Review : 3 Sekuel 'Rambo'

Courtesy of TriStar Pictures, Lionsgate

I could have killed them all. I could have killed you. In town you’re the law, out here it’s me. Don’t’ push it. Don’t’ push it or I’ll give you the war you won’t believe. ” 

Seri terbaru Rambo, berjudul Rambo : Last Blood, merupakan seri ke-5 dari franchise film Rambo, yang sebentar lagi akan tayang di bioskop. Karakter Rambo adalah bagian dari pop culture yang sangat mempengaruhi film-film action adventure sejenis dalam generasi berikutnya, seorang eks-pasukan khusus yang telah berpengalaman dalam Perang Vietnam, serta seorang diri mampu mengalahkan sebuah pasukan!

Sepertinya lebay, namun begitulah adanya dan karakternya sering direferensikan dalam banyak film, melalui dialog satir. Terlepas dari semua itu, seri ke-2 yang berjudul Rambo : First Blood Part II (1985) adalah yang paling sukses dalam pendapatan dari keseluruhan franchise-nya, namun film terbaik tentu saja film pertamanya yang kuat dalam karakterisasi dan emosional di akhir ceritanya, sehingga disambut baik oleh kritikus. Berkat kesuksesan Rambo, maka tak heran pernah dibuatkan serial televisi berupa animasi.
impawards.com

Meski seri ke-2 dan ke-3 hanya dirasa sebagai heroik fiktif dengan gaya cheesy dan action flick ala 80’an, namun umumnya masih dapat dinikmati sebagai petualangan yang seru dan cukup fun. Di seri ke-4, filmnya digarap lebih serius dan sangat disturbing dengan mempertontonkan adegan sadis nan-gory dalam berbagai peperangan brutal di Myanmar, sehingga banyak pula yang mengkritik film tersebut seperti permainan konsol dewasa.

Kini, jika dilihat dari judulnya mungkin menjadi film Rambo terakhir sebelum ia benar-benar pensiun, dengan memanfaatkan premis tentang misi penyelamatan seorang gadis dari kartel Meksiko. Apakah film tersebut mampu memperbaiki seri sebelumnya? Semoga saja, namun sebelum tonton filmnya, anda wajib tonton film pertamanya yang telah dibahas sebelumnya, sedangkan seri lainnya akan dibahas di bawah ini :

Rambo : First Blood Part II (1985)
Courtesy of TriStar Pictures, 1985

To survive a war, you gotta become war” 

Tiga tahun setelah menjalani hukuman akibat akhir cerita di film pertamanya, Rambo (Sylvester Stallone) ditawari oleh Trautman (Richard Crenna) dalam misi pengamatan sandera tentara Amerika yang masih berada di Vietnam, demi mendapatkan pengampunan hukuman. Rambo pun setuju dan menemui Marshall Murdock (Charles Napier), agen pemerintah yang memberikan detail serta teknis misi yang hanya mengijinkan Rambo untuk memotret kamp tawanan 

Dikarenakan insiden pendaratan, mengakibatkan Rambo kehilangan seluruh peralatannya. Ketika ia bertemu dengan seorang kontak bernama Co-Bao (Julia Nickson), Rambo terpaksa harus berkonfrontasi dan terlanjur harus membebaskan para tahanan tersebut, sekaligus selain berhadapan dengan Letnan Vietkong, juga Letkol Uni Soviet bernama Podovsky (Steven Berkoff). 

Petualangan John Rambo dalam film ini masih berkutat mengenai isu Perang Vietnam yang diyakini pihak Amerika, masih terdapat banyak POW (Prisoner of War) alias tahanan perang oleh pihak Vietkong. Rambo pun kembali menuju Vietnam karena diyakini telah berpengalaman sebagai salah satu mantan prajurit terunggul yang dimiliki Amerika.
Courtesy of TriStar Pictures, 1985

Cerita ditulis oleh Kevin Jarre, dengan naskah yang kembali ditulis oleh Stallone sendiri serta dibantu oleh sineas yang saat itu mulai populer lewat film The Terminator (1984), yakni James Cameron, film Rambo : First Blood Part II sebenarnya sangatlah klise dengan memposisikan kekuatan dan kehebatan Amerika dalam Proxy War di Vetnam, sekaligus masih ingin show-off atas kekuatannya terhadap Uni Soviet dalam era Perang Dingin.

Yang menarik, film ini justru menjadi film Rambo paling laris diantara semua filmnya, sehingga mungkin saja menjadi alat propaganda pemerintah Amerika terhadap sentimen komunisme, sekaligus berusaha menutup kegagalan mereka di Perang Vietnam. Elemen heroik fantasi yang diimplementasikan ke dalam genre action adventure atau war terhadap karakter Rambo yang di film sebelumnya begitu kuat, kini di film ini tak lebih sebagai mesin perang yang tak terkalahkan dalam menghadapi satu peleton gabungan Vietkong dan Uni Soviet!

Meski demikian, pada dasarnya karakter Rambo sendiri tidak memiliki pilihan lain dan mungkin di dalam dirinya sebagian telah mati terlebih akibat peristiwa di film sebelumnya, sehingga ia rela berperang kembali serta siap menghadapi kematian yang sesungguhnya. Pun juga dengan naskah yang masih cukup signifikan dan memiliki kemiripan dengan film terdahulu, terutama yang dilontarkan oleh Rambo dan Trautman.
Courtesy of TriStar Pictures, 1985

Stallone yang kembali menghidupkan karakter Rambo tetap memiliki karismanya sendiri, meski Rambo dianggap sebagai orang yang sepertinya telah kehilangan jiwa kehidupannya, yang tanpa banyak omong serta minim akan emosi. Richard Crenna sebagai Trautman pun tidak ada perbedaan dengan film terdahulu, sedangkan akting Julia Nickson sebagai pejuang Vietnam bernama Co-Bao juga standar. Chemistry-nya dengan Rambo cukup terjalin dengan baik.

Alur ceritanya sendiri lumayan seru untuk diikuti, walaupun sangat terasa hambar dan terlalu cheesy terutama aksi Rambo itu sendiri yang dengan mudahnya membantai seluruh pasukan musuh. Adegan memorable-nya tentu saja saat Rambo diinterogasi lalu kemudian dipaksa berkomunikasi dengan rekan-rekannya sementara ia diancam oleh Podovsky, serta saat Rambo menghantam pemimpin pasukan Vietkong dan Podovsky, menjadi kepuasaan tersendiri.

Rambo yang tadinya hanya membebaskan satu orang tahanan dan berusaha kembali ke Thailand, menuju pangkalan militernya, kemudian atas peristiwa yang tak disangka (termasuk sebuah konspirasi) serta sebuah tragedi, mengakibatkan bangkitnya kemurkaan Rambo untuk bertekad menghancurkan pihak musuh, menjadi salah satu kelemahan besar akan kemustahilan mendasar bagi gaya action flick semata ala Chuck Norris. 
Courtesy of TriStar Pictures, 1985

Adegan aksi laga yang spektakuler sedikit menolong keseluruhan film ini dengan menghadirkan banyak ledakan, baku tembak terutama berondongan peluru yang dilontarkan Rambo, serta pertempuran helikopter MIL MI-24 dan tak lupa aksi akrobatik Rambo yang cukup lebay.  

Film Rambo : First Blood Part II merupakan sebuah sekuel yang seharusnya tidak perlu ada, alih-alih ingin mengangkat sebuah isu akan konspirasi di dalam pemerintahan Amerika sendiri yang terkait dengan Perang Dingin dan konflik Vietnam, dengan cara memunculkan seorang jagoan super yang tak lebih sebagai mesin perang.  

Score: 2 / 4 stars Pemain: Sylvester Stallone, Richard Crenna, Charles Napier, Steven Berkoff, Julia Nickson, Martin Kove  | Sutradara: George P. Cosmatos | Produser: Buzz Feitshans | Penulis: Berdasarkan karakter karya David Morell, ditulis oleh Kevin Jarre. Naskah: Sylvester Stallone, James Cameron | Musik: Jerry Goldsmith | Sinematografi: Jack Cardiff  | Distributor: TriStar Pictures | Negara: Amerika Serikat  | Durasi: 96 Menit


Rambo III (1988)
Courtesy of TriStar Pictures, 1988

God would have mercy. John Rambo won’t!

Trautman (Richard Crenna) mengunjungi dan mengajak Rambo (Sylvester Stallone) di Thailand, untuk bergabung dalam misi yang disponsori CIA untuk membantu gerilyawan Afganistan terhadap pendudukan Uni Soviet, namun Rambo menolaknya. Saat Trautman menjalankan misi tersebut, ia dan kelompoknya dicegat dan ditawan oleh pihak Uni Soviet, serta diinterogasi oleh Kolonel Zaysen dan Sersan Kourov.

Melalui eksekutif duta besar Amerika, Rambo diberitahu bahwa Trautman ditawan oleh Uni Soviet, namun Rambo menolak misi penyelamatan, khawatir bakal terjadi perang terbuka antara Amerika dan Soviet. Menyadari nyawa Trautman yang terancam, Rambo dengan sukarela seorang diri menyelamatkannya, dan pihak Amerika bakal menyangkal jika misi tersebut gagal atau bahkan jika menewaskan Rambo dan Trautman. Dengan bantuan seorang kontak bernama Mousa dari Pakistan, Rambo pun berusaha membebaskan Trautman. 

Jika diperhatikan di awal cerita, terdapat persamaan saat Trautman menghampiri Rambo untuk sebuah misi baru. Sebenarnya Rambo sudah menyatakan dirinya pensiun dengan hidup tenang di Thailand (akhir dari cerita di sekuel sebelumnya), namun karena Trautman disandera oleh pihak Soviet di Afganistan, maka ia pun nekat untuk menyelamatkannya. Persamaannya dengan kedua film ini mengindikasikan bahwa Rambo hanya dihadapkan pada pilihan perang daripada tinggal di penjara (First Blood Part II) dan hidup tenang di sebuah Biara (Rambo III).
Courtesy of TriStar Pictures, 1988

Lagi-lagi Stallone yang menulis naskahnya bersama dengan Lettich, mengangkat isu Proxy War di wilayah Afganistan yang diduduki oleh Uni Soviet, sedangkan para pemberontak yakni kelompok Mujahidin dibantu oleh Amerika. Maka perang solo Rambo terhadap militer Soviet, kembali terulang di film ini, dengan skala yang lebih besar.

Petualangan Rambo di film ini sedikit lebih berwarna, dengan memperlihatkan bagaimana sekilas kehidupan para Mujahidin yang memberontak dan berusaha menggulingkan pemerintahan boneka kreasi Soviet, hidup dalam pengasingan dan nomaden. Perjalanan Rambo dari Pakistan menuju Afganistan, yang dibantu oleh seorang kontak yang merupakan sekutu Amerika (adanya keterlibatan Pakistan dalam perang tersebut), menghubungkan Rambo untuk berinteraksi dengan kelompok Mujahidin.

Hal yang plaing klise tentu saja kepahlawanan instan Rambo yang dianggap Mujahidin sebagai seorang penyelamat yang mempermudah mereka untuk menyerang milier Soviet, sekaligus berusaha menghancurkan sebuah benteng, yang merupakan tempat penyanderaan Trautman dan penduduk Afgansitan yang memberontak. 

Courtesy of TriStar Pictures, 1988

Ada sedikit pengembangan karakter Rambo di film ini. Rambo sebenarnya enggan berperang lagi setelah meluapkan emosi di akhir cerita film sebelumnya dan menjalani hidup tenang di sebuah Biara, serta ia menolak sebuah misi yang dipimpin oleh Trautman. Rambo yang tidak tinggal diam melihat eks-atasannya sekaligus kawannya itu masih hidup dan ditawan pihak Soviet, ia bersikukuh hanya membebsakan Trautman tanpa memperdulikan nasib Mujahidin ketika mereka dalam posisi lemah. Gara-gara ketika kamp mereka diserang Soviet-lah, Rambo melihat penderitaan mereka sehingga akhirnya berupaya menghancurkan instalasi militer Soviet tersebut.

Berbagai adegan aksi peperangan di film ini sama dengan sekuelnya terdahulu, banyak baku tembak dan ledakan dimana-mana, Rambo masih tak terkalahkan namun sempat mengalami luka dengan tubuhnya tertancap batangan logam (tembus dari depan ke belakang) yang kemudian ia sembuhkan dengan serbuk dalam peluru yang dibakar, sebuah adegan yang unik! 

Courtesy of TriStar Pictures, 1988

Tak lupa beberapa helikopter tempur kebanggaan Soviet kala itu, MIL MI-24 kembali hadir dalam adegan pertempuran menarik, disertai oleh helikopter tempur yang lebih ringan serta beberapa tank baja. Setting instalasi militer beserta latar pegunungan tandus di Asia Tengah pun memunculkan beberapa mise-en-scéne menarik, terutama saat kamera menyorot landskap dari kejauhan, termasuk dalam adegan pertempuran.

Meski terkesan sangat klise dan absurd, film Rambo III sedikit lebih mengangkat nilai visual dan sekuen pertempuran secara epik.

Score: 2.5 / 4 stars Pemain: Sylvester Stallone, Richard Crenna, Kurtwood Smith, Marc de Jonge, Sasson Gabai  | Sutradara: Peter MacDonald | Produser: Hal Lieberman, Colin Wilson, Mario F. Kassar, Andrew G. Vajna, Joel B. Michaels | Penulis: Buzz Feitshans | Penulis: Berdasarkan karakter karya David Morell. Naskah: Sylvester Stallone, Sheldon Lettich | Musik: Jerry Goldsmith  | Sinematografi: John Stanier | Distributor: TriStar Pictures | Negara: Amerika Serikat  | Durasi: 101 Menit


Rambo (2008)
Courtesy of Lionsgate, 2008

Go live your life ‘cause you’ve got a good one.

Gejolak politik di Myanmar melalui Saffron Revolution, seorang perwira SPDC, Mayor Pa Tee Tint dengan kejam memberangus berbagai desa, dengan pembantaian, penculikan dan para wanita dijadikan tawanan untuk budak seks. John Rambo (Sylvester Stallone) yang menjalani hidup tenang di Thailand, didatangi oleh seorang dokter dan pemimpin kelompok misionaris bernama Michael (Paul Schulze) yang menyewanya sekaligus menyeberangkan mereka menuju Myanmar, dalam misi kemanusiaan terhadap bangsa Karen.

Saat masuk ke pedesaan, mereka ditawan oleh tentara pimpinan Tint. Michael pun melarikan diri diam-diam dan meminta Rambo untuk mengantarkan kelompok serdadu bayaran untuk membebaskan kelompoknya. Setelah Rambo kembali mengantarkan mereka, ia menawarkan bantuannya, namun ditolak oleh pemimpin kelompok tersebut yang bernama Lewis (Graham McTavish). Kelompok Lewis pun ternyata mengalami kesulitan menghadapi pasukan Tint, akhirnya Rambo pun diam-diam membantu mereka dalam menumpas pasukan Tint, sekaligus berusaha membebaskan para tawanan misionaris.

Courtesy of Lionsgate, 2008

Setelah 20 tahun, franchise film Rambo kembali digarap oleh Stallone yang memerankan karakter utama, menulis naskah sekaligus menyudtradarai installment ke-4 yang ber-setting di Myanmar, berdasarkan revolusi berdarah yang terjadi di negeri tersebut. Peperangan Rambo di wilayah Asia Tenggara, sepertinya mengembalikan nostalgia akan film  First Blood Part II di Vietnam, sehingga secara premis sebenarnya kurang menarik.

Namun gara-gara Rambo masih hidup tenang kembali di Thailand, maka premisnya itu sendiri tentu saja sangat diterima oleh para fans-nya. Seperti di dua sekuel sebelumnya, Rambo yang sudah berusia paruh baya, tentu enggan mencampuri urusan penyelamatan kelompok misionaris oleh sekelompok tentara bayaran, dari kekejaman militer SPDC. Namun karena tergerak oleh mereka yang sedang dalam posisi sulit, maka Rambo kebali harus turun tangan untuk membereskan semuanya.

Courtesy of Lionsgate, 2008

Harus diakui memang, arahan Stallone melalui berbagai sekuen dan aksi yang disajikan mampu meningkatkan sebuah intensitas lebih riil dibandingkan dua sekuel sebelumnya, termasuk karakterisasi. Malah beberapa karakter tentara bayaran di film ini cukup menarik perhatian, melalui emosi yang mereka mainkan, serta karakter misionaris Sarah Miller yang sempat berargumen dengan Rambo meski akhirnya tertuju pada sebuah pencerahan, sementara suami Sarah bernama Michael adalah seorang yang menyebalkan sekaligus naïf.

Hal yang paling buruk di film ini adalah eksploitasi graphic violence yang ultra-gory bagaikan permainan konsol dewasa, terutama banyak sekali muncratan darah –yang kelewat banyak- hasil terkena tembakan, ledakan maupun bacokan, juga anggota tubuh yang terpotong dan terurai-burai, sungguh membuat ngilu dan tidak enak dilihat, sehingga jangan sekali-kali anda mengunyah sesuatu saat nonton film ini. 

Entah alasan apapun yang dilontarkan Stallone, alih-alih ingin menghindari bully-an karakter Rambo dalam dua sekuel sebelumnya, terkait ‘kekonyolan’ akan adegan yang cheesy ala 80’an, dengan memperlihatkan realita kengerian perang dan penindasan, yang ada malahan pertunjukkan horor sesungguhnya! Hal tersebut kemudian ia lanjutkan di film The Expandables (2010) meski porsinya dikurangi.

Courtesy of Lionsgate, 2008

Berbagai adegan Rambo yang comeback dalam membantai kelompok SPDC tanpa ampun, diperlihatkan cukup epik dan sangat brutal tentunya, tak lupa setting dan latar hutan hujan Myanmar, mirip seperti film-film bertemakan Perang Vietnam, sehingga dirasa kurang menarik dan agak menjenuhkan bak kepahlawanan klasik Barat dalam menyelamatkan internal conflict di salah satu negara Asia Tenggara.

Tidak banyak yang bisa dibahas lagi tentang film ini, selain karakter Rambo yang tidak mengalami pengembangan berarti, ditambah dengan adegan aksinya yang semakin brutal dan lagi-lagi menjadi seorang pahlawan atau penolong bak macan yang terbaring dari tidur panjangnya.

Score: 1.5 / 4 stars Pemain: Sylvester Stallone, Julie Benz, Paul Schulze, Matthew Marsden, Graham McTavish, Tim Kang, Rey Gallegos, Jake LaBotz  | Sutradara: Sylvester Stallone | Produser: Avi Lerner, Kevin King-Templeton, John Thompson | Penulis: Berdasarkan karakter karya David Morell. Naskah: Art Monterastelli, Sylvester Stallone | Musik: Brian Tyler | Sinematografi: Glen MacPherson  | Distributor: Lionsgate | Negara: Amerika Serikat  | Durasi: 91 Menit

Comments