Review Masters of the Universe 2026: Adaptasi Komedi atau Parodi
![]() |
| Amazon MGM Studio, Sony Pictures |
Sinema petualangan fantasi review Masters of the Universe versi 2026, sebuah adaptasi komedi atau jadi parodi.
Film Masters of the Universe kembali diadaptasi tahun 2026 ini, cenderung sebagai komedi atau malah jadi parodi?
Masters of the Universe merupakan jajaran lini mainan atau action figure dari awal 1980'an atas reaksi maraknya pop culture petualangan luar angkasa yang dipelopori Star Wars.
Tak lama kemudian muncul adaptasi serial animasi pada dekade sama, begitu pula versi live-action yang diperankan Dolph Lundgren tahun 1987.
Perlu dicatat, bahwa adaptasi Masters of the Universe 1987 diproduksi studio kecil tapi berstatus cult classic hingga kini.
Kini waralaba tersebut kembali dibuatkan melalui studio dan bujet besar kerjasama Amazon MGM Studio dengan Sony Pictures, disutradarai Travis Knight.
Masters of the Universe mengisahkan masa kecil Prince Adam, putra King Randor dan Queen Marlina di Planet Eternia, yang jauh dari sifat sebagai pejuang. Ia bersama Teela mendapatkan pelatihan fisik dari Man-At-Arms (Idris Elba).
Suatu hari Eternia diserang dan diduduki oleh Skeletor (Jared Leto) yang dibantu Evil-Lyn (Alison Brie) datang membawa pasukan. King Randor dan Man-At-Arms tidak mampu melawan dan menyerah.
![]() |
| Amazon MGM Studio, Sony Pictures |
Skeletor mengincar pedang keramat di Gray Skull Castle yang dijaga oleh Sorceress (Morena Baccarin) yang menyelamatkan Adam dengan membawa pedang menuju portal dimensi lain.
Adam pun jatuh ke Bumi namun pedang nya terpencar, hingga Adam dewasa (Nicholas Galitzine) akhirnya kerja di sebuah perusahaan dengan lingkungan toxic, namun ia berupaya mencari dan menemukan pedang yang hilang.
Setelah a menemukan pedang tersebut, tak lama kemudian muncul beast man sambil meneror kota ingin merebut pedang itu namun Adam diselamatkan Teela (Camila Mendes) yang akhirnya membawa Adam kembali ke Eternia.
Apa yang terjadi di Eternia merupakan perjuangan mereka melawan kekuasaan jahat Skeletor sekaligus merebut kembali peradaban yang hilang.
Penceritaan Masters of the Universe ini memang sudah benar, mengisahkan latar belakang Prince Adam semasa kecil untuk kemudian setelah dewasa kembali untuk berhadapan dengan Skeletor, tapi dalam pengembangan karakter dalam menemukan jati iri melalui kekuatan Grayskull.
Alur saat Adam dewasa berada dalam lingkungan kerja toxic dirasa terlalu lama atau membuang waktu percuma, tapi adegan saat ia pertama kali menerima kekuatan Grayskull dan pertemuan kembali dengan kedua orang tua nya cukup emosional.
Menuju puncak laga, akhirnya Adam memahami arti dari kekuatan Grayskull, tidak seperti yang ia kira selama ini.
Tentu saja laga akhir menghadapi Skeleton merupakan puncak terbaik film ini setelah Adam memberikan dua pilihan, begitu pula pertarungan antara Teela dengan Evil-Lyn.
![]() |
| Amazon MGM Studio, Sony Pictures |
Masalah utama film Masters of the Universe ini adalah porsi humor dan komedi berlebihan, sehingga seakan lebih cocok jadi parodi saja.
Penulisan elemen terhadap karakter figur utama pada Adam mulai dari pencarian pedang, mendapatkan kekuatan, hingga penyebutan "He-Man" di akhir cerita, terkesan mentertawakan diri sendiri secara berlebihan.
Untung saja karakter figur Teela bukan sosok "Girl Boss" seperti yang dilakukan Hollywood dalam upaya menghancurkan banyak waralaba populer.
Di satu sisi, figur Man-At-Arms merupakan produk "Race Swap" dalam film ini, tapi di sisi lain, karakter nya disukai, apalagi dalam proses kebangkitan pasca keterpurukan termasuk hubungan dengan sang putri yang tak lain adalah Teela.
Nicholas Galitzine memang cocok sebagai He-Man sebagaimana Dolph Lundgren dalam versi 1987 yang mengejutkan tampil sebagai cameo.
Selain Camila Mendes sebagai Teela yang oke, malah performa Alison Brie sebagai Evil-Lyn yang mencuri perhatian dalam hubungan terancam dengan Skeletor.
Untung juga performa Idris Alba sebagai Man-At-Arms mampu menutupi agenda DEI "Race Swap" tersebut, sedangkan perfroma Jared Leto sebagai Skeletor meyakinkan sesuai serial animasi, tapi berlindung dibalik topeng CGI.
![]() |
| Amazon MGM Studio, Sony Pictures |
Sejumlah adegan laga film ini menarik, tapi sepanjang adegan juga terganggu dengan sering nya scoring berulang, meski pada beberapa adegan tertentu, lengkingan gitar Brian May sangat enak terdengar.
Satu hal yang mengecewakan saya yaitu film ini "merampok" tema lagu resmi film Highlander (1986) yang dibawakan Queen "Princes of the Universe", mentang-mentang satu studio sama yang akan garap Highlander reboot.
Adegan pasca kredit sangat menarik, saya harap sekuel nya lebih baik.
Secara keseluruhan, film Masters of the Universe versi 2026 ini menghibur, meski bagi saya generasi animasi dan telah menonton versi 1987, merasa film ini seperti parodi karena komedi berlebihan.
Masters of the Universe masih layak untuk ditonton sebagai hiburan aksi laga fantasi di tengah krisis Hollywood yang minim harapan akan film original.
Itulah sinema petualangan fantasi review Masters of the Universe versi 2026, sebuah adaptasi komedi atau jadi parodi.
Score: 2.5 / 4 stars
Masters of the Universe | 2026 | Petualangan, Fantasi, Aksi Laga, Komedi | Pemain: Nicholas Galitzine, Camila Mendes, Alison Brie, James Purefoy, Morena Baccarin, Jóhannes Haukur Jóhannesson, Kristen Wiig, Jared Leto, Idris Elba | Sutradara: Travis Knight | Produser: Todd Black, Jason Blumenthal, Robbie Brenner, DeVon Franklin | Penulis: Berdasarkan action figure produksi Mattel. Cerita dan naskah: Aaron Nee, Adam Nee, Alex Litvak, Michael Finch, Chris Butler, David Callaham | Musik: Daniel Pemberton | Sinematografi: Fabian Wagner | Penyunting: Paul Rubell | Distributor: Amazon MGM Studio, Sony Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 140 menit




Comments
Post a Comment