sangat kritis menuju tengah hari (jam 12 siang).

Karakter Kane dalam posisi tersebut, bagaikan seseorang yang dijauhi oleh semua orang, dalam arti tidak ada yang mendukung prinsip, kewajiban serta tanggung jawabnya sebagai seorang Marshall, dalam menghadapi ancaman dan bahaya dari kawanan kriminal terhadap keselamatan nyawa di kota tersebut, padahal Kane melakukan semua itu demi kebaikan mereka yang malah menjadi sebuah kesalahpahaman fatal.

Courtesy of United Artists, 1952

Parahnya, tidak ada seorang pun yang berani mengambil alih tugas Kane menjadi seorang Marshall, atau setidaknya menjadi seorang Deputy, malah mereka semua menghindarinya, alih-alih kedatangan Miller merupakan urusan pribadi antar mereka berdua. Mereka memang menaruh perhatian terhadap Kane, tapi menyarankan agar Kane meninggalkan kota tersebut dengan harapan bahwa Miller tidak mengusik mereka sehingga keadaannya menjadi aman.

Adegan adu argumen di dalam Gereja tersebut, boleh dibilang menjadi sebuah konklusi terhadap problema yang dihadapi oleh Kane dan penduduk kota. Meski pada akhirnya, di saat bersamaan dengan jarum jam mendekati angka 12, Kane sudah tidak mungkin menghindari kawanan Miller, apalagi harus melibatkan Amy karena mereka pasti dikejar-kejar oleh Kane.

Courtesy of United Artists, 1952

Kane sendiri merupakan tipikal heroik klise dalam dunia film western, sebagai seorang Marshall protagonis yang disegani oleh penduduk kota. Saat berada di masa transisi (belum ada calon pengganti yang potensial), sebuah persoalan besar menimpanya, yakni kembalinya Miller untuk berjibaku dengannya. Namun Kane yang masih memiliki tanggung jawab sebagai Marshall, mau tak mau harus menghadapinya.

Puncak persoalan dalam film inilah yang menarik, saat Kane harus menghadapi kondisi yangt tidak mengenakan dalam hidup dan karirnya, bahwa tidak ada seorang pun yang mendukung prinsip dan pendiriannya, bahkan turut ditentang oleh Amy yang merupakan istrinya sendiri.

Salah satu kekurangan dari narasi film ini, yakni tidak ada seorang pun yang berani berdampingan dengan Kane menghadapi kawanan Miller, alih-alih dengan berbagai alasan klise. Juga yang ingin saya soroti yakni karakter Harvey yang sudah siap dan berantusias menggantikan Kane menjadi seorang Marshall. Apakah ketidakpantasan Harvey sebagai Marshall di masa mendatang, masih menjadi tanggung jawab Kane? I don’t think so

Courtesy of United Artists, 1952
Peranan psikologis yang menarik, terjadi pada karakter Herb yang memang siap sebagai seorang Deputy untuk menghadapi kawanan Miller. Hal tersebut terungkap dalam dialog saat Kane sedang berusaha mengumpulkan beberapa orang lagi untuk membantunya, maka Herb akan kembali 10 menit kemudian, dengan harapan besar. Namun saat Herb mengetahui tidak lagi yang membantunya, maka nyalinya langsung ciut dan mundur.

Beberapa adegan menarik diperlihatkan dengan cukup megah, saat tiga orang kawanan Miller, menunggu Miller di sebuah stasiun kecil satu setengah jam lamanya. Adegan tersebut beberapa kali diselingi oleh berbagai adegan dari persoalan yang dihadapi Kane dan sorotan kamera terhadap jarum yang menuju angka 12, sementara di stasiun kereta tampak kamera menyoroti sebuah rel menghadap jauh kearah bakal datangnya kereta yang ditumpangi Miller.

Hingga kereta pun akhirnya datang, ditandai dengan suara klakson dari kejauhan, kumpulan asap yang mengepul, hingga dari titik jauh tampak sebuah lokomotif kereta yang kian mendekat, sementara trio kawanan Miller bersiap-siap memakai persenjataan dan amunisinya.

Sekuen yang paling epik tentu saja di saat yang bersamaan, Kane berjalan menuju kantornya seorang diri, di tengah hari yang terik. Tampak jalanan kosong, tidak ada seorang dan seekor kudapun yang eksis, sekilas hanya tampak dua orang melewati Kane lalu langsung melarikan diri menghindarinya. 

Courtesy of United Artists, 1952

Adegan paling memilukan, yakni saat Kane menatapi Amy yang mengendarai kereta kuda bersama dengan Helen, melewati Kane yang terpana seorang diri, dan tanpa dialog sepatah katapun. Tatapan mata Kane yang sayu mengindikasikan bahwa ia harus menuntaskannya, sementara tatapan mata Amy mengindikasikan bahwa ia bersikeras untuk pergi demi keselamatan dirinya.

Film High Noon merupakan sebuah western yang tidak biasa dalam penuturan kisah akan intrik yang dialami oleh berbagai karakternya satu sama lain. Disuguhkan melalui format hitam-putih, tampaknya film ini dengan sengaja ingin mengeksploitasi drama tentang penolakan dan pergumulan terhadap situasi kritis yang dialami oleh Kane dan penduduk kota tersebut.

Masa-masa keputusasaan dan depresi atau tekanan yang begitu besar, diperkuat oleh suramnya visual hitam-putih yang seharusnya kontras dengan suasana panas terik di hari Minggu siang, hari saat ada kedamaian yang seharusnya tercipta.

Sungguh ironis, bagaimana Kane harus menanggung sekaligus melindungi warganya dari ancaman Miller, namun malah Kane sendiri yang terasingkan!

Score : 3 / 4 stars

High Noon | 1952 |  Western Pemain: Gary Cooper, Thomas Mitchell, Lloyd Bridges, Katy Jurado, Grace Kelly, Otto Kruger, Lon Chaney Jr., Henry Morgan, Ian McDonald  | Sutradara: Fred Zinnemann  | Produser: Stanley Kramer | Penulis: Berdasarkan adaptasi lepas dari cerita pendek “The Tin Star” karya John W. Cunningham. Skenario: Carl Foreman | Musik: Dimitri Tiomkin | Sinematografi: Floyd Corsby | Distributor: United Artists | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 85 Menit 


Comments