The Wild One (1953): Perintis Film Geng Motor Jalanan

review film the wild one
Columbia Pictures

Geng moge (motor gede) sejatinya merupakan pengendara motor eksklusif seperti merek Harley-Davidson, Norton, BMW atupun jenis chopper. Pasca Perang Dunia II, para veteran perang membentuk komunitas pengendara motor, guna mengatasi PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) dan dampaknya terhadap lingkungan.

Seiring dengan gesekan sosial, sejumlah komunitas yang kemudian membentuk klub, seringkali dicap sebagai Outlaw Biker atau Geng Motor ‘Kriminal’ Jalanan, karena memang kerap berurusan dengan pihak kepolisian, diantaranya terdapat nama-nama tenar seperti Hells Angels, Outlaw, Pagans, serta Bandidos.   

Dibalik citra negatif melekat pada diri mereka, nasionalisme, solidaritas serta kepedulian akan sosial dan lingkungan alam merupakan aspek penting dalam filosofi komunitas tersebut.

Sudah banyak adaptasi sebuah film berdasarkan Outlaw Biker yang telah menjadi sebuah kultur modern dan ikonik, namun film The Wild One yang dibintangi aktor legendaris Marlon Brando, dipertimbangkan menjadi perintis sejak disebut sebagai yang pertama dan orisinal. 

Wajar, mengingat rentang waktu produksi dan perilisan film di era 50’an tersebut.

The Wild One diadaptasi dari cerita pendek The Cyclists’ Raid karya Frank Rooney sebagai salah satu artikel Harper’s Magazine. Kisahnya terinspirasi dari acara perlombaan balap motor di ajang American Motorcyclist Association yang diliput majalah Life yang mengeksploitasi keliaran atraksi mereka akibat mabuk minuman keras.

the wild one perintis film geng motor jalanan
Columbia Pictures

Film yang merupakan bagian dari legenda kerusuhan di Hollister tersebut mengisahkan sebuah geng moge yang dinamakan The Black Rebels Motorcycle Club dipimpin oleh Johnny (Marlon Brando) mampir di sebuah kota Carbonville saat berlangsungnya lomba balap motor.

Salah satu anggota mereka mencuri satu piala, setelah sebelumnya sempat berkonfrontasi dengan para panitia lomba karena dianggap membuat onar. Mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di kota terpencil Wrightsville yang hanya dipimpin oleh seorang otoritas hukum bernama Harry (Robert Keith).

Pada saat akan mengisi bensin, kawanan Johnny beradu balap, namun tiba di sudut jalan salah satu dari mereka tak sengaja bertabrakan dengan sebuah mobil. Dalam adu argumen, salah satu kawanan Johnny dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat, sednagkan sang pemilik mobil mengeluh sejak mobilnya mengalami goresan.

Sambil menunggu perawatan salah satu anggotanya, kawanan Johnny kemudian memasuki sebuah Kafe & Bar yang dikelola oleh Frank (Ray Steal) dan dibantu oleh keponakannya yakni Kathie (Mary Murphy), yang tak lain adalah putri Harry.

Rupanya Johnny dan Kathie tertarik satu-sama lain tanpa mereka ungkapkan perasaannya masing-masing. Tiba-tiba datang kawanan kecil penunggang motor yang dipimpin Chino (Lee Marvin) menantang Johnny, lalu duel pun terjadi hingga terjadi keributan di kota tersebut.

Adapun seorang warga bernama Charlie yang kesal dengan ulah para geng motor tersebut, sengaja ia menabrakan mobilnya terhadap salah satu motor kawanan Chino. Akibat tekanan warga, Harry hanya menahan Chino.

Columbia Pictures

Maka geng motor tersebut membuat perhitungan terhadap Charlie, sehingga menimbulkan konflik dan tensi yang memanas antara kawanan Johnny dan Chino dengan para warga setempat yang menjadi vigilante.

Film The Wild One tampaknya cenderung disajikan dengan gaya yang artistik dan melodramatis, mengingat saat itu masih belum memasuki era New Hollywood yang lebih realistis melalui film eksploitatif sejenis yang kembali mencuat di era 60’an seperti The Born Losers (1967), Easy Rider (1969) ataupun sejumlah film yang mengisahkan klub Hells Angels.

Disajikan dalam format hitam-putih, kisah film ini menekankan hubungan istimewa yang sulit diwujudkan antara karakter sentral Johnny dengan Kathie, hal tersebut dinarasikan melalui voice over yang disampaikan Johnny dalam adegan pembuka berupa landskap di sebuah jalanan area pedesaan.

Dari jauh tampak segerombolan orang menaiki motor gede yang notabene adalah geng motor jalanan kompak mengenakan jaket kulit hitam, kian mendekat menuju kearah sorot kamera, diiringi dengan suara mesin menggerung kencang yang mewakili simbol maskulinitas, keliaran serta anti-kemapaman.

Sejak awal adegan jelas diperlihatkan secara ikonik sekeligus mentereng, bahwa mereka sebagai sebuah geng atau klub, semuanya mengenakan jaket kulit di bagian belakangnya terdapat logo kebesaran mereka yakni The Black Rebels Motorcycle Club, sepatu boot, celana jeans, serta sejumlah aksesoris lainnya.

Hanya saja kelemahan mendasar di film ini yakni hampir semua anggotanya berwajah klimis, terkesan rapih dan bersih, lain halnya dengan sekelompok geng kecil yang dipimpin oleh karakter Chino mungkin lebih realistis dalam menegaskan suatu ‘pemberontakan’ terhadap geng Johnny.

Untungnya, film ini mampu meyakinkan saya dalam memberikan contoh terbaik terhadap konflik dramatis tanpa adanya aksi kekerasan belaka, antara geng motor dengan warga setempat.

Gesekan dalam gejolak sosial tersebut bersifat insidental sesuai dengan narasi yang menekankan elemen emosional akibat kesalahpahaman, ketimbang aksi laga perseteruan semata yang umumnya bersifat balas dendam.

ulasan sinopsis film the wild one
Columbia Pictures

Terkadang memang mengesalkan, saat karakter Johnny yang terus berusaha dalam sikap acuh tak acuh alias menjaga citra-nya terhadap Kathie yang diam-diam meyukainya. Kesenjangan diantara keduanya terlihat jelas sejak awal Johnny yang terlihat agresif terhadap Kathie, berlanjut dengan tarik-ulur diantar keduanya.

Kompleskitas hubungan diantara keduanya juga diperumit dengan karakter ayah Kathie, yakni Harry dalam kebimbangannya melihat semua sisi baik dan buruk di mata keadilan dan hukum. Sempat terlintas kebijakannya malah menutup wibawanya sendiri, akibat sudut sempit dari sejumlah warga yang mengomporinya.    

Performa Marlon Brando sebagai aktor muda pendatang baru dalam beberapa tahun terbaiknya itu, sungguh mendominasi layar The Wild One melalui penampilan eksentrik dan ikonik, gaya dan motivasi atas segala tindakannya yang sulit diprediksi, serta tentu saja karisma besarnya yang mengaliri energi di film ini.

Begitu pula dalam posisi berseberangan dengan aktris Mary Murphy sebagai Kathie, yang memiliki pesona tersendiri yang dipancarkan melalui sikap dan gesturnya yang diam-diam tertarik dengan tipe pria nakal, karena karakternya tidaklah mengandalkan penampilan fisik dengan wajah yang cantik.  

Yang menarik justru performa Lee Marvin yang biasanya memerankan protagonis jagoan dalam aksi laga, dalam masa awal karirnya tersebut berperan sebagai karakter Chino yang terkesan sebagai antagonis yang urakan, tipe berandalan, seseorang yang kasar serta cukup berwibawa.

Para aktor pendukungnya pun, dalam hal ini sekelompok geng motor yang dipimpin Johnny, memerankan berbagai karakter yang cukup unik. Sejumlah dialog yang mereka ucapkan saat sedang berada di bar untuk bersenang-senang, adalah salah satu adegan menarik sekaligus meriah.

The Wild One sebagai perintis dari film tentang geng motor jalanan memang tidak sempurna, namun orisinalitas dalam penyampaian cerita yang mempopulerkan sebuah kultur modern ikonik tersebut, sungguh menarik dan penuh gaya. Wajib tonton untuk para penggemar pengendara motor!

Score: 3 / 4 stars

The Wild One | 1953 | Crime, Drama | Pemain: Marlon Brando, Mary Murphy, Robert Keith, Ray Steal, Lee Marvin | Sutradara: László Benedek | Produser: Stanley Kremer | Penulis: Berdasarkan cerita pendek The Cyclists’ Raid karya Frank Rooney. Naskah: John Paxton, Ben Maddow | Musik: Leith Stevens | Sinematografi: Hal Mohr | Distributor: Columbia Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 79 Menit

Comments