Review Film The Passion of the Christ: Mahakarya Mel Gibson yang Ditolak Hollywood
![]() |
| Newmarket Films |
Sinema drama historis review film The Passion of the Christ, film tentang Yesus mahakarya Mel Gibson yang ditolak Hollywood.
The Passion of the Christ merupakan film religius fenomenal sekaligus mahakarya sepanjang karir Mel Gibson sebagai sutradara.
Sempat ditolak sejumlah studio besar Hollywood sekuler, film The Passion of the Christ mencetak rekor sebagai film independen dan film kekristenan terlaris sepanjang masa.
Meski demikian, The Passion of the Christ tak lepas dari kontroversi tersirat akan tudingan "Anti Semit" melalui penggambaran dalam film.
Mel Gibson sendiri akhirnya yang mendanai proyek film ini melalui perusahaan produksinya, Icon Productions tapi terbayarkan tuntas bahkan berlipat ganda.
The Passion of the Christ juga mendapatkan tiga nominasi Piala Oscar dalam kategori Makeup, Sinematografi, serta Original Score.
Kedua sekuelnya sedang diproduksi dan akan tayang berurutan pada 2027 nanti dengan judul The Resurrection of the Christ.
Malam hari di Taman Getsemani, Yesus (Jim Caviezel) sedang berdoa, hingga kemudian datanglah salah satu muridNYA, Yudas Iskariot (Luca Lionello) bersama para penjaga Bait Allah hendak menangkap Yesus.
Para Imam dan Ahli Taurat dipimpin Kayafas (Mattia Sbragia) memang sudah menyiapkan penangkapan Yesus yang mereka anggap menghujat karena mengaku sebagai Mesias.
Setelah Perjamuan Kudus, Yudas Iskariot mengkhianati Yesus mendatangi para Imam Yahudi untuk menangkapNYA, meski di taman tersebut Petrus (Francesco De Vito) berupaya menghalanginya.
Pada saat penangkapan, para murid Yesus melarikan diri, Petrus sempat mengikuti namun ketahuan oleh sejumlah orang dan ia pun menyangkal sebanyak tiga kali.
![]() |
| Newmarket Films |
Salah satu murid Yesus paling setia, Yohanes (Christo Jivkov) segera menghampiri ibunda Yesus yaitu Maria (Maia Morgenstern) dan juga ada Maria Magdalena (Monica Belluci) di rumah itu.
Mereka lalu bergegas menuju lokasi Bait Allah untuk melihat Yesus.
Setelah dianiaya, pagi harinya Yesus pun dibawa kepada Gubernur Pontius Pilatus (Hristo Naumov Shopov) yang kemudian tidak menemukan kesalahan pada diri Yesus.
Yesus sempat dibawa kepada Raja Herodes, tapi dianggap bukan menjadi ancaman, sehingga Yesus dibalikan lagi kepada Pontius Pilatus.
Atas hasutan para Imam Yahudi, Yesus disiksa cambuk yang dieksekusi para Tentara Romawi, namun tidak hanya sampai disitu saja.
Dalam argumen alot diantara Pontius Pilatus dengan para Imam Yahudi, Yesus juga ditukarkan dengan seorang penjahat bernama Barabas yang dibebaskan dari penjara.
Sampai akhirnya, Yesus dituntut disalibkan oleh banyak orang yang terhasut dengan fitnah para Imam Yahudi, sehingga Pontius Pilatus menyerahkan sepenuhnya kepada mereka.
Sementara itu ibunda Yesus, Maria, Maria Magdalena, serta Yohanes terus mengikuti peristiwa tersebut hingga penyaliban serta kebangkitan Yesus di hari yang ketiga.
Selama dua jam durasi, cerita film The Passion of the Christ langsung fokus pada peristiwa penangkapan hingga penyaliban Yesus Kristus, lalu ditutup dengan adegan kebangkitan pada hari ketiga.
![]() |
| Newmarket Films |
The Passion of the Christ merupakan salah satu mahakarya sekaligus pencapaian tertinggi Mel Gibson, yang mampu mewujudkan film tentang Yesus melalui pendekatan yang lebih realistis.
Tanpa basa-basi, film ini langsung menyampaikan adegan pembuka dengan nuansa kelam dan sangat terasa akan atmosfir tidak mengenakan.
Mulai dari adegan pembuka saja, audiens diajak untuk mengenali sosok Yesus dari sisi manusiawi dalam pergumulan batin saat berdoa kepada Sang Bapa.
Selain terkesan lebih riil dan natural, juga aspek supranatural hadir melalui sosok iblis misterius yang selalu menggoda sisi manusia Yesus.
Totalitas Mel Gibson dalam menyajikan film religius biblikal ini tidak main-main, selain karakterisasi sentral Yesus, juga Bunda Maria, serta Maria Magdalena yang eksploitatif.
Alur cerita The Passion of the Christ bergerak maju, namun dalam beberapa momen tertentu ada kilas balik.
Saat Yesus membasuh kaki para muridNYA, malam Perjamuan Kudus, bahkan sekilas Minggu Palma turut serta menjadi refleksi akan pesan dalam narasi adegan.
Koneksi sang ibu dengan sang putra, yaitu Bunda Maria dan Yesus pun melalui dua adegan pararel yang sama yaitu tentang kejatuhan, dieksekusi dengan sangat menyentuh dan emosional.
![]() |
| Newmarket Films |
Adapun refleksi Maria Magdalena yang hendak dirajam para Imam Yahudi dalam kilas balik itupun, tak kalah menyentuh.
Peristiwa yang melibatkan figur Simon dari Kirene (Jarreth Merz) yang disuruh oleh tentara Romawi memikul salib Yesus, menarik perhatian.
Pertemuan melalui tatap mata Yesus yang saat itu sudah lemah tidak berbicara, sudah mengindikasikan ada kekuatan yang hadir terhadap Simon dari Kirene.
Tanpa harus dijelaskan melalui dialog, audiens sudah bisa menangkap, bahwa ekspresi muka sekaligus tatapan mata Simon dari Kirene mengindikasikan ada hal yang tidak biasa pada diri Yesus.
Selain sosok Veronica yang membersihkan muka Yesus dengan tudung kepalanya, juga ada figur terakhir yang akhirnya berbalik 180 derajat.
Setelah Yesus wafat, seorang prajurit yang dipanggil "Cassius" atau "Longinus" menghunus tombak ke lambung Yesus untuk memastikan kematianNYA.
Adegan tersebut diperlihatkan sambil ia terkena cipratan darah mengenai mukanya, spontan ia berlutut dihadapan Yesus, tapi adegan tersebut tidak melontarkan kalimat dari dirinya.
Itulah momen emosional terakhir dari figur atau sosok lain selain Yesus, setelah langit gelap gulita dan ada gempa bumi.
![]() |
| Newmarket Films |
Mengenai adegan penyiksaan serta tangan dan kaki Yesus dipaku di kayu salib, sungguh brutal dan horor, dibuatkan serealistis mungkin dan terperinci.
Berkat kemajuan CGI kombinasi efek praktis animatronik saat itu, sejumlah adegan berdarah tersebut memang impresif dan terlihat sempurna.
Bagaimana cabikan kulit dan daging akibat cambuk duri mengenai tubuh Yesus diperlihatkan detail lengkap dengan cipratan darah, juga saat proses pemakuan kedua tangan, termasuk tulang bahu kanan yang patah.
Selain visual adegan serta latar desain produksi yang terkesan riil, juga berbagai efek suara turut mendominasi adegan brutal yang terdengar ngilu serta bergidik.
Sungguh film ini menyajikan peristiwa mulai dari penangkapan hingga penyaliban Yesus bagaikan docudrama menyayat hati.
Melalui The Passion of the Christ inilah, nama Jim Caviezel populer setelah ia bermain dalam film The Count of Monte Cristo (2002).
Performa Jim Caviezel sebagai Yesus Kristus saya rasa salah satu terbaik sepanjang masa, terutama saat penyiksaan hingga proses penyaliban.
Tentu saja duo performa aktris Rumania yaitu Maia Morgenstern serta aktris Italia Monica Bellucci begitu meyakinkan melalui peran penderitaan yang mereka rasakan.
![]() |
| Newmarket Films |
Terlebih ada tiga bahasa yang digunakan dalam dialog film ini, yaitu Bahasa Aram yang dipakai Yesus, Bahasa Ibrani, serta Bahasa Latin khusunya untuk orang Romawi, terasa lebih riil.
Arahan Mel Gibson dalam The Passion of the Christ ini sungguh luar biasa, ekspresif tapi paling realistis daripada film Yesus serupa.
Dalam masa Paskah ini, film The Passion of the Christ memang jadi salah satu tontonan paling rekomendasi.
Kini Mel Gibson dengan segala kontroversinya sudah menjadi daftar hitam bagi Hollywood, namun selalu dan semakin mengungkapkan kebenaran terhadap sisi gelap Hollywood itu sendiri.
Tak heran saat itu Hollywood mulai menolak tontonan berdasarkan Bible, dan sekarang kita semua sudah tahu kualitas Hollywood semakin buruk dan hancur.
Itulah sinema drama historis review film The Passion of the Christ, film tentang Yesus mahakarya Mel Gibson yang ditolak Hollywood.
Score: 4 / 4 stars
The Passion of the Christ | 2004 | Drama, Historis, Religi | Pemain: Jim Caviezel, Monica Bellucci, Maia Morgenstern, Christo Jivkov, Francesco De Vito, Sergio Rubini, Mattia Sbragia, Luca Lionello, Hristo Naumov Shopov | Sutradara: Mel Gibson | Produser: Bruce Davey, Mel Gibson | Penulis: Berdasarkan Alkitab Perjanjian Baru dan juga buku Canonical Gospels The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ yang dituliskan Anne Catherine Emmerich. Naskah: Benedict Fitzgerald, Mel Gibson | Musik: John Debney | Sinematografi: Caleb Deschanel | Penyunting: John Wright, Steve Mirkovich | Distribusi: Newmarket Films | Negara: Amerika Serikat | Bahasa: Aram, Ibrani, Latin | Durasi: 127 menit
.jpg)





Comments
Post a Comment