The Truman Show (1998): Sindiran 'Surga Dunia' Hollywood

review film the truman show
Paramount Pictures

Sinema drama, review The Truman Show sebagai sindirian surga dunia Hollywood dalam realitas semu dan hipokrit dalam masa kini.

Hipokrasi Hollywood dan para selebriti kelas-A dalam konteks realita sosial-politik saat ini, sungguh memilukan. 

Amerika sedang menghadapi krisis akan perpecahan yang ditimbulkan sejak adanya gerakan radikal yang progresif, melalui narasi Anti-Trump yang dipandang sebagai Ultra-Konservatif.

Film The Truman Show memprediksi sekaligus menyindir diri sendiri, dalam hal ini para bintang Hollywood yang hidup enak bagaikan 'surga dunia' seribu dongeng, jauh dari realita hidup ini.

Mereka yang berkelimpahan materi, sebagian daripadanya memanfaatkan status selebriti untuk mempengaruhi publik dengan berbicara politik, sesuatu yang tidak pernah mereka pahami dan kuasai.  

Bagaikan karakter Truman Burbank yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah sebuah alat yang hanya untuk dipertontonkan kepada konsumsi publik selama 24 jam non-stop.

Maka, sungguh memprihatinkan bahwa ia tak lebih sebagai manusia biasa yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi istimewa.

The Truman Show adalah buah karya Andrew Niccol dan disutradarai oleh sineas kaliber asal Australia Peter Weir.

Film ini juga menandakan performa serius Jim Carrey saat itu, yang tidak melulu menampilkan aksi slapstick di beberapa film sebelumnya.

Baca juga: Eternal Sunshine on the Spotless Mind (2004): Menghapus Memori Abadi

The Truman Show dengan sukses mampu meraih sejumlah nominasi Oscar, juga memenangi beberapa penghargaan Golden Globe, termasuk kategori Aktor Terbaik yang diraih Carrey semasa karirnya.

Adalah Truman Burbank (Jim Carrey) sejak bayi telah diurus oleh seorang kreator acara hiburan dan televisi yakni Christof (Ed Harris).

Ia ditempatkan di sebuah kota yang dinamakan Seahaven Island yang berada di pinggiran pantai.

the truman show sindiran surga dunia hollywood
Paramount Pictures

Pada saat dewasa, Truman menikahi Meryl (Laura Linney) dan memiliki sahabat dari masa kecilnya yakni Marlon (Noah Emmerich). 

Kehidupan yang indah, bahagia serta luar biasa ada dalam diri Truman yang berprofesi sebagai pekerja kantoran yang dilakukannya secara rutin.

Semuanya berlangsung indah, tetangga dan penduduk kota serta rekan-rekan kerjanya yang baik dan ramah, serta lingkungan yang bersahabat, bagaikan berada di dunia utopia.

Namun rupanya Truman memiliki memori buruk yang menyebabkan dirinya fobia terhadap air laut.

Hal itu disebabkan saat kecil, ia menyaksikan ayahnya tenggelam di laut, sedangkan ia berada di dalam perahu akibat badai kencang.

Hingga suatu saat tanpa disadari oleh Crhistof, Truman berkeinginan kuat untuk keluar dari Seahaven menuju Kepulauan Fiji. 

Meski dibujuk oleh istri dan sahabatnya, emosi Truman tak terbendung, terlebih saat memori masa lalunya selalu muncul yang mengungkap alasannya menuju Fiji.

Adegan film dibuka dengan selingan akan kamera tersembunyi yang menyoroti wajah Truman yang sedang membuka lemari dan bergumam sendirian.

Lalu ada wawancara singkat terhadap karakter Christof, Meryl, serta Louise yang mengekspresikan apa itu “The Truman Show”.
 
Adegan kemudian beralih kepada aktivitas rutin sehari-hari karakter Truman di Seahaven.

Setelah alur yang berjalan perlahan dalam indahnya kehidupan, mulai muncul sejumlah kejutan, sementara ada kilas balik dari latar belakang figur Truman. 
 
Saya rasa terdapat elemen berupa “Red Herring” atas peristiwa yang mengakibatkan ia fobia terhadap air laut dan berlanjut dengan sebuah peristiwa yang tak disangka.

Padahal sesungguhnya, ada hal yang lebih besar dan menjadi petunjuk menuju konklusi akhir.
 

ulasan sinopsis film the truman show
Paramount Pictures

Dramatisasi film ini dibuat sedemikian rupa hingga mampu membuai saya untuk terus mengikuti alur yang membuat penasaran.

Berkat elemen ‘komedi halus’ ala Carrey serta sejumlah aktor pendukungnya, juga hubungan antar karakter yang emosional mudah meluluhkan hati audiens.

Sineas Peter Weir sudah terbiasa menyajikan sebuah narasi yang dramatis dan mampu menyentuh emosi audiens tanpa melebihkan suasana ataupun kondisi yang ada. 

Tanpa membaca sinopsis terlebih dahulu, awalnya saya kurang menyadari sepenuhnya atas apa yang sebenarnya terjadi di kota indah Seahaven dengan penduduknya.

Baca juga: Picnic at Hanging Rock (1975): Pesona Miranda Dibalik Misteri Pegunungan

Agak samar dan implisit dalam adegan pembuka, terus beralih menuju serangkaian adegan yang menyingkap sebuah pelintiran besar sedikit demi sedikit.

Ditambah dengan kilas balik menuju dua cabang akhir cerita. Maka salah satu cabang akhirnya dilalui dengan cukup sempurna.

Performa Carrey sungguh 
gemilang yang bermain lebih serius dan mature di film ini, dengan menurunkan level slapstick dan lebih fokus pada dialognya. 

Adapun sosok Christof memang sulit dibedakan apakah ia adalah seorang antagonis atau malah hipokrat, apakah juga ia mengnagkat atau malah menghancurkan hidup Truman.

Rupanya di akhir cerita pun sengaja dibiarkan kepada dua karakter tadi, tanpa menuntaskan nasib mereka selanjutnya. 

Tentunya aspek paranoia dan privasi menjadi isu krusial alih-alih bermanfaat sebagai hiburan untuk publik.
 

the truman show surga dunia
Paramount Pictures

Sedangkan di sisi lain, sosok Truman tak lebih hanya diperlakukan sebagai alat komersil, di saat yang bersamaan Christof memberikan kehidupan yang sempurna -dalam arti harafiah- bagi dirinya.   

Maka, tak heran elemen visual termasuk set desain di film ini dipresentasikan seindah mungkin, 
seperti pencahayaan yang lembut dan cenderung cerah, serta tone warna yang lembut.

Analogi film The Truman Show terhadap figur Truman bagaikan seorang selebriti Hollywood yang mempertanyakan eksistensi dunianya, sejak alasannya ingin pergi menuju Fiji mulai terungkap. 

Sedangkan figur Christof mewakili sosok atau elit yang terus ingin mengontrol kehidupan Truman.

Lucunya, film tersebut kini mampu menyindir diri Hollywood akan penggambaran ‘surga dunia’ dalam gelembung fantasi mereka, terhadap realita kehidupan nyata dalam ruang lingkup sosial-politik yang keras dan kejam.  

Score: 3.5 / 4 stars

The Truman Show | 1998 | Drama, Komedi | Pemain: Jim Carrey, Laura Linney, Noah Emmerich, Natascha McElhone, Holland Taylor, Ed Harris | Sutradara: Peter Weir | Produser: Scott Rudin, Andrew Niccol, Edward S. Feldman, Adam Schroeder | Penulis: Andrew Niccol | Musik: Burkhard Dallwitz, Philip Glass, Wojciech Kilar | Sinematografi: Peter Biziou | Distributor: Paramount Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 103 Menit

Comments