Jenderal Soedirman (2015): Pahlawan Perang Gerilya Melawan Penjajah

film jenderal soedirman pahlawan gerilya
Padma Pictures, Netflix

Meski Indonesia meredeka di tahun 1945, namun agresi militer yang dilakukan Belanda, kembali menimbulkan perlawanan dan persatuan militer dengan rakyat, bergerilya melawan penjajahan, termasuk upaya diplomasi yang dilakukan oleh Soekarno-Hatta.

Nama Jenderal Soedirman sebagai pahlawan bangsa, tentu saja menginspirasikan banyak hal dalam perjuangan bangsa Indonesia di medan perang melawan Belanda, khususnya dalam salah satu taktik perang gerilya terbaik di jaman modern yang diakui oleh dunia.

Film Jenderal Soedirman yang ditulis dan disutradarai oleh Viva Westi sebelumnya sempat ditolak oleh sejumlah studio, sehingga akhirnya melalui Yayasan Eka Pasti dari Markas Besar TNI AD yang mendanai film tersebut.

Walau terdapat sejumlah kontroversi yang berasal dari kritik Didi Mahardika, cucu Soekarno, diantaranya dramatisasi perbedaan pandangan antara Soekarno dengan Soedirman dalam menghadapi penjajahan termasuk janji peperangan gerilya, juga peran Tan Malaka yang digambarkan negatif.

Bagaimanapun juga, film Jenderal Soedirman mampu meraih penonton dengan jumlah yang banyak, kerap ditayangkan di televisi dan kini masuk dalam jaringan Netflix, serta dinominasikan dalam berbagai ajang bergengsi nasional.

Filmnya mengisahkan Belanda yang melanggar perjanjian Renville, memimpin Agresi Militer II ke Yogyakarta yang saat itu menjadi ibu kota Republik Indonesia. Presiden Soekarno (Baim Wong) dan Wakil Presiden Mohammad Hatta (Nugie) ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka.

ulasan review jenderal soedirman gerilya melawan penjajah
Padma Pictures, Netflix

Dalam gejolak politik yang memanas, Joesoef Ronodipoero (Lukman Sardi) mengupayakan pertahanan Radio Republik Indonesia agar tetap eksis untuk menyiarkan kondisi saat itu. Sementara pemimpin Sayap Kiri, Tan Malaka (Mathias Muchus) diduga terlibat dalam jaringan tentara merah dan PKI/FDR, diburu oleh pemerintah.

Sebagai pemimpin besar TNI, Jenderal Soedirman (Adipati Dolken) yang sedang dalam keadaan sakit, dbantu oleh Kapten Tjokopranolo (Ibnu Jamil) memimpin gerilya militer ke arah selatan selama tujuh bulan, guna menggalang kekuatan antara TNI dengan rakyat, menelusuri berbagai medan yang sulit dijangkau oleh pasukan Belanda.

Selama dua jam, film ini fokus pada aksi gerilya yang dilakukan oleh Jenderal Soedirman beserta para pasukan kecilnya yang terdiri dari sekitar dua orang perwira, seorang dokter pribadi, serta beberapa prajurit dan sukarelawan setianya.

Mereka menempuh sejumlah medan seperti tepi pantai, hutan lebat serta pegunungan, kadang bermalam dari satu desa menuju desa lainnya. Taktik peperangan menghadapi pasukan Belanda, digambarkan sesuai dengan aksi “hit and run” agar pihak musuh menghabiskan waktu, tenaga serta suplai.

Yang membuat film ini terkesan yakni setting lokasi yang digunakan, terutama suasana di hutan lebat khas peperangan di wilayah Asia Pasifik dalam Perang Dunia II ataupun Perang Vietnam misalnya. Hampir tidak ada baku-tembak secara frontal antar kedua pasukan, bahkan cenderung menonjolkan elemen thriller.

Begitu pula dengan landskap eksotis alam pegunungan maupun tebing curam, terutama dalam adegan kelompok yang dipimpin Soedirman sedang berada di dataran tinggi yang hijau dengan jangkauan penglihatan yang luas, tampak mengamati pergerakan musuh yang berada di bawahnya.

Mungkin saja Adipati Dolken memang pas berperan sebagai Soedirman, meski saya tidak mengetahui pasti apakah sesuai dengan sosok aslinya, mengingat kita hanya bisa melihat melalui foto kuno-nya saja melalui bentuk wajah, atau bahkan patungnya sekalipun melalui fisiknya keseluruhan.

sinopsis film jenderal soedirman
Padma Pictures, Netflix

Performanya yang boleh diapresiasi terutama melalui dialog maupun dalam keadaan sakit, cukup meyakinkan. Hanya saja jaket yang dikenakan oleh Soedirman setelah lama bergerilya di medan hutan, masih tetap utuh dan bersih, tidak tampak kumal dan natural!  

Baim Wong saya rasa kurang pantas dan tidak ada karisma kuat sebagai Presiden Soekarno. Lucunya, terkadang saya salah tangkap terhadap karakter Hatta yang diperankan Nugie, sejak film Soekarno (2013) diperankan oleh Lukman Sardi yang memainkan karakter lain di film ini.

Seperti biasa, penggambaran pihak Belanda selalu dianggap sebagai antagonis murni yang super jahat, kecuali sedikit mengupas sisi manusiawi dalam adegan pertengkaran adu mulut antara utusan Ratu Juliana dengan seorang petinggi militer.

Figur Tan Malaka yang diperankan aktor senior Mathias Muchus, cukup menyita perhatian sejak berkaitan dengan aksi pergerakan tentara komunis, sehingga situasi politik yang ada di film ini cukup berwarna.

Semua efek spesial berupa pesawat tempur dan pembom, objek bom yang dijatuhkan dari pesawat berikut ledakannya, sungguh meriah namun dalam bungkusan CGI yang teramat buruk.

Film Jenderal Soedirman tidaklah istimewa, namun tetap pantas untuk ditonton, sebagai pengenalan lebih dalam, karakterisasi dan daya juang pahlawan militer yang terkenal dengan taktik perang gerilya dalam menghadapi penjajah.

Score: 2 / 4 stars

Jenderal Soedirman | 2015 | Biopic, Drama, Perang | Pemain: Adipati Dolken, Ibnu Jamil, Mathias Muchus, Baim Wong, Nugie, Eric Van Loon, Lukman Sardi, Annisa Hertami, Landung Simatupang | Sutradara: Viva Westi | Produser: Sekar Ayu Asmara, Handi Ilfat, Nolizam, Ratna Syahnakri | Penulis: Tubagus Deddy, Viva Westi | Musik: Iwang Noorsaid | Sinematografi: Muhammad Firdaus | Distributor: Padma Pictures, Netflix | Negara: Indonesia | Durasi: 126 Menit

Comments