Review Marty Supreme: Ambisi Atlet Tenis Meja Halalkan Segala Cara

marty supreme ambisi atlet tenis meja halalkan segala cara
A24

Sinema drama sport review Marty Supreme tentang ambisi seorang atlet tenis meja untuk halalkan segala cara.

Terinspirasi dari figur nyata, ada seorang atlet tenis meja yang halalkan segala cara dalam film Marty Supreme.

Film Marty Supreme melalui tema atlet olahraga tenis meja, telah tayang di bioskop Amerika sejak Desember 2025, namun baru tayang di Indonesia pada Februari 2026.

Film ini diperankan Timothée Chalamet yang banyak dipuji kritikus serta reviewer, disutradarai Josh Safdie, berpotensi mendapatkan penghargaan Oscar, tapi sayang sekali kenyataannya tidak demikian.

Marty Supreme merupakan versi perfilman modern yang juga terinspirasi selain dari figur nyata Marty Reisman, juga dari film tipikal The Hustler (1961) dan sekuel nya, The Color of Money (1986).

Marty Supreme mengisahkan latar belakang waktu era 1950'an, saat Marty Mauser (Timothée Chalamet) adalah nanak muda ambisius dan terobsesi sebagai atlet olahraga tenis meja berbakat.

Ia bekerja pada toko sepatu milik sang paman, dan suatu hari menjelang kejuaraan tenis meja di Inggris, ia mencuri uang sang paman yang ia klaim sebagai hutang demi bisa bergabung dalam turnamen.

Meski akhirnya kalah dalam final melawan atlet asal Jepang, Koto Endo, ia memiliki tekad untuk balas dendam dalam turnamen akbar berikutnya di Jepang.

ulasan film marty supreme
A24

Dalam perjalanan tersebut, Marty seringkali membuat kekacauan dimana pun ia berada, mulai saat di hotel menggoda aktris veteran Kay Stone (Gwyneth Paltrow) melalui tindakan manipulatif terhadap suaminya, pengusaha kaya Milton Rockwell (Kevin O'Leary).

Hubungan gelap Marty dengan teman masa kecil, yaitu Rachel (Odessa A'zion) istri orang lain, mengakibatkan Rachel hamil, sementara hubungan Marty dengan sang ibu pun buruk.

Karena dirinya arogan, ia pun menolak ajakan sponsor dari Milton dengan dalih harga diri untuk pertandingan eksebisi dengan Koto, sehingga Milton marah. 

Puncak putus asa Marty selain jadi penipu bekerjasama dengan Wally sang supir taksi dalam taruhan permainan tenis meja amatir, berujung kabur dari pengeroyokan, yaitu menghadapi seorang kriminal kelas kakap bernama Ezra (Abel Ferrara).

Secara garis besar, premis film Marty Supreme menyampaikan pesan tentang seorang pemuda berbakat dan berpotensi besar sebagai atlet, tapi kehilangan arah.

Figur sentral Marty Mauser dibutakan dengan egoisme besar atas ambisi jadi atlet tenis meja profesional, sehingga tidak memiliki tujuan hidup melalui proses dengan basis moralitas serta realita berpikir sekaligus bertindak.

Adapun hal yang mirip dengan figur nyata Marty Reisman, yaitu tentang determinasi perjuangan untuk ikut dalam turnamen dunia, tapi dengan cara berbeda.

sinopsis alur plot marty supreme tenis meja
A24

Film Marty Supreme terasa terbagi dua, yaitu perjuangan pertarungan dalam arena olahraga tenis meja, serta segala tingkah laku kehidupan liar yang terlalu fiktif dan terlalu dramatis, sehingga sulit menjadi satu kesatuan utuh yang lebih riil.

Bumbu drama, aksi laga, kekerasan, seksualitas yang eksploitatif ala "New Hollywood" dalam film ini semakin menambah ambigu dan jauh dari kata harmonis, meski secara keseluruhan dieksekusi dengan cukup baik.

Sebuah kombinasi janggal untuk film drama olahraga, entah untuk tujuan art house, estetika, maupun komersial dan docudrama sekalipun, semua campur aduk secara acak.

Sangat terasa akan soundtrack dan scoring film ini, seakan seperti film produksi 1980'an yang mengisahkan cerita era 1950'an, terutama alunan alat musik synthesizer cukup mendominasi dalam alur cerita.

Semua adegan saat kejuaraan tenis meja di Inggris dalam babak pertama cerita, begitu mengesankan termasuk gerak kamera dinamis yang menarik dan emosional, terlebih laga puncak Marty melawan Koto Endo.

Tapi adegan pembuka film ini mengejutkan sekaligus memberikan rasa aneh dan cukup konyol hingga kredit pembuka.

Adegan menuju akhir cerita menyimpan kejutan yang sama, bagaimana sang figur utama yaitu Marty Mauser untuk mengatasi situasi yang selalu menekan dirinya, akibat semua ulah yang ia perbuat, sedikit klise tapi memuaskan.

Meski sebagai bumbu eksploitatif, versi fiktif dan nyeleneh Marty Mauser dalam film ini sarat akan potensi sekaligus realisasi kekerasan akibat ulahnya sendiri melalui beberapa adegan berlebihan.

review marty supreme timothee chalamet
A24

Kehadiran figur Key Stone sebagai bumbu seksual terkadang membuat jenuh dan tidak ada dampak berarti dalam makna cerita, kecuali satu dialog menohok kepada Marty tentang arti kehidupan dan masa depan.

Timothée Chalamet sebagai sang figur utama dalam film ini memberikan totalitas penampilan dan akting luar biasa tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut, sedangkan peran pendukung terbaik yaitu Kevin O'Leary sebagai pengusaha yang sinis dan skeptis.

Marty Supreme tidak seluruhnya membicarakan tentang pengembangan seorang atlet tenis meja dan kiprahnya di lapangan.

Film ini terlalu banyak mengeksploitasi sisi kehidupan kelam penuh petualangan ala "black comedy" atas dasar moralitas ambigu, meski performa sang figur utama adalah yang terbaik dalam film ini.

Marty Supreme sebagai film sport dengan bumbu banyak crime drama, terkesan berani tampil beda meski keseluruhan bukan yang terbaik.

Demikian sinema drama sport review Marty Supreme tentang ambisi seorang atlet tenis meja yang halalkan segala cara dalam hidup nya itu.

Score: 3 / 4 stars

Marty Supreme | 2025 | Drama, Sport, Crime | Pemain: Timothée Chalamet, Gwyneth Paltrow, Odessa A'zion, Kevin O'Leary, Tyler Okonma, Abel Ferrara, Fran Drescher | Sutradara: Josh Safdie | Produser: Josh Safdie, Ronald Bronstein, Eli Bush, Anthony Katagas, Timothée Chalamet | Penulis: Ronald Bronstein, Josh Safdie | Musik: Daniel Lopatin | Sinematografi: Darius Khondji | Penyunting: Ronald Bronstein, Josh Safdie | Distributor: A24 | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 150 menit

Comments