Escape From L.A. (1996): Prediksi Los Angeles Menuju Kehancuran Saat Ini

escape from los angeles prediksi kehancuran
Paramount Pictures

Negara bagian California saat ini tengah menghadapi ‘bencana’ sosial-ekonomi, terlebih sejak penerapan lockdown karena pandemi COVID-19. California kerap disebut sebagai “Blue State” karena mayoritas pendukung Partai Democratic yang saat ini dikuasai kubu Far-Left.

Pengangguran dan kriminalitas meningkat tajam, semakin banyak gelandangan di area publik, serta lemahnya roda ekonomi, mengakibatkan terjadi lonjakan gelombang eksodus menuju ke berbagai negara bagian “Red State (Partai Republic)” favorit, terutama Florida dan Texas.

Tentu saja kota Los Angeles sebagai sentra bisnis, hiburan serta hunian elit dunia, terkena dampak besar. Belum lagi para aktivis Far-Left ingin menghilangkan kepolisian terkait beberapa kasus kontroversial yang digaungkan oleh sejumlah media besar melalui narasinya masing-masing.

Jika hal ini dibiarkan semakin berlarut, bukan tidak mungkin kota Los Angeles bisa seperti penggambaran dalam film Escape from L.A., sebuah sekuel mahakarya John Carpenter sebelumnya yakni Escape from New York (1981), mengingat negara bagian New York juga merupakan “Blue State”.

Gubernur California Gavin Newsom tertangkap basah melanggar protokol kesehatan, sedangkan Gubernur New York Andrew Cuomo tersandung kasus penyesatan publik tentang angka kematian akibat COVID-19 serta pelecehan seksual. Mereka berdua adalah politisi hipokrit yang moralnya patut dipertanyakan.

Seperti film Escape from New York, saya rasa Escape from L.A. lebih tepat dalam memprediksikan gejolak sosial-politik yang mencuat ke permukaan sejak sekitar enam tahun lalu, yang tampaknya sulit diredakan.

Menariknya, narasi Escape from L.A. didasarkan karena kriminalitas yang meningkat tajam dan tak terbendung lagi, sehingga pemerintah pusat langsung turun tangan dengan mengerahkan satuan kepolisian yang baru terbentuk yakni Unites States Police Force di tahun 1998.

review escape from la
Paramount Pictures

Hanya saja dalam narasi film dikisahkan terjadi bencana berupa gempa bumi besar melanda kota Los Angeles di tahun 2000, yang mengakibatkan kota tersebut menjadi sebuah pulau tersendiri, karena terpisah dengan dataran rendah yang telah tergenangi air laut.

Adalah seorang kandidat kuat presiden Adam (Cliff Robertson) mengutuk Los Angeles telah berdosa dan dihukum, ia lalu terpilih sebagai presiden seumur hidup dan melarang sejumlah hal yang tidak bermoral sesuai dengan ajaran fundamental Alt-Right.

Maka pemerintahannya bergaya totaliter yang tak segan-segan akan menjebloskan warga Amerika yang melanggar, ke kota Los Angeles yang kini berfungsi sebagai penjara kota dengan penjagaan maksimum.

Di tahun 2013, seorang gerilyawan bernama Cuervo Jones (Georges Corraface) merayu putri presiden yakni Utopia (A.J. Langer), untuk memberontak dengan mencuri alat kontrol yang akan
mematikan sistem elektronik global melalui sejumlah satelit, sebuah senjata andalan Amerika terhadap para musuhnya.

Melalui sang komandan Malloy (Stacy Keach), Sang presiden pun meminta bantuan Snake Plissken (Kurt Russell) yang akan diasingkan menuju Los Angeles karena tindakan kriminal, untuk kembali merebut senjata tersebut, dengan memberikan grasi jika Plissken berhasil dalam misinya.

Untuk mencegah tindakan diluar dugaan, Plissken disuntik sebuah virus yang akan aktif membunuhnya dalam waktu 10 jam, dalam arti ia harus segera menyelesaikan misinya sebelum waktunya.

sinopsis film escape from los angeles
Paramount Pictures

Escape from L.A. sungguh menyajikan penceritaan kompleks sekaligus cerdas, dan bahkan John Carpenter mampu memprediksi jauh ke depan.

Bahwa ada “Perang Saudara” antara ideologi kubu Sayap Kanan dan Sayap Kiri, meski tidak sepenuhnya akurat, mengingat realitanya saat ini kubu Sayap Kiri Jauh atau Far-Left yang sedang disorot, karena jumlahnya yang signifikan.

Gaya pemerintahan totaliter dari Alt-Right yang artinya mengontrol penuh seluruh warga Amerika, justru saat ini tengah digandrungi oleh pihak Far-Left yang terobsesi dengan sosialisme yang mengarah kepada marxisme, dengan utopia peran pemerintah total dalam keadilan sosial-ekonomi.

Praktek kapitalisme Amerika yang ingin menguasai dunia, dilawan oleh gerilyawan melalui figur Cuervo Jones simpatisan partai komunis yakni Shining Path dari Peru yang mirip dengan gerakan teroris ANTIFA (Anti Facist).

Lalu figur anti-hero Snake Plissken berada di tengah berusaha mengimbangi sesuai dengan benefit yang ia dapat, karena ia membenci kedua belah pihak!

Megalomaniak Sang Presiden mencerminkan sebuah egosentris negatif yang memang dihindari oleh Amerika, makanya dalam realita kubu Alt-Right jumlahnya sedikit dan menjadi minoritas di tengah semakin beragamnya warga Amerika saat ini.

Saya rasa figur Snake Plissken merupakan individu bebas dan tidak bisa dinilai sebagai seorang yang liberal maupun konservatif, ia menentang sejumlah hal yang menurutnya berlebihan dan merugikan pihak lain termasuk dirinya. Mungkin ia melakukan tindak kriminal karena adala alasan kuat, namun bukan berarti ia tidak memiliki moral.

Film Escape from L.A. juga melibatkan isu LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer) dan kebebasan beragama yang diwakilkan melalui figur Hershe Las Palmas (Pam Grier) dan Talima (Valeria Golino) yang dianggap ‘kriminal’. Mereka bisa menjadi kawan sekaligus lawan bagi Plissken.
 

ulasan film escape from la
Paramount Pictures

Sama seperti The Hunt (2020) yang mengangkat isu sama, film ini mungkin saja berupaya untuk menyajikan kepada audiens melalui perspektif netral dengan akal sehat, sehingga tidak menyesatkan seperti yang diberitakan oleh sejumlah media besar baik yang yang beraliran Kiri maupun Kanan.

Sekuel film ini sejatinya merupakan aksi petualangan berulang Plissken seperti yang ia lakukan di kota New York, perbedaannya hanya saja bukan membebaskan Sang Presiden namun merebut sebuah alat kontrol paling vital milik Amerika.

Kesederhanaan misi bahwa Plissken mengincar Jones yang telah mencuri alat tersebut, diperumit dengan kehadiran figur eksentrik Eddie (Steve Buscemi), selain diramaikan oleh Pipeline (Peter Fonda) dan Sang Pemimpin Bedah Beverly Hills (Bruce Campbell).

Tidak seperti Escape from New York yang cenderung bergaya action thriller dan bernada muram, aksi laga film ini jauh lebih meriah dan malah terasa lebih ringan, sehingga intensitasnya berkurang.

New York dan Los Angeles adalah dua kota ikonik Amerika, maka berbagai perangkat desain yang menyajikan reruntuhan seperti Hollywood, Annaheim maupun Long Beach memang mendapat kesan tersendiri yang mengasyikan.

Sangat disayangkan, buruknya performa efek CGI yang terkesan mentah, begitu mengecewakan saya terutama dalam adegan di dalam laut atau pula objek helikopter dan kapal selam futuristiknya.

Dua hal bercampur menjadi satu, dalam keasyikan saat Plissken dan Pipeline berseluncur memanfaatkan gelombang tsunami di sebelah jalan raya sementara Eddie yang sedang mengendarai mobil tampak terkejut, sementara efek yang disajikan begitu kasar karena sangat jelas manipulasinya.

Kali ini kalimat yang diulang oleh sejumlah figur kepada Plissken adalah: “I thought you’d be taller.

Meski kembali ditangani Carpenter, film Escape from L.A. jelas tidak akan pernah mampu menyamakan pendahulunya, baik dari jajaran pemain yang kalah kelas, hingga efek visual yang menjadi problema utamanya.

Tapi setidaknya saat ini membuktikan apa yang terjadi di California dan Los Angeles, jika tidak ingin berbenah dengan hadirnya Gubernur baru yang memiliki kewarasan untuk mengelolanya, terlepas dari partai apapun.

Score: 2.5 / 4 stars

Escape From L.A. | 1996 | Aksi Laga, Petualangan | Pemain: Kurt Russell, Stacy Keach, Steve Buscemi, Peter Fonda, Georges Corraface, Cliff Robertson, Pam Grier | Sutradara: John Carpenter | Produser: Debra Hill, Kurt Russell |
Penulis: Berdasarkan karakter karya John Carpenter dan Nick Castle. Cerita: John Carpenter, Debra Hill, Kurt Russell | Musik: John Carpenter, Shirley Walker | Sinematografi: Gary B. Kibbe | Distributor: Paramount Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 101 Menit

Comments