Review Film ‘The Pink Panther’ Orisinal

review ulasan film the pink panther orisinal
United Artists

Jika anda tidak asing dengan tema musik trio Warkop DKI, maka sejatinya tema tersebut adalah milik The Pink Panther versi orisinal yang dimulai sejak era 60'an, sebuah waralaba film dengan maskot berupa kartun seekor macan berwarna merah muda!

The Pink Panther berawal dari ide sineas Blake Edwards bersama dengan penulis Maurice Richlin, saat film perdana dirilis dengan judul yang sama di tahun 1963. Adapun dalam perkembangan selanjutnya, karakter utama dalam waralaba tersebut adalah Inspektur Clouseau yang diperankan oleh Peter Sellers.

Penamaan “The Pink Panther” sendiri bukanlah merujuk pada karakter, namun berupa berlian berwarna merah muda, dengan kilauan di tengah-tengahnya menghadirkan ilusi seperti seekor macan yang sedang melompat.

Dari total 11 film lepas yang pernah dirilis, hanya 6 film yang melibatkan objek berlian tersebut, 10 diantaranya disutradarai oleh Blake Edwards serta 5 film diperankan Peter Sellers sebagai Clouseau. Selain film lepas, terdapat sejumlah film animasi dan serial televisi, selain video games tentunya.

Kali ini, saya akan bahas singkat beberapa film The Pink Panther versi orisinal yang khusus di sutradarai Blake Edwards dan karakter Clouseau yang diperankan Peter Sellers saja, mengingat kolaborasi mereka membuahkan hasil yang memuaskan, baik secara kritik maupun pendapatan.

 
review ulasan sinopsis the pink panther
United Artists
The Pink Panther (1963)


Suatu hari di sebuah negeri Lugash, Princess Dala diberikan sebuah berlian “The Pink Panther” dari Sang Pemimpin sekaligus ayahnya sendiri. Di kota Roma, seorang pencuri yang dijuluki “The Phantom” melakukan sebuah aksi. Di Amerika, George (Robert Wagner) dikejar-kejar oleh Mafia, lalu di Perancis, Inspektur Clouseau (Peter Sellers) berambisi untuk memburu The Phantom.

Princess Dala (Claudia Cardinale) dalam pengasingannya akibat kudeta di negerinya, sedang berlibur di sebuah desa area Pegunungan Alpen yakni Cortina d’ Ampezzo. Disana ia bertemu dengan pria Inggris keturunan bangsawan yakni Sir Charles (David Niven). Kejutan terjadi saat George mendadak mendatangi Charles.

Clouseau bersama dengan istrinya, Simone (Capucine) juga tiba di desa tersebut, dalam penyamaran liburan dibalik perburuan Clouseau atas jejak The Phantom yang disinyalir akan beraksi untuk mencuri berlian “The Pink Panther” milik Princess Dala.  

Namun apa yang terjadi selanjutnya berupa serangkaian kejutan beserta kekacauan rumit dan meriah yang bakal mengocok perut anda!

Film perdana dari waralaba The Pink Panther pada mulanya dimaksudkan sebagai kendaraan untuk mempopulerkan karakter sang pencuri The Phantom. Karena sejumlah improvisasi selama syuting, audiens malah lebih menyukai karakter kocak Clouseau yang dengan brilian dibawakan oleh Sellers.

Narasi filmnya sendiri cukup mampu untuk memanipulasi audiens terhadap pilihan akan karakter protagonis versus antagonis, melalui sejumlah hal yang simpatik dan menarik, sehingga keduanya berimbang satu-sama lain.

Banyaknya kejutan diantara semua karakter utama dan pendukung, tentu saja menghasilkan banyak kemeriahan konyol dan aksi slapstick cerdas, terutama dalam beberapa kali adegan di sebuah kamar hotel. Begitu pula dengan laga komedi di area ski, hingga pesta topeng di kediaman Princess Dala.

Puncak kelucuan yang mampu membuat saya tertawa hingga mengeluarkan air mata, yakni adegan pengejaran mobil selepas kegaduhan di pesta topeng, saat tengah malam, empat mobil ditambah “seekor kuda zebra” saling mengejar mengitari sebuah tugu di jalanan Italia, merepotkan seseorang usia lanjut yang akan menyeberang jalan!

Tema musik ikonik dari Henry Mancini dalam kredit pembuka berupa animasi dan dalam beberapa adegan tertentu, langsung terngiang bagi yang belum pernah mendengar sebelumnya. Juga adegan saat seorang penyanyi melantunkan lagu “Meglio statsera” turut memperkuat suasana humor meriah ala Eropa.

Performa Niven, Sellers, Wagner, Capucine serta Cardinale sama-sama kuat dan impresif serta memorable. Namun bintang sesungguhnya jelas ada dalam karakter Clouseau, yang kini citra-nya sulit dilepaskan dari mendiang aktor Peter Sellers.

Ciri khasnya yang gegabah dan sering salah tingkah, dialog humor yang segar, ekspresi muka yang terlihat bodoh namun gestur yang sangat percaya diri, sungguh selalu membuat tertawa setiap kali saya melihat kemunculannya di setiap adegan.

Sangat disayangkan, penyelesaian akhir di film ini tidak berpihak pada yang tepat, terlebih adanya pengkhianatan yang seharusnya juga mendapat ganjaran. Patut dikasihani!  

Score: 3.5 / 4 stars | Pemain: David Niven, Peter Sellers, Robert Wagner, Capucine, Claudia Cardinale | Sutradara: Blake Edwards | Produser: Martin Jurow | Penulis: Blake Edwards, Maurice Richlin | Musik: Henry Mancini | Sinematografi: Philip H. Lathrop | Distributor: United Artists | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 113 menit

 
review ulasan sinopsis a shot in the dark
United Artists
A Shot in the Dark (1964)

Terjadi pembunuhan di sebuah rumah mewah milik Benjamin Ballon (George Sanders), dengan tertuduh yakni Maria Gambrelli (Elke Sommer), seorang asisten rumah tangga terhadap korban berupa seorang pelayan pria yang tergeletak di dalam kamarnya.
 
Maria memiliki alibi bahwa sebelumnya ia pingsan dan terbangun sambil menggenggam sepucuk pistol. Clouseau (Peter Sellers) yang menyelidiki kasus tersebut memiliki insting kuat bahwa Maria tak bersalah dan dijebak, sejak ia tertarik pada Maria.

Adapun Komisioner Dreyfus (Herbert Lom) segera menarik Clouseau karena diilai tidak becus dalam menangani kasus pembunuhan tersebut. Atas dorongan pengaruh politik yang kuat, Dreyfus terpaksa kembali menugaskan Clouseau sesuai narasi guna mengalihkan berita yang berkaitan dengan citra terhadap figur penting tersebut.

Clouseau lantas segera membebaskan Maria dan malah mencurigai Ballon sebagai tersangka utama, sementara sejumlah pembunuhan para staff di kediaman keluarga Ballon tetap terjadi.

A Shot in the Dark adalah sebuah sekuel yang tidak berhubungan dengan objek “The Pink Panther”, sejak kesuksesan film perdananya serta karakter Clouseau yang langsung mendapat hati audiens.

Faktanya, film yang diadaptasi dari drama Perancis tersebut memang ditawarkan untuk Sellers sebelum ia terlibat di film The Pink Panther. Saat Edwards bergabung di proyek tersebut, ia bersama Blatty merubah ulang naskahnya, sehingga menjadikannya sebuah sekuel The Pink Panther.

Bergaya film detektif ala whodunit, sekuel ini jelas berbeda dengan pendahulunya, terasa lebih menonjolkan elemen drama dengan mengandalkan narasi brilian melalui alur cerita apik, ditutup dengan konklusi meyakinkan sekaligus memuaskan.

Adegannya lebih banyak menghabiskan setting lokasi di kediaman megah keluarga Ballon, kantor polisi tempat Clouseau dan Dreyfus bekerja, apartemen Clouseau, serta di sejumlah tempat hiburan dan klub.

Hanya sekali menampilkan lokasi di jalanan, serta pengurangan porsi aksi slapstick meriah. Bagaimanapun juga, sejumlah aksi komedi di film ini tetap saja tak kalah hebatnya hingga mampu mengocok perut.

Dialog akan metode penyelidikan yang dilakukan Clouseau yang dibantu asistennya yakni Hercule (Graham Stark) mengandung konten yang padat dan menarik, sambil diiringi adegan kocak dan konyol khas Clouseau. Begitu pula dengan atasannya yakni Dreyfus yang tak kalah gilanya, terutama saat depresi-nya kambuh.

Hadirnya karakter tambahan, yakni Cato (Bruce Kwouk) sebagai asisten Clouseau, sungguh memberikan warna baru yang tetap mampu menghadirkan kemeriahan aksi kocak, terkait dengan martial art antara karakternya dengan Clouseau.

Puncak komedi terbaik di film ini yakni aksi Clouseau di sebuah klub telanjang, saat ia harus menemui Maria, namun ia pun dikejar oleh Dreyfus dan anak buahnya. Serangkaian adegan percobaan pembunuhan terhadap Clouseau pun menarik, menggabungkan elemen slapstick dengan intensitas yang pas, dengan melibatkan sejumlah lokasi di berbagai tempat hiburan dan bar.

A Shot in the Dark merupakan sekuel terbaik dari waralaba The Pink Panther, karena melibatkan elemen suspens yang lebih menarik dan menantang, improvisasi komedi yang tetap berkualitas berkat performa gemilang Seller, serta sejumlah karakter pendukung yang tak kalah mengkilapnya dibandingkan film sebelumnya.

Score: 4 / 4 stars | Pemain: Peter Sellers, Elke Sommer, George Sanders, Herbert Lom | Sutradara: Blake Edwards | Produser: Blake Edwards | Terinspirasi dari drama L’Idiote karya Marcel Achard dan A Shot in the Dark karya Harry Kurnitz. Penulis: Blake Edwards, William Peter Blatty | Musik: Henry Mancini | Sinematografi: Christopher Challis | Distributor: United Artists | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Durasi: 102 menit

 
review ulasan sinopsis the return of the pink panther
United Artists
The Return of the Pink Panther (1975)

Kembali terjadi pencurian berlian “The Panther” di negeri Lugash, dengan bukti berupa jejak sarung tangan dari pencuri legendaris The Phantom. Berdasarkan peristiwa yang lalu, dikirimlah seorang utusan bernama Kolonel Sharki (Peter Arne) untuk memanggil Clouseau (Peter Sellers) kembali menanangani kasus tersebut.

Sementara di tempat lain, Sir Charles (Christopher Plummer) yang digoda oleh istrinya Lady Claudine (Cahterine Schell) tentang berita pencurian “The Pink Panther”, malah diburu oleh polisi rahasia melalui seorang koneksi yang dijuluki “The Fat Man”, diperparah oleh Sharki yang selalu mendesaknya.

Setelah Edwards dan Sellers tidak terlibat dalam sekuel Inspector Clouseau (1968), kolaborasi mereka berdua kembali dalam sekuel The Return of the Pink Panther, yang menandakan kelanjutan tentang objek berlian, juga karakter Sir Charles Litton kali ini diperankan oleh Christopher Plummer.

Kisah di film ini awalnya tampak mengalami sedikit penurunan karena terkesan sebagai ‘pengulangan’ akan aksi pencurian berlian dan dipastikan siapa pelakunya. Namun karena mampu menjaga karakterisasi, masih tetap menarik untuk diikuti alurnya hingga selesai.

Sepintas bagaikan kisah yang sederhana, sehingga dalam pertengahan menawarkan intrik yang cukup pelik, terkait kondisi politik di negeri Lugash, mengingat lokasinya mengambil porsi hampir setengah cerita.

Pergantian karakter Sir Charles dari Niven kepada Plummer, terasa ada yang kurang dan sedikit aneh, meski masih ada karisma dan sisi misterius dalam dirinya. Satu kekurangannya yakni kurang mengeksploitasi humor tidak seperti yang dilakukan oleh Niven sebelumnya.

Seperti biasa, performa Sellers yang memang telah terintegrasi dengan Clouseau, selalu menarik perhatian terutama dalam sejumlah aksi slapstick-nya dengan karakter Lady Claudine. Adapun si gila Dreyfus kembali kambuh penyakitnya, Cato selalu mengganggu Clouseau, serta tambahan karakter seorang bellboy hotel yang tak kalah konyolnya.

Tema "The Pink Panther" dari Henry Mancini kembali hadir dalam kredit pembuka maupun penutup, begitu pula dengan animasi berupa Sang Maskot. Film The Return of the Pink Panther masih sanggup menjaga kualitasnya terutama aksi slapstick Clouseau yang tetap menggila.

Score: 3 / 4 stars | Pemain: Peter Sellers, Christopher Plummer, Cahterine Schell, Herbert Lom |
Sutradara: Blake Edwards | Produser: Blake Edwards | Penulis: Blake Edwards, Frank Waldman | Musik: Henry Mancini | Sinematografi: Geoffrey Unsworth | Distributor: United Artists | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Durasi: 114 menit

 
review ulasan sinopsis the pink panther strikes again
United Artists
The Pink Panther Strikes Again (1976)

Tiga tahun setelah kejadian di film sebelumnya, Dreyfus (Herbert Lom) telah menunjukkan kemajuan akan kesembuhan penyakit jiwanya, meski saat ia dikunjungi oleh Clouseau (Peter Sellers), menjadi kambuh sedia kala.

Clouseau yang kini menjabat sebagai Kepala Inspektur, tidak mengetahui bahwa Dreyfus telah melarikan diri dari rumah sakit jiwa dan mengumpulkan para kriminal, guna menculik Profesor Fassbender (Richard Vernon) dan putrinya untuk menggunakan sebuah “Senjata Kiamat”.

Sejak Dreyfus selalu gagal untuk membunuh Clouseau, kini tujuannya hanya satu, yakni mengancam para pemimpin dunia agar mengirimkan para pembunuh profesional untuk membunuh Clouseau, dengan mengancam akan menghancurkan kota di dunia satu-persatu.

Tanpa melibatkan objek berlian dan karakter Sir Charles, fokus cerita di film ini adalah melanjutkan motivasi Dreyfus yang semakin gila untuk niat membunuh Clouseau, sesederhana itu saja. Maka kurang menariknya narasi yang ada, terkesan begitu klise dan sangat generik.

Bahkan adegan pembukanya pun kurang menyajikan komedi segar dari karakter Clouseau, kecuali dalam pertengahan cerita saat ia mengunjungi sekaligus menginterogasi di kediaman Fassbender, aksi slapstick-nya kembali meriah seperti sedia kala dan cukup membuat saya terbahak-bahak.

Adapun karakter Olga (Lesley-Anne Down) meski menarik, sayangnya ditambah dengan narasi tentang antagonis megalomaniak, mengingatkan saya akan parodi terhadap tipikal di film James Bond.

Tidak banyak yang bisa dikomentari lebih lanjut di film The Pink Panther Strikes Again selain hanya kejar tayang demi peningkatan bisnis semata, berdasarkan kesuksesan film sebelumnya.

Score: 2 / 4 stars | Pemain: Peter Sellers, Herbert Lom, Lesley-Anne Down, Burt Kwouk, Richard Vernon, Leonard Lossiter |
Sutradara: Blake Edwards | Produser: Blake Edwards, Tony Adams | Penulis: Frank Waldman, Blake Edwards | Musik: Henry Mancini | Sinematografi: Harry Waxman | Distributor: United Artists | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Durasi: 103 menit

 
review ulasan sinopsis revenge of the pink panther
United Artists
Revenge of the Pink Panther (1978)

Seorang pengusaha bernama Phillipe Douvier (Robert Webber) yang juga diam-diam mengepalai jaringan narkoba "The French Connection", mulai diragukan kredibilitasnya oleh Mafia Amerika yang merupakan mitra bisnisnya.
 
Baca juga: The French Connection (1971): Koneksi Maut Narkoba

Adalah Algo (Tony Beckley), asisten Douvier menyarankan agar membunuh Clouseau (berdasarkan cerita di film sebelumnya) guna memperbaiki reputasi terhadap kekuatannya. Usaha pertama mereka gagal, namun usaha kedua berhasil.

Sungguh mengejutkan saat Clouseau (Peter Sellers) yang dianggap mati dalam sebuah insiden, tidak seperti yang diyakini oleh kelompok Douvier. Guna menyelidiki ‘kematian’ Clouseau, pihak kepolisian segera mengkontak

Dreyfus (Herbert Lom) yang telah sembuh dari penyakit jiwanya, mengingat ia adalah mantan atasan Clouseau, orang yang terdekat dengannya.

Narasi film Revenge of the Pink Panther kembali dieksekusi lebih solid dari film sebelumnya, meski memaksakan kembali hadirnya karakter Dreyfus. Film ini lebih realistis dan tetap mengakar pada tiga film pertama diatas.

Ide baru yang menghubungkan jaringan peredaran narkoba dan kriminal kelas kakap, meski menekankan usaha pembunuhan terhadap Clouseau, mampu memberikan nuansa baru yang cukup kompleks akan intrik antar-karakter.

Karakter pendukung Cato (Bruce Kwouk) kali ini diberikan porsi lebih besar, jadi bukan penggembira lagi, sedangkan karakter Simone (Dyan Cannon) cukup menarik. Elemen komedi dan aksi slapstick di film ini terasa jauh berkurang, meski keseluruhan tidaklah mengecewakan karena disodori kombinasi antara petualangan dan suspens.
 
Score: 3 / 4 stars | Pemain: Peter Sellers, Herbert Lom, Robert Webber, Dyan Cannon, Tony Beckley | Sutradara: Blake Edwards | Produser: Blake Edwards | Penulis: Blake Edwards. Naskah: Frank Waldman, Ron Clark, Blake Edwards | Musik: Henry Mancini, Leslie Bricusse | Sinematografi: Ernest Day | Distributor: United Artists | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Durasi: 98 menit

 
review ulasan sinopsis trail of the pink panther
MGM/UA Entertainment Company
Trail of the Pink Panther (1982)

Berlian “The Pink Panther” dicuri kembali oleh identitas yang misterius. Clouseau (Peter Sellers) kembali diminta oleh petinggi negeri Lugash untuk menyelidikinya. Clouseau meyakini sang pencuri yang dijuluki The Phantom kembali beraksi, maka ia segera menuju London untuk menemui Sir Charles.

Sementara sejumlah percobaan pembunuhan kerap menghampiri Clouseau, yang menghkawatirkan pihak Scotland Yard (Kepolisian Inggris) segera mengontak Dreyfus (Herbert Lom) dan menyarankan Clouseau kembali ke Perancis, mengingat Sir Charles sesungguhnya berada disana.

Clouseau dilaporkan hilang dalam kecelakaan pesawat dari Inggris menuju Perancis, maka seorang jurnalis bernama Maire (Joanna Lumley) mewawancarai Dreyfus, asisten Closueau yakni Cato (Burt Kwouk) dan mantan asisten Couseau di kepolisian yakni Hercule LJoy (Graham Stark), Sir Charles (David Niven) dan istrinya Simone (Capucine) mantan istri Clouseau.

Marie akhirnya dihardik oleh pemimpin mafia bernama Bruno Langois (Robert Loggia) yang tengah mengincar Clouseau.

Sejak Sellers meninggal di tahun 1980, Edwards tetap melanjutkan waralaba tersebut, dengan memanfaatkan sejumlah klip yang tak terpakai saat syuting film The Pink Panther Strikes Again, meski pihak studio dan produser digugat oleh istri Sellers mengenainya.

Sebagai bentuk tribut Edwards terhadap Sellers sebagai Clouseau, maka setengah dari cerita film ini, hanya berisikan investigasi berupa sejumlah wawancara Marie terhadap sejumlah pihak yang berkaitan, termasuk ayahnya Clouseau.

Adapun berbagai aksi slapstick kini beralih kepada karakter Dreyfus meski sejulah klip berisikan adegan Clouseau tak kalah meriahnya. Beberapa pengulangan akan cuplikan semua adegan Clouseau yang diperankan Sellers, kembali hadir sebagai kilas balik dalam rangkaian wawancara.

Film Trail of the Pink Panther tak lebih sebagai tribut semata dengan pemaksaan narasi, tanpa mempertimbangkan dan mengeksekusi materi yang ada, sehingga siapa pencuri berlian legendaris tersebut tidak terungkap, maka akhir yang menggantung sangat mengganggu.

Score: 1.5 / 4 stars | Pemain: Peter Sellers, David Niven, Herbert Lom, Richard Mulligan, Joanna Lumley, Capucine, Robert Loggia, Harvey Korman |
Sutradara: Blake Edwards | Produser: Blake Edwards, Tony Adams | Penulis: Blake Edwards. Naskah: Frank Waldman, Tom Waldman, Blake Edwards, Geoffrey Edwards | Musik: Henry Mancini, Leslie Bricusse | Sinematografi: Dick Bush | Distributor: MGM/UA Entertainment Company | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Durasi: 96 menit

 
Film ‘The Pink Panther’ Lainnya

Film Inspector Clouseau (1968) yang masih diproduksi oleh The Mirisch Company, merupakan seri ke-3 tanpa trio Edwards-Sellers-Mancini. Karakter utama diperankan oleh Alan Arkin, sedangkan sutradaranya yakni Bud Yorkin. Film tersebut tampak luput dari atensi publik, sejak perilisan yang gagal secara finansial maupun kritik.

Pasca meninggalnya Sellers, duet Edwards dan Mancini masih melanjutkan dua film terakhirnya yakni Curse of the Pink Panther (1983) dan Son of the Pink Panther (1993) yang gagal total dan terlupakan.

Film yang pertama disebutkan, mungkin lebih cenderung merupakan sebuah sempalan, dengan karakter utama seorang detektif Amerika dan tetap menampilkan cameo sosok Clouseau yang diperankan Roger Moore.

Sedangkan film yang disebutkan setelahnya, menampilkan karakter utama sesuai judulnya yang diperankan oleh Roberto Benigni. Versi reboot dan sekuelnya di tahun 2006 dan 2009 yang diperankan Steve Martin pun tidak mengesankan, sebuah pembuatan ulang yang tidak perlu eksis.

Comments